Se connecterLumi berdiri di depan sebuah gedung apartemen mewah yang menjulang dingin dan terlihat angkuh, membuat dirinya merasa begitu kecil bahkan sebelum memasukinya. Kaca-kaca besar memantulkan langit pagi yang pucat, sementara pintu otomatis di lobi berkilau bersih seperti batas tak kasat mata antara dunia biasa dan kehidupan para sosialita. Ia menggigit bibirnya pelan. Wajahnya tertutup masker hitam, rambut hitam panjangnya yang biasanya dibiarkan terurai, kini digelung seadanya dan diselipkan di balik topi. Kacamata hitam besar menutupi hampir separuh wajahnya yang mungil. Manik cokelat gelap yang biasanya penuh rasa ingin tahu kini tersembunyi, seolah Lumi berharap dirinya juga bisa menghilang di baliknya. “Huuufh… kenapa sampai harus tinggal bersama, sih?” keluhnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. Gedung ini adalah tempat tinggal Knox Bennet. Pria yang namanya selama bertahun-tahun hanya ia lihat di billboard raksasa, sampul majalah internasional, dan layar-layar ikl
“Lumi Walsh?” Knox Bennet menyandarkan punggungnya ke kursi kulit hitam dengan rahang mengeras. “Aku harus berpura-pura memiliki hubungan dengannya?” Tatapannya menajam ke arah pria di seberang meja, kepada manajernya sendiri yang bernama Adrian Cole, yang berdiri dengan tablet di tangan dan ekspresi tenang. “Bukan berpura-pura,” jawab Adrian datar. “Kita menyebutnya pendekatan strategis. Lebih terdengar berkelas.” “Cih. Sama saja, omong kosong,” Knox mendesis. Adrian menghela napas pendek, lalu menekan layar tabletnya. Grafik demi grafik kemudian bermunculan. Angka merah, garis menurun, dan logo brand yang dicoret. “Ini daftar kontrak yang dibatalkan tiga bulan terakhir,” ucap Adrian tanpa emosi. “Empat brand fashion Eropa. Dua kampanye global. Satu rumah mode yang dulu mati-matian mengejarmu.” Knox memalingkan wajah dan menatap jendela besar lantai tiga puluh yang menghadap kota. Pantulan dirinya di kaca tampak masih sama menawannya. Tinggi, proporsional, wajah yang d
Namaku Lumi Walsh, dan aku suka menyanyi. Tapi sayangnya, agensi tidak menyukai sikapku yang ceroboh, kikuk, dan gugup jika berada di hadapan orang banyak saat sedang tidak bernyanyi. Mereka bahkan benci melihat cara jalanku yang dinilai tidak anggun sama sekali. Lalu tercetuslah ide itu. Knox Bennet, seorang model pria super tampan tapi karirnya yang dulu cemelang kini hancur karena skandal mantan tunangannya. Karena kami satu agensi, maka aku dipasangkan dengan Knox sebagai "kekasih". Pura-pura, tentu saja. Hubungan palsu ini akan membawa keuntungan untukku, yaitu Knox dengan aura supermodel-nya bisa mengajarkanku cara bersikap, berjalan, serta berucap hal yang benar di depan publik. Dan Knox, bisa mendapatkan kembali image-nya yang hancur dan karirnya sebagai model. Tapi... apa iya kami harus berpura-pura? Karena masalahnya, Knox itu terlalu tampan untuk diabaikan. Dan meskipun pria itu mengaku masih mencintai wanita lain yang telah menikah, rasanya aku ingin m
Luxterra Corporation – 25 Tahun Kemudian... Ruang rapat utama Luxterra tampak sunyi setelah presentasi terakhir ditutup. Di dalam layar holografik, tulisan EDENFALL II: Project Genesis masih terpampang yang lebih ambisius, lebih radikal, dan jauh melampaui proyek Edenfall generasi pertama. Pria muda dengan wajah tampan yang berada di ujung meja itu pun akhirnya berdiri. Posturnya tenang, tatapannya tajam, suaranya rendah namun tegas dan final. “Luxterra tidak dibangun untuk sekadar bertahan,” ucapnya. “Ia dibangun untuk mengendalikan arah masa depan. Dan Edenfall II bukanlah pengulangan Edenfall yang pertama. Ini seleksi alam yang kami rancang sendiri.” Ia lalu menutup tablet di tangannya. “Meeting selesai.” Nama pria muda itu adalah Caelan Asher, CEO termuda Luxterra yang baru saja dilantik pagi hari ini. Wajahnya memuat ketenangan berbahaya yang terlalu familiar bagi para direktur senior. Mereka tahu sorot mata itu. Dunia pernah melihatnya puluhan tahun lalu, pada
Ruang interogasi itu terlalu terang. Lampu putih menggantung tepat di atas kepala Stella Bianco, membuat bayangan wajahnya jatuh tajam ke meja logam di hadapannya. Tidak ada jendela dan jam. Hanya ada kursi dan borgol dingin yang menekan pergelangan tangannya, serta dua orang penyidik yang menatapnya tanpa simpati. “Ulangi sekali lagi,” ujar salah satu dari mereka datar. “Percobaan pembunuhan terhadap Dylan Asher. Percobaan pembunuhan terhadap Knox Bennet.” Stella menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Aku… aku tidak menyangkal perbuatanku pada Dylan Asher,” ucapnya akhirnya, dengan suara pecah namun masih berusaha terdengar tegar. “Aku menyewa sniper untuk menembak Calla Asher, tapi peluru itu malah mengenai Dylan." Penyidik mencatat. “Dan Knox Bennet?” Stella menggeleng keras. “Tidak. Itu~~itu berbeda.” Tatapan para penyidik mengeras. “Bedanya di mana, Nona Bianco?” Air mata mulai menggenang di mata Stella, namun ia menolak menjatuhkannya. “Aku mencintai K
Restoran itu berdiri di puncak gedung dengan dipenuhi oleh dinding yang terbuat dari kaca, menampilkan panorama kota yang berkilau seperti perhiasan. Cahaya lampu temaram jatuh lembut di meja mereka, memantulkan kilau kristal gelas anggur dan peralatan makan perak yang tersusun dengan sempurna. Semua terasa eksklusif, tertata dan terkendali. Sama seperti hidup Dylan Asher saat ini. Dylan duduk berhadapan dengan Calla, mengenakan setelan hitam mahalnya. Luka operasinya sudah nyaris tak terlihat, seolah tubuhnya menolak untuk tunduk terlalu lama pada kelemahan. Dokter-dokter menyebutnya pemulihan yang “tidak lazim”. Calla menyebutnya keajaiban kecil yang terlalu cepat untuk ukuran pria yang jelas-jelas melanggar hampir seluruh batasan pasien pasca operasi. Ia masih ingat bagaimana ia memarahi Dylan beberapa hari lalu karena tetap bekerja, tetap mengatur pertemuan, tetap berdiri terlalu lama. Dan pria itu hanya tersenyum, seolah rasa sakit adalah hal yang masih bisa dineg







