Share

14. Para Pecundang

Penulis: pramudining
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-19 17:06:56

Happy Reading

*****

Seperti ada yang menuntun langkahnya, Ardha menuju kamar yang letaknya paling ujung di lantai dua kediaman Harsa. Namun, tepat di depan pintu kamar yang tak pernah dibuka dan dilarang membukanya oleh Jenni. Si pembantu diam mematung.

"Kenapa aku memilih kamar ini. Bukankah Bu Jenni jelas melarangku mendekati kamar ini bahkan dilarang keras membersihkannya," gumam Ardha.

Diam mematung sambil mengamati pintu kamar di depannya beberapa detik hingga terdengar seseorang membukanya.

"Saya nggak akan berani mendekati kamar ini lagi, Bu," ucap Ardha tanpa melihat siapa yang membuka pintu kamar. "Maaf, Bu. Maaf, saya nggak tahu kenapa saya bisa berjalan ke kamar ini padahal Ibu sudah melarang untuk mendekat."

"Hei, kanapa kamu ketakutan seperti ini?" ucap seseorang yang tak lain adalah Harsa.

"Ampun, Bu. Ampun. Saya nggak akan mengulang kesalahan lagi. Saya janji, lain kali nggak akan mendekati kamar ini." kata Ardha dengan mata tertutup, masih belum menyadari sang peny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menggoda Suami Majikanku   150. Teriakan Misterius

    Happy Reading*****Elang cuma melempar senyum atas semua pertanyaan yang diajukan Wisnu. "Saya nggak punya banyak waktu untuk menjelaskan, Om. Permisi.""Oke ... Oke. Kamu berangkat saja. Kalau ada hal mendesak dan kamu butuh bantuan, segera hubungi kami. Jangan memendam semua masalahmu sendirian. Libatkan kami juga, anggap kami keluargamu," nasihat Wisnu sebelum Elang benar-benar menghilang dari pandangan mata.Wisnu menatap kepergian Elang dengan perasaan campur aduk, tak lama kemudian, lelaki paruh baya itupun meninggalkan ruangan tersebut. Berjalan ke dapur di mana sang istri dan putrinya sedang memasak untuk makan malam mereka sekeluarga. "Yah, wajahnya kok ditekuk-tekuk gitu. Ada apa?" tanya Melati yang menoleh ke arah sang suami karena mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. "Adek Ardha mana, Ma?" Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Wisnu malah melempar pertanyaan. "Hmm, ditanya apa jawabnya apa," gumam Melati. Dia kembali menoleh ke arah kompor sambil sesekali me

  • Menggoda Suami Majikanku   149. PANIK

    Happy Reading*****Sang dokter menatap semua orang setelah mengeluarkan kalimat kontroversial. Wajah-wajah tegang dari semua keluarga Wisnu terlihat jelas. Detik berikutnya sang dokter terbahak melihat raut muka sang sahabat begitu sendu."Apa, sih. Nggak jelas banget kamu. Sudah tua dan sekarang membawahi beberapa anak buah, masih saja kelakuan random di pake. Apa maksud kata-katamu tadi?" kata Wisnu sedikit kesal dengan sahabat masa mudanya dulu. "Dok, jangan main-main, dong. Kami baru saja menemukan putri kami yang hilang. Masak dia mau hilang lagi atau jangan-jangan kamu merekayasa hasil tes DNA ini, ya?" tanya Melati."Nah, bener kata Mama. Aku juga ikut curiga kalau Om ngomong kayak gitu," tambah Harjuna. "Hei, kalian ini. Mana ada aku memalsukan hasil tes. Dikira aku ini dokter yang bisa disuap, apa gimana, sih. Kalian itu pikirannya negatif saja," sahut sang dokter membela diri. Sang dokter menyanggah semua tuduhan yang dilayangkan padanya, tetapi tawanya masih belum mau b

  • Menggoda Suami Majikanku   148. Bahagia

    Happy Reading*****Wisnu menatap perempuan yang telah melahirkan Zanitha dengan tatapan aneh. Bola mata bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya. Bibirnya bergetar seperti anak kecil sedang dimarahi sama orang tuanya. "Yah, jangan buat kami penasaran. Gimana hasil tesnya? Kenapa Ayah cuma diam saja?" kata Melati sambil menyentuh pundak sang suami.Elang yang selalu berada di sebelah Ardha, mulai tak sabar. Dia terpaksa merebut kertas hasil tes yang berada di tangan Wisnu dan mulai membacanya. Reaksi Elang pun sam seperti lelaki paruh baya yang sudah menjadi ayah angkat Ardha sejak lima tahun lalu. "Dek, ini ...," ucapnya seakan tak percaya dengan hasil kertas yang ada di tangannya kini. "Apaan sih, Lang." Harjuna merebut kertas tersebut bersamaan dengan Ardha yang ingin merebutnya juga. Namun, gerakan tangan sang kakak jauh lebih gesit dari tangan si sia adik. Membaca sebentar apa yang ada di kertas tersebut, Harjuna juga membulatkan mata. Namun, berbeda dengan kedua lelaki sebe

