LOGINMATURE CONTENT 21+ **** Suatu malam Nindia Rahayu mendapati suaminya, Daffa Wijaya pulang dalam keadaan mabuk dan terlihat aneh. Daffa yang selalu lembut tiba-tiba menyentuhnya dengan agresif dan sangat kasar. Sejak malam itu, Nindi yang curiga mulai menyelidiki keanehan suaminya dan terungkap fakta bahwa suaminya ternyata selingkuh dengan wanita yang tak pernah ia duga. Terluka dan murka, Nindi pun bertekad membalas dendam. Bukan dengan amarah, melainkan dengan cara yang sama menyakitkan: ia memilih menjalin perselingkuhan dengan pengacara suaminya sendiri.
View More“Mas, ahh….”
Nindi mendesah nikmat ketika Daffa, suaminya memainkan dua aset kembarnya dengan lihai. Tak hanya itu saja, bibir Daffa pun tak henti-hentinya mencium leher sang istri dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Malam ini, Nindi berniat menyambut kepulangan Daffa dari perjalanan bisnisnya di China. Namun, penerbangan sang suami tertunda lima jam membuat Nindi ketiduran.
Nindi yang tertidur pulas pun langsung tersadar saat mendapati sang suami menindih tubuhnya dan menyentuhnya begitu liar.
“Mas, umm, kamu udah sampe dari tadi? Ahh….” Nindi bertanya sembari mendesah kecil. Tangan Daffa tak mau lepas dari dadanya, bahkan justru menelusup memasuki gaun tipisnya.
“Aku sangat lapar, Sayang,” bisik Daffa parau.
“Kebetulan aku udah masak, Mas. Tapi makanannya pasti udah dingin. Biar aku panasin dulu.”
Daffa mengunci tubuh Nindi yang hendak bangkit. Ia tatap Nindi penuh gairah. “Aku tidak meminta makanan yang itu.”
Nindi akhirnya paham. Ia tersenyum malu dan mempersilakan suaminya menjamah tubuhnya.
Daffa mencium tiap inci wajahnya lalu memandangnya kagum. “Kamu cantik sekali. Aku merindukanmu.”
“Aku juga merindukanmu, Mas.”
Nindi melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. Terlintas rasa khawatir di benaknya melihat wajah Daffa banjir pelu, tatapan yang berkabut, dan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Bahkan Nindi merasakan napas Daffa begitu pendek. Sampai akhirnya Nindi menyadari telah terjadi sesuatu pada suaminya.
“Mas, apa yang terjadi padamu? Apa kamu meminum sesuatu?” tanya Nindi cemas. “Mas, sebaiknya ka—"
Kalimat Nindi terpotong karena Daffa tiba-tiba melumat bibirnya dengan rakus. Lidah suaminya itu memaksa masuk, menguasai mulut Nindi sepenuhnya.
Gaun tipis merah menyala yang digunakan oleh Nindi membuat Daffa semakin liar. Ia menjelajahi seluruh tubuh sang istri, seolah tidak tahan lagi menahan hasrat.
Tak menunggu lama, Daffa dengan cepatnya melepas gaun sang istri. Kulit Nindi yang putih dan mulus menghipnotisnya. Ia benar-benar tak bisa mengendalikan diri. Diciumnya semua permukaan kulit itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Ughhh…. Mas, ahh, pelan-pelan!” Nindi merintih tatkala Daffa menghentak tubuhnya terburu-buru.
Daffa tidak menghiraukan rintihan Nindi yang memintanya untuk berhenti. Ia terus memompa dirinya memasuki tubuh Nindi lebih dalam. Tempo permainannya sangat kasar membuat Nindi hampir menangis.
“Sebentar lagi aku keluar.” Daffa semakin mempercepat goyangannya. Satu tangannya mencengkeram tangan Nindi, satunya lagi mencekik leher sang istri, membuat Nindi kehabisan napas.
Akhirnya Daffa menyemburkan cairan cintanya ke dalam rahim sang istri.
Nindi langsung mendorong tubuh Daffa menjauh dan mengambil napas sebanyak-banyaknya.
