แชร์

Bab. 4: Meminta Mahar

ผู้เขียน: Faoo pey
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-03-08 10:35:02

"Bicaralah, gadis bodoh, wajar saja jika ada persyaratan dalam pernikahan." Ainsley diam-diam menghela napas lega.

Anatasya sedikit tertegun.

Dia tak menyangka kalau orang penting yang ditakuti semua orang di Kyoto ternyata begitu mudah diajak bicara?!

Sambil menarik napas dalam-dalam, Anatasya menjelaskan, "Aku ingin rumah kecil. Tidak harus besar, apartemen kecil juga sudah cukup. Namaku harus tercantum di sertifikatnya. Setelah menikah, aku tidak ingin tinggal di rumahku, aku ingin tinggal di apartemen kecil itu. Jika kita berdua bercerai di kemudian hari... Apartemen itu akan menjadi milikku."

Dia ingin memastikan bahwa dia tidak akan memiliki kekhawatiran di masa mendatang.

Ketika Ainsley mendengar kata "Cerai", hatinya terasa sakit dan dia bertanya, "Bagaimana dengan syarat kedua?"

"Ketika aku menikah, aku tidak ingin tinggal di rumahku atau di rumahmu."

Dia benar-benar tidak ingin terlalu banyak terlibat dengan keluarganya atau keluarga Ainsley, jadi dia sangat membutuhkan rumah untuk pindah dari rumahnya.

Tetapi dia tidak mengucapkan kata-kata ini.

Setelah menunggu beberapa saat, Anatasya mendengar suara lembut Ainsley.

"Anna, jangan khawatir. Meskipun aku cacat, aku masih punya uang untuk membelikan mu rumah." Sambil berkata demikian, dia melirik Bima.

"Pindahkan rumah di The Bund Bay menjadi nama istriku segera."

"Baik." Bima menanggapi dan menelepon untuk memproses perintahnya.

Ketika Anatasya mendengar ini, matanya terbelalak karena terkejut.

Bund Bay, apakah itu properti di dekat kampusnya?

Itu rumah di lokasi strategis, sulit ditemukan. Bahkan rumah kecil disitu harganya puluhan juta. Tapi Ainsley memberikannya begitu saja kepadanya?

Dalam keadaan bingung, mobil itu tiba di Biro Urusan Sipil.

Begitu Anatasya turun dari mobil, seorang pria gemuk berlari mendekat sambil terengah-engah dan menyerahkan sebuah tas kepada Bima.

"Asisten Bima, saya sudah melakukannya secepat mungkin."

Bima memeriksannya dan menyerahkannya kepada Anatasya dengan kedua tangannya dengan hormat. "Nyonya, ini adalah properti yang diberikan Tuan Ketiga kepadamu. Silakan ambil. Selain itu, buku pendaftaran rumah tangga juga sudah diambil dari rumah Nyonya."

Anatasya sangat terkejut hingga dia tidak bisa berbicara, dan langsung mengambil sertifikat properti itu.

Hatinya yang gelisah, seperti tergantung di udara akhirnya tenang.

Dia tidak pernah menyangka bahwa rasa aman yang langka ini akan diberikan oleh Ainsley.

Anatasya merasa masam dan getir di hatinya. Dia mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Aku akan memperlakukanmu dengan baik di masa depan."

"Baiklah." Ainsley mengangkat sudut mulutnya dengan senang.

Anatasya mendorong Ainsley ke Biro Urusan Sipil. Di bawah bimbingan Bima, keduanya dengan cepat memperoleh surat nikah mereka.

Anatasya merasa pusing sepanjang jalan dan tidak menyadari bahwa lelaki berwajah tegas itu justru tersenyum bahagia selama foto pernikahan.

Setelah mendapatkan buku merah kecil ini, dia tidak punya waktu untuk melihatnya lebih dekat sebelum buku itu direnggut oleh Ainsley.

"Buku nikah ini akan aku berikan kepada Bima untuk menangani proses pendaftaran rumah tangga baru. Sekarang aku akan membawamu kembali ke keluarga Bimantara untuk mengemasi barang-barangmu."

