LOGINMATURE CONTENT 21+ **** Suatu malam Nindia Rahayu mendapati suaminya, Daffa Wijaya pulang dalam keadaan mabuk dan terlihat aneh. Daffa yang selalu lembut tiba-tiba menyentuhnya dengan agresif dan sangat kasar. Sejak malam itu, Nindi yang curiga mulai menyelidiki keanehan suaminya dan terungkap fakta bahwa suaminya ternyata selingkuh dengan wanita yang tak pernah ia duga. Terluka dan murka, Nindi pun bertekad membalas dendam. Bukan dengan amarah, melainkan dengan cara yang sama menyakitkan: ia memilih menjalin perselingkuhan dengan pengacara suaminya sendiri.
View MoreWilona masih terpaku melihat tubuh yang terkapar itu adalah suaminya sendiri. Ia menjatuhkan lututnya, menarik tubuh Daffa yang bersimbah darah ke dalam pangkuannya.Napas Daffa terdengar pendek dan berat."Daffa… k-kenapa… kenapa kau lakukan ini?!" tangis Wilona pecah seketika. Ia menekan luka di dada Daffa, mencoba menahan aliran darah yang tak mau berhenti. "Maafkan aku... aku tidak bermaksud... Daffa!"Daffa menatap Wilona dengan mata yang mulai sayu. Tangannya yang lemah berusaha meraih wajah istrinya, meninggalkan jejak merah di pipi Wilona. Tidak ada kemarahan di mata itu, hanya ada rasa sakit dan perlindungan terakhir."Pergi… pergi, Wilona. Bawa Arkana… kabur sejauh mungkin,” bisik Daffa dengan sisa kekuatannya, sebelum matanya perlahan menutup dan tangannya terkulai jatuh ke lantai.Wilona makin panik tatkala mata Daffa tertutup. “Daffa, bangun! Bercandamu gak lucu, Daf! Bangun!!” jeritnya histeris.Tak lama kemudian, rombongan polisi datang menembus kerumunan pesta yang heb
Hari bahagia itu telah tiba. Di kontrakan kecil yang biasanya dipenuhi tawa Arkana, kini terasa aura ketegangan yang pekat.Daffa mengenakan setelan jas lamanya yang sudah pudar dan sedikit kekecilan, dipadukan dengan kemeja putih baru yang ia beli dari pasar sentral. Ia berdiri di depan cermin kecil, berusaha merapikan dasi yang sudah lama tidak ia pakai. Ia ingin tampil meyakinkan, demi harga diri Wilona."Kau sudah siap, Wil?" tanya Daffa, berbalik menghadap Wilona.Wilona berdiri di samping ranjang. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Ia tampak anggun, tetapi wajahnya dingin, tatapannya kosong."Sudah," jawab Wilona, suaranya nyaris berbisik.Ia mengambil tas tangan kecilnya yang terbuat dari kulit imitasi. Di dalamnya, di balik lapisan kain yang ia jahit sendiri, tersembunyi pistol tua Baskara. Dinginnya logam itu menembus kain, mengirimkan getaran janji ke tangannya. Janji untuk membalas penghinaan Nindi. Janji untuk mengakhiri dendam mereka.Wilona memasukkan undang
Daffa langsung menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa.” Atensinya pun langsung beralih pada Arkana."Aduh, jagoan Papa makannya lahap sekali ya," goda Daffa, mencondongkan badan untuk mencium kening Arkana. "Lihat, Ma, dia senang sekali dibelikan biskuit baru."Wilona tersenyum, senyum yang terasa sedikit kaku. "Tentu saja. Dia senang karena biskuit itu kita belikan dari hasil keringatmu, Daffa. Bukan dari uang hasil merampas."Mendengar kata-kata itu, Daffa terdiam. Ia tahu Wilona masih memendam amarah atas kunjungan Nindi kemarin. Ia meletakkan sendoknya, meraih tangan Wilona yang bebas."Aku tau kamu masih marah, Wil, karena Nindi kemarin," kata Daffa pelan. "Tapi kita sudah sepakat, kan? Kita gak akan membiarkan mereka merusak kedamaian kita. Biarlah mereka hidup bahagia, dan kita pun harus fokus pada kebahagiaan kita juga.”Wilona menarik tangannya perlahan, kembali fokus pada Arkana. "Aku gak marah, Daffa. Aku hanya... memikirkan biaya hidup kita. Kau harus kembali ke pasar sebentar
Malam harinya, Daffa dan Wilona berbaring di kasur tipis mereka. Arkana sudah tertidur pulas di antara keduanya.Tak lama, Daffa pun ikut ke alam mimpi, ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di pasar.Namun, Wilona tidak bisa memejamkan mata. Otaknya terus memutar kembali setiap ucapan Nindi: “Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang.” dan “Kami ingin kalian melihat bagaimana rasanya menjadi pemenang.”Darah Wilona kembali mendidih. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang mereka alami.Ia teringat bagaimana Nindi dan Rexa bekerja sama menjebak Baskara, ayahnya, dan bagaimana mereka mencuri semua aset perusahaan milik Daffa, Zenith Corp.Dendam yang selama ini ia tahan, yang ia pendam demi kebahagiaan sederhana, kini meledak kembali. Mereka berhak menderita, pikir Wilona.Wilona pun perlahan bangkit dari kasur, bergerak hati-hati agar tidak membangunkan Daffa. Ia lalu menyelinap keluar dari kamar, menuju kamar kecil Nanik yang ber












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore