LOGINAnastasya membeku di tempat, dia seolah-olah merasakan darah di sekujur tubuhnya mengalir ke dahinya dan sangat malu.
Tapi Nyonya Delcy sama sekali tidak berniat menyalahkannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia memimpin orang-orang di belakangnya dan meraung ke arah Ainsley. "Ainsley, kamu sangat tidak tahu malu! Apa menurutmu apa yang kamu lakukan benar? Kamu pasti sengaja menyeret calon menantuku ke kamarmu, kan?! Apa kamu tidak menganggap Aku dan dan kakak keduamu ada?" Saat Nyonya Delcy mengatakan ini, dia menoleh untuk melihat wajah Anastasya, yang berkulit putih dan terlihat malu. Dia berbicara dengan tenang. "Jangan takut Anna, Bibi akan membuatkan keputusan untukmu!" Anastasya tidak menanggapi dan menatap mantan ibu mertuanya dengan waspada, dia merasa semakin bingung. Ainsley, yang sedang duduk di kursi roda, mengangkat sudut mulutnya dengan sinis dan tertawa kecil. "Kakak ipar kedua datang begitu cepat! Dengan rencana yang begitu bagus ini, aku yakin lelaki tua itu sudah dipanggil ke sini, bukan?" Anastasya mengerutkan keningnya, dan ibu Brylee buru-buru menyeretnya keluar, berbicara sambil berjalan. "Anna, jangan dengarkan dia! Jangan takut! Jangan khawatir, ada Bibi yang akan mengambil keputusan untukmu!" Pikiran Anastasya sedang kacau saat ini, dan dia tidak tahu siapa teman dan siapa lawan. “Bibi, aku ingin pulang dan merenung dulu.” Tetapi Nyonya Delcy tidak memberinya kesempatan sama sekali. Dia meraih erat pergelangan tangannya, menyeretnya ke ruang tamu dengan kekuatan yang besar, dan mengeluh kepada kakek Lucas. “Ayah, adik ketiga sudah memperkosa calon menantuku! Anna sudah memberikan tubuhnya kepada orang yang salah, jadi ayah harus mengambil kepuasan hari ini!' "Dasar Binatang, bawa turun dia!" Anastasya hanya berdiri, mencubit telapak tangannya dengan kukunya karena malu, merasa seolah-olah jantungnya sudah ditusuk dengan pisau. Dia sebenarnya adalah calon cucu menantu kakek Lucas. Sekarang hal seperti ini terjadi, bagaimana dia harus menghadapi Nyonya Delcy dan kakek Lucas itu di masa depan? Kakek Lucas jelas sedang tidak enak badan saat ini. Dia memegang dadanya dan menatap kepala pelayan, "Bawa kesini bajingan itu secepatnya!" Kepala pelayan itu naik ke atas dan mendorong Kursi roda Ainsley memasuki lift dan membawanya ke bawah. Begitu mereka tiba di ruang tamu, kakek Lucas mengangkat tongkatnya dan memukul meja dengan marah, "Katakan padaku, apa yang terjadi!" Sebelum Ainsley berbicara, Nyonya Delcy berlari kedepan Kakek Lucas. “Ayah, adik ipar ketiga dibius oleh seseorang tadi malam. Saat dia pulang dan melihat Anna tinggal di mansion kita, dia membuat rencana dan meminta para pelayan untuk menculik Anna ke kamarnya!" Begitu suara itu berhenti, beberapa pengawal membawa masuk pelayan yang hidung dan wajahnya memar. Begitu pelayan itu masuk, dia berlutut dan berkata, "Tuan besar, mohon maafkan saya! Saya hanya mematuhi dan mendengarkan Tuan ketiga. Saya tidak berani menolak Tuan ketiga." Semua bukti yang tidak menguntungkan segera menunjuk pada Ainsley! Tapi Anastasya selalu merasa ada yang tidak beres. Tiba-tiba, ekspresinya berubah. Tidak, Paman Ainsley tidak melakukan ini! Tadi malam, ketika Paman Ainsley kembali ke kamarnya, dia sangat marah karena ada seorang wanita di tempat tidurnya dan menyuruhnya keluar. Nada itu seperti dia tidak mengetahui masalah ini sebelumnya. Tapi entah kenapa, tiba-tiba Paman Ainsley menginginkannya, apa mungkin Paman Ainsley