Masuk“Aku tidak apa-apa …” Celina berkata sambil memejamkan mata dan memegang perutnya.“Kau muntah karena bau kopi.”“Aku cuma— ngh…”Kalimatnya terputus saat rasa mual kembali datang. Daniel langsung menopang tubuhnya lebih dekat, satu tangannya mengusap pelan punggung Celina.Di luar, Gavin dan Cornell saling pandang.“Apa dia sakit?” gumam Gavin pelan.Cornell tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke arah kamar mandi dengan ekspresi yang perlahan berubah serius. “Entahlah, mungkin terlalu stres.”Beberapa menit kemudian, Daniel akhirnya keluar bersama Celina.Satu tangan Daniel masih melingkari pinggang wanita itu seolah takut Celina akan jatuh kalau ia melepasnya sedikit saja.Wajah Celina pucat dan lelah.“Duduklah,” ucap Daniel cepat sambil menarik kursi.Celina menurut tanpa membantah.Cornell mendekat dan kembali memeriksa. “Mualnya baru hari ini?”Celina menggeleng pelan. “Sejak dua hari lalu.”“Pusing?”“Ya, sedikit.”“Nafsu makan berubah?” Cornell kembali bertanya
Pagi datang perlahan bersama kabut tipis yang menyelimuti sekitar rumah tua itu. Udara dingin merembes masuk lewat celah-celah kayu lapuk. Daniel terbangun lebih dulu. Matanya langsung bergerak ke samping. Celina masih tertidur dengan nafas teratur. Tangannya terangkat, merapikan helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.Ia menatap takjub pada Celina. Semalam keduanya melewatkan malam panjang penuh peluh yang berkesan untuk Daniel. Celina menyerahkan dirinya tanpa paksaan seperti yang terjadi sebelumnya.Ia mengecup kening Celina lembut. Membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Celina. Menikmati aroma khas tubuh Celina yang menenangkan.Celina menggeliat ringan, matanya masih tertutup seolah tak ingin tidurnya terganggu. Daniel tersenyum, mencium pipinya sekali lagi sebelum matanya terhenti pada memar lebar yang mulai memudar di bahunya. Ia mengusapnya pelan, hatinya sakit melihat wanita yang dicintainya terluka.Daniel terdiam beberapa saat menatapnya. Ia mengusap wajah kasar l
Menjelang malam, rumah tua terasa terlalu sunyi. Debur ombak terdengar samar dari kejauhan. Kabut tipis mulai muncul memenuhi sekitar rumah, menciptakan suasana dramatis yang mencekam.Meski begitu, suasana di dalam rumah terasa tenang dan nyaman. Beberapa hari berlalu, luka-luka Daniel dan Celina mulai membaik. Cornell selalu datang untuk merawat di pagi dan sore hari.Sementara Gavin berjaga di lantai satu sambil memantau situasi di luar sana. Perkembangan Heatrix dan Knight Corp selalu dilaporkan Gavin berkala begitu juga dengan posisi Irene yang masih belum lelah mencari Daniel.Celina sedang duduk di sofa sambil memilah obat-obatan ketika Daniel keluar dari kamar mandi dengan kaos hitam tipis dan rambut masih basah. Tatapannya langsung jatuh pada Celina.“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyanya masih menatap.“ehm, memisahkan obat yang harus kau minum setelah makan malam.” Celina mengangkat wajah dan membalas tatapan Daniel yang rasanya sudah terlalu lama.Daniel terdiam, memperha
Gerimis lembut berubah menjadi hujan tipis ketika sebuah SUV hitam berhenti tanpa suara di seberang apartemen.David keluar dari mobilnya lebih dulu. Menaikkan kerah mantel gelapnya yang bergerak pelan tertiup angin dingin malam. Tiga pria bantuan Dominic menyusul keluar dari SUV lalu menunggu di dekat pintu masuk gedung.“Kamera lantai atas sudah aku loop tiga menit,” bisik salah satu dari mereka sambil menyerahkan earpiece cadangan. “Waktu kita terbatas.”David mengangguk singkat. Ia kembali menatap jendela besar dengan lampu yang menyala redup. Meski tak begitu yakin tapi ia berharap intuisinya benar. Setidaknya, ia bisa menemukan informasi keberadaan adik dan istrinya.Lift bergerak lambat menuju lantai paling atas. Mereka terlihat tegang sekaligus waspada. David memeriksa magazine pistolnya sekali lagi begitu juga dengan yang lain.Pintu lift terbuka. Salah satu dari anak buah Dominic keluar lebih dulu dengan moncong senjata siap membidik siapapun di luar lift.“Clear.” Serunya
