Home / Fantasi / Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya / Bab 7. Operasi: Buktikan steak ini tidak beracun

Share

Bab 7. Operasi: Buktikan steak ini tidak beracun

Author: Lovely Pearly
last update Last Updated: 2026-01-21 10:56:42

Suasana meja makan terdiam sejenak. Para pelayan tampak ragu, melirik Kael untuk meminta izin. Kael, yang masih mencerna situasi, akhirnya mengangguk kaku.

“Lakukan apa yang dia minta,” ucapnya datar.

Dengan cepat, Hans dan para pelayan memindahkan peralatan makan perak ke sisi Kael. Valeriana melangkah ringan menuju kursinya yang baru. Kini jarak mereka hanya selebar siku. Kael dapat menangkap aroma sabun mandi Valeriana—vanila lembut, bukan parfum mawar menusuk yang biasa ia kenal.

“Nah, begini jauh lebih baik,” gumam Valeriana seraya merapikan serbet di pangkuannya. “Selamat makan, Kael.”

“Hm.” Kael hanya berdeham pendek. Tubuhnya sedikit condong menjauh, seolah menciptakan batas aman.

Makanan pun disajikan.

Tutup saji perak terangkat serempak. Aroma daging panggang yang menggugah selera langsung memenuhi ruangan. Di atas piring porselen putih tersaji steak tenderloin medium rare dengan saus jamur truffle, ditemani mashed potato creamy dan sayuran tumis berwarna cerah.

Perut Valeriana merespons dengan bunyi krucuk halus. Ia belum menyentuh makanan apa pun sejak “pindah” ke tubuh itu—dan jiwa Kirana yang gemar kuliner bersorak dalam hati.

Namun ia belum mulai makan. Ia melirik ke samping.

Kael tidak bergerak. Pisau dan garpu telah ia pegang, tetapi daging tetap utuh. Mata abu-abunya menatap steak itu dengan pandangan menyelidik, bahkan memutar piring sedikit seolah mencari lubang jarum suntik atau bintik bubuk mencurigakan di atas saus.

Valeriana menahan napas dalam hati. "Ah, benar. Di novel, Valeriana pernah mengancam akan meracuninya jika Kael menolak menandatangani surat cerai."

Tidak berlebihan jika Kael curiga. Bagi pria itu, makan malam dengan Valeriana yang mendadak manis adalah skenario pembunuhan yang sangat masuk akal.

“Kenapa tidak dimakan?” tanya Valeriana, memecah keheningan. “Tidak sesuai selera?”

Kael menoleh pelan, menatapnya dingin.

“Aku tidak terlalu lapar.”

Bohong—dan Valeriana tahu itu.

“Kau takut ada racunnya?” tembaknya lugas.

Para pelayan serentak menahan napas. Keterusterangan Valeriana seolah meledakkan ketegangan di ruangan itu. Wajah Kael mengeras. Ia tidak membantah. Keheningan canggung kembali menyelimuti meja makan.

Valeriana tidak tersinggung. Justru ada rasa sedih yang mengendap. Betapa hancurnya kepercayaan di antara mereka.

Tanpa kata lagi, Valeriana mengambil piringnya sendiri. Dalam satu gerakan cepat, ia menukar piring itu dengan piring Kael.

Sreeet.

Steak Kael kini berada di depannya, dan steak Valeriana di depan Kael.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kael, terkejut.

“Makan,” jawab Valeriana santai.

Ia memotong sepotong daging besar dari piring yang tadinya milik Kael, menusuknya dengan garpu, lalu memasukkannya ke mulut tanpa ragu. Ia mengunyah dengan penuh penghayatan.

Mata Valeriana membulat. “Hmm! Enak sekali!”

Ia menelan potongan itu, lalu menatap Kael seraya tersenyum lebar. “Lihat? Tidak ada busa keluar dari mulutku. Tidak ada kejang. Daging ini aman, Kael. Dan rasanya luar biasa. Sayang kalau kau biarkan dingin.”