Ainsley menjelaskan dengan serius di permukaan, tetapi di dalam hatinya. Dia sengaja menyimpan sendri agar Anatasya tidak menceraikannya di masa depan?!

Perceraian tidak mungkin!

Anatasya mengangguk dan berkata, "Oke".

Mobil itu segera tiba di rumah keluarga Bimantara.

Ketika mereka tiba di gerbang Mansion keluarga Bimantara, Anatasya tidak meminta Ainsley untuk ikut bersamanya, tetapi hanya mengatakan bahwa dia akan segera kembali.

Begitu dia masuk ke ruang tamu, Anatasya melihat ayah dan ibunya duduk di sofa menunggunya.

“Ibu, Ayah, aku hanya ingin mengambil barang-barangku.” Setelah mengatakan ini, Anatasya berbalik dan ingin naik ke atas.

“Berhenti!” Ibunya berdiri dengan marah dan menghentikannya.

Anatasya hanya berdiri diam dan belum bereaksi ketika ibunya bergegas mendekat dan menampar wajahnya tanpa bertanya apa pun.

Terdengar suara tamparan yang keras, yang bergema di seluruh ruang tamu, dan tak lama kemudian, suara marah terdengar.

“Anna, bagaimana bisa kau begitu tidak tahu malu! Kau benar-benar naik ke ranjang Paman Ketiga Brylee. Apa kau tidak punya rasa malu? Jika kau melakukan ini, bagaimana Audrey bisa menikah dengan keluarga Adison di masa depan?”

Anatasya mencibir. Kakaknya, Audrey, tidak bisa menikah dengan keluarga Adison. Inilah yang mereka khawatirkan.

Orang tuanya awalnya berencana untuk menghancurkan kepolosannya dan menyuruh Audrey menikahi Brylee, bukan dia.

Meskipun dia tahu apa yang dipikirkan keluarganya sejak lama, Anatasya masih merasa sakit hati saat ini.

Semakin dia memikirkannya, semakin dia merasa sedih. Dia tidak bisa menahan diri untuk membela diri dan menggeram, "Aku tidak naik ke tempat tidur Ainsley. Aku juga korban."

"Korban? Korban apa?" Suara ibunya meninggi beberapa kali. "Seekor lalat tidak akan menggigit telur tanpa retak! Kamu dan Brylee bahkan belum menikah, dan kalian tinggal di rumah orang lain. Bagaimana kamu bisa mengharapkan orang lain menghormatimu jika kamu tidak memiliki harga diri!"

"Tapi kenapa aku tinggal di rumah orang lain, tidakkah ibu tahu?" Anatasya menatap ibunya dengan mata merah, nadanya menjadi sedikit lebih keras.

Dia ingin sekali melihat apakah ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya, tetapi sayangnya tidak ada.

Saat ini, dia benar-benar sudah muak!

Cukup sudah penghinaan tiada akhir yang diterima dari orang tuanya!

Putrinya, yang selalu mudah diganggu, tiba-tiba membalas, dan ibunya menjadi semakin marah. "Ada apa dengan tatapan matamu itu? Apakah kamu pikir kamu benar? Kamu mengacaukan bisnis Direktur Andreas, dan kita harus membereskan kekacauan mu!"

Saat ibunya mengatakan ini, ibunya hendak mengangkat tangannya lagi.

Namun kali ini, Anatasya langsung meraih pergelangan tangan ibunya dan berkata, "Bu, Ainsley ada di luar! Apakah Ibu yakin ingin menampar wajahku sekeras itu sehingga aku tidak bisa menghadapi siapa pun?"

Ibunya kurang lebih pernah mendengar nama Tuan Ketiga. Dia menarik tangannya dengan marah, dan Anatasya naik ke atas untuk mengemasi barang-barangnya tanpa menoleh ke belakang.

Dia tidak punya banyak barang, tidak ada yang berharga.

Ia tidak mengambil barang-barang bekas yang diberkahi kakaknya. Ia hanya mengambil beberapa pakaian dan sertifikat serta dokumen penting.