  • Menggoda Suami Majikanku   147. Hasil Tes

    Happy Reading*****Suasana mendadak tegang, semua orang fokus menatap Ardha dan Wisnu. Melati yang sudah sangat mendambakan kehadiran buah hatinya yang telah lama hilang tersebut, pindah ke sisi Ardha. Tangan Melati meraih jemari kanan Ardha. Ketika putri angkatnya itu menoleh perempuan paruh baya tersebut menarik garis bibirnya ke atas. "Jangan pernah ragu untuk menemukan suatu kebenaran, Ar. Mama dan Ayah juga punya ketakutan yang sama. Takut jika hasil tes DNA ternyata nggak sesuai dengan harapan kami. Tapi, kami berusaha menepis semua itu. Jika memang hasil tes nantinya, sangat mengecewakan. Kamu dinyatakan bukan anak kandung kami. Maka, kamu akan tetap dan selalu menjadi kesayangan kami semua," ucap MElati begitu lembut. Kini, semua ucapan dan kalimat yang dikeluarkan Melati bagai air es yang melegakan dahaga Ardha. Perempuan yang telah melahirkan Zanitha itu mengangguk patuh. "Mama sama Ayah akan tetap menyayangiku, kan? Apa pun hasilnya nanti," tanya Ardha. Inderanya sayu

  • Menggoda Suami Majikanku   146. Meragu

    Happy Reading*****Wisnu yang berdiri tepat di samping sang istri, menganggukkan kepala. Membenarkan perkataan perempuan yang diduga adalah putri kandungnya yang telah hilang puluhan tahun."Untuk apa kami datang kemari jika tidak untuk membuktikan bahwa kamu adalah anggota keluarga kami yang sebenarnya," tambah Harjuna. "Kamu bersedia, kan, Dek?" "Tentu saja, Ardha sangat bersedia, Jun," kata Elang, menyerobot kalimat yang akan dikeluarkan Ardha. "Hmm, sejak kapan kamu punya juru bicara," goda Harjuna sambil mencolek dagu si adik."Apa, sih, Kak." Ardha mengerucutkan bibir. Sejak pertama kali bertemu dengan Harjuna, perempuan itu memang sudah bersikap manja. Ardha seolah menemukan sosok Elang yang dulu diakui sebagai saudaranya. Kini, sikap Ardha akan semakin manja jika Harjuna benar-benar adalah saudara kandungnya. Elang kembali mengembuskan napas kasar. Melihat Ardha bersikap manja seperti itu pada Harjuna membuat kecemburuannya makin membesar. "Jadi, cepatlah mandi supaya kit

  • Menggoda Suami Majikanku   145. Tes

    Happy Reading*****Darma kembali memasukkan kembali ponselnya ke saku. Mulai bergerak meninggalkan area perkemahan, tempat Ardha dan yang lainnya menginap. Seseorang yang mengintip dan memperhatikan Darma sejak tadi, juga ikut pergi meninggalkan tempat tersebut. "Jangan harap kamu akan mendapatkan informasi tentang siapa dia. Cukup penderitaan yang dia alami, jangan sampai kamu menambahnya," gumam lelaki yang tak lain adalah Yandra. Sang pengacara sudah berjanji akan melindungi perempuan yang dicintainya walau cintanya tidak pernah dibalas. Di dalam tenda yang terbilang cukup mewah untuk acara camping, Ardha tidak dapat memejamkan mata. Segala perkataan Darma terngiang-ngiang. Nasib sang pemilik wajah asli ternyata jauh lebih menyedihkan dibanding dirinya. "Terima kasih, Ar. Kamu sudah menjaga orang tua kandungku, sudah menghadirkan kebahagiaan yang mungkin tidak bisa aku berikan pada mereka," ucap Ardha. Inilah ucapan tulus dari hati seorang perempuan yang telah mendapat wajah b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status