LOGINDua hari? Tidak, tiga hari. Serena menjalani kehidupannya seorang diri. Bangun tidur, sarapan, dan berangkat kerja. Sejak pertengkarannya dengan Arkana malam itu, Serena tidak pernah melihat sekalipun kehadiran sosok Arkana di sekitarnya. Namun, setiap ia bangun dari tidurnya, selalu sudah ada makanan hangat di atas meja makan. Dan saat ia pulang kerja semua piring kotor sudah bersih, ditata rapi di rak.
Arkana benar-benar memastikan semua kebutuhan Serena terpenuhi tanpa harus bertaSerena langsung mencari keberadaan Arkana saat matanya sudah terbuka. Laki-laki itu seharusnya tidur di sampingnya. Hanya ada satu kamar di rumah itu. Dan semalam, sebelum Serena menutup matanya, Serena sangat yakin bahwa laki-laki itu tidur di sisi lain kasur, membelakanginya. Namun saat matanya terbuka pagi hari ini, Arkana sudah tidak ada lagi di sana.Dengan perasaan tenang, Serena bangkit dari posisi tidurnya. Menurunkan kedua kakinya ke lantai. Dan saat semua tenaganya sudah berkumpul, ia berdiri secara perlahan. Ia ingat bahwa Arkana memang selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan mereka.Berjalan perlahan keluar dari kamar yang masih terasa asing baginya, Serena menemukan sosok Arkana yang sedang duduk di meja makan dengan mata serta tangannya yang berkutat pada ponsel miliknya."Sangat jarang melihatmu tertarik pada ponselmu, apa yang sedang kamu lihat?" tanya Serena berjalan mendekat ke arah Arkana."Shopia membuka bisnis baru,"
Serena mengundang Doona untuk ke rumah. Ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan kepada Doona. Dan juga, menurut Serena inilah waktu yang tepat untuk membuat Arkana berbicara dengan perempuan itu. Namun tidak berjalan sesuai rencananya. Doona menerima undangan Serena. Dengan makanan hangat yang disiapkan oleh Arkana, serta dua gelas yang berisikan air putih, mereka berdua duduk berhadapan di meja makan. Sedangkan Arkana? Laki-laki itu tidak muncul setelah menghidangkan makanan. Sebelumnya, laki-laki itu mengatakan bahwa akan berganti pakaian, namun setelah sekian lama, laki-laki itu sama sekali tidak muncul dari kamarnya. "Kenapa kamu membawanya kembali?" tanya Doona memegang gelasnya. "Kenapa kamu berpikir bahwa kami datang karena usulanku?" tanya Serena menarik pandangannya yang tadinya tertuju pada pintu kamar kini beralih memandang Doona. "Karena tidak mungkin Arkana yang meminta," jawab Doona menatap gelasnya.
Tujuan utama Serena dan Arkana pergi ke Jerman untuk berlibur. Tujuan keduanya untuk membuat Arkana menghadapi rasa cinta pada perempuan di masa lalunya yang belum berakhir. Namun, fakta di lapangan berbeda. Arkana disibukkan dengan beberapa urusan perusahaan yang ada di sana. Ada beberapa perusahaan yang mengalami masalah, sehingga Arkana harus kembali turun tangan.Serena tidak masalah dengan itu. Serena sadar bahwa Arkana melakukan itu semua untuk mereka. Jika perusahaan dalam masalah dan mereka tidak segera menanganinya, maka mereka juga yang akan terkena imbasnya. Masih sama seperti dulu, Serena selalu pergi ke manapun Arkana pergi. Bukan protektif atau takut ada perempuan gatal yang mencoba kesempatan untuk mendapatkan hati Arkana. Namun untuk memastikan keamanannya dan belajar lebih dalam bagaimana cara memimpin perusahaan yang benar."Bagaimana rasanya?" tanya Arkana mengamati Serena yang sedang menikmati sepotong es krim."Aku rasa ini t
Datang kembali ke Jerman. Arkana tidak menyangka bahwa ia akan kembali ke negara kelahirannya itu, setelah membulatkan diri untuk balas dendam atas kematian Vito. Arkana memiliki pilihan untuk tidak kembali, namun melihat sifat keras kepala Serena, membuat Arkana mau tidak mau harus menuruti kemauan perempuan itu. Akan lebih merepotkan jika seandainya, perempuan itu tidak mau berbicara dengannya dalam waktu yang lama.Rumah lama Arkana menjadi tempat peristirahatan mereka. Yang menjadi masalah adalah di rumah itu hanya ada satu kamar. Dan itupun dengan kasur dengan ukuran kecil. Jikalau ada dua orang yang ingin tidur bersamaan di atas kasur itu, maka kedua orang dua itu harus benar-benar terbaring dalam posisi berdekatan. Tidak ada jarak antara satu sama lain."Bagaimana kalau aku memesankan sebuah hotel untukmu?" tanya Arkana setelah memasukkan koper Serena ke dalam kamarnya."Hotel? Untuk apa?" tanya Serena masuk ke dalam kamar setelah Arkana."
Mencari udara segar. Sherly membawa Arkana dan Serena untuk mengunjungi sebuah kafe. Memesan minuman dingin serta kue yang memang menjadi ciri khas dari kafe bernuansa eropa itu. Sebelumnya, Sherly ingin membawa Serena ke mall. Mengingat anaknya itu sangat suka berbelanja dan tidak pernah menahan diri saat melihat barang-barang dari brand terkenal. Namun, ia mendapatkan penolakan. Serena tidak menginginkan itu. Membuatnya sadar bahwa saat ini, putri kesayangannya telah berubah. Serena yang sekarang, sudah bisa menahan diri. Tau kapan harus membakar uang. Dan tau kapan harus menyimpan uang. Bukan karena tidak memiliki uang. Namun karena, Serena sekarang sudah mengerti bahwa mengurus perusahaan tidak semudah yang ia bayangkan.Serena dan Arkana memiliki banyak uang. Semua perusahaan yang dikelola mereka berdua, mendapatkan keuntungan sangat besar akhir-akhir ini. Jangankan sebuah makanan yang ada di kafe, jika mereka ingin, mereka bisa membeli kafe itu sekarang juga
Sherly mulai bangkit dari kasurnya saat mencium wangi harum dari luar kamar anaknya. Berjalan keluar dari kamar, meninggalkan anaknya yang masih tidur terlelap. Saat Sherly membuka pintu kamarnya, ia bisa melihat ada beberapa makanan berada di atas meja. Dan saat ia mengambil beberapa langkah lagi, lalu memalingkan wajahnya ke arah dapur, ia melihat Arkana yang masih berkutat di depan kompor.Sebelumnya, Serena dengan bangga mengatakan kepadanya bahwa dirinya harus mencicipi makanan yang dimasak oleh Arkana. Dan, saat ini, saat melihat Arkana yang terlihat sangat lihai memasak di dapur, membuat Sherly sadar bahwa tanpa harus mencicipinya, Sherly bisa meyakini bahwa makanan laki-laki itu, akan terasa sangat enak.Perhatian Sherly teralihkan pada sofa serta meja yang ada di depan televisi. Semalam, tempat itu dipenuhi oleh sampah. Dirinya dan anaknya memakan cemilan tanpa henti, lalu lupa membuangnya. Harusnya pagi ini, bungkus-bungkus makanan itu masih berada di san







