LOGIN“Aku rasa kau dalam masalah, kawan. Kali ini kau akan kesulitan menghadapi bajingan kecil itu.”
Andreas meletakkan tablet itu di meja, menanti reaksi David berikutnya. “Aku tahu,” gumamnya dingin. Ia mematikan rokoknya, kembali membuka layar tablet dan memperhatikan wajah Celina disana. Kini semuanya masuk akal. Mengapa anak buah Jason berada di sekitar lokasi dan mengapa nalurinya sejak awal menolak untuk melepaskan gadis itu. “Jason tidak akan berhenti mencarinya, tapi … kenapa dia bertindak bodoh dan melukai putri tunggal pewaris Heatrix?” Andreas bertanya, matanya masih tertuju ke arah tablet. “Bukan melukai tapi berniat membunuhnya.” David membalas dengan tenang. “Ciih, dasar pecundang. Sama seperti ..,” Andreas menghentikan kalimatnya setelah lirikan tajam David seolah menusuk tanpa kata. Matanya berganti tertuju pada layar yang tengah memutar ulang video pertunangan Jason. Ia berdecak untuk kesekian kalinya. “Sial, dia benar-benar cantik disini. Celina … nama yang bagus. Tapi … bagaimana dia berakhir dalam pelukanmu dan tanpa mengenakan … ehm, kau paham kan maksudku?” ia mencoba mengorek informasi dari David. Lelaki berusia 42 tahun itu sama sekali tak bereaksi. David lebih tertarik memutar ulang kembali video untuk kedua kalinya. “Entahlah, aku hanya mencegahnya tertabrak mobil. Siapa sangka dia adalah tunangan Jason.” “Aku heran, kau ayah Jason tapi, kau tidak pernah dikenalkan pada Celina?” Tanya Andreas heran. “Kami belum sempat bertemu dan aku terlalu sibuk.” Andreas berdecak sinis, “aku sama sekali tak mengerti jalan pikiran bajingan kecil itu. Dia sama sekali tidak mirip denganmu. Selalu bertindak seenaknya sendiri dan ceroboh. Kau yakin dia anakmu?” David tak menjawab, ia menghela nafas berat. “Selidiki apa yang terjadi sebenarnya dan perketat penjagaan mansion. Tanpa seizinku, tidak ada yang boleh mendekati kamar nona Heatrix.” perintahnya pada Steve—asisten pribadinya. “Baik, Tuan.” Steve mengangguk dan segera keluar ruangan. “Jadi, apa rencanamu?” “Tentu saja, menikahinya.” Jawab David santai dengan seringai misterius. “Dasar gila.” Dokter tampan itu tergelak. “Baiklah tugasku sudah selesai. Aku pergi dulu dan … selamat menikmati malam pengantinmu, Tuan Knight.” David berdiri cukup lama di depan jendela kaca besar. Hujan turun cukup deras di luar sana, petir menyambar dan suara gemuruh terus bersahutan seolah mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Suara ponsel membuatnya bergerak melangkahkan kaki. Nama Jason tertera di layar. “Katakan.” “Ayah, kau harus membantuku mencari seseorang. Celina, tunanganku menghilang dan aku sangat mengkhawatirkan kondisinya.” Dalam hati, David mengumpat dan mengutuk putranya itu. Tapi ia berusaha tenang—seperti biasanya. “Celina?” “Pewaris Heatrix? Jangan katakan kau melupakan hari besarku hari ini.” Jason berkata seolah-olah tidak bersalah. “Ah, ya … hari ini? Maaf aku terlalu sibuk dan belum bisa pulang.” David memainkan perannya dengan baik. Mengikuti permainan Jason. “Kau kejam sekali. Aku putramu dan kau melupakan hari ini. Baiklah, sebagai gantinya, bantu aku mencari Celina. Kau bersedia bukan?” Senyum tipis yang licik muncul di wajah David. “Tentu, ceritakan apa yang terjadi. Aku pasti membantumu.” Jason mulai bercerita tentang pertunangannya dan bagaimana Celina kemudian kabur lalu menghilang. Jason berbohong, itu yang dirasakan David dari cerita panjang lebarnya. “Aku mencintainya, ayah. Tolong bantu aku mencarinya. Karena aku tidak mungkin mengelola perusahan sebesar itu tanpanya.” “Oh, benarkah? Apa Celina telah memindahkan seluruh asetnya padamu?” Pertanyaan sarkas itu membuat Jason terdiam beberapa saat di seberang sana. “Kau tidak mempercayaiku? Celina berjanji akan mengalihkan semuanya padaku. Maksudku … untuk kami kelola bersama tentu saja.” David terdiam sesaat, membiarkan Jason menunggu