แชร์

Bab 6. Operasi: Makan malam

ผู้เขียน: Lovely Pearly
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-21 10:09:47

Hans, sang Kepala Pelayan yang kaku dan taat aturan, akhirnya angkat bicara ketika tidak tahan lagi melihat keanehan yang jelas-jelas melanggar protokol "Perang Dingin" di dalam rumah itu.

"Maaf, Nyonya," sela Hans sopan namun tegas sambil melangkah maju sedikit. "Tuan Duke memiliki jadwal yang sangat padat. Beliau biasanya makan di ruang kerja demi efisiensi waktu. Selain itu, dapur juga belum menyiapkan menu khusus untuk makan malam bersama di ruang utama karena selama ini Nyonya meminta makanan diantar ke kamar pribadi."

Valeriana menoleh pelan. Tatapannya seketika mendingin-tajam, aristokrat, dan membuat Hans mendadak merasa kecil di tempatnya.

"Hans," panggil Valeriana rendah namun penuh wibawa.

Hans buru-buru menegakkan punggungnya; keringat dingin mengalir di pelipis. "Y-ya, Nyonya?"

"Apa aku sedang bertanya padamu?"

Hans membeku. Wajahnya memucat drastis. Ia sadar baru saja melewati garis yang tidak boleh dilanggar.

"T-tidak, Nyonya. Maafkan kelancangan saya."

"Aku bertanya pada suamiku," sahut Valeriana tegas, sebelum kembali menatap Kael yang masih diam mematung, seolah menikmati adegan istrinya mematahkan dominasi kepala pelayan.

"Bagaimana, Kael? Apa permintaan seorang istri untuk makan malam bersama suaminya itu terlalu berlebihan? Aku tidak meminta gaun baru, tidak meminta berlian mahal. Aku hanya meminta makan malam."

Kael menatap Valeriana lama. Sangat lama.

Ada pergulatan nyata di sana–logika militernya berteriak bahwa ini jebakan, skenario tersembunyi untuk mempermalukan dirinya. Valeriana pasti merencanakan sesuatu.

Namun hati kecilnya-dan mungkin perutnya yang memang lapar-berkata lain. Ia melihat kesungguhan aneh dalam mata hijau itu. Tidak ada kebencian. Tidak ada niat menusuk. Hanya ... harapan?

Kael menghela napas panjang. Bahu tegapnya sedikit turun-retakan kecil di benteng pertahanannya.

"Setengah jam," ucap Kael akhirnya, suaranya berat.

Mata Valeriana berbinar. "Hah?"

"Aku butuh setengah jam untuk mandi dan ganti baju," jelas Kael sambil menunjuk seragam militernya yang berdebu dengan bercak darah di celananya. Ia lalu menatap Valeriana lurus. "Kita bertemu di ruang makan utama dalam tiga puluh menit. Jangan terlambat. Aku benci orang yang tidak tepat waktu."

Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu respons, Kael berbalik dan menaiki tangga menuju sayap kanan. Langkahnya tergesa-seolah melarikan diri dari situasi yang tidak bisa ia definisikan. Sir Lucas mengekor di belakang, sempat memberikan kedipan mata jahil dan acungan jempol sembunyi-sembunyi ke arah Valeriana sebelum menghilang di tikungan.

Valeriana tersenyum lebar. Kemenangan pertama.

Ia berbalik menghadap Hans dan para pelayan yang masih terpaku seperti patung.

"Kalian dengar itu?" tanya Valeriana sambil menepuk tangan sekali, suaranya riang. "Tiga puluh menit. Siapkan meja makan. Gunakan taplak terbaik, lilin aromaterapi yang menenangkan, dan ... oh ya, Hans, suruh koki buat steak sapi paling empuk, medium rare, untuk Duke. Dia butuh banyak protein setelah seharian mengurus prajurit."

Para pelayan itu sontak tersentak lalu membungkuk panik.

"B-baik, Nyonya! Segera dilaksanakan!"

