Masuk“Istri?!” Dokter tampan itu terbelalak, “Tunggu, apa maksudmu? Sejak kapan kau dekat dengan wanita?”
Dokter Andreas mengikuti langkah terburu David, ia butuh jawaban jelas dan tak ingin melewatkan detail sekecil apa pun. “Tutup mulutmu dan selamatkan wanitaku, Andreas!” Gertakan David membuat seluruh anak buahnya menunduk ketakutan tapi tidak dengan dokter tampan berdarah Latin itu. “Aku tidak akan mengobatinya tanpa penjelasan Tuan Knight.” David memutar tubuhnya dengan wajah merah. “Ini bukan waktunya merajuk dan tugasmu sebagai dokter adalah menyelamatkan nyawa seseorang. Apa perlu ku ingatkan lagi tentang sumpah doktermu?” Andreas terdiam sesaat, “baiklah aku akan menyelamatkan wanita itu tapi kau berhutang penjelasan padaku.” David tak menjawab, ia kembali berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan. Dokter Andreas memeriksa kondisi Celina, saat membuka mantel ia menoleh pada David. Sorot matanya mengisyaratkan pertanyaan yang sulit dijawab David. “Jangan banyak bertanya, lakukan apa yang harus kau lakukan.” Helaan nafas terdengar dari dokter peraih penghargaan internasional itu. “Ok, aku mengerti.” Di bawah tatapan David, Dokter Andreas melakukan tugasnya. Lampu sorot cahaya putih yang telah disiapkan diarahkan ke dada Celina. Dokter Andreas berdiri di sisi ranjang, lengan bajunya digulung. Sayatan kecil dibuat dengan hati-hati. Darah pun mengalir membasahi sprei satin mewah. Celina mengerang rendah—kesadarannya sedikit terpantik. “Untunglah … pelurunya tidak menembus terlalu dalam.” Dokter muda itu bergumam. Tangannya kembali bergerak meski peralatan yang ia gunakan jauh dari kata ideal. Ujung pinset menjepit sesuatu yang keras. Andreas menariknya perlahan. Timah panas itu akhirnya berhasil dikeluarkan. “Ini dia, peluru nakal yang nyaris melubangi dada mu, Nona.” Ucapnya sambil memperlihatkan peluru itu pada David. Bunyi dentingan logam terdengar saat peluru itu jatuh ke nampan logam. Dokter Andreas kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjahit luka dengan rapi. David yang berdiri tak jauh dari ranjang tak bersuara sedikitpun. Wajahnya datar tanpa ekspresi, bahkan di saat Dokter Andreas menunjukkan timah panas yang berhasil dikeluarkan dari tubuh Celina. Sorot matanya tajam mengikuti setiap gerakan Dokter Andreas. Tak boleh ada kesalahan kecil sedikitpun. Andreas membersihkan luka dan mulai menjahit, gerakannya stabil. Namun dibalik fokusnya, pikirannya terusik. Wanita yang terluka dan kalimat David tadi menyebutnya sebagai calon istri. Hatinya bertanya-tanya, siapa sebenarnya wanita ini, sampai membuat pria sedingin David memilih menyelamatkannya di tempat paling aman miliknya? Saat jahitan terakhir selesai, Andreas menarik nafas pelan. “Baiklah Tuan Knight, wanitamu selamat dan kondisinya cukup stabil. Tidak perlu transfusi darah dan asal dirawat dengan baik kondisinya akan pulih dalam empat sampai tujuh hari kedepan.” David melangkah mendekat satu langkah. Tatapannya tetap dingin, tapi tak pernah berpaling dari wajah pucat di atas ranjang. “Ganti pakaiannya dengan yang baru,” perintahnya pada seorang pelayan wanita. Ia menoleh pada Andreas, “jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini.” “Itu tidak masalah, rahasiamu … aman. Tapi beri aku penjelasan siapa gadis ini? Calon istrimu? Apa kau kehilangan kewarasan?” David menarik nafas dalam-dalam. “Kita bicara diluar.” Seperti anak ayam yang mengikuti induknya,Dokter Andreas mengikuti David menuju ruang kerja tanpa banyak bertanya lagi. “Jadi, katakan.” “Aku menemukan gadis itu tengah dalam masalah dan dia nyaris menabrakkan diri ke mobil.” Ucapnya pelan, menyalakan sebatang rokok dari sakunya. “Ok, itu masuk akal. Kau memang baik meski kejam sebagai lelaki.” Lirikan tajam didapat Andreas tapi ia terkekeh, ikut mengambil sebatang rokok dan bersandar pada meja tepat di sebelah kanan David. “Hei, aku berkata jujur.” Protesnya lagi. David menyesap rokoknya dalam-dalam, asap putih tipis perlahan keluar dari