Kael tertegun. Valeriana baru saja memakan makanan yang ia curigai tanpa sedikit pun ragu—hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak bermaksud membunuhnya.

Tindakan itu sederhana, tetapi benteng pertahanan Kael retak karenanya.

Perlahan, ketegangan di bahunya mengendur. Kael menatap piring di depannya—yang tadinya milik Valeriana. Jika Valeriana berani menukar piring, berarti keduanya memang aman.

Ia akhirnya mengangkat pisau, memotong dagingnya, dan memasukkannya ke mulut.

Rasanya benar-benar enak.

“Bagaimana?” tanya Valeriana antusias. Pipinya menggembung karena ia makan dengan lahap, sepenuhnya melupakan etika makan bangsawan yang mewajibkan mengunyah cantik tiga puluh kali sebelum menelan. Wajar saja—dunia lamanya tidak mengenal aturan semacam itu. Di sana, ia cukup mengunyah secukupnya lalu telan.

“Lumayan,” jawab Kael singkat.

Namun tangannya kembali bergerak. Satu suapan lagi. Dan lagi.

Suasana makan malam yang tadinya tegang perlahan mencair. Kini hanya terdengar denting halus pisau dan garpu yang beradu dengan piring. Valeriana makan seolah baru pulang dari kerja bakti. Steaknya habis bersih tanpa tersisa, bahkan sausnya ia sapu menggunakan potongan kentang terakhir.

Kael memperhatikannya diam-diam.

Biasanya, Valeriana hanya akan mengaduk-aduk makanan, mengeluh dagingnya terlalu keras, sausnya terlalu pedas, atau porsinya terlalu besar karena ia sedang diet ketat demi Pangeran Arthur.

Tapi Valeriana malam ini makan seakan-akan itu adalah hidangan terakhir dalam hidupnya.

“Hans,” panggil Valeriana setelah meletakkan peralatan makannya dengan puas.

Hans langsung maju dengan wajah tegang. “Y-ya, Nyonya? Apakah ada komplain? Dagingnya kurang matang?”

Hans sudah siap disemprot. Para koki di dapur pasti juga sudah menunggu vonis dengan cemas. Namun Valeriana hanya meraih serbet, menyeka sudut bibirnya, lalu menatap Hans dengan mata berbinar.

“Sampaikan pada koki,” ucap Valeriana, “saus jamurnya jenius. Dagingnya juicy sempurna. Ini steak terbaik yang pernah kumakan sepanjang hidupku. Bilang padanya, terima kasih sudah memasak dengan hati.”

Rahang Hans terjatuh. Kacamatanya sampai miring.

“P-permisi?” Hans tergagap, mengira ia salah dengar.

“Kau dengar aku, Hans. Sampaikan pujianku.” Valeriana menambahkan, santai, “Ah, dan siapkan bonus untuk tim dapur bulan ini.”

Lalu ia menoleh setengah ke Kael.

“Boleh ya, Sayang? Kita kasih bonus buat koki?”

Kael tersedak air minumnya.

“Uhuk!”

Ia terbatuk keras. Hans hampir panik hendak menepuk punggung tuannya, tetapi Kael mengangkat tangan, menandakan ia baik-baik saja.

Kael menatap istrinya dengan tatapan tak percaya. Valeriana memuji staf? Valeriana memberi bonus? Dan … Valeriana memanggilnya Sayang?

Kata itu meluncur dari bibirnya begitu saja, seolah itulah panggilan yang paling wajar di dunia.

“Terserah kau,” ujar Kael akhirnya, suaranya sedikit parau. “Kau nyonya rumah ini.”

“Bagus.” Valeriana mengangguk puas.

Makan malam pun berakhir. Para pelayan mengangkat piring.

Kael masih duduk di tempatnya, menatap Valeriana yang kini menikmati puding penutup. Pikirannya bekerja keras.

"Apa sebenarnya rencana wanita ini? Kenapa dia melakukan semua ini? Apakah ini permainan psikologis tingkat tinggi? Membuatku nyaman, membuatku lengah, lalu menghancurkanku saat aku mulai percaya?" Batin Kael tak percaya.