Mereka langsung bubar, berlari ke dapur seolah istana sedang kebakaran.

Valeriana berdiri sendirian di tengah aula besar, menatap tangga megah yang menjulang. Senyumnya berubah perlahan menjadi senyum penuh tekad. Ini baru permulaan. Makan malam nanti adalah medan perang pertamanya. Ia harus memastikan Kael merasa nyaman, kenyang, dan mulai percaya padanya.

"Awas kau, takdir kematian," batinnya sambil mengangkat gaun merah dan mulai menaiki tangga menuju sayap kiri. "Aku akan menendang pantatmu jauh-jauh dari suamiku. Tapi sebelum itu ... aku harus lepas korset sialan ini dulu!"

***

Ruang makan utama Kediaman Vallas bisa dibilang terlalu megah untuk ditempati hanya oleh dua manusia. Langit-langitnya menjulang tinggi, dihiasi lukisan fresco bergaya klasik yang menggambarkan pertempuran para dewa kuno. Di tengah ruangan terbentang meja panjang dari kayu oak hitam sepanjang lima meter-cukup luas untuk menampung dua puluh orang sekaligus. Sumber cahaya berasal dari tiga chandelier kristal dan puluhan lilin perak yang berbaris rapi di tengah meja, memantulkan bayangan yang menari di dinding marmer.

Di ujung utara meja, duduklah Kael de Vallas.

Sang Duke menepati janjinya. Ia sudah mandi dan berganti pakaian. Seragam militernya yang kaku dan berdebu kini diganti dengan kemeja sutra putih yang longgar dan celana panjang hitam yang lebih santai. Rambut hitamnya yang tadi berantakan diterpa angin kini tampak setengah basah dan disisir ke belakang–meski ada satu-dua helai nakal jatuh ke keningnya.

Namun meski penampilannya tampak lebih santai, tubuh Kael tidak menunjukkan tanda-tanda rileks. Ia duduk tegak, kedua tangan terlipat rapi di atas meja, dan tatapannya terpaku pada pintu masuk dengan kewaspadaan seorang sniper menanti target.

Tepat tiga puluh menit setelah perjanjian di ruang tamu, pintu ganda ruang makan terbuka.

Valeriana melangkah masuk.

Kael berkedip sekali. Ia mengira Valeriana akan muncul dengan gaun pesta super mewah, perhiasan berlian yang bisa memantulkan cahaya hingga ke langit-langit, serta parfum yang aromanya tercium dari satu kilometer–seperti biasanya. Valeriana selalu ingin tampil mencolok, bahkan hanya untuk makan malam di rumah.

Namun Valeriana yang ini ... berbeda.

Ia mengenakan gaun rumahan berwarna krem pastel yang sederhana. Bahannya ringan dan jatuh lembut mengikuti tubuhnya. Tidak ada renda mewah, tidak ada perhiasan berat, dan yang paling mencolok. Tidak ada korset. Rambut merahnya, yang biasanya disanggul tinggi, kini tergerai bebas di punggungnya dan hanya dijepit sederhana di satu sisi.

Ia tampak lebih muda. Lebih segar. Dan entah mengapa, lebih berbahaya di mata Kael.

"Kenapa dia berpakaian sesederhana ini? Apa dia menyembunyikan belati di balik lipatan gaunnya?" pikiran paranoid Kael langsung bekerja.

"Maaf membuatmu menunggu," ucap Valeriana dengan senyum cerah.

Hans, sang kepala pelayan, segera menarik kursi di ujung selatan meja-ujung yang paling jauh dari Kael. Sesuai protokol "Perang Dingin", suami-istri yang sedang tidak akur memang ditempatkan di dua ujung meja. Jarak mereka sekitar lima meter, cukup jauh membuat mereka harus sedikit meninggikan suara jika ingin mengobrol.

Valeriana berhenti di samping kursi yang ditarik Hans. Ia menatap kursi itu, kemudian menatap Kael di seberang sana.

"Hans," panggilnya.