Begitu dia turun ke bawah, suara kasar ayahnya terdengar.

"Orang lain menikahi putri mereka, begitu juga aku. Mengapa putriku dinikahkan seperti komoditas yang merugi? Coba aku tanya, di mana hadiah pernikahannya?"

Ayahnya baru saja selesai berbicara ketika Ainsley didorong masuk oleh Bima. Ketika matanya bertemu dengan pipi Anatasya yang

merah dan sudut bibirnya yang berdarah, matanya yang tajam di balik lensa dipenuhi dengan kengerian dan kedinginan.

Anatasya tercengang.

Bima menyadari bahwa mata

Tuannya tidak benar, dan buru-buru melangkah maju, berdiri di depan Ainsley, dan membantu menjelaskan, "Tuan Ketiga khawatir Nyonya memiliki terlalu banyak barang, jadi dia ingin masuk untuk membantu."

Mata Anatasya merah dan pipinya memerah. Dia merasa malu dan tidak berani menatap Ainsley, jadi dia tidak memperhatikan tatapannya yang menakutkan.

Sambil membawa tas kecil, dia bergegas ke sisi Ainsley, memegang kursi rodanya dan berkata, "Aku sudah mengambilnya. Ayo kita kembali."

Saat dia selesai berbicara, dia hendak mendorong Ainsley menjauh.

"Jangan terburu-buru." Ainsley mengangkat tangannya untuk menghentikannya, dan mendorong kacamatanya ke pangkal hidungnya dengan jarinya yang ramping, mengingatkan dirinya untuk mempertahankan kepribadiannya yang lembut dan elegan saat ini. Sudut-sudut mulutnya sedikit melengkung saat dia melihat ayah dan ibu Anatasya.

Tetapi senyuman ini membuat ayah dan ibu Anatasya merasa menyeramkan.

Ainsley saat ini memiliki keinginannya untuk membunuh orang. Ia menepuk punggung tangan Anatasya dan berkata, "Ayahmu memang ada benarnya. Wajar saja jika meminta mahar saat menikahi seorang putri. Itu adalah kecerobohanku."

"Ainsley." Anatasya berkata dengan cemas, dia tidak ingin membiarkan Ainsley dimanfaatkan oleh anggota keluarga yang ambisius ini.

Ainsley menepuk punggung tangannya dan menenangkannya dengan lembut, "Aku tahu batas kemampuanku."

Kemudian, Ainsley menatap ayah Anatasya dan berkata, "Ayah mertua, menurutmu berapa hadiah pertunangan yang pantas?"

Arthur hanya bersikap jahat kepada Anatasya dan tidak benar-benar ingin mendapatkan hadiah pertunangan dari Tuan Ketiga, yang ditakuti oleh semua orang di Kyoto.

Walaupun pria ini sekarang cacat dan tidak memiliki kesempatan untuk menjadi penerus perusahaan Adison, ia masih memiliki kekuasaannya sendri.

Arthur tidak bisa main-main dengan orang ini.

Dia tersenyum kaku dan berkata, "Tuan Ketiga, terserah Anda untuk memutuskan. Berikan saja saya sebanyak harga pasar di luar sana."

Ainsley terlihat memikirkannya dan mengangguk.

"Aku sudah menjanjikan Anna sebuah rumah di Bund Bay pagi ini. Aku akan memikirkan apa lagi yang bisa kutambahkan sebagai hadiah pertunangan."

Tiba-tiba, Audrey yang sedang menguap, baru saja berjalan ke ruang tamu ketika dia mendengar kata-kata ini. Matanya membelalak karena terkejut.

"Rumah di Bund Bay? Itu rumah termewah di Kyoto!"