bener-bener meminum obat itu? Anastasya berpikir hati-hati, kemarin dia menyadari bahwa dia merasa mengantuk dan lemah ketika dia selesai meminum segelas jus itu, dan segelas jus itu dibawakan oleh ibu Brylee! Pasti Nyonya Delcy yang melakukan semua ini! Setelah memikirkan masalahnya dengan jelas, Anastasya buru-buru berkata, "Tidak.... kakek..." Sebelum dia selesai berbicara, Ainsley menertawakan dirinya sendiri dan mengangkat sudut mulutnya, "Aku tahu tidak ada gunanya aku menjelaskannya. Itu benar aku tidur dengan Anna, aku bersedia menerima hukumannya." Anastasya tertegun dan menatap Paman Ainsley dengan heran. Dia tidak mengerti mengapa Paman Ainsley harus mengakui semuanya, itu jelas bukan salahnya! Plak. Kakek Lucas mengangkat tangannya dan menampar wajah Ainsley. "Binatang! Dasar binatang buas!" Ainsley hanya memegang wajahnya dan tidak berkata apa-apa. Hati Anastasya terasa berat, dan raungan marah kakek Lucas terdengar di telinganya. “Katakan padaku, bagaimana kamu akan menangani masalah ini sekarang!” “Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahinya.” Ainsley berkata dengan sederhana. Tuan Lucas mendengus dengan sedikit ekspresi jijik di wajahnya, “Kamu ingin menikah dengan Anna? Apa ini yang kamu katakan bertanggung jawab? Kamu malah terlihat seperti bajingan, apa Anna yang meminta kamu untuk bertanggung jawab!" Kakek Lucas melirik ke samping. Dan berkata kepada kepala pelayan, "Pergi dan ambil cambuk keluarga." "Tuan besar, Tubun Tuan ketiga tidak akan tahan. Tuan ketiga belum pulih dari kecelakaan mobil, bagaimana Tuan ketiga bisa menahan cambukan Anda?" "Pergi, berhenti bicara omong kosong!" Kepala pelayan tidak berani mengatakan apa pun. Dia segera mengambil cambuk panjang. Kakek Lucas memegang cambuk kulit kasar di tangannya dan menatap Anastasya. "Kakek bertanya padamu Anna? Apa kamu bersedia menikah dengan bajingan seperti dia? Jika kamu tidak bersedia, kakek akan memukuli bajingan ini sampai mati untuk menebus kesalahannya! Semua keputusan ada di kamu, Anna." Anastasya memandang Paman Ainsley dengan sedih. Dan Ainsley juga kebetulan menatapnya, wajahnya pucat dan dia tersenyum padanya . “Jika kamu bersedia menikah denganku, aku akan memberimu sebuah keluarga yang bahagia. Meskipun aku adalah orang yang tidak berguna sekarang, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bersikap baik padamu. Jika kamu tidak mau, jangan melihatku ketika aku dipukuli." Anastasya belum mengatakan apa-apa. Tapi kakek Lucas sudah mencabuk Ainsley. Cambuk itu mengenai punggung Ainsley. Dia hanya berdiam, dan kemeja putihnya langsung berlumuran darah. Hati Anastasya bergetar, dan matanya menjadi sakit. Dia tiba-tiba merasa bahwa Paman Ainsley, yang sedang berlutut di lantai dan dicambuk, tidak berbeda dengan dirinya ketika dia dituduh mencuri oleh adiknya. Tidak ada yang mendengarkan penjelasannya, dan tidak ada yang percaya padanya. Sama seperti dia, dan apa yang baru saja Paman Ainsley katakan sangat menyentuh hatinya, mengatakan bahwa dia akan memberinya keluarga yang bahagia. Mungkin, dengan menikah dengannya, dia bisa kabur dari rumah yang mirip sarang serigala itu. Tapi Brylee... Dia dan Brylee sudah menjalin hubungan selama tiga tahun! Apa yang harus dia pilih? Anastasya memejamkan mata karena kesakitan, dan adegan perpisahan dengan Brylee muncul di benaknya. Flashback Kemarin malam, Anastasya memberi tahu Brylee untuk mendapatkan sertifikat terlebih dahulu agar keluarganya tidak memikirkan