MasukRoda kereta kuda berlogo serigala perak itu akhirnya berhenti di atas jalanan berkerikil. Sir Lucas dengan cekatan membuka pintu dari luar, membiarkan cahaya senja menyelinap masuk ke dalam kabin yang temaram. Kael turun lebih dulu. Gerakannya tangkas dan efisien khas militer. Begitu sepatu botnya menapak tanah, ia berbalik. Tangan besarnya yang kini terbalut sapu tangan sutra robek dengan simpul berantakan—terulur ke arah dalam.
Di dalam kereta, Valeriana tertegun menatap tangan itu. Desiran hangat yang asing merambat di dadanya. Dalam novel aslinya, Kael tak pernah melakukan gestur semanis ini. Biasanya, Valeriana asli akan menepis kasar tangan suaminya atau berteriak memanggil pelayan untuk dijadikan pijakan kaki. Namun, sejarah kali ini memilih jalur berbeda. Valeriana meletakkan tangan halusnya di atas telapak tangan Kael yang kasar namun hangat. “Terima kasih,” ucapnya lembut seraya turun. Kael tidak menjawab, hanya memberi anggukan kaku dengan wajah datar bak tembok benteng. Namun, begitu kaki Valeriana menjejak sempurna di halaman depan, senyum tipisnya seketika pudar. Pemandangan di hadapannya bukan rumah yang menyambut hangat, melainkan benteng pertahanan yang muram. Kediaman Duchy Vallas menjulang tinggi dengan gaya gothic klasik, didominasi batu alam gelap dan pilar hitam kokoh. Tidak ada pot bunga cerah atau dekorasi manis. Bangunan itu seolah berteriak mengusir siapa pun yang mendekat. Lebih mengerikan daripada arsitektur suram itu adalah barisan manusianya. Di depan pintu utama, puluhan pelayan berbaris rapi membentuk lorong penyambutan. Seragam hitam-putih mereka sempurna, tetapi masalahnya satu. Mereka semua gemetar. Wajah-wajah itu pucat pasi, menunduk dalam menatap ujung sepatu seolah menatap wajah sang Nyonya Rumah adalah dosa besar yang harus dibayar nyawa. Atmosfernya lebih mirip prosesi pemakaman daripada penyambutan tuan rumah. "Gila," batin Valeriana bergidik. "Seburuk apa, sih, kelakuan Valeriana asli selama ini? Ini rumah atau penjara bawah tanah?" Masih menggandeng lengan Kael, Valeriana melangkah maju. Saat gaun merahnya berdesir melewati seorang pelayan muda di barisan depan, bahu gadis itu tersentak kaget. Ia menahan napas hingga wajahnya membiru, takut dicambuk hanya karena bernapas terlalu keras. Inilah “Neraka Dingin”, dan Valeriana adalah iblis penguasanya. “Selamat datang kembali, Yang Mulia Duke, Yang Mulia Duchess.” Seorang pria paruh baya dengan rambut klimis dan kacamata berantai emas menyambut di ujung barisan. Hans, sang Kepala Pelayan. “Siapkan air panas, Hans,” perintah Kael singkat kepada Hans seraya melepaskan tautan tangannya dari Valeriana. Hans? Valeriana menyipitkan mata. Dalam novel, karakter Hans sangat abu-abu. Pria itu digambarkan membenci Valeriana, namun yang paling mencurigakan adalah fakta bahwa di akhir cerita, Hans satu-satunya yang tidak dieksekusi atau dipenjara saat Keluarga Vallas runtuh. Ia menghilang begitu saja. Rasa hangat di lengan Valeriana lenyap, digantikan rasa kehilangan yang tiba-tiba menyusup dada. Mereka memasuki ruang tamu yang luasnya cukup untuk dijadikan lapangan futsal. Lantai marmer hitam-putih memantulkan hawa dingin, sementara lampu gantung kristal yang tak dinyalakan membuat suasana kian remang. Di tengah ruangan, tangga besar bercabang dua membentuk huruf Y. Sayap kanan adalah wilayah kekuasaan Kael, sementara sayap kiri adalah area terlarang milik Valeriana. Di sinilah rutinitas “Perang Dingin” biasanya dimulai. Kael akan berbelok kanan tanpa kata, dan Valeriana akan melengos ke kiri sambil membanting pintu. Kael berhenti sejenak di kaki tangga. Ia menoleh sekilas, wajah datarnya menyiratkan kelelahan tertahan. “Istirahatlah,” ucapnya, suaranya menggema di ruang kosong. “Kau pasti lelah setelah kejadian di istana tadi.” Tanpa menunggu jawaban, Kael memutar tumit menuju sayap kanan. Punggung lebarnya seolah mengirim pesan jelas. Tugas sebagai suami selesai, jangan ganggu aku. Sir Lucas segera mengikuti di belakangnya. Para pelayan mulai bergerak bubar, menghela napas lega karena sang Nyonya Besar tidak mengamuk hari ini. Hans pun bersiap menggiring Valeriana. “Mari, Nyonya. Saya antar ke kamar untuk mengganti gaun—” “Tunggu.” Satu kata itu membekukan aktivitas di ruangan besar tersebut. Suara Valeriana tidak keras, namun tegas. Hans langsung