“I-ini… ini bukan kamu, Mas! Apa yang telah terjadi padamu?!” tanya Nindi di sela napasnya yang terengah-engah.
Raut wajahnya terlihat kecewa atas permainan kasar Daffa malam ini. Di sisi lain, ia juga bingung dan bertanya-tanya kenapa Daffa mendadak agresif. Ini bukan gaya suaminya! Daffa biasanya memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta.
Namun, Daffa tak lantas menjawab. Ia justru memejamkan mata.
Nindi langsung membelalak tak percaya. “Kamu tidur?!”
Ia mendesah kesal. Bisa-bisanya Daffa tertidur pulas tanpa menjawab pertanyaannya. Tapi sedetik kemudian, ia melunak dengan sendirinya saat melihat wajah suaminya yang sudah terlelap.
“Huh … Kamu pasti capek banget ya, Mas?” Nindi berucap sembari mengusap lembut wajah Daffa, menghapus keringat di keningnya.
Nindi menatap wajah Daffa cukup lama. Banyak hal yang mengganggu pikirannya setelah Daffa bersikap agresif di ranjang. Namun semuanya sirna saat melihat wajah Daffa yang kelelahan.
Ini pasti pengaruh perjalanan bisnis yang panjang, membuat Daffa setress dan melampiaskannya di ranjang dengan agresif.
***
Tak terasa jam yang sudah menunjukkan pukul lima subuh, Nindi langsung bergegas bangkit dari ranjang dan bersiap memulai hari.
Nindia Rahayu adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta. Ia hanya tinggal berdua bersama Daffa Wijaya, pria yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun. Mereka telah menjalin hubungan belasan tahun lamanya, sejak SMP.
Daffa sendiri juga adalah pria yang super sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO Zenith Corp, perusahaan yang baru berdiri tiga tahun dan dalam masa pengembangan.
“Mas, kamu nggak ngantor?” Nindi mencoba membangunkan suaminya setelah satu jam berlalu. Ia sendiri sudah rapi dan siap untuk bekerja.
Daffa tidak merespon. Tubuhnya masih bergelung di bawah selimut tebal.
“Bangun, Mas! Ntar telat kerja loh!” Nindi masih berusaha membangunkan suaminya. “Aku udah buatin kamu sarapan. Keburu dingin, Mas! Ayo bangun!”
Nindi menghela napas kala Daffa tak kunjung membuka mata. Tatapannya lalu beralih ke barang-barang bawaan Daffa selama perjalanan bisnis kemarin. Karena masih ada waktu, Nindi pun membereskannya.
“Huh, Mas Daffa, Mas Daffa! Kebiasaan deh kamu! Baju kotor kok digabung sama yang masih bersih?” gerutu Nindi saat membuka koper suaminya.
Nindi mulai membongkar isi koper. Satu per satu baju kotor Daffa diambilnya untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesuatu yang asing di antara tumpukan baju.
Mata Nindi membulat terkejut kala melihat benda itu.
Sebuah celana dalam perempuan.
Bukan miliknya.
Nindi mengambil celana dalam itu, raut wajahnya langsung berubah serius. Kecurigaan mulai menggerogoti pikirannya. Ia menoleh ke arah Daffa yang masih pulas, lalu bergumam pelan dalam hati.
“Ini… celana siapa? Jangan-jangan Mas Daffa….”
