Accueil / Fantasi / Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya / Bab 5. Selamat datang di neraka dingin

Partager

Bab 5. Selamat datang di neraka dingin

Auteur: Lovely Pearly
last update Date de publication: 2026-01-19 11:52:19

Roda kereta kuda berlogo serigala perak itu akhirnya berhenti di atas jalanan berkerikil. Lucas dengan cekatan membuka pintu dari luar, membiarkan cahaya senja menyelinap masuk ke dalam kabin yang temaram. Kael turun lebih dulu. Gerakannya tangkas dan efisien khas militer. Begitu sepatu botnya menapak tanah, ia berbalik. Tangan besarnya yang kini terbalut sapu tangan sutra robek dengan simpul berantakan—terulur ke arah dalam.

Di dalam kereta, Kirana tertegun menatap tangan itu. Desiran hangat yang asing merambat di dadanya. Dalam novel aslinya, Kael tak pernah melakukan gestur semanis ini. Biasanya, Valeriana asli akan menepis kasar tangan suaminya atau berteriak memanggil pelayan untuk dijadikan pijakan kaki. Namun, sejarah kali ini memilih jalur berbeda.

Kirana meletakkan tangan halusnya di atas telapak tangan Kael yang kasar namun hangat. “Terima kasih,” ucapnya lembut seraya turun.

Kael tidak menjawab, hanya memberi anggukan kaku dengan wajah datar bak tembok benteng.

Namun, begitu kaki Kirana menjejak sempurna di halaman depan, senyum tipisnya seketika pudar. Pemandangan di hadapannya bukan rumah yang menyambut hangat, melainkan benteng pertahanan yang muram. Kediaman Duchy Vallas menjulang tinggi dengan gaya gothic klasik, didominasi batu alam gelap dan pilar hitam kokoh. Tidak ada pot bunga cerah atau dekorasi manis. Bangunan itu seolah berteriak mengusir siapa pun yang mendekat.

Lebih mengerikan daripada arsitektur suram itu adalah barisan manusianya.

Di depan pintu utama, puluhan pelayan berbaris rapi membentuk lorong penyambutan. Seragam hitam-putih mereka sempurna, tetapi masalahnya satu. Mereka semua gemetar. Wajah-wajah itu pucat pasi, menunduk dalam menatap ujung sepatu seolah menatap wajah sang Nyonya Rumah adalah dosa besar yang harus dibayar nyawa. Atmosfernya lebih mirip prosesi pemakaman daripada penyambutan tuan rumah.

"Gila," batin Kirana bergidik. "Seburuk apa, sih, kelakuan Valeriana asli selama ini? Ini rumah atau penjara bawah tanah?"

Masih menggandeng lengan Kael, Kirana melangkah maju. Saat gaun merahnya berdesir melewati seorang pelayan muda di barisan depan, bahu gadis itu tersentak kaget. Ia menahan napas hingga wajahnya membiru, takut dicambuk hanya karena bernapas terlalu keras. Inilah “Neraka Dingin”, dan Valeriana adalah iblis penguasanya.

“Selamat datang kembali, Yang Mulia Duke, Yang Mulia Duchess.”

Seorang pria paruh baya dengan rambut klimis dan kacamata berantai emas menyambut di ujung barisan. Hans, sang Kepala Pelayan.

“Siapkan air panas, Hans,” perintah Kael singkat kepada Hans seraya melepaskan tautan tangannya dari Valeriana.

Hans? Kirana menyipitkan mata. Dalam novel, karakter Hans sangat abu-abu. Pria itu digambarkan membenci Valeriana, namun yang paling mencurigakan adalah fakta bahwa di akhir cerita, Hans satu-satunya yang tidak dieksekusi atau dipenjara saat Keluarga Vallas runtuh. Ia menghilang begitu saja.

Rasa hangat di lengan Kirana lenyap, digantikan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyusup dada.

Mereka memasuki ruang tamu yang luasnya cukup untuk dijadikan lapangan futsal. Lantai marmer hitam-putih memantulkan hawa dingin, sementara lampu gantung kristal yang tak dinyalakan membuat suasana kian remang. Di tengah ruangan, tangga besar bercabang dua membentuk huruf Y. Sayap kanan adalah wilayah kekuasaan Kael, sementara sayap kiri adalah area terlarang milik Valeriana.

Di sinilah rutinitas “Perang Dingin” biasanya dimulai. Kael akan berbelok kanan tanpa kata, dan Valeriana akan melengos ke kiri sambil membanting pintu.

