LOGINLunaya masih menatap Karina dengan tatapan tidak percaya. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut wanita itu terus terngiang di telinganya.
Seseorang yang selama ini kami kira sudah meninggal."Apa maksudnya?"Siapa orang yang dimaksud Karina? Mengapa keberadaan orang itu begitu penting hingga bisa mengguncang semua kepercayaan yang selama ini mereka miliki?Lunaya menarik napas perlahan, berusaha mengendalikan pikirannya yang mulai dipenuhi berbagai kemunPukul tujuh lewat lima belas menit.Setelah menghabiskan makan malam, Evano mengantar Lunaya kembali ke rumahnya.Sepanjang perjalanan, mereka berbicara tentang hal-hal ringan. Evano bahkan sempat menggoda Lunaya karena wanita itu berkali-kali memeriksa ponselnya."Kamu sedang menunggu pesan dari seseorang?"Lunaya buru-buru mematikan layar ponselnya."Tidak.""Kalau begitu, kenapa kamu memeriksanya setiap beberapa menit?"Lunaya mengalihkan pandangan."Aku hanya melihat jam."Evano melirik jam digital pada dasbor mobil."Di depanmu ada jam."Lunaya terdiam.Evano terkekeh pelan."Kamu buruk sekali kalau berbohong.""Siapa yang berbohong?""Kamu.""Aku tidak berbohong!""Baiklah, baiklah." Evano mengangkat sebelah tangannya seolah menyerah. "Saya tidak akan mengganggumu lagi."Lunaya mendengus pelan.Meskipun sedan
Mobil Evano berhenti di depan sebuah restoran yang cukup terkenal di pusat kota.Lunaya yang sejak tadi memandangi jalanan di luar jendela akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia melihat Evano melepaskan sabuk pengaman, kemudian menoleh ke arahnya dengan senyum tipis."Sudah sampai. Kenapa kamu masih melamun?"Lunaya tersentak kecil."Aku tidak melamun."Evano mengangkat sebelah alisnya."Oh, ya? Lalu, kenapa sejak tadi kamu lebih tertarik melihat jalanan daripada berbicara dengan saya?"Lunaya mengerjapkan mata.Dia tidak menyangka Evano menyadari sikapnya yang berubah sepanjang perjalanan."Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.""Masih tentang hal yang tadi kamu katakan?"Lunaya terdiam sejenak sebelum mengangguk.Evano tidak langsung bertanya lebih jauh. Dia justru membuka pintu mobil, turun, lalu berjalan ke sisi Lunaya untuk membukakan pintu bagi wanita itu."Saya tidak akan memaksamu bercerita sekarang," katanya sambil mengulurkan tangan. "Tapi, setidaknya, izinkan saya menemanimu
Ponsel Karina yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Jangan biarkan Lunaya datang malam ini. Kalau dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kamu akan kehilangan semuanya. Karina membeku. Jari-jarinya bergetar ketika membaca pesan tersebut untuk kedua kalinya. Belum sempat dia membalas, sebuah pesan lain masuk. Kamu sudah membuat kesalahan dengan membiarkannya tahu terlalu banyak. Jangan membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Karina segera mengangkat kepala dan memandang ke arah pintu kafe. Dia berharap pria misterius tadi masih berada di sekitar tempat itu. Namun, jalanan di luar tampak biasa saja. Pria itu sudah pergi. Karina kembali menatap layar ponselnya. Napasnya mulai tidak teratur. Selama lima tahun, dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian malam itu telah berlalu. Dia mengira
Lunaya masih menatap Karina dengan tatapan tidak percaya. Kalimat yang baru saja keluar dari mulut wanita itu terus terngiang di telinganya.Seseorang yang selama ini kami kira sudah meninggal."Apa maksudnya?"Siapa orang yang dimaksud Karina? Mengapa keberadaan orang itu begitu penting hingga bisa mengguncang semua kepercayaan yang selama ini mereka miliki?Lunaya menarik napas perlahan, berusaha mengendalikan pikirannya yang mulai dipenuhi berbagai kemungkinan."Karina, aku ingin kamu menjelaskan semuanya kepadaku."Karina menggeleng pelan. Wajahnya terlihat semakin pucat, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja."Aku tidak bisa.""Kenapa?" Lunaya menatapnya lekat-lekat. "Kamu sendiri yang mengatakan bahwa selama lima tahun ini kalian mempercayai kebohongan. Sekarang, setelah kamu mengatakan hal seperti itu, bagaimana mungkin kamu memintaku untuk tidak bertanya?""Aku bukan tid
Sore harinya, Karina duduk sendirian di sebuah kafe yang cukup sepi.Sejak datang, dia terus memeriksa jam tangannya. Beberapa kali, dia bahkan menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang yang mengikuti atau mengawasinya.Di atas meja, secangkir kopi yang dipesannya sudah mulai dingin.Karina tidak benar-benar berniat menemui Lunaya. Namun, setelah menerima pesan dari wanita itu, dia menyadari bahwa membiarkan Lunaya mencari tahu sendiri justru akan membuat keadaan semakin berbahaya.Setidaknya, dia harus memperingatkan Lunaya agar tidak mendatangi tempat yang sudah ditentukan orang misterius tersebut.Karina menarik napas panjang."Aku hanya perlu membuatnya menjauh," gumamnya.Dia tidak perlu menceritakan semuanya. Tidak perlu menyebutkan nama siapa pun.Dan yang terpenting, dia tidak boleh membiarkan Lunaya mengetahui bahwa dirinya sudah mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini dia akui kepada E
Pagi itu, Lunaya terbangun dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan.Sejak semalam, dia hampir tidak bisa tidur nyenyak. Pesan dari Karina dan orang misterius itu terus berputar di kepalanya, membuatnya kesulitan menentukan langkah yang harus diambil.Dia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponselnya. Alamat yang dikirimkan orang misterius itu masih tersimpan di sana.Dua orang yang sepertinya mengetahui rahasia yang sama memberikan arahan yang bertolak belakang.Lunaya menghela napas panjang."Apa sebenarnya yang terjadi lima tahun lalu?" gumamnya.Dia tidak ingin mengambil keputusan gegabah. Namun, semakin lama dia membiarkan semuanya tanpa jawaban, semakin besar pula kemungkinan orang-orang yang terlibat akan menghilangkan bukti.Lunaya kemudian teringat pada Evano.Pria itu sudah mengatakan bahwa dia ingin Lunaya menceritakan apa pun yang mengganggu pikirannya. Bahkan, Evano terlihat k







