Masuk“Brengsek!”
Jason mengumpat lagi, ia melempar ponsel ke sembarang arah. Wajahnya kusut, matanya memerah menahan letupan emosi tak terkendali. “Bodoh, idiot! Dari sekian banyak orang yang ada disini, tidak bisakah menemukan satu orang wanita?!” Anak buahnya tertunduk, tak ada yang berani menyela. Hanya bisa pasrah dimaki dan menjadi samsak hidup Jason. “Jack, beri aku berita bagus!” Teriaknya lantang. Jack menguatkan mental sebelum menjawab. “Tuan … kami, sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah menyisir rumah sakit, klinik, hingga jalur keluar kota. Tapi Nona Valemont seolah menghilang.” “IDIOT!!” Gelas kristal melayang nyaris mengenai kepala salah satu anak buahnya. Serpihan kaca berserak di lantai, tak ada yang berani mengangkat wajahnya. “Aku membayarmu bukan untuk gagal,” ia menarik kerah kemeja Jack dan mendorongnya keras hingga terhuyung. Jason menyugar kasar rambut ikalnya. Mengusap wajah putus asanya dengan frustasi. “Sekarang harapanku hanya ayah. Semoga pria tua itu bisa menemukan Celina.” Jason menghempaskan tubuhnya ke sofa, mengatur nafasnya yang kacau. Ia tak peduli dengan ruangan kerja yang semenit lalu baru saja dihancurkan olehnya. Kursi-kursi terbalik, kertas yang berserakan di lantai, vas bunga mahal pecah berkeping, serta lukisan yang tak lagi tergantung di tempatnya. Benar-benar berantakan. Jack memberi kode pada yang lain untuk segera keluar ruangan. Ia tahu persis Jason perlu waktu untuk sendiri. “Tuan, jika Nona Valemont tidak ditemukan … apa rencana Anda?” Tanya Jack penasaran. Jason menjawab dengan mata terpejam, “Aku tetap akan menguasai Heatrix bagaimanapun caranya.” Jason membuka mata lalu menoleh tajam. “Aku ingin dia hidup, bawa dia kembali padaku.” Jack mengangguk cepat dan segera pergi. Jason kembali memejamkan mata, membayangkan sosok Celina yang selalu patuh, dan membuatnya tertawa. Ia tak memungkiri jika ruang kecil di hatinya menyisakan tempat untuk Celina. “Ke mana kau pergi, Celina?” bisiknya lirih, sedikit menyesali kebodohannya yang melewatkan faktor Y hingga rencananya gagal. Tidak sepenuhnya gagal tapi … berantakan. Sebelum pertunangan digelar, Jason berhasil merayu Celina dan memberinya kekuasaan untuk mengelola sebagian aset Heatrix. Jason hanya perlu satu lembar lagi dokumen penyerahan saham Heatrix, untuk bisa menguasai sepenuhnya. Pintu terbuka tanpa permisi. Langkah sepatu terdengar menggema. Natasya masuk dengan gaun gelap yang melekat membentuk lekuk tubuhnya. Ia tersenyum melihat Jason. “Ada apa sayang? Kau terlihat seperti … kalah perang?” Natasya mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Ini sangat …,” “Pergilah.” Jason mengusirnya bahkan tanpa membuka mata. “Kau mengusirku?!” Natasya membalas dengan satu tangan di pinggang. “Aku lelah … aku ingin beristirahat.” Natasya berdecak sinis. “Lihat semua kekacauan ini. Kau yang melakukannya?” “Menurutmu?” Jason menarik pinggang ramping Natasya hingga jarak keduanya hanya sejengkal saja. “Kau tidak datang kemari karena ingin menjadi pengurus rumahku bukan?” “Aku lebih tertarik untuk … menyenangkan mu, Tuan Knight.” Natasya menarik kerah Jason dan berbisik pelan dengan nada menggoda. “Jangan memancing emosiku, kau akan menanggung akibatnya,” balas Jason, nafasnya kembali berat dan kacau. “Ugh, aku takut sekali.” Jason memperhatikan mata hijau Natasya, lalu turun ke hidung tingginya yang indah sebelum jatuh pada bibir kenyal yang dipoles berani dengan warna red Cherry. “Masih marah?” suara Natasya rendah, nyaris berbisik. Jason belum sempat menjawab ketika jari-jari ramping itu menyusuri lehernya perlahan dengan sengaja. Natasya memiringkan kepala, bibirnya mendekat—cukup dekat hingga Jason bisa merasakan hangat nafasnya. Ia mencium sudut bibir Jason. Awalnya lembut, tipis, seperti godaan tabu yang sayang untuk dilewatkan. Bibirnya menyentuh lalu menjauh sesaat, membuat Jason refleks ingin mengejar. Senyum kecil terukir di sudut bibir Natasya. “Hentikan memikirkannya Jason. Aku yang ada dihadapanmu saat ini.” Ciuman berikutnya lebih dalam. Natasya menekan tubuhnya ke dada Jason, satu tangannya mencengkram