Wilona masih terpaku melihat tubuh yang terkapar itu adalah suaminya sendiri. Ia menjatuhkan lututnya, menarik tubuh Daffa yang bersimbah darah ke dalam pangkuannya.Napas Daffa terdengar pendek dan berat."Daffa… k-kenapa… kenapa kau lakukan ini?!" tangis Wilona pecah seketika. Ia menekan luka di dada Daffa, mencoba menahan aliran darah yang tak mau berhenti. "Maafkan aku... aku tidak bermaksud... Daffa!"Daffa menatap Wilona dengan mata yang mulai sayu. Tangannya yang lemah berusaha meraih wajah istrinya, meninggalkan jejak merah di pipi Wilona. Tidak ada kemarahan di mata itu, hanya ada rasa sakit dan perlindungan terakhir."Pergi… pergi, Wilona. Bawa Arkana… kabur sejauh mungkin,” bisik Daffa dengan sisa kekuatannya, sebelum matanya perlahan menutup dan tangannya terkulai jatuh ke lantai.Wilona makin panik tatkala mata Daffa tertutup. “Daffa, bangun! Bercandamu gak lucu, Daf! Bangun!!” jeritnya histeris.Tak lama kemudian, rombongan polisi datang menembus kerumunan pesta yang heb
Hari bahagia itu telah tiba. Di kontrakan kecil yang biasanya dipenuhi tawa Arkana, kini terasa aura ketegangan yang pekat.Daffa mengenakan setelan jas lamanya yang sudah pudar dan sedikit kekecilan, dipadukan dengan kemeja putih baru yang ia beli dari pasar sentral. Ia berdiri di depan cermin kecil, berusaha merapikan dasi yang sudah lama tidak ia pakai. Ia ingin tampil meyakinkan, demi harga diri Wilona."Kau sudah siap, Wil?" tanya Daffa, berbalik menghadap Wilona.Wilona berdiri di samping ranjang. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda. Ia tampak anggun, tetapi wajahnya dingin, tatapannya kosong."Sudah," jawab Wilona, suaranya nyaris berbisik.Ia mengambil tas tangan kecilnya yang terbuat dari kulit imitasi. Di dalamnya, di balik lapisan kain yang ia jahit sendiri, tersembunyi pistol tua Baskara. Dinginnya logam itu menembus kain, mengirimkan getaran janji ke tangannya. Janji untuk membalas penghinaan Nindi. Janji untuk mengakhiri dendam mereka.Wilona memasukkan undang
Daffa langsung menggeleng cepat. “Gak ada apa-apa.” Atensinya pun langsung beralih pada Arkana."Aduh, jagoan Papa makannya lahap sekali ya," goda Daffa, mencondongkan badan untuk mencium kening Arkana. "Lihat, Ma, dia senang sekali dibelikan biskuit baru."Wilona tersenyum, senyum yang terasa sedikit kaku. "Tentu saja. Dia senang karena biskuit itu kita belikan dari hasil keringatmu, Daffa. Bukan dari uang hasil merampas."Mendengar kata-kata itu, Daffa terdiam. Ia tahu Wilona masih memendam amarah atas kunjungan Nindi kemarin. Ia meletakkan sendoknya, meraih tangan Wilona yang bebas."Aku tau kamu masih marah, Wil, karena Nindi kemarin," kata Daffa pelan. "Tapi kita sudah sepakat, kan? Kita gak akan membiarkan mereka merusak kedamaian kita. Biarlah mereka hidup bahagia, dan kita pun harus fokus pada kebahagiaan kita juga.”Wilona menarik tangannya perlahan, kembali fokus pada Arkana. "Aku gak marah, Daffa. Aku hanya... memikirkan biaya hidup kita. Kau harus kembali ke pasar sebentar
Malam harinya, Daffa dan Wilona berbaring di kasur tipis mereka. Arkana sudah tertidur pulas di antara keduanya.Tak lama, Daffa pun ikut ke alam mimpi, ia tampak kelelahan setelah seharian bekerja di pasar.Namun, Wilona tidak bisa memejamkan mata. Otaknya terus memutar kembali setiap ucapan Nindi: “Sepertinya tempat ini cocok untuk tingkat sosial kalian sekarang.” dan “Kami ingin kalian melihat bagaimana rasanya menjadi pemenang.”Darah Wilona kembali mendidih. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang mereka alami.Ia teringat bagaimana Nindi dan Rexa bekerja sama menjebak Baskara, ayahnya, dan bagaimana mereka mencuri semua aset perusahaan milik Daffa, Zenith Corp.Dendam yang selama ini ia tahan, yang ia pendam demi kebahagiaan sederhana, kini meledak kembali. Mereka berhak menderita, pikir Wilona.Wilona pun perlahan bangkit dari kasur, bergerak hati-hati agar tidak membangunkan Daffa. Ia lalu menyelinap keluar dari kamar, menuju kamar kecil Nanik yang ber
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore