เข้าสู่ระบบSerena sudah berada di Jerman. Lebih tepatnya di depan sebuah rumah tua yang alamatnya tertulis di sticky notes yang ia temukan di ruang kerja mendiang suaminya.
Kening Serena mengkerut saat melihat rumah tidak layak huni itu terlihat kosong tanpa suara atau aktivitas apapun di dalamnya. Bertanya-tanya, apakah memang benar itu tempatnya atau tidak. Dengan segala pertimbangan yang ada, Serena memutuskan untuk tetap melangkah maju. Saat berada di depan pintu berwarna cokelat tua itu, Serena mulai mengangkat tangannya. Mencoba untuk meraih gagang pintu dan membukanya. Namun sesaat sebelum tangannya benar-benar menggenggam gagang pintu itu, dari arah lain ada sebuah tangan menyambar. Mencengangkan pergelangan tangannya. Tidak terlalu kuat. Namun cukup membuat Serena terkejut. "Siapa kamu? Sejak kapan kamu berada di sini?" tanya Serena dengan cepat saat melihat sosok seorang remaja di sampingnya. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Ini rumahku. Kenapa kamu ingin mencoba masuk ke dalam rumahku?" tanya laki-laki itu dengan wajah lesu. "Ini rumahmu?" tanya Serena dengan kening mengkerut. Laki-laki itu hanya mengangguk. Menyadari itu, Serena mulai menarik tangannya. Dan laki-laki itu melepaskan cengkeraman tangannya dari tangan Serena. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya laki-laki itu. "Aku menemukan alamat rumahmu dari mendiang suamiku. Aku tidak tau kenapa alamatku berada di catatannya. Namun aku rasa, kamu ada sangkut pautnya dengan suamiku," ujar Serena mengeluarkan sticky notes dan menunjukkannya pada laki-laki itu. Laki-laki itu diam dan memandang sticky notes itu sebentar. Dengan cepat ia mengambil sticky notes itu dan sedikit beranjak maju. Membuka kunci pintu rumahnya dan masuk ke dalam melepaskan sepatunya. "Masuklah. Kita tidak bisa berbicara di luar," ujar laki-laki itu setelah melepas kedua sepatunya. Perasaan ragu mulai menghantui Serena. Entah mengapa, ia merasa tidak aman dan nyaman berada di sekitar laki-laki itu. Walau laki-laki itu terlihat seperti orang baik, di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua. Laki-laki itu bisa saja melakukan apa yang tidak sepantasnya dilakukannya terhadap Serena. "Kenapa? Apakah kamu sudah sejauh ini untuk mencari tau siapa pembunuh suamimu? Apakah kamu ingin berhenti?" tanya laki-laki itu berbalik. Jantung Serena berdetak lebih kencang saat mendengar itu. Laki-laki itu mengerti tentang tujuannya. Yang menandakan bahwa memang laki-laki itu memiliki hubungan dengan mendiang suaminya. Dan memiliki pemikiran yang sama dengannya, bahwa kematian dari Vito adalah sebuah kasus pembunuhan. "Bagaimana kamu tau tentang itu?" tanya Serena mulai melangkah masuk ke dalam rumah. "Bukankah itu sudah terlihat jelas? Dari berita yang menyebar, Tuan Vito meninggal akibat gagal jantung. Sedangkan Tuan Vito sendiri tidak memiliki masalah jantung. Hanya ada dua kemungkinan di sana, ada seseorang yang membuat jantung Tuan Vito rusak. Atau ada seseorang yang membayar dokter untuk membuat hasil pemeriksaan palsu," jelas laki-laki itu melangkah masuk ke dalam rumah. "Bagaimana kamu mengenal suamiku?" tanya Serena. Laki-laki itu diam. Membuka sebuah pintu yang terhubung dengan ruangan belajar miliknya. Saat laki-laki itu menyalakan lampu ruangan itu, Serena bisa melihat begitu banyaknya kertas yang berserakan memenuhi lantai. "Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, coba pikirkan lebih dulu. Bukankah kamu datang ke sini atas bimbingan seseorang yang terlibat dalam kasus kematian Tuan Vito?" tanya laki-laki itu setelah masuk ke tengah-tengah ruangan. "Apa yang kamu maksudkan?" tanya Serena dengan kening mengkerut. "Kerjasamaku dengan Tuan Vito tidak diketahui oleh siapapun. Termasuk kamu sebagai istrinya. Tuan Vito memintaku untuk memimpin seluruh perusahaannya yang ada di sini dari balik layar. Sehingga hanya segelintir orang dari perusahaan yang ada di sini yang mengetahui identitasku dan melihat wajahku. Aku bisa jamin, tidak ada satupun orang-orang di sekitar Tuan Vito yang mengetahui tentang informasiku. Lalu, bagaimana bisa kamu mendapatkan informasi tentangku?" tanya laki-laki itu berbalik menghadap Serena. "Tidak mungkin hanya dengan sticky notes kamu langsung datang dan menebak bahwa aku ada memiliki hubungan dengan mendiang suamimu. Aku yakin ada seseorang yang menyebutkan informasi tentang saya. Dan memintamu untuk mencariku. Dengan begitu informasi tentangku akan terkuak dan mereka akan menargetkan ku