hal itu. Tapi Brylee hanya berkata, "Anna, dia adalah ibumu, meskipun dia tidak menyukaimu, dia tidak akan pernah bertindak terlalu jauh. Apakah ada kesalahpahaman di antara kalian berdua?" "Aku akan menjagamu dan tidak akan terjadi apa-apa. Kamu bisa tinggal di mansionku dengan tenang. Anna, bukannya aku tidak ingin menikah denganmu. Aku hanya ingin memberimu pernikahan yang megah lalu pergi mendapatkan sertifikatnya. Kesempatan kerja sama ini jarang terjadi. Aku tidak bisa menyerah. Tunggu aku, dan kita akan menikah!" Flashback on Suara Brylee sangat lembut dan slalu berputar di benaknya. Ketika Anastasya memikirkanya, dia merasa hatinya terasa sakit. Namun, suara cambuk menarik lamunannya. Tidak ada jalan kembali. Hal seperti ini terjadi tadi malam, dan baik dia maupun Brylee tidak bisa kembali. Anastasya membuka matanya, dan ada sedikit tekad di matanya. “Kakek, aku akan menikah dengannya! Aku bersedia menikah dengan paman ketiga!”Jhon tidak langsung menjawabnya.“Karena kau sudah datang,” ucapnya dingin, “masuklah dan temui Leah. Sepuluh menit lagi aku akan membawanya ke taman hiburan.”Begitu nama Leah disebut, wajah Eveline seketika memucat. Tubuhnya tanpa sadar mundur setapak.“Tidak… aku… aku tidak sanggup melihatnya,” suaranya gemetar. “Aku tidak tahan menatap… anak gagal itu.”“Gagal?” Nada suara Jhon langsung berubah tajam.Ia mencengkeram pergelangan tangan Eveline dengan kuat. “Kau benar-benar menyebut Leah gagal?!”“Bukankah begitu?” Eveline tertawa getir. “Dia bukan anak Ainsley. Ayah kandungnya hanyalah pria rendahan sepertimu. Dia sakit. Hidupnya cacat sejak lahir. Kalau itu bukan kegagalan, lalu apa?”Eveline menggeleng keras. Bekas kemerahan muncul jelas di pergelangan tangannya akibat genggaman Jhon.“Aku tidak tahan mendengar dia memanggilku ‘Ibu’,” katanya terisak.“Satu kata saja sudah cukup membuatku merasa ditertawakan oleh kenyataan. Semua itu mengingatkanku betapa bodohnya aku dulu!”“Ka
Paman kedua Bobby, tiba-tiba mengangkat mangkuk buburnya. Tubuhnya yang kurus tampak sedikit membungkuk ketika ia berdiri.“Aku sudah tua,” katanya pelan. “Tak sanggup melihat pemandangan seperti ini. Lebih baik aku menyingkir dulu. Lagipula, aku orang tak berguna—tak punya hak bicara. Kalian selesaikan urusan kalian sendiri.”Paman ketiga Bobby langsung meledak.“Ibu, lihat dia! Orang seperti ini masih pantas disebut keluarga kita? Ibu melahirkannya sia-sia!”Namun paman kedua sama sekali tak menoleh. Dengan membawa mangkuk bubur, ia berjalan perlahan ke arah pintu, seolah tak mendengar apa pun.Keheningan singkat menyelimuti ruangan.Para pengawal berbaju hitam saling bertukar pandang, lalu menatap paman ketiga Bobby, menunggu perintah.Paman ketiga memberi isyarat kasar.“Pergi! Ajari bocah sombong itu pelajaran!”Belum sempat perintah itu benar-benar selesai, Paman kelima sudah melangkah maju, berdiri tepat di depan Bobby.“Ini tidak adil,” katanya dengan nada datar. “Aku sudah se
Aria terdiam sejenak. Bahkan sebelum sempat bereaksi, tubuhnya sudah ditarik ke dalam pelukan Bobby.Bobby menunduk menatapnya, senyum malas dan nakal tersungging di bibirnya.“Ini… ciuman balasan untukmu.”Wajah Aria memanas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan berusaha melepaskan diri.“Hentikan… aku harus pulang.”Namun, ia bahkan belum sempat bergerak ketika lengan Bobby mengencang, memeluknya lebih erat.“Jangan bergerak,” ucapnya rendah. “Biarkan aku memelukmu sebentar saja.”Aria tanpa sadar menyandarkan hidungnya ke dada Bobby. Suaranya teredam ketika ia bertanya, “Kapan kau bangun? Atau… sejak tadi kau hanya berpura-pura mabuk?”Bobby terkekeh pelan, tangannya mengusap lembut belakang kepalanya.“Baru bangun. Terbangun karena ciumanmu. Untungnya, aku tidak melewatkan apa pun.”“Kau bohong,” protes Aria lirih, pipinya memerah. “Aku sangat ringan tadi.”“Oke,” Bobby mengalah dengan senyum. “Aku bohong.”Suara seraknya terdengar jelas, membuat jantung Aria berdegup tak beratu
