Home / Romansa / Menggodamu Hingga Takluk Padaku / 36. Dalam Jeratan Dylan

Share

36. Dalam Jeratan Dylan

Author: Black Aurora
last update Huling Na-update: 2025-08-28 23:17:51
Bibir Dylan kembali memagut bibir Calla dengan rakus, seolah ingin menegaskan bahwa malam ini gadis itu sepenuhnya miliknya.

Ciuman itu keras, panas, penuh desakan, membuat Calla terengah di sela-sela serbuan.

Jemari pria itu bergerak perlahan namun pasti, menuruni kancing piyama Calla satu per satu.

“Mmhh…” desahan Calla pun kembali lolos tanpa bisa ditahan, ketika Dylan menekan ciumannya lebih dalam, dan lidahnya yang bergerak liar menuntut balasan.

Dylan tersenyum kecil di sela ciuman itu, seolah puas mendengar kelembutan suara Calla yang menyuarakan putus asa.

“Damned. Bahkan suaramu seksi sekali, Rivera,” bisiknya dengan napas hangat, “kamu sama sekali tidak tahu betapa gilanya aku mendengarnya.”

Calla memejamkan mata dengan kedua tangan menggenggam bahu Dylan erat-erat, seolah menjadi pegangan agar ia tidak hancur berantakan.

Jemari Dylan akhirnya berhenti di kancing terakhir. Dan piyama tipis itu pun terbuka, membuat tubuh berkulit pucat milik Calla mulai sedikit
Black Aurora

ada satu bab lagi, ditunggu ya 🩷

| 11
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-7

    Pintu apartemen Knox kembali terbuka tak berapa lama kemudian. “Pagi,” sapa suara ceria itu, disusul oleh sosok Trey yang masuk sambil membawa paper bag cokelat dan satu kotak kecil transparan. Seketika Lumi langsung menoleh. Wajahnya yang sejak tadi terlihat tegang, seketika berubah menjadi cerah. “Trey!” Trey lalu mendekat dan meletakkan bawaannya di atas meja. “Aku cuma mampir sebentar. Kamu belum sarapan, kan?” Pria itu lalu dengan cekatan mengeluarkan isinya, yaitu onigiri hitam isi tuna pedas dengan taburan wijen dan saus madu asin, dipasangkan dengan susu hangat rasa jahe dan vanila. Knox menatap semua makanan dan minuman itu seperti sedang melihat sebuah eksperimen gagal. “Dia makan benda itu?” bisiknya rendah pada Adrian. “Sepertinya iya,” jawab Adrian singkat, masih menatap layar laptopnya. Lumi sudah duduk, membuka bungkus onigiri dengan mata berbinar, lalu menggigitnya dengan lahap dan puas. “Ini yang paling enak,” katanya sambil mengunyah, lalu tersen

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-6

    Lumi membeku mendengar kalimat itu.((Itu adalah keputusanku sendiri)) Dadanya terasa sesak. Dan ada sesuatu yang bergetar di dalam perutnya yang terasa asing dan mengganggu.Seolah ciuman barusan meninggalkan jejak yang tidak seharusnya ada, apalagi dalam hubungan palsu yang bahkan belum ada sehari umurnya. Knox sekarang sudah meluruskan tubuhnya. Tangannya telah terlepas dari pinggang Lumi, gesturnya kembali dingin dan profesional, seakan apa pun yang baru saja terjadi hanyalah adegan yang harus diselesaikan dengan rapi.“Ayo masuk,” ucapnya singkat dengan nada perintah, bukan ajakan. Lumi menurut dan mengangguk. Ia lebih dulu membenarkan bath robe-nya dengan tangan usedikit gemetar, lalu melangkah kembali ke dalam apartemen. Begitu pintu balkon tertutup, suara tombol kamera di luar langsung teredam, meninggalkan keheningan yang aneh dan berat.Knox berjalan lebih dulu seolah ingin menciptakan jarak, sementara Lumi berhenti di tengah ruang tamu. Ia membuka masker dan kacamata