Dia dengan gembira meraih lengan ibunya dan berkata dengan genit, "Bu, aku ingin tinggal di sana!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menikah Dengan Paman Tunanganku    Bab. 356: Menikah Dengan Paman Tunanganku

    Jhon tidak langsung menjawabnya.“Karena kau sudah datang,” ucapnya dingin, “masuklah dan temui Leah. Sepuluh menit lagi aku akan membawanya ke taman hiburan.”Begitu nama Leah disebut, wajah Eveline seketika memucat. Tubuhnya tanpa sadar mundur setapak.“Tidak… aku… aku tidak sanggup melihatnya,” suaranya gemetar. “Aku tidak tahan menatap… anak gagal itu.”“Gagal?” Nada suara Jhon langsung berubah tajam.Ia mencengkeram pergelangan tangan Eveline dengan kuat. “Kau benar-benar menyebut Leah gagal?!”“Bukankah begitu?” Eveline tertawa getir. “Dia bukan anak Ainsley. Ayah kandungnya hanyalah pria rendahan sepertimu. Dia sakit. Hidupnya cacat sejak lahir. Kalau itu bukan kegagalan, lalu apa?”Eveline menggeleng keras. Bekas kemerahan muncul jelas di pergelangan tangannya akibat genggaman Jhon.“Aku tidak tahan mendengar dia memanggilku ‘Ibu’,” katanya terisak.“Satu kata saja sudah cukup membuatku merasa ditertawakan oleh kenyataan. Semua itu mengingatkanku betapa bodohnya aku dulu!”“Ka

  • Menikah Dengan Paman Tunanganku    Bab. 355: Menikah Dengan Paman Tunanganku

    Paman kedua Bobby, tiba-tiba mengangkat mangkuk buburnya. Tubuhnya yang kurus tampak sedikit membungkuk ketika ia berdiri.“Aku sudah tua,” katanya pelan. “Tak sanggup melihat pemandangan seperti ini. Lebih baik aku menyingkir dulu. Lagipula, aku orang tak berguna—tak punya hak bicara. Kalian selesaikan urusan kalian sendiri.”Paman ketiga Bobby langsung meledak.“Ibu, lihat dia! Orang seperti ini masih pantas disebut keluarga kita? Ibu melahirkannya sia-sia!”Namun paman kedua sama sekali tak menoleh. Dengan membawa mangkuk bubur, ia berjalan perlahan ke arah pintu, seolah tak mendengar apa pun.Keheningan singkat menyelimuti ruangan.Para pengawal berbaju hitam saling bertukar pandang, lalu menatap paman ketiga Bobby, menunggu perintah.Paman ketiga memberi isyarat kasar.“Pergi! Ajari bocah sombong itu pelajaran!”Belum sempat perintah itu benar-benar selesai, Paman kelima sudah melangkah maju, berdiri tepat di depan Bobby.“Ini tidak adil,” katanya dengan nada datar. “Aku sudah se

  • Menikah Dengan Paman Tunanganku    Bab. 354: Menikah Dengan Paman Tunanganku

    Aria terdiam sejenak. Bahkan sebelum sempat bereaksi, tubuhnya sudah ditarik ke dalam pelukan Bobby.Bobby menunduk menatapnya, senyum malas dan nakal tersungging di bibirnya.“Ini… ciuman balasan untukmu.”Wajah Aria memanas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan berusaha melepaskan diri.“Hentikan… aku harus pulang.”Namun, ia bahkan belum sempat bergerak ketika lengan Bobby mengencang, memeluknya lebih erat.“Jangan bergerak,” ucapnya rendah. “Biarkan aku memelukmu sebentar saja.”Aria tanpa sadar menyandarkan hidungnya ke dada Bobby. Suaranya teredam ketika ia bertanya, “Kapan kau bangun? Atau… sejak tadi kau hanya berpura-pura mabuk?”Bobby terkekeh pelan, tangannya mengusap lembut belakang kepalanya.“Baru bangun. Terbangun karena ciumanmu. Untungnya, aku tidak melewatkan apa pun.”“Kau bohong,” protes Aria lirih, pipinya memerah. “Aku sangat ringan tadi.”“Oke,” Bobby mengalah dengan senyum. “Aku bohong.”Suara seraknya terdengar jelas, membuat jantung Aria berdegup tak beratu