"Ya, Nyonya?"

"Kenapa kursiku di sini? Aku butuh teropong untuk melihat wajah suamiku dari jarak ini," kelakar Valeriana santai.

Hans tertegun. Kael mengangkat alis pelan.

"Pindahkan," perintah Valeriana sambil menunjuk kursi yang berada tepat di sisi kanan kursi Kael. "Pindahkan piringku ke sana. Aku mau duduk di samping Duke."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 17. Reaksi Arthur dan Elena

    “Beliau hanya menitipkan surat balasan ini melalui kurir, Yang Mulia,” ucap pelayan itu lirih, sambil menyodorkan sebuah nampan, tangannya gemetar tak tersembunyi.Arthur meraih surat itu dengan kasar. Amplopnya tampak biasa—putih polos, tipis, dan dilem seadanya. Tidak ada aroma parfum mawar yang biasanya menyengat. Tidak ada stiker berbentuk hati atau bekas lipstik di sudut amplop, hal-hal norak yang selalu Valeriana sertakan tanpa malu.Dengan gerakan tak sabar, Arthur merobek amplop itu. Ia menarik keluar selembar kertas dan mulai membaca.Elena, yang duduk di sampingnya, ikut melirik penuh rasa ingin tahu. Ia penasaran alasan apa yang akan dipakai Valeriana kali ini. Surat cinta panjang penuh rayuan? Atau puisi cengeng yang memohon belas kasihan?Namun, seiring Arthur membaca baris demi baris, wajahnya perlahan memerah. Urat-urat di lehernya menegang dan menonjol jelas. Napasnya menjadi berat dan kasar, seperti banteng yang tersulut amarah saat melihat kain merah.“Berani-beranin

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 16. Valeriana tidak datang

    "Yang Mulia Putra Mahkota,Surat Anda telah saya terima, meskipun kini sudah tidak lagi berwujud. Surat tersebut telah saya bakar.Perihal undangan atas nama “permintaan maaf” itu, dengan segala penyesalan saya terpaksa menolaknya.Kondisi kesehatan saya saat ini menurun drastis akibat syok atas kejadian kemarin. Tabib secara tegas menyarankan saya untuk menjalani istirahat total. Dalam keadaan seperti ini, mustahil bagi saya untuk memenuhi undangan apa pun.Selain itu, sebagai seorang istri yang berbakti, prioritas utama saya sekarang adalah mendampingi dan melayani suami saya, Duke Kael, yang baru saja kembali dari tugas negara. Saya tidak dapat meninggalkan beliau hanya demi urusan yang tidak mendesak.Sampaikan salam saya kepada Nona Elena. Sebagai bentuk perhatian, kelak akan saya kirimkan sebuah gaun baru, sedikit lebih mewah, untuk menggantikan gaun kemarin yang terkena tumpahan teh."— Hormat saya,Duchess Valeriana de VallasValeriana meletakkan pena dengan senyum puas. Ia me

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 15. Surat dari Pangeran

    Siang itu, suasana di Kediaman Duchy Vallas terasa jauh lebih damai dari biasanya. Setelah “Inspeksi Maut” dan pemecatan massal yang dilakukan Valeriana pagi tadi, para pelayan yang tersisa bekerja dengan efisiensi yang mengagumkan. Tak ada lagi bisik-bisik mencurigakan, tak terlihat pula wajah-wajah malas yang bekerja setengah hati. Udara terasa lebih segar, seolah beban negatif yang selama ini menyelimuti kediaman itu ikut terangkat bersama terusirnya Hans dan para anteknya.Valeriana duduk santai di solarium—ruang berdinding kaca yang menghadap langsung ke taman belakang. Di hadapannya tersaji secangkir teh chamomile hangat dan sepiring scone yang masih mengepulkan uap.“Hm, enak,” gumamnya sambil menggigit kue itu. “Ternyata kalau anggaran dapur tidak dikorupsi, rasa kuenya langsung naik kelas.”Ia menyandarkan punggung ke kursi rotan empuk dan meluruskan kakinya di atas bangku kecil. Sensasi nyaman itu membuatnya merasa seperti pensiunan kaya raya yang tengah menikmati masa tua d

