Home / Romansa / Menggodamu Hingga Takluk Padaku / 83. Tak Akan Menyangkal Dirimu Untuk Menyenangkan Dunia

Share

83. Tak Akan Menyangkal Dirimu Untuk Menyenangkan Dunia

Author: Black Aurora
last update Last Updated: 2025-09-28 22:27:26
Kamar Dylan malam itu terasa hangat.

Lampu gantung berwarna kuning redup menyinari ruangan luas dengan dinding marmer gelap yang kontras dengan sofa beludru tempat Calla bersandar.

Gadis itu mengenakan piyama favoritnya bermotif tengkorak dan pisau, membuatnya merasa nyaman.

Rambut merahnya digerai, sebagian jatuh menutupi bahu.

Ia menatap layar televisi dengan serius, larut dalam adegan film drama yang tengah ia putar.

Namun konsentrasinya pecah ketika suara getaran terdengar dari meja samping.

Bzzz… Bzzz…

Calla menoleh, melihat layar ponselnya yang menyala, serta sederet nomor asing yang kemudian muncul.

Alisnya berkerut. Dengan ragu ia meraihnya, lalu membaca pesan itu.

~Bukan aku yang melakukannya, Cal. Percayalah. —KB

Seketika Calla membeku. "KB…" bibirnya berbisik pelan dan jantungnya berdegup tak karuan.

Knox Bennet? Hanya Knox yang selalu memanggilnya "Cal". Tidak ada orang lain.

Tangan Calla sedikit bergetar. Tapi... Knox melakukan apa? Apakah ini soal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Anugrah
lanjut kk.....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-12

    Pintu apartemen tiba-tiba terbuka, membuat Lumi yang sedang berdiri di dekat meja rias refleks menoleh dengan alis terangkat. “Trey…?” Pria itu melangkah masuk dengan langkah tenang. Setelan hitam pas badan membingkai tubuhnya dengan rapi. Kemeja putihnya bersih, tanpa dasi, kancing atas terbuka satu. Rambut gelapnya yang biasanya dibiarkan sedikit berantakan kini ditata teliti, nyaris sempurna. Lumi menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Kamu… kenapa rapi sekali?” tanyanya jujur, bahkan sedikit bingung. Trey tersenyum kecil. “Karena aku juga akan ikut ke pesta amal malam ini.” Lumi berkedip. “Ikut?” “Hm. Sebagai tamu,” jawab Trey santai. “Sekaligus mendampingi kalian dari kejauhan.” Lumi langsung berubah jadi cerah. Senyumnya muncul spontan, berbeda jauh dari ekspresi waspada yang sejak tadi melekat di wajahnya. “Oh.” Ia menghela napas lega. “Syukurlah.” Di sudut ruangan, Knox yang sejak tadi bersandar dengan tangan terlipat, menajamkan panda

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-11

    Knox dan Lumi saling berpandangan selama beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya. Tidak ada yang bicara, tidak ada yang tersenyum, hanya dua pasang bola mata berbeda warna yang sama-sama keras kepala. Lalu hampir bersamaan pula, mereka segera membuang muka ke arah yang berlawanan. Knox kembali meneguk kopinya, sedangkan Lumi menyilangkan tangan di dada. Sementara Adrian yang berdiri di antara mereka, hanya menahan senyum tipis. Ia mengenal dinamika semacam ini. Dua ego besar yang baru saja saling menguji batas. Belum meledak, tapi sudah mulai memanas. “Bagus,” ucap Adrian ringan. “Setidaknya sekarang kalian tidak saling menerkam.” Lumi menghela napas pelan, lalu melirik ke sekeliling dapur. Pandangannya berhenti di kursi kosong di dekat meja bar. “Trey… tidak datang hari ini?” tanyanya, berusaha terdengar biasa saja. Adrian menoleh. “Dia sudah datang tadi pagi.” Lumi refleks menoleh cepat. “Hah? Kapan?” “Pagi-pagi sekali waktu kamu masih tidur

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-10

    Knox mematikan lampu kamar sebelum keluar, meninggalkan hanya cahaya temaram dari koridor yang menyusup tipis melalui celah pintu. Pintu itu menutup tanpa bunyi. Namun di balik ketenangan ruangan, Lumi sedikit mengernyit dalam tidurnya. Alisnya berkerut samar, seolah tubuhnya menyadari ada sesuatu yang berubah meski pikirannya belum sepenuhnya sadar. *** Pagi hari datang terlalu cepat. Lumi terbangun dengan desahan kecil ketika sinar matahari menembus tirai tipis. Tubuhnya refleks bergerak, lalu rasa nyeri itu menghantam tanpa ampun. “Astaga…” desisnya. Ia mencoba duduk, dan baru menyadari sesuatu yang aneh. Pergelangan kakinya terasa… lebih ringan. Tidak berdenyut separah yang ia bayangkan. Saat selimut tersibak, Lumi pun membeku. Kakinya telah dibalut rapi. Lebamnya tertutup lapisan salep yang sudah meresap, dan aroma dingin mentol samar masih tertinggal di kulitnya. “Siapa yang melakukannya…?” gumannya bingung. Lumi menoleh ke sekeliling kamar, mencoba untuk m

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-9

    Sekitar tiga jam kemudian, Lumi akhirnya menyeret dirinya kembali ke kamar. Begitu pintu tertutup, ia bahkan tidak sempat melepas sweater atau menyingkirkan bantal. Tubuhnya langsung dijatuhkan begitu saja ke atas kasur seperti karung yang kehabisan tenaga. “Dasar Knox Bennet brengsek,” gumannya lirih sambil merintih. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Kaki kirinya berdenyut, pergelangan kakinya terasa kaku, dan otot-otot betisnya seperti diremas kuat tanpa ampun. Setiap senti tubuhnya seolah menjadi pengingat pada apa yang terjadi selama tiga jam terakhir. Jatuh, bangun, jatuh lagi, berdiri dengan kaki gemetar, lalu dipaksa mengulang dari awal sambil memakai heels terkutuk itu. Lumi menatap langit-langit kamarnya sambil mendesah frustrasi. Ia benar-benar tidak yakin apakah besok masih bisa berjalan normal. Bahkan sekadar berdiri pun sekarang terasa seperti beban yang sangat berat. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, lalu mulai mengetik dengan penuh emosi. Kalima

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-8

    Lumi memasuki ruang latihan dengan langkah ragu. Ruangan itu panjang dan luas, dengan dinding penuh cermin dari atas lantai hingga langit-langit. Cahaya pagi masuk dari jendela tinggi di salah satu sisi, memantul pada lantai kayu yang licin dan membuat bayangannya terlihat berlipat ganda. Ia masih mengenakan sweater kebesaran berwarna krem yang menutupi sebagian hot pants-nya. Pakaian yang nyaman, aman dan jauh dari kata glamor. Sementara itu, Knox sudah menunggunya di sana. Pria itu berdiri dengan tangan terlipat di dada, mengenakan jaket kulit dan celana gelap. Rambut pirangnya ditata dengan gaya sedikit berantakan dan ekspresinya datar dan agak bosan, seolah kehadiran Lumi hanyalah bagian dari rutinitas jenuh yang harus ia selesaikan. Tanpa menyapa, Knox hanya sedikit mengangkat dagunya untuk menunjuk ke arah sudut di dekat pintu. Di sana tergeletak sepasang heels hitam dengan tumit tinggi, ramping, runcing dan tajam. Terlihat kejam dan sama sekali tidak ramah,

  • Menggodamu Hingga Takluk Padaku    EP-7

    Pintu apartemen Knox kembali terbuka tak berapa lama kemudian. “Pagi,” sapa suara ceria itu, disusul oleh sosok Trey yang masuk sambil membawa paper bag cokelat dan satu kotak kecil transparan. Seketika Lumi langsung menoleh. Wajahnya yang sejak tadi terlihat tegang, seketika berubah menjadi cerah. “Trey!” Trey lalu mendekat dan meletakkan bawaannya di atas meja. “Aku cuma mampir sebentar. Kamu belum sarapan, kan?” Pria itu lalu dengan cekatan mengeluarkan isinya, yaitu onigiri hitam isi tuna pedas dengan taburan wijen dan saus madu asin, dipasangkan dengan susu hangat rasa jahe dan vanila. Knox menatap semua makanan dan minuman itu seperti sedang melihat sebuah eksperimen gagal. “Dia makan benda itu?” bisiknya rendah pada Adrian. “Sepertinya iya,” jawab Adrian singkat, masih menatap layar laptopnya. Lumi sudah duduk, membuka bungkus onigiri dengan mata berbinar, lalu menggigitnya dengan lahap dan puas. “Ini yang paling enak,” katanya sambil mengunyah, lalu tersen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status