Logika Kael menjerit: Waspadalah! Ini jebakan!

Namun matanya tak bisa lepas dari sudut bibir Valeriana yang terangkat pelan setiap kali ia menyendok puding cokelat itu. Tidak ada kepalsuan di sana.

Di balik piring kosong dan lilin yang mulai meleleh, Kael menyadari satu hal. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia menyelesaikan makan malam di rumahnya sendiri tanpa rasa sakit di dada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 17. Reaksi Arthur dan Elena

    “Beliau hanya menitipkan surat balasan ini melalui kurir, Yang Mulia,” ucap pelayan itu lirih, sambil menyodorkan sebuah nampan, tangannya gemetar tak tersembunyi.Arthur meraih surat itu dengan kasar. Amplopnya tampak biasa—putih polos, tipis, dan dilem seadanya. Tidak ada aroma parfum mawar yang biasanya menyengat. Tidak ada stiker berbentuk hati atau bekas lipstik di sudut amplop, hal-hal norak yang selalu Valeriana sertakan tanpa malu.Dengan gerakan tak sabar, Arthur merobek amplop itu. Ia menarik keluar selembar kertas dan mulai membaca.Elena, yang duduk di sampingnya, ikut melirik penuh rasa ingin tahu. Ia penasaran alasan apa yang akan dipakai Valeriana kali ini. Surat cinta panjang penuh rayuan? Atau puisi cengeng yang memohon belas kasihan?Namun, seiring Arthur membaca baris demi baris, wajahnya perlahan memerah. Urat-urat di lehernya menegang dan menonjol jelas. Napasnya menjadi berat dan kasar, seperti banteng yang tersulut amarah saat melihat kain merah.“Berani-beranin

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 16. Valeriana tidak datang

    "Yang Mulia Putra Mahkota,Surat Anda telah saya terima, meskipun kini sudah tidak lagi berwujud. Surat tersebut telah saya bakar.Perihal undangan atas nama “permintaan maaf” itu, dengan segala penyesalan saya terpaksa menolaknya.Kondisi kesehatan saya saat ini menurun drastis akibat syok atas kejadian kemarin. Tabib secara tegas menyarankan saya untuk menjalani istirahat total. Dalam keadaan seperti ini, mustahil bagi saya untuk memenuhi undangan apa pun.Selain itu, sebagai seorang istri yang berbakti, prioritas utama saya sekarang adalah mendampingi dan melayani suami saya, Duke Kael, yang baru saja kembali dari tugas negara. Saya tidak dapat meninggalkan beliau hanya demi urusan yang tidak mendesak.Sampaikan salam saya kepada Nona Elena. Sebagai bentuk perhatian, kelak akan saya kirimkan sebuah gaun baru, sedikit lebih mewah, untuk menggantikan gaun kemarin yang terkena tumpahan teh."— Hormat saya,Duchess Valeriana de VallasValeriana meletakkan pena dengan senyum puas. Ia me

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 15. Surat dari Pangeran

    Siang itu, suasana di Kediaman Duchy Vallas terasa jauh lebih damai dari biasanya. Setelah “Inspeksi Maut” dan pemecatan massal yang dilakukan Valeriana pagi tadi, para pelayan yang tersisa bekerja dengan efisiensi yang mengagumkan. Tak ada lagi bisik-bisik mencurigakan, tak terlihat pula wajah-wajah malas yang bekerja setengah hati. Udara terasa lebih segar, seolah beban negatif yang selama ini menyelimuti kediaman itu ikut terangkat bersama terusirnya Hans dan para anteknya.Valeriana duduk santai di solarium—ruang berdinding kaca yang menghadap langsung ke taman belakang. Di hadapannya tersaji secangkir teh chamomile hangat dan sepiring scone yang masih mengepulkan uap.“Hm, enak,” gumamnya sambil menggigit kue itu. “Ternyata kalau anggaran dapur tidak dikorupsi, rasa kuenya langsung naik kelas.”Ia menyandarkan punggung ke kursi rotan empuk dan meluruskan kakinya di atas bangku kecil. Sensasi nyaman itu membuatnya merasa seperti pensiunan kaya raya yang tengah menikmati masa tua d