kerah kemeja pria itu. “Natasya … aku,” “Sstt, diam dan nikmatilah,” Natasya kembali melumat bibir Jason tak memberinya kesempatan bicara ataupun bernafas. Jason terpancing membalas, napasnya memburu, tangannya terangkat untuk menahan pinggang Natasya. Namun Natasya yang lebih dulu menarik diri, bibirnya meninggalkan jejak hangat yang membuat Jason frustasi. Jason mendongak, sorot matanya keras. “Aku tak suka kau melakukan ini.” Natasya tersenyum, ia kembali melanjutkan aksi sensualnya. Membuka tergesa kemeja Jason, mencecap aroma maskulin yang tertinggal di permukaan kulit lelakinya. Ciuman itu berlanjut, lebih lama, lebih dalam. Napas mereka saling bertaut, dan tanpa memutus ciuman, Natasya menggeser tubuhnya maju. Kedua tangannya bertumpu di bahu Jason saat ia perlahan naik, duduk di pangkuannya. Jason menariknya lebih dekat. Satu tangannya melingkar di punggung Natasya. Tangannya bergerak liar mengusap dan menurunkan resleting gaun Natasya, meloloskan bagian cembung indah yang menonjol di bagian dada. Wanita itu menggelinjang, mendesah dan mengerang rendah saat Jason memainkan puncak sensitifnya dengan baik. Tubuh keduanya terbakar hasrat, tak peduli dengan pintu yang masih terbuka. Jason membalik posisi, mengukuhkan kuasanya pada tubuh molek Natasya. Menikmati setiap sentuhan, jilatan, sesapan, dan gigitan cinta yang berjejak kemerahan di beberapa bagian tubuhnya. Jason menyalurkan kemarahannya dengan gairah yang tak terbendung lagi. Menghentakkan pinggulnya dengan keras hingga Natasya menjerit kenikmatan. Jason membayangkan wanita yang tengah ditindihnya itu adalah Celina. Ia begitu berhasrat, dan terus menyiksa Natasya dengan hentakan kuat tanpa ampun seolah tengah menghukum Celina. Natasya mengerang kesakitan di bagian bawah tubuhnya tapi ia tak bisa berhenti. Hanya bisa pasrah dengan keberingasan Jason yang pada akhirnya memberikan multiple kepuasan. Beberapa menit kemudian Jason menyusul dengan mendapatkan klimaksnya. Tubuhnya ambruk ke samping setelah pelepasan maksimal dengan nafas terengah. “Jason … kau, luar biasa.” Ucap pelan Natasya sambil mengatur nafasnya. Seringai licik muncul di wajah Jason, ia menatap tak suka pada Natasya lalu serta merta mencekiknya kuat. “Mati kau, jalang sialan!”Hanya butuh tiga puluh enam jam bagi David untuk menemukan tempat Celina disembunyikan.Di hadapan mereka berdiri fasilitas Nero Vento—bangunan besar dengan dinding beton tebal dan pagar baja tinggi yang menjulang seperti benteng. Lampu sorot menyapu halaman luas di sekelilingnya, sementara beberapa penjaga bersenjata berpatroli di titik-titik tertentu.Tempat itu jelas bukan sekadar markas biasa.“Ini benteng kecil,” gumam Daniel sambil mengamati bangunan itu dari balik bayangan pepohonan.David tidak menjawab. Tatapannya terkunci pada lantai atas bangunan itu. Sinyal di layar mini tabletnya menunjukkan Celina ada disana.“Dia disana.” Ucapnya pelan.Daniel mengikuti arah pandangnya lalu mengangguk. “Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu.”David menarik napas pendek, menoleh ke belakang dan memberi kode pada anak buahnya untuk bergerak maju.“Masuk.”Beberapa pria memotong aliran listrik pagar, sementara yang lain menyelinap melewati sisi bangunan yang paling gelap. Salah satu p
Rafael berdiri di depan meja besar yang dipenuhi lembaran-lembaran data. Sementara di depannya, lima layar besar monitor menunjukkan diagram teknis yang rumit menyangkut struktur mekanisme pengaman, peta energi, dan skema sebuah perangkat besar yang berada jauh dibawah fasilitas.Dengungan mesin komputer super canggih beradu dengan suara halus pendingin ruangan. Jason melangkah masuk, menatap takjub punggung lelaki berkedok dokter radiologi itu.“Ini … bagian dari rencanamu?” Tanya Jason spontan memperhatikan banyaknya data yang terus bergerak di layar.Rafael tak menjawab, ia hanya menoleh sedikit dan kembali memperhatikan kinerja anak buahnya.“Celina, sudah aman?” Tanyanya pelan beberapa detik kemudian.“Hm, dia dalam pengawasan anak buah mu. Tapi, apa perlu memperlakukan dirinya seperti subjek percobaan ilmiah?”Pertanyaan Jason membuat Rafael memutar tubuhnya. Dibalik kacamata minusnya, ia menatap tak suka Jason.“Subyek ilmiah?” Ia berdecak kesal. “Nilai Celina lebih dari itu, T