mulutnya. “Aku melihat anak buah Jason disana dan aku rasa … gadis itu ada hubungannya dengan Jason.” Kening Andreas berkerut, “Jason? Aku dengar dia melangsungkan pertunangannya dengan pewaris Heatrix semalam. Jika benar wanita itu ada hubungannya dengan Jason maka dia … wanita simpanan Jason? Bajingan kecil itu berulah lagi rupanya.” David diam, memilih menghisap rokoknya dengan tenang. Perkataan Andreas memang cukup masuk akal. “Jason memburunya, mungkin gadis itu ingin menggagalkan pertunangan.” “Tunggu! Kenapa kau menyelamatkan gadis itu dan menyebutnya sebagai calon istrimu?” “Aku tidak menyelamatkan seseorang tanpa alasan. Jika benar gadis itu simpanan Jason maka nyawanya dalam bahaya.” Andreas terdiam sejenak. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Di bawah perlindunganmu, Jason tidak akan berani bergerak. Itu langkah yang tepat Tuan Knight.” David tidak menyangkal. Pintu ruangan diketuk dua kali. Seorang pria masuk dengan langkah tergesa. Wajahnya terlihat tegang. “Tuan,” ucapnya sambil menyerahkan sebuah tablet. “Kami baru menerima laporan. Pertunangan Tuan Muda terancam gagal.” Alis David terangkat tipis, ia menoleh pada Andreas. “Kebetulan yang luar biasa,” sahut Andreas diikuti decakan. “Nona Heatrix dikabarkan menghilang dan kabur ke luar negeri. Anehnya Tuan Muda menutup akses informasi dan sengaja menutup ini dari media.” “Tentu saja dia melakukannya. Heatrix Corp hanya memiliki satu pewaris tunggal, jika dia menghilang akan berpengaruh pada nilai saham terbesar kedua di Eropa. Informasi sekecil apapun akan sangat menentukan nilai …,” David berhenti bicara. Matanya terpaku pada rekaman video yang sedang berjalan di tabletnya. “Dia ..,” Ekspresi aneh David membuat Andreas penasaran. Ia mengambil paksa tablet di tangan David. “Ada apa denganmu? Seperti melihat hantu saja.” Dokter muda itu menutup mulutnya saat melihat wajah cantik dalam rekaman.“Demi roh ibuku di surga, David kali ini … kau dalam masalah besar.”“Jason … Jason! Ada apa denganmu?! Hentikan … kau menyakitiku.”Suara Natasya diikuti rontaan kuat menghentikan imajinasi Jason. Ia terkejut dan menarik tangannya dari leher jenjang Natasya.“Kau membuatku takut. Kau gila!! Apa sebenarnya yang kau pikirkan?”Untuk sesaat Jason hanya menatap wajah Natasya, memastikan jika wanita yang ada dihadapannya bukanlah Celina.Menyadari yang baru saja ia lakukan, Jason berdiri. Ia merapikan pakaiannya yang berantakan. “Pergilah, dan jangan menggangguku dulu untuk beberapa waktu ke depan.”Natasya memakai gaunnya dengan cepat, “baiklah, terserah apa katamu.” ujarnya dengan bersungut-sungut.Saat ia hendak melangkah pergi, Jason berkata dingin tanpa menoleh sedikitpun padanya. “Kau berjanji padaku untuk membereskan semuanya.”“Tentu, aku tidak akan melupakan perjanjian kita.”Dengan kesal, Natasya melangkah pergi meninggalkan Jason. “Jalang sialan itu rupanya masih ada dihati Jason.” Ucapnya geram, ia menoleh ke belakang, melihat punggung lelak
“Brengsek!”Jason mengumpat lagi, ia melempar ponsel ke sembarang arah. Wajahnya kusut, matanya memerah menahan letupan emosi tak terkendali.“Bodoh, idiot! Dari sekian banyak orang yang ada disini, tidak bisakah menemukan satu orang wanita?!”Anak buahnya tertunduk, tak ada yang berani menyela. Hanya bisa pasrah dimaki dan menjadi samsak hidup Jason.“Jack, beri aku berita bagus!” Teriaknya lantang.Jack menguatkan mental sebelum menjawab. “Tuan … kami, sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah menyisir rumah sakit, klinik, hingga jalur keluar kota. Tapi Nona Valemont seolah menghilang.”“IDIOT!!”Gelas kristal melayang nyaris mengenai kepala salah satu anak buahnya. Serpihan kaca berserak di lantai, tak ada yang berani mengangkat wajahnya.“Aku membayarmu bukan untuk gagal,” ia menarik kerah kemeja Jack dan mendorongnya keras hingga terhuyung.Jason menyugar kasar rambut ikalnya. Mengusap wajah putus asanya dengan frustasi.“Sekarang harapanku hanya ayah. Semoga pria tua itu bi