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 14. Benteng yang mulai retak

    TRANG!Benturan logam yang nyaring memecah udara, bergema ke seluruh penjuru ruang latihan indoor kediaman Duchy Vallas. Percikan api kecil sempat menyala sesaat ketika dua bilah pedang saling menghantam dengan kekuatan penuh.“Whoa! Santai, Tuan! Santai!”Lucas terhuyung ke belakang beberapa langkah, napasnya tersengal. Kacamata berbingkai perak melorot hingga ke ujung hidung, sementara keringat mengucur deras dari pelipisnya. Tangan kirinya terangkat memberi isyarat menyerah, sedangkan tangan kanannya yang masih menggenggam pedang latih bergetar hebat, menahan sisa getaran benturan barusan.Di hadapannya, Kael de Vallas berdiri tegak tanpa sedikit pun goyah. Sang Duke sama sekali tidak tampak lelah. Napasnya tetap teratur, kuda-kudanya kokoh seperti pilar, dan mata abu-abunya menatap tajam—setajam ujung pedang yang baru saja diayunkannya. Keringat yang mengalir di leher dan dadanya—terekspos oleh kemeja latihan dengan kancing atas terbuka—alih-alih mengurangi wibawa, justru membuat

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 13. Jarum beracun

    Melawan rasa takut yang menyesakkan dadanya, Valeriana segera menghampiri Sarah yang masih mengejang hebat. Busa putih keluar dari sudut mulut wanita itu, pemandangan yang membuat siapa pun bergidik. Dengan jelas Valeriana menyadari—Sarah sengaja dibunuh untuk membungkamnya selamanya.Pandangan Valeriana tertuju pada sebuah jarum yang tergeletak di dekat telinga Sarah. Ia refleks hendak mengambilnya, tetapi Anna dengan cepat mencegahnya.“Jangan, Nyonya! Itu beracun! Anda bisa ikut terkena!” teriak Anna panik.Gadis itu segera menarik Valeriana menjauh dari tubuh Sarah yang kini telah berhenti mengejang. Namun busa dari mulutnya masih terus keluar, sementara kedua matanya melotot lebar—seolah ia mati dalam penolakan, tak rela menerima akhir hidupnya.Valeriana terdiam. Benar juga, barusan ia terlalu gegabah.Ia menatap Anna yang tampak sangat khawatir. Gadis itu begitu perhatian, padahal dulu Valeriana asli sering memperlakukannya dengan kasar.“Tolong ambilkan sarung tangan,” perinta

  • Mengubah Takdir Sang Antagonis dan Suaminya   Bab 12. Pengkhianat di Kediaman Vallas

    Valeriana menatap Hans dengan sorot mata tajam. “Ada selisih hampir tujuh puluh persen dari total anggaran yang masuk ke pos biaya lain-lain, ditambah penggelembungan harga bahan makanan,” ucapnya dingin. “Uang itu menguap begitu saja… entah jatuh ke tangan siapa.”Valeriana sangat yakin. Hans tidak mungkin berani melakukan korupsi sebesar itu sendirian. Pasti ada sosok kuat yang berdiri di belakangnya. Kecurigaannya mengarah pada satu nama: Marquis Gosh. Jika benar Hans menggerogoti keuangan kediaman Duke Kael untuk disetorkan pada pria tua bangka itu, maka kelicikannya sungguh luar biasa.Wajah Hans seketika pucat pasi. Lututnya gemetar. Ia ingin membantah, tetapi deretan angka di hadapannya tak memberi celah untuk berbohong.Ia telah meremehkan Valeriana. Menganggap sang Duchess hanya boneka cantik tanpa otak. Ia pikir Valeriana tak akan pernah mau mengurusi rumah tangga bersama Duke Kael, karena gadis itu mencintai Pangeran Arthur dan membenci Kael sepenuh hati. Namun sekarang? Va

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status