Share

Emosi yang meluap

Author: Nath_e
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-15 20:23:15

“Brengsek!”

Jason mengumpat lagi, ia melempar ponsel ke sembarang arah. Wajahnya kusut, matanya memerah menahan letupan emosi tak terkendali.

“Bodoh, idiot! Dari sekian banyak orang yang ada disini, tidak bisakah menemukan satu orang wanita?!”

Anak buahnya tertunduk, tak ada yang berani menyela. Hanya bisa pasrah dimaki dan menjadi samsak hidup Jason.

“Jack, beri aku berita bagus!” Teriaknya lantang.

Jack menguatkan mental sebelum menjawab. “Tuan … kami, sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah menyisir rumah sakit, klinik, hingga jalur keluar kota. Tapi Nona Valemont seolah menghilang.”

“IDIOT!!”

Gelas kristal melayang nyaris mengenai kepala salah satu anak buahnya. Serpihan kaca berserak di lantai, tak ada yang berani mengangkat wajahnya.

“Aku membayarmu bukan untuk gagal,” ia menarik kerah kemeja Jack dan mendorongnya keras hingga terhuyung.

Jason menyugar kasar rambut ikalnya. Mengusap wajah putus asanya dengan frustasi.

“Sekarang harapanku hanya ayah. Semoga pria tua itu bisa menemukan Celina.”

Jason menghempaskan tubuhnya ke sofa, mengatur nafasnya yang kacau. Ia tak peduli dengan ruangan kerja yang semenit lalu baru saja dihancurkan olehnya.

Kursi-kursi terbalik, kertas yang berserakan di lantai, vas bunga mahal pecah berkeping, serta lukisan yang tak lagi tergantung di tempatnya. Benar-benar berantakan.

Jack memberi kode pada yang lain untuk segera keluar ruangan. Ia tahu persis Jason perlu waktu untuk sendiri.

“Tuan, jika Nona Valemont tidak ditemukan … apa rencana Anda?” Tanya Jack penasaran.

Jason menjawab dengan mata terpejam, “Aku tetap akan menguasai Heatrix bagaimanapun caranya.”

Jason membuka mata lalu menoleh tajam. “Aku ingin dia hidup, bawa dia kembali padaku.”

Jack mengangguk cepat dan segera pergi. Jason kembali memejamkan mata, membayangkan sosok Celina yang selalu patuh, dan membuatnya tertawa. Ia tak memungkiri jika ruang kecil di hatinya menyisakan tempat untuk Celina.

“Ke mana kau pergi, Celina?” bisiknya lirih, sedikit menyesali kebodohannya yang melewatkan faktor Y hingga rencananya gagal.

Tidak sepenuhnya gagal tapi … berantakan.

Sebelum pertunangan digelar, Jason berhasil merayu Celina dan memberinya kekuasaan untuk mengelola sebagian aset Heatrix. Jason hanya perlu satu lembar lagi dokumen penyerahan saham Heatrix, untuk bisa menguasai sepenuhnya.

Pintu terbuka tanpa permisi.

Langkah sepatu terdengar menggema. Natasya masuk dengan gaun gelap yang melekat membentuk lekuk tubuhnya. Ia tersenyum melihat Jason.

“Ada apa sayang? Kau terlihat seperti … kalah perang?”

Natasya mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Ini sangat …,”

“Pergilah.” Jason mengusirnya bahkan tanpa membuka mata.

“Kau mengusirku?!” Natasya membalas dengan satu tangan di pinggang.

“Aku lelah … aku ingin beristirahat.”

Natasya berdecak sinis. “Lihat semua kekacauan ini. Kau yang melakukannya?”

“Menurutmu?”

Jason menarik pinggang ramping Natasya hingga jarak keduanya hanya sejengkal saja.

“Kau tidak datang kemari karena ingin menjadi pengurus rumahku bukan?”

“Aku lebih tertarik untuk … menyenangkan mu, Tuan Knight.” Natasya menarik kerah Jason dan berbisik pelan dengan nada menggoda.

“Jangan memancing emosiku, kau akan menanggung akibatnya,” balas Jason, nafasnya kembali berat dan kacau.