dengan cemas. “Baiklah, Steve akan membantumu dan sementara itu kau harus mengatasi kekacauan di Heatrix. Aku tidak ingin kau menimbulkan kerugian yang cukup besar. Jika tidak … jangan harap bisa mendapatkan bagianmu di sisi utara Skotlandia.” David menutup panggilannya begitu saja, tak peduli dengan reaksi Jason diseberang sana. “Tuan,” Steve kembali datang. “Kami mendapatkan informasi terbaru.” David memutar tubuh, “katakan.” “Tuan Muda tengah membangun proyek besar di Maine menggunakan dana cadangan perusahaan yang kita kirim ke Swiss.” “Apa?!” “Maafkan saya Tuan, kebocoran data keuangan sudah kami dapatkan sejak tiga bulan terakhir. Saya sudah menyelidikinya dan mendapatkan bukti sah tentang penggelapan sejumlah besar dana.” Wajah David memerah, rahangnya mengeras. Kepulangannya kali ini ke London membawa kabar tak menyenangkan. Desas desus tentang Jason memang sudah didengarnya lama tapi ia tak menyangka jika Jason bakal berlaku jauh diluar dugaannya. “Apa Celina juga bagian dari rencana liciknya?” “Sayangnya begitu Tuan. Laporan sementara menyatakan jika niat Tuan Muda memang untuk menguasai Heatrix secara keseluruhan.” Jawab Steve tegas. “Aku tak menyangka jika selama ini … keluarga Knight telah memelihara anjing sialan yang tak berguna.” “Lalu, apa perintah Tuan?” Steve bertanya dengan hati-hati. “Tetap awasi pergerakan Jason. Jangan sampai dia tahu aku sudah kembali. Aku ingin tahu seberapa besar nyalinya berhadapan denganku.” “Nona Celina, Tuan?” “Itu urusanku,” jawab singkat David dengan tenang. Steve menunduk hormat sebelum keluar ruangan. Lalu memerintahkan sejumlah pengawal untuk menjalankan perintah David. “Perketat penjagaan mansion, tidak ada yang boleh masuk tak terkecuali Tuan Muda.”Mendengar suara yang memanggil namanya, anak kecil itu langsung menoleh cerah. Ia menyambar mobil-mobilan dari tangan David dan bergegas pergi. “Thanks, Uncle.”Jantung David seolah berhenti seketika. Senyum itu mengingatkannya pada Daniel. “Anak itu …,”David segera mengikuti langkah kecil anak itu, tak peduli dengan teriakan Steve dan stafnya untuk kembali. Ia terus mengikuti hingga akhirnya, langkah David berhenti.David membeku di tempat saat melihat mereka berjalan pergi menuju area taman belakang hotel. Degup jantungnya semakin keras.“Dominic … apa yang dia lakukan disini?”Naluri yang selama tiga tahun tak pernah mati kini seperti menjerit di dalam kepalanya. Hatinya terasa sangat tidak tenang.Lalu David melihatnya.Seorang wanita berdiri membelakanginya di dekat air mancur kecil. Rambut coklat yang lembut dan postur tubuh wanita itu, mengingatkannya pada Celina.“Mommy!” Anak kecil tadi menghampirinya dengan riang. Wanita itu berbalik perlahan lalu tersenyum lebar menyamb
Dua anak kembar Celina sudah tertidur setelah kelelahan bermain seharian. Dominic membanjiri mereka dengan hadiah, bermain dengan anjing peliharaan, dan tentu saja berlomba adu cepat remote control di arena yang sengaja dibuat khusus Dom.Rumah besar itu akhirnya sunyi, hanya suara kayu perapian yang terbakar pelan memenuhi ruangan.Celina berdiri di dekat jendela sambil memandangi salju yang jatuh. Sementara Dominic duduk tenang di sofa belakangnya, membaca data pada tablet tipis di tangannya.“David semakin buruk.”Kalimat itu membuat Celina menarik nafas dalam. Ada kerinduan bercampur ketakutan di dalamnya.“Selama tiga tahun terakhir dia nyaris menghancurkan dirinya sendiri.” lanjut Dominic masih dengan nada datar.Celina menunduk. Sebenarnya, ia tidak terlalu terkejut dan sudah menduganya.“Dia masih mencarimu.” Dominic mengangkat tatapan.Napas Celina terasa sesak.“Ia tetap menjalankan Heatrix dan Knight seperti biasa, tapi hidupnya berantakan.” Dominic berhenti sejenak. “Alkoh