Kael berhenti sejenak di kaki tangga. Ia menoleh sekilas, wajah datarnya menyiratkan kelelahan tertahan. “Istirahatlah,” ucapnya, suaranya menggema di ruang kosong. “Kau pasti lelah setelah kejadian di istana tadi.”

Tanpa menunggu jawaban, Kael memutar tumit menuju sayap kanan. Punggung lebarnya seolah mengirim pesan jelas. Tugas sebagai suami selesai, jangan ganggu aku. Lucas segera mengikuti di belakangnya. Para pelayan mulai bergerak bubar, menghela napas lega karena sang Nyonya Besar tidak mengamuk hari ini.

Hans pun bersiap menggiring Kirana. “Mari, Nyonya. Saya antar ke kamar untuk mengganti gaun—”

“Tunggu.”

Satu kata itu membekukan aktivitas di ruangan besar tersebut. Suara Kirana tidak keras, namun tegas. Hans langsung menutup mulut rapat-rapat. Mata hijau zamrud Kirana terkunci pada punggung suaminya.

“Kael!” panggilnya lagi dengan volume lebih tinggi.

Langkah Kael terhenti mendadak. Pria itu membeku dua detik penuh, mungkin berdoa semoga istrinya tidak melempar vas bunga ke punggungnya. Perlahan, ia berbalik dengan alis berkerut.

“Ada apa lagi, Valeriana?” tanyanya sopan namun sarat ketidaksabaran. Apa lagi? Kau sudah membuatku malu, merobek sapu tangan Pangeran—sekarang apa?

Kirana menarik napas dalam. Ia tahu tembok es ini harus diretakkan sekarang juga. Jika Kael masuk ke ruang kerjanya, mereka kembali menjadi orang asing, dan takdir kematian itu kian mendekat.

“Kau mau ke mana?” tanya Kirana sambil melangkah mendekat.

Salah satu alis Kael terangkat. “Ke ruang kerja. Aku harus menyelesaikan laporan perbatasan yang tertunda karena menjemputmu.” Sindiran halus yang menghantam telak.

“Kau belum makan,” ujar Kirana mengabaikan nada itu. “Perutmu kosong sejak siang, bukan?”

“Aku akan makan di ruang kerja nanti. Lucas yang membawakannya.” Kael hendak berbalik.

“Tidak boleh!” seru Kirana spontan. Suaranya menggema keras. Kael tersentak, Lucas hampir menjatuhkan helm perang, dan Hans melongo. Kirana sadar suaranya terlalu keras, mirip ibu memarahi anak yang mogok makan. Ia berdehem pelan, membenahi postur agar kembali terlihat anggun.

“Maksudku ….”

Kirana melembutkan suara, menatap mata abu-abu Kael dengan kesungguhan. “Makan sambil bekerja itu tidak sehat. Kau baru menempuh perjalanan jauh. Kau butuh istirahat, setidaknya sebentar.”

Kael menatapnya penuh curiga, matanya menyipit memindai tanda kebohongan. “Sejak kapan kau peduli pada kesehatanku? Biasanya kau senang jika aku sakit. Kalau aku sakit, aku tidak perlu pulang ke rumah ini dan kau bebas mengadakan pesta, bukan?”

Jleb. Kalimat itu menghantam tanpa ampun. Rekam jejak kejahatan Valeriana memang terlalu panjang untuk dibantah.

“Itu dulu,” elaknya cepat dengan pipi memanas. “Sekarang berbeda. Aku … aku lapar. Dan aku tidak mau makan sendirian di meja makan sebesar lapangan bola itu. Rasanya sepi.”

Ia memasang wajah memelas andalannya. Puppy eyes yang dulu selalu ampuh meluluhkan hati ayahnya di dunia modern. “Temani aku makan malam, ya? Suami? Sekali saja.”

Keheningan menyelimuti ruang tamu seolah angin dingin melintas. Para pelayan saling bertukar pandang dengan ekspresi ngeri. Duchess mengajak makan malam? Bersama Duke? Di meja yang sama?