“Ugh, aku takut sekali.”

Jason memperhatikan mata hijau Natasya, lalu turun ke hidung tingginya yang indah sebelum jatuh pada bibir kenyal yang dipoles berani dengan warna red Cherry.

“Masih marah?” suara Natasya rendah, nyaris berbisik.

Jason belum sempat menjawab ketika jari-jari ramping itu menyusuri lehernya perlahan dengan sengaja.

Natasya memiringkan kepala, bibirnya mendekat—cukup dekat hingga Jason bisa merasakan hangat nafasnya.

Ia mencium sudut bibir Jason. Awalnya lembut, tipis, seperti godaan tabu yang sayang untuk dilewatkan.

Bibirnya menyentuh lalu menjauh sesaat, membuat Jason refleks ingin mengejar. Senyum kecil terukir di sudut bibir Natasya.

“Hentikan memikirkannya Jason. Aku yang ada dihadapanmu saat ini.”

Ciuman berikutnya lebih dalam. Natasya menekan tubuhnya ke dada Jason, satu tangannya mencengkram kerah kemeja pria itu.

“Natasya … aku,”

“Sstt, diam dan nikmatilah,” Natasya kembali melumat bibir Jason tak memberinya kesempatan bicara ataupun bernafas.

Jason terpancing membalas, napasnya memburu, tangannya terangkat untuk menahan pinggang Natasya. Namun Natasya yang lebih dulu menarik diri, bibirnya meninggalkan jejak hangat yang membuat Jason frustasi.

Jason mendongak, sorot matanya keras. “Aku tak suka kau melakukan ini.”

Natasya tersenyum, ia kembali melanjutkan aksi sensualnya. Membuka tergesa kemeja Jason, mencecap aroma maskulin yang tertinggal di permukaan kulit lelakinya.

Ciuman itu berlanjut, lebih lama, lebih dalam. Napas mereka saling bertaut, dan tanpa memutus ciuman, Natasya menggeser tubuhnya maju. Kedua tangannya bertumpu di bahu Jason saat ia perlahan naik, duduk di pangkuannya.

Jason menariknya lebih dekat. Satu tangannya melingkar di punggung Natasya. Tangannya bergerak liar mengusap dan menurunkan resleting gaun Natasya, meloloskan bagian cembung indah yang menonjol di bagian dada.

Wanita itu menggelinjang, mendesah dan mengerang rendah saat Jason memainkan puncak sensitifnya dengan baik. Tubuh keduanya terbakar hasrat, tak peduli dengan pintu yang masih terbuka.

Jason membalik posisi, mengukuhkan kuasanya pada tubuh molek Natasya. Menikmati setiap sentuhan, jilatan, sesapan, dan gigitan cinta yang berjejak kemerahan di beberapa bagian tubuhnya.

Jason menyalurkan kemarahannya dengan gairah yang tak terbendung lagi. Menghentakkan pinggulnya dengan keras hingga Natasya menjerit kenikmatan. Jason membayangkan wanita yang tengah ditindihnya itu adalah Celina.

Ia begitu berhasrat, dan terus menyiksa Natasya dengan hentakan kuat tanpa ampun seolah tengah menghukum Celina.

Natasya mengerang kesakitan di bagian bawah tubuhnya tapi ia tak bisa berhenti. Hanya bisa pasrah dengan keberingasan Jason yang pada akhirnya memberikan multiple kepuasan.

Beberapa menit kemudian Jason menyusul dengan mendapatkan klimaksnya. Tubuhnya ambruk ke samping setelah pelepasan maksimal dengan nafas terengah.

“Jason … kau, luar biasa.” Ucap pelan Natasya sambil mengatur nafasnya.

Seringai licik muncul di wajah Jason, ia menatap tak suka pada Natasya lalu serta merta mencekiknya kuat.