Langit malam masih dipenuhi bau asap dan besi terbakar ketika David akhirnya siuman. Kepalanya terbalut perban tipis. Ia berjalan mendekat didampingi Steve. Api belum sepenuhnya padam. Lampu kendaraan darurat memenuhi area dengan kilatan merah dan biru yang menyakitkan mata. Potongan beton hangus berserakan di mana-mana, sementara sisa ledakan kedua membuat sebagian bangunan benar-benar runtuh ke bawah dermaga. David berjalan menembus garis pembatas tanpa memperdulikan teriakan petugas. “Tuan! Area ini berbahaya—” seorang petugas kepolisian menghalanginya. David mendorong lelaki itu begitu saja. Matanya liar mencari ke segala arah. “CELINA!” teriaknya lantang. Tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara api kecil yang masih menyala di antara puing. Nafas David mulai memburu. Tangannya gemetar saat memindahkan bongkahan beton dengan tangan kosong meski telapak tangannya terluka dan berdarah. “Daniel!” serunya lagi dengan suara gemetar. Tetap tidak ada jawaban. Steve
EPILOG Hujan turun dengan deras, celina menyelinap keluar kamar dengan berhati-hati. Tiba di bagian belakang rumah, pria bermantel gelap mendekatinya.“Kau yakin akan melakukannya? Jika kau melakukannya … maka tidak ada jalan kembali lagi bagimu.” Dominic berkata sekali lagi memastikan keputusan Celina.Celina terdiam sesaat lalu tersenyum. “Ya, demi kebaikan semuanya.”Dom mengusap kasar wajahnya dari air hujan. “Aku tidak suka ini, Celina. Kau membahayakan nyawamu sendiri.”“Aku tahu.”“Kau tidak ingin anak itu?” Tanya Dominic bingung.“Justru karena aku menginginkannya. Dan aku ingin dia hidup tenang bersamaku.”Dominic menghembuskan nafas frustasi. “Ini ide gila, Celina. Sangat gila.”“Hanya kau yang bisa membantuku, Dom.”Keduanya saling menatap sesaat sebelum akhirnya Dominic setuju. “Baiklah.”Ia mengeluarkan kotak kecil berisi suntikan serum berwarna biru metalik. “Tapi dengan syarat, kau harus mengikuti rencanaku.”Dominic menarik tangan Celina.“Apa yang kau lakukan, Dom?”
“Mereka membawa Celina ke sana!”Tatapan David dan Daniel langsung berubah tajam bersamaan. Tanpa ingin membuang waktu, mereka berlari maju bersama menembus hujan dan peluru. Sesekali, Dominic melindungi keduanya dengan kemampuan menembak jitu dan sabetan katana yang presisi.Pintu gudang tua itu dibanting terbuka. David dan Daniel langsung masuk dengan nafas memburu, dengan pistol terangkat tinggi. Tapi langkah mereka mendadak terhenti.“Selamat datang Tuan-tuan Knight.” Irene menyapa dengan tawa kecil. Tatapan keduanya jatuh pada Celina yang terduduk lemah di lantai dingin. Kedua tangannya terikat di belakang kursi besi. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi, dan nafasnya pun kacau. Tapi yang paling membuat jantung kedua bersaudara itu berdebar kencang adalah … cairan kemerahan yang merembes diantara dua kaki Celina.“Celina …,” David memanggilnya dengan suara bergetar. Celina menatap lemah ke arahnya.“Aku baik-baik saja.” Sahutnya pelan setengah sadar.Dominic mengepalkan ta
“Turunkan senjatamu, David.” Dominic mendekat perlahan, tangannya menekan turun tangan David.Irene mundur perlahan sambil menyeret tubuh Celina yang lemah. Tangannya mencengkeram bahu Celina erat, sementara pistol itu masih menempel di pelipisnya.Rafael Ortega melindunginya hingga mereka berhasil melarikan diri.“Kau tidak akan lolos dari kejaran mereka.” Kata Celina.Irene berdecak sinis, mendorong kasar tubuh Celina agar berjalan cepat. “Kalau begitu, kejar aku sampai neraka.”Rafael berusaha menahan diri. Situasi mereka belum aman dan ketika memasuki salah satu gudang tua, ia mencengkeram lengan Irene kasar. “Hentikan kegilaanmu!” desisnya tajam.Celina nyaris terseret jatuh. Tapi Irene bahkan tidak peduli. Ia terus berjalan,menatap lurus ke depan.“IRENE?!” Rafael menghentikan langkah wanita itu, menariknya kasar.“Kenapa … kau menyesal?” Tatapannya tajam.“Hentikan apa yang ada dalam pikiranmu. Kita harus pergi sekarang.” Rafael menatapnya tajam.Irene diam sejenak lalu menjaw