Aria menundukkan kepala dengan gugup, jemarinya tanpa sadar meremas ujung pakaiannya.Arum menatapnya sejenak, lalu bertanya pelan, “Sabtu lalu kamu bilang pergi keluar dengan Almer. Tapi sebenarnya kamu memang bersama dia, kan?”Nada suaranya tenang, seolah hanya memastikan sesuatu yang sudah ia ketahui.“Mengingat sikap keluarga Aaron yang selalu memandang rendah kita, Ibu rasa Almer tidak mungkin pergi keluar semalaman denganmu,” lanjutnya. “Itu ayahmu—orang bodoh itu—yang tidak mengerti.”“Bu… aku…” Aria membuka mulut, tapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokan. Tangannya semakin mencengkeram kain bajunya.Arum melirik mangkuk sup di atas meja dan berkata dengan nada datar,“Makan dulu. Masih hangat.”Aria menurut. Ia mengangkat mangkuk sup iga dengan hati-hati, menyesapnya perlahan sambil diam-diam memperhatikan ekspresi ibunya. Setelah sup itu habis, ia berdiri kaku di tempat, seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan dan menunggu hukuman.Namun ibunya justru me
“Malam itu,” suara Jhon terdengar berat, “Untuk menghindari pertanggungjawaban Tuan Ketiga setelahnya, kau membius dirimu sendiri—lalu berpura-pura bahwa ada orang lain yang membiusmu.”Begitu kata-kata itu jatuh, ruangan langsung gempar.“Itu terlalu kejam!”“Ya Tuhan, menjijikkan sekali!”“Benar-benar tak tahu malu!”Wajah Eveline seketika memucat. Ia menggigit bibirnya keras-keras hingga terasa perih, bahkan darah merembes tipis.“Obat yang kau minum adalah Jun Zi Lie,” lanjut Jhon pelan namun jelas. “Obat itu hanya memberimu waktu setengah jam. Jika dalam waktu itu kau tidak berhubungan intim, pembuluh darahmu akan pecah—dan kau akan mati.”“Cukup!” Evelin berteriak histeris. “Siapa yang menyuruhmu mengatakan semua ini?! Aku hanya ingin kau menjawab satu hal—apakah aku masuk ke kamar Tuan Ketiga atau tidak? Ya atau tidak!”“Ya,” jawab Jhon tanpa ragu. “Pertama kali, kau memang masuk ke kamar Tuan Ketiga. Tapi Tuan Ketiga melukai dirinya sendiri untuk tetap sadar dan langsung mengu
Begitu suara Eveline menghilang, seluruh ruangan mendadak sunyi.Para reporter yang semula tampak lesu langsung terjaga, seperti hiu di laut dalam yang mencium bau darah. Mata mereka berbinar, saling bertukar pandang, seolah sedang menimbang—apakah berita ini layak dikejar sampai akhir, atau justru akan menyeret mereka ke dalam masalah.Tak satu pun berani mematikan kamera. Namun tangan mereka juga ragu untuk terus merekam, khawatir akan berurusan dengan Tuan Ketiga. Alhasil, tercipta kebuntuan aneh—semua orang menunggu, ingin tahu siapa yang akan menyerah lebih dulu.Di tengah keheningan itu, Ainsley akhirnya bergerak.Pria yang sebelumnya berbicara itu kini menunjukkan ekspresi berbeda. Wajah tampannya mengeras, dan mata yang biasanya tenang memancarkan kilatan amarah dingin. Para awak media menahan napas, yakin bahwa Tuan Ketiga akan meledak kapan saja.Namun, detik berikutnya—Ainsley malah tersenyum.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, tetapi sorot matanya tetap gelap dan sul