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-5

    Pagi itu, Lumi akhirnya keluar dari kamarnya dengan langkah ragu.Ia mengenakan bath robe putih yang diikat longgar di pinggang dengan panjangnya menjuntai sampai lutut. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda rendah dan sederhana. Wajahnya bersih dari riasan, karena toh akan tersembunyi juga di balik masker dan kacamata hitam.Knox dan Trey sudah menunggunya di ruang santai, dan keduanya menoleh hampir bersamaan saat melihat Lumi.Knox mengamati cara Lumi berdiri dengan kaku dan canggung seperti seseorang yang siap dieksekusi, bukan hendak berjemur di balkon apartemen mewah dan menjadi pusat perhatian.Trey-lah yang lebih dulu berdiri dan tersenyum hangat padanya. “Pagi, Lumi. Sudah siap?”Lumi hanya meringis kecil. “Siap atau tidak, sepertinya aku tidak punya pilihan,” gumannya jujur. “Aku… masih malu, Trey. Aku tidak pernah pakai bikini dan difoto.”Trey mengangguk paham. Ia semakin mendekat, lalu dengan gerakan lembut merapikan helai rambut Lumi yang keluar dari ikatannya. “Ka

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-4

    Begitu pintu kamarnya tertutup, Knox langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja samping ranjangnya. Ia melihat tiga missed called yang tertera di layar dan menampilkan nama yang familiar. Adrian. Knox menekan tombol panggil, lalu meletakkan ponsel di telinganya. “Dia sudah sampai?” suara Adrian terdengar nyaris bersamaan dengan nada sambung terakhir. “Sudah,” jawab Knox pendek. “Dan?” Knox menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan dengusan kesal. “Gadis itu benar-benar parah.” “Parah bagaimana?” “Berjalan lurus saja tidak bisa,” gerutunya. “Selalu saja tersandung kakinya sendiri atau hampir menabrak meja. Bahunya naik turun seperti orang sedang asma.” Di seberang sana, Adrian tertawa kecil. Bukan karena mengejek, tapi lebih seperti seseorang yang sudah menduga hasilnya. “Knox,” katanya santai, “maaf, tapi apa kamu sadar siapa dirimu?” “Apa hubungannya?” sergah Knox. “KAMU adalah Knox Bennet,” lanjut Adrian. “Supermodel dunia. Pria yang membuat orang menjadi gugup hanya

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-3

    "Karena mulai hari ini kamu tinggal di sini, maka akan kuantar tur berkeliling apartemen." Knox berjalan lebih dulu dalam langkah yang tenang dan pasti, seolah apartemen seluas itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri. Lumi mengikutinya dari belakang dengan langkah kecil, sembari matanya sibuk menelan setiap detail yang dilewati. Dapur terbuka dengan island marmer putih. Ruang makan dengan meja panjang yang terlalu besar untuk satu orang. Ruang santai dengan sofa rendah dan jendela dari lantai ke langit-langit yang menghadap pemandangan kota. Semuanya terasa mahal, rapi, dan… sunyi. “Dan ini... adalah balkon,” ucap Knox singkat. Ia lalu menggeser pintu kaca, dan membiarkan udara masuk dengan membawa cahaya siang dan pemandangan kota yang terbentang luas. Lumi terdiam sejenak. Pemandangannya indah sekali. Terlalu indah, sampai membuatnya merasa tidak pantas untuk berdiri di sana. “Kalau paparazi berhasil memotret dari jauh, ini adalah salah satu spot yang aman,” ujar

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-2

    Lumi berdiri di depan sebuah gedung apartemen mewah yang menjulang dingin dan terlihat angkuh, membuat dirinya merasa begitu kecil bahkan sebelum memasukinya. Kaca-kaca besar memantulkan langit pagi yang pucat, sementara pintu otomatis di lobi berkilau bersih seperti batas tak kasat mata antara dunia biasa dan kehidupan para sosialita. Ia menggigit bibirnya pelan. Wajahnya tertutup masker hitam, rambut hitam panjangnya yang biasanya dibiarkan terurai, kini digelung seadanya dan diselipkan di balik topi. Kacamata hitam besar menutupi hampir separuh wajahnya yang mungil. Manik cokelat gelap yang biasanya penuh rasa ingin tahu kini tersembunyi, seolah Lumi berharap dirinya juga bisa menghilang di baliknya. “Huuufh… kenapa sampai harus tinggal bersama, sih?” keluhnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Gedung ini adalah tempat tinggal Knox Bennet. Pria yang namanya selama bertahun-tahun hanya ia lihat di billboard raksasa, sampul majalah internasional, dan layar-layar ikl

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status