Kael tak menduga apa yang di katakan oleh istrinya. "Apa Valeriana berniat meracuni ku secara langsung?" batin Kael.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Netty Tya
Hahahahaha Orang yang duLuNya JAHAT ANGKUH dan SOMBONG Batiba jadi orang baik..hahahaaaha Bikin sang Suami pengen Pingsan ajja km Valeri
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 285. Keberangkatan Kael

    Tiga hari berlalu sejak pertemuan darurat di istana. Selama waktu itu, Kael hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Siang dan malam dihabiskannya bersama Kaisar serta para petinggi militer untuk menyusun strategi terbaik menghadapi serangan Kerajaan Ferros yang terus mendesak wilayah selatan. Setelah melalui berbagai perhitungan dan pertimbangan yang panjang, keputusan itu akhirnya diambil.Kael de Vallas akan kembali memimpin pasukan.Bukan sebagai Jenderal Kekaisaran.Melainkan sebagai Duke Vallas yang memilih mengangkat pedangnya sekali lagi demi melindungi rakyat Arcelia.Sebelum keberangkatannya, Kael memanggil seluruh penghuni utama Kediaman Vallas untuk berkumpul di ruang tamu. Lucas datang lebih dahulu, disusul Anna, kemudian Tabib Pym yang berjalan pelan dengan wajah yang tampak jauh lebih muram dibanding hari-hari sebelumnya.Setelah semua berkumpul, Kael berdiri di hadapan mereka dengan pakaian perang yang belum sepenuhnya dikenakan. Tatapannya menyapu satu per satu w

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 284. Kebohongan Valeriana 2

    Malam berlalu dalam keheningan yang terasa terlalu rapuh untuk disentuh. Di dalam kamar utama Kediaman Vallas, cahaya remang dari lilin minyak menari pelan di dinding, sementara Valeriana sama sekali tidak mampu memejamkan matanya meski tubuhnya telah terasa begitu lelah.Di sisinya, Kael akhirnya tertidur setelah berhari-hari menahan begitu banyak beban di pundaknya. Napas pria itu terdengar dalam dan teratur, meskipun sesekali dahinya masih berkerut seolah bahkan di dalam tidurnya ia tetap memikirkan perang, kekaisaran, dan keluarga kecil yang begitu ingin ia lindungi.Valeriana memandang wajah itu cukup lama.Wajah yang selama ini selalu berdiri di hadapannya setiap kali bahaya datang. Wajah seorang pria yang tidak pernah ragu menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai jika itu berarti Valeriana tetap aman.Perlahan, Valeriana mengangkat tangannya dan menyapu beberapa helai rambut Kael yang jatuh menutupi dahinya."Maafkan aku..." bisiknya sekali lagi. Bibirnya bergetar. "Aku tidak

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 283. Kebohongan Valeriana

    Valeriana perlahan memejamkan matanya. Dadanya terasa semakin sesak setiap kali mengingat semua yang baru saja dikatakan Kael. Kini ia benar-benar memahami bahwa pria itu tidak sedang bimbang. Tidak sedang mencari alasan. Kael telah mengambil keputusan yang tidak akan berubah, bahkan jika seluruh kekaisaran datang berlutut memohon di hadapannya.Dan justru karena itulah, sebuah keputusan lain perlahan tumbuh di dalam hati Valeriana. Keputusan yang sejak tadi berusaha ia abaikan. Keputusan yang perlahan terasa semakin jelas.Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka matanya kembali. Bibirnya membentuk senyum yang begitu tipis, nyaris tidak terlihat, namun cukup untuk menyembunyikan gejolak yang sedang mengoyak hatinya."Suamiku..."Kael yang masih menggenggam tangannya langsung mengangkat wajah."Ada apa?"Valeriana menatapnya dengan lembut."Aku belum sempat memberitahumu sesuatu."Alis Kael langsung berkerut."Apa?""Tadi siang—" Valeriana berhenti sejenak, seolah sedang meng

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 282. Ketakutan seorang suami

    Kael terdiam cukup lama setelah selesai menceritakan keadaan di wilayah selatan. Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan yang berat, sementara suara kayu yang terbakar di dalam perapian sesekali terdengar berderak pelan, menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian di antara mereka.Valeriana menundukkan pandangannya perlahan ke arah tangan mereka yang masih saling bertaut di atas selimut. Jari-jari Kael menggenggam tangannya begitu erat, hingga hampir terasa seolah pria itu takut dirinya akan menghilang jika ia melepaskannya walau hanya sesaat.Beberapa saat berlalu sebelum Valeriana akhirnya menarik napas panjang."Suamiku..."Kael mengangkat wajahnya perlahan. Entah mengapa, sejak mendengar suara itu, dadanya tiba-tiba terasa menegang oleh firasat yang tidak ia sukai."Aku ingin kau menerima permintaan Yang Mulia."Kalimat itu membuat sorot mata Kael berubah seketika."Apa?"Ia menatap istrinya seolah tidak yakin telah mendengar dengan benar. "Itu tidak mungkin, sayang.