menutup mulut rapat-rapat. Mata hijau zamrud Valeriana terkunci pada punggung suaminya. “Kael!” panggilnya lagi dengan volume lebih tinggi. Langkah Kael terhenti mendadak. Pria itu membeku dua detik penuh, mungkin berdoa semoga istrinya tidak melempar vas bunga ke punggungnya. Perlahan, ia berbalik dengan alis berkerut. “Ada apa lagi, Valeriana?” tanyanya sopan namun sarat ketidaksabaran. Apa lagi? Kau sudah membuatku malu, merobek sapu tangan Pangeran—sekarang apa? Valeriana menarik napas dalam. Ia tahu tembok es ini harus diretakkan sekarang juga. Jika Kael masuk ke ruang kerjanya, mereka kembali menjadi orang asing, dan takdir kematian itu kian mendekat. “Kau mau ke mana?” tanya Valeriana sambil melangkah mendekat. Salah satu alis Kael terangkat. “Ke ruang kerja. Aku harus menyelesaikan laporan perbatasan yang tertunda karena menjemputmu.” Sindiran halus yang menghantam telak. “Kau belum makan,” ujar Valeriana mengabaikan nada itu. “Perutmu kosong sejak siang, bukan?” “Aku akan makan di ruang kerja nanti. Lucas yang membawakannya.” Kael hendak berbalik. “Tidak boleh!” seru Valeriana spontan. Suaranya menggema keras. Kael tersentak, Sir Lucas hampir menjatuhkan helm perang, dan Hans melongo. Valeriana sadar suaranya terlalu keras, mirip ibu memarahi anak yang mogok makan. Ia berdehem pelan, membenahi postur agar kembali terlihat anggun. “Maksudku ….” Valeriana melembutkan suara, menatap mata abu-abu Kael dengan kesungguhan. “Makan sambil bekerja itu tidak sehat. Kau baru menempuh perjalanan jauh. Kau butuh istirahat, setidaknya sebentar.” Kael menatapnya penuh curiga, matanya menyipit memindai tanda kebohongan. “Sejak kapan kau peduli pada kesehatanku? Biasanya kau senang jika aku sakit. Kalau aku sakit, aku tidak perlu pulang ke rumah ini dan kau bebas mengadakan pesta, bukan?” Jleb. Kalimat itu menghantam tanpa ampun. Rekam jejak kejahatan Valeriana memang terlalu panjang untuk dibantah. “Itu dulu,” elaknya cepat dengan pipi memanas. “Sekarang berbeda. Aku … aku lapar. Dan aku tidak mau makan sendirian di meja makan sebesar lapangan bola itu. Rasanya sepi.” Ia memasang wajah memelas andalannya. Puppy eyes yang dulu selalu ampuh meluluhkan hati ayahnya di dunia modern. “Temani aku makan malam, ya? Suami? Sekali saja.” Keheningan menyelimuti ruang tamu seolah angin dingin melintas. Para pelayan saling bertukar pandang dengan ekspresi ngeri. Duchess mengajak makan malam? Bersama Duke? Di meja yang sama? Kael tak menduga apa yang di katakan oleh istrinya. "Apa Valeriana berniat meracuni ku secara langsung?" batin Kael.Tatapan Valeriana bergetar nyaris tak terlihat.Lavender.Ia ingat dengan jelas saat menyelipkan kantung kecil berisi bunga lavender itu di bawah bantal Kael. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati agar pria itu bisa tidur lebih nyenyak tanpa terbangun.Namun ia tidak menyadari bahwa rencananya sudah gagal sejak awal.Kael tetap terbangun.Mungkin karena naluri seorang prajurit. Sebanyak apa pun ia tidur dengan nyenyak, jika ada pergerakan sekecil apa pun di sekitarnya, tubuhnya akan otomatis terjaga dan bersiap waspada.“Lalu aku pura-pura tidur,” kata Kael lagi. “Aku ingin tahu apa yang kau lakukan.”Angin bertiup sedikit lebih kencang, menggoyangkan ujung taplak meja.Valeriana menatap mangkuk sup di depannya, tetapi sebenarnya ia tidak benar-benar melihatnya. Kael tidak memalingkan pandangannya sedikit pun.“Aku melihatmu keluar dari kamar,” lanjutnya. “Aku melihatmu menuju sayap timur.”Kael berhenti sejenak. Cukup lama untuk membuat dada Valeriana terasa semakin sesak.“Dan kau
Sebenarnya Kael sangat malas menghadiri pesta jamuan teh para bangsawan seperti itu. Baginya, tidak ada gunanya datang. Kegiatannya hanya minum teh dan berbincang dengan para bangsawan lain atau membahas kerja sama bisnis yang membosankan.Yang paling ia benci adalah sifat para bangsawan di sana yang bermuka dua. Kael tidak suka berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Baginya, lebih baik pergi ke medan perang dan menghadapi musuh secara langsung daripada menghadapi orang yang menusuk dari belakang secara diam-diam.Dulu ia datang ke acara semacam itu hanya untuk mengawasi istrinya dari jauh. Saat itu Valeriana masih mengejar Pangeran Arthur. Jadi keberadaannya di sana lebih sering untuk membereskan masalah yang dibuat oleh istrinya.Namun sekarang Valeriana telah berubah. Dan kali ini, justru wanita itu yang mengajaknya pergi bersama ke pesta jamuan teh para bangsawan."Kau mau ikut, kan, suamiku? Ayolah. Aku tidak akan membuat keributan seperti dulu. Aku hanya ingin menikmati pest
