LOGIN“Tidak bisa.” Heinry langsung menjawab. “Aku tidak mau dimarahi Damian karena menyembunyikan kondisimu. Apalagi, pria itu sudah berpesan supaya aku mengawasimu selama dia tidak di sini.” Alena hanya bisa pasrah saat Heinry menelepon Damian. Kata “mengawasi” itu pasti bukan karena Damian mengkhawatirkannya. Pria itu mungkin hanya takut dirinya membuat masalah yang bisa mencoreng nama keluarga. Heinry tidak bisa membaca pikiran Alena, jadi ia tidak menjelaskan maksudnya. Ia menunggu Damian mengangkat telepon tapi sampai panggilan terputus pun pria itu tetap tidak mengangkatnya. Heinry akhirnya menyerah. Ia memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana lalu menatap Alena. “Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” Alena merasa lega karena Heinry tidak berhasil menghubungi Damian. Ia mengangguk dan berjalan di belakang pria itu. Saat mereka tiba di lobi, seorang dokter cantik berambut panjang berjalan ke arah mereka. Langkah kaki Alena terhenti karena Heinry tiba-tiba diam.
“Tuan Yovie, apa yang Anda lakukan?” Yovie tersenyum canggung. “Aku mengerti, Nona Alena memang bukan wanita manja. Kalau begitu, boleh tidak aku menumpang? Mobilku sepertinya harus diderek.” Alena tidak mau bersikap kasar, tapi ia juga tidak ingin sembarangan memberi tumpangan pada seorang pria. Apalagi pria yang sudah beristri. Jadi ia berkata, “Saya akan menghubungi seseorang untuk menjemput dan mengantarkan Tuan Yovie ke rumah. Tolong tunggu sebentar.” Alena bermaksud menghubungi Noel. Namun, Yovie tiba-tiba bicara. “Nona Alena, apa kau takut padaku? Setiap kali aku mendekatimu, kau selalu saja menghindariku seperti ini.” Yovie akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Sebenarnya, sudah lama ia menyukai Alena. Wanita tercantik di kota Mananta itu, sangat rugi jika ia tidak bisa mendapatkannya. Walaupun mereka sama-sama sudah menikah, apa salahnya bermain belakang asal tidak sampai ketahuan? Dahi Alena mengernyit halus. “Tuan Yovie, apa kamu baru saja mengaku sengaja m
Pria itu merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan ponsel dari sana. Setelah mencari kontak seseorang, ia segera menghubunginya. “Apa yang dilakukan putrimu di rumah pelayan itu?” tanyanya tidak sabar setelah sambungan terhubung. Dari seberang, Axel malah mengomel, “Kau di rumah Aidan? Sudah kukatakan, menjauh dari sana! Kasus itu memang sudah diatasi, tapi kalau kau terus berada di sekitar lokasi kejadian atau pun berkeliaran di rumah tersangka, orang mungkin akan mencurigaimu!” Rahang pria itu mengeras. Ia sangat kesal mendengar Axel mengomeli dirinya. Memangnya siapa dia? Hanya kepala polisi korup yang suka mengendalikan kelemahan orang. Benar-benar rubah tua menyebalkan! Sialnya, ia tidak bisa bicara sesuka hati karena Axel memegang rahasianya. Pria itu mendengus kesal. “Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai dengan rencanamu. Setelah ini aku tidak akan datang lagi.” Di kantornya, Axel memijat kepalanya yang berdenyut. “Sudahlah. Cepat pergi dari sana.
Alena tersenyum sopan. “Permisi, Nek. Apa benar ini rumah Aidan?” Mendengar nama cucunya, wanita tua itu sedikit terkejut. Ia menatap Alena dengan lebih saksama sebelum mengangguk pelan. “Benar. Tapi Aidan tidak ada di rumah.” “Saya tahu, Nek. Saya datang untuk membicarakan sesuatu tentang Aidan.” Ekspresi wanita tua itu seketika berubah. Tangannya yang keriput mencengkeram tepi pintu, sementara matanya menatap Alena dengan penuh kecemasan. “Apakah terjadi sesuatu dengan cucu saya? Apa dia baik-baik saja di sana?” Melihat kecemasan di wajah wanita itu, Alena merasa sedikit tidak tega. Ia bisa membayangkan betapa sulitnya hidup sendirian di usia senja, terlebih setelah satu-satunya anggota keluarga yang merawatnya dipenjara. “Jangan khawatir, Nenek. Saya cuma mau menanyakan beberapa hal tentang Aidan. Saya tidak bermaksud menyusahkan Nenek.” Wanita tua itu mengamati Alena selama beberapa saat, seolah berusaha memastikan apakah perempuan muda di hadapannya bisa dipercaya
Setelah keluar dari kantor polisi, ponsel di dalam tas selempang Alena tiba-tiba berdering. Nama Noel tertera di layar, jadi ia menjawabnya. Begitu panggilan tersambung, suara Noel segera terdengar. “Nona Alena, aku baru saja mencari tahu latar belakang Aidan.” Aidan adalah pelayan kelab yang dijadikan tersangka untuk menggantikan Christian. Karena ada banyak orang berlalu-lalang, Alena masuk ke dalam mobil agar bisa mendengar lebih leluasa. “Kau menemukan sesuatu, Noel?” tanya Alena sambil duduk di kursi pengemudi. Noel menjawab, “Menurutku, ini agak mencurigakan.” “Aidan hanya tinggal berdua dengan neneknya yang sudah tua dan sudah lama sakit-sakitan. Setelah Aidan ditangkap, tiba-tiba neneknya mendapatkan bantuan dari sebuah yayasan untuk menjalani operasi hati.” Alena menggenggam ponselnya lebih erat. Jika Aidan memang sengaja dijadikan kambing hitam, bantuan untuk neneknya mungkin merupakan bagian dari rencana seseorang untuk membungkamnya. “Apa kau sudah memast
Axel langsung mengangkat kepalanya. Tatapannya berubah tajam saat menatap Alena. “Apa maksudmu?” Alena tidak menghindari tatapannya. “Aku hanya ingin memastikan. Bukankah Ayah sendiri yang menangani kasus itu?” Axel menyalakan rokok lagi. “Lalu kenapa? Kau datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menanyakan hal bodoh seperti itu?” Ketenangan di wajah licik Axel membuat Alena merasa muak. “Dulu Ayah menjadikan Christian sebagai tersangka untuk menekan keluarganya. Setelah aku menikah dengan Damian, Ayah malah mencari orang lain untuk menanggung kesalahan itu.” “Apa Ayah benar-benar mengira tidak akan ada yang mengetahui semua ini?” Axel mengembuskan asap rokok yang pekat ke udara. Lalu tersenyum mengejek Alena. “Kecurigaanmu tidak ada gunanya, Alena. Bahkan keluarga Van Houten pun tidak akan menemukan apa-apa.” Axel menjentikkan jarinya membuang abu rokok ke dalam asbak. “Kau pikir aku melakukan semua ini tanpa persiapan apa pun? Keluarga Van Houten memang punya uang dan