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 281. Panggilan dari istana

    Mereka bahkan belum sempat melanjutkan pembicaraan yang menggantung di udara ketika suara ketukan keras terdengar dari balik pintu ruang kerja.Tok.Tok.Tok.Pintu segera terbuka, memperlihatkan Lucas yang masuk dengan napas sedikit memburu, sesuatu yang sangat jarang terlihat pada pria yang biasanya selalu tenang itu."Tuan."Kael segera menoleh dari tempatnya berdiri di dekat jendela."Ada apa?"Lucas menelan ludah sebelum menjawab."Ada utusan kerajaan yang datang dengan sangat tergesa-gesa."Ia berhenti sejenak."Yang Mulia Kaisar meminta Tuan segera datang ke istana."Kael mengernyit pelan."Sekarang?""Iya."Lucas menganggukkan kepala."Katanya keadaan darurat."6t---Kurang dari satu jam kemudian, kereta keluarga Vallas telah memasuki halaman utama istana kekaisaran.Namun suasana yang menyambut mereka jauh berbeda dari biasanya.Tidak ada ketenangan.Tidak ada kesunyian khas bangunan megah yang selama ini menjadi pusat pemerintahan kekaisaran.Para pengawal terlihat berlari

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 280. Sindrom kehabisan Kehidupan

    Beberapa minggu berlalu jauh lebih cepat daripada yang mereka sadari. Musim perlahan kembali berganti, membawa perubahan kecil yang terlihat jelas di seluruh wilayah utara. Udara pagi yang sebelumnya masih menyisakan kesejukan khas musim semi kini mulai terasa lebih hangat, sementara bunga-bunga di taman Kediaman Vallas telah bermekaran sepenuhnya, memenuhi halaman dengan warna-warna lembut yang menenangkan mata. Dedaunan muda bergoyang perlahan setiap kali angin berembus melewati pepohonan, menciptakan suara gemerisik pelan yang biasanya mampu menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.Namun di dalam Kediaman Vallas sendiri, seluruh perhatian hanya tertuju pada satu orang.Valeriana.Usia kandungannya kini telah memasuki bulan kesembilan. Perutnya telah membesar dengan sempurna, menjadi bukti nyata dari kehidupan kecil yang selama berbulan-bulan tumbuh dengan tenang di dalam dirinya. Namun di balik kebahagiaan yang seharusnya menyertai hari-hari menjelang kelahiran itu, kondisi tu

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 7. Operasi: Buktikan steak ini tidak beracun

    Suasana meja makan terdiam sejenak. Para pelayan tampak ragu, melirik Kael untuk meminta izin. Kael, yang masih mencerna situasi, akhirnya mengangguk kaku. “Lakukan apa yang dia minta,” ucapnya datar. Dengan cepat, Hans dan para pelayan memindahkan peralatan makan perak ke sisi Kael. Kirana melang

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 6. Operasi: Makan malam

    Hans, sang Kepala Pelayan yang kaku dan taat aturan, akhirnya angkat bicara ketika tidak tahan lagi melihat keanehan yang jelas-jelas melanggar protokol "Perang Dingin" di dalam rumah itu. "Maaf, Nyonya," sela Hans sopan namun tegas sambil melangkah maju sedikit. "Tuan Duke memiliki jadwal yang san

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 4. Keheningan di kereta kuda

    Kirana duduk gelisah. Korset terkutuk ini benar-benar menyiksa. Setiap kali kereta berguncang melewati jalanan berbatu, kawat penyangganya menusuk rusuk tanpa ampun. Rasanya ia ingin sekali bersandar, merosot malas, atau mengangkat kaki ke kursi seperti kebiasaannya dulu saat naik angkot atau taksi

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 3. Permintaan maaf yang aneh

    Pangeran Arthur, yang semula sudah siap melontarkan kalimat sinis berikutnya, mendadak terdiam. Matanya membelalak. Kael, yang menangkap perubahan itu dari sudut matanya, seketika menegang. Apa yang akan Valeriana lakukan? Pikirnya panik. Apakah ia akan melempar sepatu ke Arthur? Atau meludahi Elena

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status