"Suamiku!" teriak Valeriana, memecah suasana tegang di antara Lucas dan Kael.Saat itu juga Lucas menghela napas lega. Jantungnya berdebar kencang karena ia hampir saja membongkar rahasia antara dirinya dan Nyonya Duchess.Ekspresi lega di wajah Lucas tidak luput dari pengamatan Kael. Pria itu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Valeriana dan Lucas. Ia harus mengetahuinya. Namun Kael tidak berniat memaksa Valeriana. Nanti, ia akan membujuk istrinya perlahan agar mau menceritakan semuanya."Iya, istriku. Kenapa kau berada di sini? Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Kael lembut.Ia merentangkan kedua tangannya tanpa ragu, meskipun para prajurit dan Lucas masih berada di sana, menyaksikan adegan itu. "Benar-benar ingin pamer kemesraan," cibir Valeriana dalam hati.Baiklah, jika Kael suka melakukan hal seperti itu, maka Valeriana akan mengimbanginya.Dengan manja, Valeriana langsung memeluk Kael erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Para prajurit,
Lucas membeku sepersekian detik. Ah, sialan. Baru saat itu ia sadar bahwa sejak tadi ia terlalu sering menggerakkan jari-jarinya. Tangan kanannya memang terasa sedikit nyeri setelah semalaman menyalin ratusan baris laporan.Lucas segera menggenggam tangannya di belakang punggung. “Tidak apa-apa, Tuan. Hanya sedikit kram.”“Kram?” ulang Kael datar.“Ya, Tuan. Mungkin karena … eh …” Lucas berpikir cepat. “Kemarin saya membantu para prajurit baru berlatih pedang terlalu lama.”Kael tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke arah tangan Lucas yang berusaha disembunyikan di belakang punggung. “Benarkah?”Lucas menelan ludah.“Biasanya orang yang terlalu lama berlatih pedang justru mengeluh bahunya sakit,” lanjut Kael tenang. “Bukan jari-jarinya.”Lucas hampir tersedak oleh napasnya sendiri. Tuan Duke ini benar-benar menyebalkan jika sedang mengamati orang.“Saya juga membantu bagian administrasi sebentar kemarin, Tuan,” tambah Lucas cepat. “Beberapa laporan logistik perlu disalin ulang.”
Valeriana menatap Petrus beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Senyumnya tidak berubah, tetapi matanya mengamati pria tua itu dengan saksama—cara ia berdiri, posisi tangannya, bahkan napasnya yang teratur seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi interogasi.“Begitu ya?” jawab Valeriana ringan. “Kalau begitu mungkin hari ini aku harus mulai belajar memahami isi ruangan ini.”Beberapa juru tulis yang berada paling dekat langsung menundukkan kepala mereka kembali ke pekerjaan, pura-pura sibuk. Suasana ruangan yang tadinya ramai tiba-tiba terasa lebih sunyi. Hanya suara pena yang kembali menggores perkamen.Petrus tersenyum tipis.“Tentu saja, Nyonya. Namun saya khawatir laporan-laporan ini akan terasa sangat membosankan bagi seseorang yang tidak berkecimpung dalam urusan keuangan.”“Ah, jangan meremehkanku begitu,” balas Valeriana santai. Ia melangkah beberapa langkah mendekati meja kerja Petrus. “Aku hanya ingin tahu bagaimana orang-orang yang bekerja untuk suamiku men
“Di mana Lucas?! Kenapa sampai jam segini belum datang juga?” tanya Kael kepada para prajurit yang tengah berlatih.Latihan mereka seketika terhenti. Semua saling berpandangan ketika tuan mereka menanyakan keberadaan Lucas—sang ajudan yang hampir selalu berada di sisinya setiap saat. Kini Kael berdiri sendirian, menatap mereka dengan tatapan tajam.“Kami tidak tahu, Tuan. Pagi ini saya belum melihat Lucas. Biasanya dia sudah berada di sini—”“Hadir, Tuan!!”Suara itu terdengar nyaring dari kejauhan. Lucas berlari tergesa-gesa menghampiri Kael. Ia datang terlambat akibat misi semalam bersama Sang Nyonya untuk menyalin data. Niatnya hanya ingin tidur dua jam dan bangun pukul enam pagi, tetapi tanpa sadar ia baru terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul delapan. Dengan panik, ia segera bersiap dan bergegas menuju lapangan latihan.Napasnya terengah-engah ketika akhirnya tiba di hadapan Kael.Kael menatapnya dengan sorot mata curiga. Tidak biasa ajudannya datang terlambat seperti ini. P