selanjutnya," lanjut laki-laki itu menatap Serena dengan tatapan kosong. "Tidak mungkin sejauh itu. Kepala kepolisian yang mengatakan informasi tentangmu. Dia tidak mungkin merencanakan itu semua," ujar Serena percaya dengan Venus. "Kepala kepolisian? Tidak ada satupun orang di instansi itu yang bisa dipercaya. Mereka hanya bergerak dan berbicara saat dibayar. Lalu juga bukankah lebih masuk akal jika orang itu ikut andil dalam pemalsuan kematian mendiang Tuan Vito? Karena dengan pangkatnya, mereka bisa menghentikan kasus pemeriksaan ataupun membuat seakan-akan tidak ada satupun bukti ataupun saksi," balas laki-laki itu. Serena diam. Walau hatinya membantah itu semua, otaknya bisa menerima segala yang dikatakan oleh laki-laki itu. Kepolisian terlibat dalam kasus kematian suaminya. Maka dari itu, tidak ada satupun bukti, saksi, ataupun perkembangan atas kasus kematian suaminya. "Aku Arkana Nebula. Aku yang bertugas untuk mengatur dan memimpin seluruh perusahaan milik suamimu yang ada di Jerman," jelas laki-laki itu memperkenalkan dirinya setelah sekian lama mereka bertemu. Arkana Nebula. Serena tidak percaya bahwa tangan kanan dari suaminya adalah seorang remaja yang umurnya jauh darinya. 25? Tidak, mungkin lebih muda. Serena tidak mengerti mengapa suaminya menaruh kepercayaan pada laki-laki muda itu, namun melihat betapa pintarnya Arkana dalam membaca situasi yang ada, Serena sedikit mengerti mengapa suaminya menunjuk laki-laki itu.Mata Serena tertuju pada seorang laki-laki remaja yang sedang tertidur di atas bangku dengan posisi punggung menyandar pada kursi dan kedua tangan dilipat di depan dada. Serena sudah sembuh satu hari yang lalu. Namun, sampai hari ini, Serena bersikap seakan-akan masih sakit. Tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun. Dan mengeluh kepalanya terasa sangat pusing. Semua itu ia lakukan hanya untuk bersama laki-laki itu lebih lama lagi.Melihat laki-laki itu sama sekali tidak bergerak semenjak sepuluh menit lalu. Membuat Serena memberanikan diri untuk bangkit dari kasurnya. Menjatuhkan kedua kaki putih mulusnya ke atas lantai. Lalu bangkit. Ini adalah pertama kalinya kakinya menyentuh lantai setelah tiga hari ia habiskan hanya untuk tidur di atas kasur."Sayang sekali jika orang sepertimu jatuh ke tangan Shopia," gumam Serena berjalan mendekat ke arah Arkana."Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada Doona, tapi tidak tertarik padaku?" tanya Serena menghentikan langkahnya tepat di hadapan
Serena membuka matanya. Tubuhnya terasa sangat berat dan kepalanya terasa sangat pusing. Pada detik yang sama, Serena pun langsung menyadari bahwa ia sedang sakit saat ini. Dalam kondisi seperti ini, Serena tidak akan bisa melakukan apapun. Jika Serena masih hidup di masa lalu, maka Serena hanya perlu meminta dokter untuk datang dan para pelayan melayani kebutuhannya sampai ia sembuh. Tapi sekarang tidak. Ia hidup sendiri di apartemen kecil.Itu yang ia pikirkan sebelum pada akhirnya ekor matanya ada seseorang di samping kanannya. Ia mengalihkan pandangannya. Memandang ke seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi sembari mengawasinya. Kursi itu tidak ada di kamar Serena sebelumnya. Kursi itu diambil dari dapur dan ditaruh di samping kasur Serena. Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah laki-laki yang telah lama menghilang kini kembali muncul di hadapan Serena."Masih terasa pusing?" tanya Arkana dengan nada lembut."Bagaimana kamu tau kalau aku sedang sakit?" tanya
Shopia melangkahkan kakinya menuju ke salah satu laki-laki yang mengamati kebarakan gedung dari kejauhan. Ada banyak sekali orang yang berkerumun untuk melihat secara langsung dan mengabadikan momen itu. Sangat tidak percaya, club malam yang telah berdiri bertahun-tahun, kini hancur dilahap oleh api.Dini hari. Waktu di mana orang-orang seharusnya bersiap untuk berangkat kerja, namun kini perhatian mereka teralihkan oleh momen di mana para pemadam kebakaran berusaha sekuat tenaga untuk sesegera mungkin memadamkan kobaran api besar itu sebelum merambat ke gedung-gedung yang ada di sebelahnya."Bukankah ini sedikit keterlaluan? Ada banyak orang tak berdosa yang menjadi korban atas tindakanmu ini," tanya Shopia menatap Arkana."Apakah menurutmu aku seburuk itu? Semuanya selamat, hanya suamimu saja yang ada di dalam sana," tanya Arkana memasukkan tangannya ke dalam kantong jaketnya."Bagaimana bisa kamu melakukannya?" tanya Shopia penasaran.Arkana mendekatkan mulutnya ke telinga Shopia.