Hujan turun semakin deras ketika mobil hitam meluncur membelah jalanan kota yang mulai sepi. Lampu jalan memantul di aspal basah seperti serpihan emas yang pecah berantakan. Di balik kemudi, David mengemudi dengan satu tangan sementara tangan lainnya bertumpu santai di dekat persneling. Sorot matanya tajam tetap waspada memperhatikan sekitar. Layar navigasi di dashboard terus menunjukkan titik lokasi terakhir transaksi Francis Drake. Apotik dua puluh empat jam di salah satu sudut kota lama, lima ratus meter dari pelabuhan. David sedikit curiga karena itu adalah tempat yang terlalu kumuh untuk seorang dokter dengan reputasi bersih seperti Francis Drake. David sedikit menyipitkan mata saat menatap bangunan apartemen tua itu dari balik kaca mobil. Cat dindingnya mengelupas, lorongnya sempit dan lembab. “Yang benar saja, dia tinggal disini? Lalu darimana uang sebanyak itu?” ucapnya pelan menatap kembali daftar belanja medis yang dilakukannya. “Dom, kau yakin Francis Drake ad
Malam menyelimuti kota London dengan hujan tipis yang turun tanpa suara. Lantai eksekutif gedung utama Knight Corp masih terang ketika sebagian besar kota telah tertidur.Di dalam ruang rapat khusus, beberapa layar besar menampilkan grafik saham yang terus bergerak turun. Warna merah memenuhi monitor.Situasi memburuk lebih cepat dari perkiraan.Steve berdiri di ujung meja panjang sambil membaca laporan terbaru dari tabletnya. Jas abu gelap yang ia kenakan masih rapi, berbeda jauh dengan suasana kacau di dalam perusahaan.Beberapa divisi bekerja tanpa henti sejak sore. Melakukan panggilan investor, menghadapi ancaman regulasi sekaligus mengatur berita di berbagai media.Steve harus mengatasi kekacauan di dua perusahaan besar—-Knight dan Heatrix.Kebocoran data Heatrix mulai menyebar terlalu luas. Hilangnya Celina semakin memperburuk keadaan.Pintu ruang rapat terbuka. Salah satu staf legal masuk dengan wajah tegang.“Dua perusahaan afiliasi resmi menghentikan kerja sama mereka malam i
Langit London sore itu kelabu, hujan tipis menempel di kaca jendela kantor firma hukum Whitmore & Ashcroft.Rak kayu tua memenuhi ruangan. Tiap rak-nya berisi dokumen keluarga yang usianya bahkan lebih tua dari Celina sendiri.Sebastian Whitmore duduk tegak di balik meja mahoni besar, kacamata sete
“Dokter, akhirnya kau datang juga. Tuan menunggu di kamar.” Steve panik dan cemas saat Dokter Andreas keluar dari lift dengan tenangnya. “Tunggu jelaskan padaku situasinya, Steve.” Dokter Andreas membetulkan letak kacamatanya, lalu memeriksa jam di tangannya. Steve menarik nafas panjang sebelum
Pintu President Suite tertutup di belakang mereka, meredam suara dunia luar. Hening menyapa, yang terdengar hanya suara nafas Celina yang tidak teratur dan detak lambat jam dinding.David menurunkan Celina perlahan diranjang. Erangan lemah terdengar saat luka di dada Celina sedikit tertekan. David
Ditengah keramaian ballroom, seorang wanita muda melangkah mendekati David.Wanita cantik dengan rambut pirang keemasan—ditata rapi dengan hiasan simpel tapi terlihat mewah—berjalan dengan penuh percaya diri. Gaun sutra biru pucat membingkai siluetnya dengan indah dan berkelas. Senyumnya mengemban