“Aku rasa kau dalam masalah, kawan. Kali ini kau akan kesulitan menghadapi bajingan kecil itu.”Andreas meletakkan tablet itu di meja, menanti reaksi David berikutnya.“Aku tahu,” gumamnya dingin. Ia mematikan rokoknya, kembali membuka layar tablet dan memperhatikan wajah Celina disana. Kini semuanya masuk akal.Mengapa anak buah Jason berada di sekitar lokasi dan mengapa nalurinya sejak awal menolak untuk melepaskan gadis itu.“Jason tidak akan berhenti mencarinya, tapi … kenapa dia bertindak bodoh dan melukai putri tunggal pewaris Heatrix?” “Bukan melukai tapi berniat membunuhnya.” David membalas dengan tenang.“Ciih, dasar pecundang. Sama seperti ..,” Andreas menghentikan kalimatnya setelah lirikan tajam David seolah menusuk tanpa kata.Matanya berganti tertuju pada layar yang tengah memutar ulang video pertunangan Jason. Ia berdecak untuk kesekian kalinya. “Sial, dia benar-benar cantik disini. Celina … nama yang bagus. Tapi … bagaimana dia berakhir dalam pelukanmu dan tanpa men
“Istri?!” Dokter tampan itu terbelalak, “Tunggu, apa maksudmu? Sejak kapan kau dekat dengan wanita?”Dokter Andreas mengikuti langkah terburu David, ia butuh jawaban jelas dan tak ingin melewatkan detail sekecil apa pun.“Tutup mulutmu dan selamatkan wanitaku, Andreas!”Gertakan David membuat seluruh anak buahnya menunduk ketakutan tapi tidak dengan dokter tampan berdarah Latin itu.“Aku tidak akan mengobatinya tanpa penjelasan Tuan Knight.” David memutar tubuhnya dengan wajah merah. “Ini bukan waktunya merajuk dan tugasmu sebagai dokter adalah menyelamatkan nyawa seseorang. Apa perlu ku ingatkan lagi tentang sumpah doktermu?”Andreas terdiam sesaat, “baiklah aku akan menyelamatkan wanita itu tapi kau berhutang penjelasan padaku.”David tak menjawab, ia kembali berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan. Dokter Andreas memeriksa kondisi Celina, saat membuka mantel ia menoleh pada David. Sorot matanya mengisyaratkan pertanyaan yang sulit dijawab David.“Jangan banyak bertanya, lakukan
Celina berlari sekuat tenaga, melawan nyeri di kepala dan tubuh yang gemetar. Tekadnya untuk selamat jauh lebih besar dari fisiknya yang lemah.“Kejar dia!”Natasya berteriak lantang, memerintahkan anak buah—yang baru tiba—untuk segera mengejar.“Tangkap dan bawa dia kembali!” Titahnya pada sang asisten yang membantunya untuk berdiri tegak.Jason berdiri terengah, darah menetes ke lantai. Sorot matanya menggelap dan liar. Ia menoleh ke Natasya.“Kalau sampai dia lolos … semua rencana kita sia-sia.”“Tidak akan, aku sendiri yang akan memastikan kematiannya.” sahut Natasya dingin.Jason meraih ponselnya, “Plan B. Habisi dia segera.” ucapnya singkat tanpa menunggu jawaban.“Celina, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan rencanaku. Kau harus mati malam ini juga.” Celina berusaha terus berlari dan menghindari kejaran anak buah Jason. Langkahnya terhuyung saat keluar dari pintu samping hotel.Kemeja pria yang kebesaran—milik Jason—hanya ia kancingkan seadanya. Ujung kemeja yang menutupi
" J-Jason?” Celina mengerjap perlahan, seperti kabut tipis yang merayap. Kepalanya berdenyut, tenggorokannya kering, dan tubuhnya terasa berat meski masih bisa digerakkan. Obat yang diberikan Jason dalam wine rupanya tidak berjalan seperti yang diharapkan. “Ooh Jason, lebih cepat lagi sayang …,” suara familiar terdengar lirih tapi cukup jelas di telinga. Celina menajamkan pendengaran, hatinya menjerit mendengar suara-suara di balik dinding. Helaan nafas, bisikan, erangan rendah yang menegakkan bulu halus, cukup memberinya isyarat tentang pengkhianatan. Celina membuka mata lebar-lebar, memperhatikan cahaya lilin menari di langit-langit. Ia menoleh ke arah kamar mandi, lalu membeku. Suara pancuran air terdengar mengiringi aktivitas intim di dalam sana. ‘Tidak … ini pasti salah. Jason tidak mungkin melakukannya.’ ucapnya dalam hati menenangkan diri. Celina turun dari ranjang, dengan gemetar menyambar cepat kemeja milik Jason untuk menutupi tubuhnya. Sungguh, saat ini, ia