Arkana club malam yang memang selalu dikunjungi oleh Dustin . Bukan untuk bekerja sama untuk menjatuhkan hukuman berat pada target berikutnya. Melainkan untuk berbincang. Bekerja sama? Mungkin itu yang ada di pikiran Dustin. Tapi berbeda dengan isi pikiran Arkana. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa menebak isi pikiran remaja itu.Hanya ada tiga benda di atas meja. Dua gelas yang telah terisi penuh bir. Dan satu tas dengan resleting terbuka sedikit, namun tetap bisa memperlihatkan dengan jelas sejumlah uang yang ada di dalamnya. Cukup banyak hingga tak bisa dihitung hanya dengan menerka-nerka."Aku mendengar beberapa berita buruk tentang penjabat yang mendapatkan kepercayaan untuk mengurus badan usaha milik negara. Bagaimana menurutmu tentang itu?" tanya Arkana mulai menggerakkan tangannya ke arah gelas."Ah, laki-laki itu," jawab Dustin membayangkan seorang laki-laki berkacamata dan rambut berwarna putih yang menandakan bahwa orang itu sudah la
Dua hari? Tidak, tiga hari. Serena menjalani kehidupannya seorang diri. Bangun tidur, sarapan, dan berangkat kerja. Sejak pertengkarannya dengan Arkana malam itu, Serena tidak pernah melihat sekalipun kehadiran sosok Arkana di sekitarnya. Namun, setiap ia bangun dari tidurnya, selalu sudah ada makanan hangat di atas meja makan. Dan saat ia pulang kerja semua piring kotor sudah bersih, ditata rapi di rak.Arkana benar-benar memastikan semua kebutuhan Serena terpenuhi tanpa harus bertatap muka secara langsung.Beralih posisi ke sisi Shopia? Tidak, Serena yakin, Arkana masih memihaknya sejauh ini. Serena juga tidak mengerti dari mana kepercayaannya itu muncul. Tapi entah mengapa itu terasa sangat nyata baginya."Waktu yang tepat," ujar Serena saat melihat ada panggilan telepon masuk dari Doona."Halo," sapa Serena berdiri dari kursi kantornya."Ini kenapa tiba-tiba saja aku tidak bisa melacak keberadaan Arkana?" tanya Doona tidak lama setela
Arkana mengikuti langkah cepat Serena masuk ke dalam apartemen. Perempuan itu mempercepat langkahnya saat sudah berada di lantai unit apartemen mereka berada. Hingga akhirnya Serena membuka pintu unit apartemen menggunakan aksesnya. Dan masuk."Hei, apa yang terjadi?" tanya Arkana menarik tangan Serena."Lepaskan!" teriak Serena menghempaskan tangan Arkana."Apakah kamu gila? Kenapa kamu teriak? Bagaimana jika orang dari unit lain datang dan melapor?" tanya Arkana dengan cepat menutup pintu supaya tidak mengundang banyak perhatian."Kamu yang gila! Bagaimana bisa kamu pergi bersama sahabatku? Genggaman tangan di depan umum? Kamu menolak untuk pergi bersamaku dan memilih bersamanya? Apakah kamu gila?" jerit Serena mendorong dada Arkana menggunakan jari telunjuknya."Ini untuk kepentingan kita," jelas Arkana."Kepentingan kita? Atau kepentingan pribadimu?" tanya Serena."Pergilah kembali bersamanya. Dan tinggalkan aku send