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 14. Benteng yang mulai retak

    TRANG!Benturan logam yang nyaring memecah udara, bergema ke seluruh penjuru ruang latihan indoor kediaman Duchy Vallas. Percikan api kecil sempat menyala sesaat ketika dua bilah pedang saling menghantam dengan kekuatan penuh.“Whoa! Santai, Tuan! Santai!”Lucas terhuyung ke belakang beberapa langkah, napasnya tersengal. Kacamata berbingkai perak melorot hingga ke ujung hidung, sementara keringat mengucur deras dari pelipisnya. Tangan kirinya terangkat memberi isyarat menyerah, sedangkan tangan kanannya yang masih menggenggam pedang latih bergetar hebat, menahan sisa getaran benturan barusan.Di hadapannya, Kael de Vallas berdiri tegak tanpa sedikit pun goyah. Sang Duke sama sekali tidak tampak lelah. Napasnya tetap teratur, kuda-kudanya kokoh seperti pilar, dan mata abu-abunya menatap tajam—setajam ujung pedang yang baru saja diayunkannya. Keringat yang mengalir di leher dan dadanya—terekspos oleh kemeja latihan dengan kancing atas terbuka—alih-alih mengurangi wibawa, justru membuat

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 13. Jarum beracun

    Melawan rasa takut yang menyesakkan dadanya, Valeriana segera menghampiri Sarah yang masih mengejang hebat. Busa putih keluar dari sudut mulut wanita itu, pemandangan yang membuat siapa pun bergidik. Dengan jelas Valeriana menyadari—Sarah sengaja dibunuh untuk membungkamnya selamanya.Pandangan Valeriana tertuju pada sebuah jarum yang tergeletak di dekat telinga Sarah. Ia refleks hendak mengambilnya, tetapi Anna dengan cepat mencegahnya.“Jangan, Nyonya! Itu beracun! Anda bisa ikut terkena!” teriak Anna panik.Gadis itu segera menarik Valeriana menjauh dari tubuh Sarah yang kini telah berhenti mengejang. Namun busa dari mulutnya masih terus keluar, sementara kedua matanya melotot lebar—seolah ia mati dalam penolakan, tak rela menerima akhir hidupnya.Valeriana terdiam. Benar juga, barusan ia terlalu gegabah.Ia menatap Anna yang tampak sangat khawatir. Gadis itu begitu perhatian, padahal dulu Valeriana asli sering memperlakukannya dengan kasar.“Tolong ambilkan sarung tangan,” perinta

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 12. Pengkhianat di Kediaman Vallas

    Valeriana menatap Hans dengan sorot mata tajam. “Ada selisih hampir tujuh puluh persen dari total anggaran yang masuk ke pos biaya lain-lain, ditambah penggelembungan harga bahan makanan,” ucapnya dingin. “Uang itu menguap begitu saja… entah jatuh ke tangan siapa.”Valeriana sangat yakin. Hans tidak mungkin berani melakukan korupsi sebesar itu sendirian. Pasti ada sosok kuat yang berdiri di belakangnya. Kecurigaannya mengarah pada satu nama: Marquis Gosh. Jika benar Hans menggerogoti keuangan kediaman Duke Kael untuk disetorkan pada pria tua bangka itu, maka kelicikannya sungguh luar biasa.Wajah Hans seketika pucat pasi. Lututnya gemetar. Ia ingin membantah, tetapi deretan angka di hadapannya tak memberi celah untuk berbohong.Ia telah meremehkan Valeriana. Menganggap sang Duchess hanya boneka cantik tanpa otak. Ia pikir Valeriana tak akan pernah mau mengurusi rumah tangga bersama Duke Kael, karena gadis itu mencintai Pangeran Arthur dan membenci Kael sepenuh hati. Namun sekarang? Va

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status