Mobil yang membawa Celina bergerak stabil di jalan pegunungan yang gelap. Lampu depan memotong kabut tipis yang menggantung rendah di atas aspal. Entah berapa lama mereka telah meninggalkan kota London. Celina mulai didera kelelahan. Ia duduk di kursi tengah dengan kedua tangan terikat di depan. Dua orang pengawal bersenjata duduk di sisi kiri dan kanannya.Sementara Jason duduk dengan santai di depannya. Matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Celina. Sesekali ia menatap mantan tunangannya itu dengan wajah datar seolah mengkhawatirkan kondisi Celina.Meski kelelahan tapi Celina tetap bersikap tenang. Ia membuang jauh pandangannya keluar, memperhatikan petunjuk jalan yang mungkin bisa menjadi penanda bagi David. Malam sebelum pesta itu dimulai, David dan Andreas telah menjelaskan situasi terburuk yang bakal Celina hadapi.David telah memberitahu Celina tentang keterlibatan Jason dalam Nero Vento. Ia juga meminta persetujuan Celina untuk menjadi umpan saat pertunjukan dimulai. Me
Angin malam berhembus pelan di atap gedung. Daniel berdiri diam, menatap langit yang bertabur bintang. Bayangan wajah Celina kembali melintas, mengganggu ketenangan hatinya. “Celina …,” Ucapnya pelan diikuti dengan senyum tipis. “Kenapa … seandainya kita bertemu lebih cepat.” Ia menarik nafas dalam, ada yang menusuk hati saat melihat kakak iparnya itu meronta dalam sekapan Jason. Rahangnya mengeras, menyesali ketidak sigapan nya menolong Celina. “Bajingan bodoh itu bahkan tidak tahu apa yang bakal dihadapinya.” Tinjunya mengepal dan menghantam tempat duduk beton hingga buku jarinya berdarah. “Tuan?!” Asisten pribadinya terkejut, ia segera menghampiri Daniel. “Ada apa, Tuan? Sesuatu mengganggu Anda?” Lelaki tinggi besar dengan tato naga di tangannya itu bertanya. Daniel menghela nafas berat. Ia menunduk, menatap buku jarinya yang terluka. “Billy, kau ingat wanita yang membantuku saat terjebak baku tembak dengan si brengsek Big Dada?” Daniel mengingatkan sang asisten–Bill
Laut Baltik, Oktober 1999 Langit malam terlihat lebih gelap dan sunyi. Sebuah jet pribadi super canggih meluncur tenang membelah awan. Badan pesawat hitam tanpa logo perusahaan penerbangan. Di dalam kabin utama, empat pria duduk mengelilingi meja kayu panjang yang tertanam di lantai pesawat. Mereka bukan orang sembarangan. Dua di antaranya adalah kepala keluarga Valemont. Dan dua lainnya berasal dari keluarga Knight. Di tengah meja terletak sebuah koper logam hitam. Pada bagian tengahnya terukir lambang Cerberus—anjing berkepala tiga. Theodore Valemont, membuka sarung tangannya perlahan. “Setelah puluhan tahun penelitian,” katanya pelan, “akhirnya kita sampai pada tahap ini.” Di sampingnya, ada Edmund Valemont—ayah Celina sekaligus ilmuwan utama proyek tersebut. Ia membuka koper itu dengan tiga kode keamanan berlapis. Suara ‘klik’ terdengar nyaring. Tutup koper terangkat perlahan. Di dalamnya terdapat perangkat silinder logam dengan lapisan kaca pelindung dan inti ener
“Daniel?!” Jason sedikit terkejut. “Ini kejutan yang luar biasa, Paman.” Ucapnya lirih tapi cukup jelas terdengar di tengah suasana mencekam.Daniel Knight adalah adik David yang menetap di Los Angeles. Ia tak pernah diketahui publik dan memilih bekerja dalam gelap. Kemunculannya di depan publik kali ini bisa dianggap luar biasa. Apalagi Daniel sendiri yang memimpin pergerakan.“Apa kabar, Jason? Senang kau masih bisa mengenaliku.” Lelaki bernama Daniel itu menanggapi dengan senyum sinis dibalik bidikan laras apinya.“Sebaiknya, kau dan temanmu itu berpikir ulang untuk meneruskan kekacauan ini. Aku mungkin bisa memaafkanmu dan melepasmu pergi.” Daniel memberi peringatan.Jason tertawa mengejek, “ayolah Paman, kau pikir aku akan goyah hanya dengan beberapa letusan kecil? Ini tentang masa depan dunia, masa depanku dan juga …,” Jason menarik tubuh Celina agar merapat padanya.“Ini tentang kekasihku, Celina Valemont.”“Lancang kau bicara, Jason! Dia ibumu, bukan kekasihmu lagi!” David be