  • Menikah Dengan Paman Tunanganku    Bab. 353: Menikah Dengan Paman Tunanganku

    Aria menundukkan kepala dengan gugup, jemarinya tanpa sadar meremas ujung pakaiannya.Arum menatapnya sejenak, lalu bertanya pelan, “Sabtu lalu kamu bilang pergi keluar dengan Almer. Tapi sebenarnya kamu memang bersama dia, kan?”Nada suaranya tenang, seolah hanya memastikan sesuatu yang sudah ia ketahui.“Mengingat sikap keluarga Aaron yang selalu memandang rendah kita, Ibu rasa Almer tidak mungkin pergi keluar semalaman denganmu,” lanjutnya. “Itu ayahmu—orang bodoh itu—yang tidak mengerti.”“Bu… aku…” Aria membuka mulut, tapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokan. Tangannya semakin mencengkeram kain bajunya.Arum melirik mangkuk sup di atas meja dan berkata dengan nada datar,“Makan dulu. Masih hangat.”Aria menurut. Ia mengangkat mangkuk sup iga dengan hati-hati, menyesapnya perlahan sambil diam-diam memperhatikan ekspresi ibunya. Setelah sup itu habis, ia berdiri kaku di tempat, seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan dan menunggu hukuman.Namun ibunya justru me

  • Menikah Dengan Paman Tunanganku    Bab. 352: Menikah Dengan Paman Tunanganku

    “Malam itu,” suara Jhon terdengar berat, “Untuk menghindari pertanggungjawaban Tuan Ketiga setelahnya, kau membius dirimu sendiri—lalu berpura-pura bahwa ada orang lain yang membiusmu.”Begitu kata-kata itu jatuh, ruangan langsung gempar.“Itu terlalu kejam!”“Ya Tuhan, menjijikkan sekali!”“Benar-benar tak tahu malu!”Wajah Eveline seketika memucat. Ia menggigit bibirnya keras-keras hingga terasa perih, bahkan darah merembes tipis.“Obat yang kau minum adalah Jun Zi Lie,” lanjut Jhon pelan namun jelas. “Obat itu hanya memberimu waktu setengah jam. Jika dalam waktu itu kau tidak berhubungan intim, pembuluh darahmu akan pecah—dan kau akan mati.”“Cukup!” Evelin berteriak histeris. “Siapa yang menyuruhmu mengatakan semua ini?! Aku hanya ingin kau menjawab satu hal—apakah aku masuk ke kamar Tuan Ketiga atau tidak? Ya atau tidak!”“Ya,” jawab Jhon tanpa ragu. “Pertama kali, kau memang masuk ke kamar Tuan Ketiga. Tapi Tuan Ketiga melukai dirinya sendiri untuk tetap sadar dan langsung mengu

  • Menikah Dengan Paman Tunanganku    Bab. 351: Menikah Dengan Paman Tunanganku

    Begitu suara Eveline menghilang, seluruh ruangan mendadak sunyi.Para reporter yang semula tampak lesu langsung terjaga, seperti hiu di laut dalam yang mencium bau darah. Mata mereka berbinar, saling bertukar pandang, seolah sedang menimbang—apakah berita ini layak dikejar sampai akhir, atau justru akan menyeret mereka ke dalam masalah.Tak satu pun berani mematikan kamera. Namun tangan mereka juga ragu untuk terus merekam, khawatir akan berurusan dengan Tuan Ketiga. Alhasil, tercipta kebuntuan aneh—semua orang menunggu, ingin tahu siapa yang akan menyerah lebih dulu.Di tengah keheningan itu, Ainsley akhirnya bergerak.Pria yang sebelumnya berbicara itu kini menunjukkan ekspresi berbeda. Wajah tampannya mengeras, dan mata yang biasanya tenang memancarkan kilatan amarah dingin. Para awak media menahan napas, yakin bahwa Tuan Ketiga akan meledak kapan saja.Namun, detik berikutnya—Ainsley malah tersenyum.Senyum tipis terukir di sudut bibirnya, tetapi sorot matanya tetap gelap dan sul

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status