“Mati kau, jalang sialan!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Ayah Tunanganku    Akhir manis dari kisah Celina

    Mendengar suara yang memanggil namanya, anak kecil itu langsung menoleh cerah. Ia menyambar mobil-mobilan dari tangan David dan bergegas pergi. “Thanks, Uncle.”Jantung David seolah berhenti seketika. Senyum itu mengingatkannya pada Daniel. “Anak itu …,”David segera mengikuti langkah kecil anak itu, tak peduli dengan teriakan Steve dan stafnya untuk kembali. Ia terus mengikuti hingga akhirnya, langkah David berhenti.David membeku di tempat saat melihat mereka berjalan pergi menuju area taman belakang hotel. Degup jantungnya semakin keras.“Dominic … apa yang dia lakukan disini?”Naluri yang selama tiga tahun tak pernah mati kini seperti menjerit di dalam kepalanya. Hatinya terasa sangat tidak tenang.Lalu David melihatnya.Seorang wanita berdiri membelakanginya di dekat air mancur kecil. Rambut coklat yang lembut dan postur tubuh wanita itu, mengingatkannya pada Celina.“Mommy!” Anak kecil tadi menghampirinya dengan riang. Wanita itu berbalik perlahan lalu tersenyum lebar menyamb

  • Menikahi Ayah Tunanganku    Takdir membawa ku kembali

    Dua anak kembar Celina sudah tertidur setelah kelelahan bermain seharian. Dominic membanjiri mereka dengan hadiah, bermain dengan anjing peliharaan, dan tentu saja berlomba adu cepat remote control di arena yang sengaja dibuat khusus Dom.Rumah besar itu akhirnya sunyi, hanya suara kayu perapian yang terbakar pelan memenuhi ruangan.Celina berdiri di dekat jendela sambil memandangi salju yang jatuh. Sementara Dominic duduk tenang di sofa belakangnya, membaca data pada tablet tipis di tangannya.“David semakin buruk.”Kalimat itu membuat Celina menarik nafas dalam. Ada kerinduan bercampur ketakutan di dalamnya.“Selama tiga tahun terakhir dia nyaris menghancurkan dirinya sendiri.” lanjut Dominic masih dengan nada datar.Celina menunduk. Sebenarnya, ia tidak terlalu terkejut dan sudah menduganya.“Dia masih mencarimu.” Dominic mengangkat tatapan.Napas Celina terasa sesak.“Ia tetap menjalankan Heatrix dan Knight seperti biasa, tapi hidupnya berantakan.” Dominic berhenti sejenak. “Alkoh

  • Menikahi Ayah Tunanganku    Hadiah terindah untuk Celina

    Langit malam masih dipenuhi bau asap dan besi terbakar ketika David akhirnya siuman. Kepalanya terbalut perban tipis. Ia berjalan mendekat didampingi Steve. Api belum sepenuhnya padam. Lampu kendaraan darurat memenuhi area dengan kilatan merah dan biru yang menyakitkan mata. Potongan beton hangus berserakan di mana-mana, sementara sisa ledakan kedua membuat sebagian bangunan benar-benar runtuh ke bawah dermaga. David berjalan menembus garis pembatas tanpa memperdulikan teriakan petugas. “Tuan! Area ini berbahaya—” seorang petugas kepolisian menghalanginya. David mendorong lelaki itu begitu saja. Matanya liar mencari ke segala arah. “CELINA!” teriaknya lantang. Tentu saja tidak ada jawaban. Hanya suara api kecil yang masih menyala di antara puing. Nafas David mulai memburu. Tangannya gemetar saat memindahkan bongkahan beton dengan tangan kosong meski telapak tangannya terluka dan berdarah. “Daniel!” serunya lagi dengan suara gemetar. Tetap tidak ada jawaban. Steve

  • Menikahi Ayah Tunanganku    Ketulusan cinta Daniel Knight

    EPILOG Hujan turun dengan deras, celina menyelinap keluar kamar dengan berhati-hati. Tiba di bagian belakang rumah, pria bermantel gelap mendekatinya.“Kau yakin akan melakukannya? Jika kau melakukannya … maka tidak ada jalan kembali lagi bagimu.” Dominic berkata sekali lagi memastikan keputusan Celina.Celina terdiam sesaat lalu tersenyum. “Ya, demi kebaikan semuanya.”Dom mengusap kasar wajahnya dari air hujan. “Aku tidak suka ini, Celina. Kau membahayakan nyawamu sendiri.”“Aku tahu.”“Kau tidak ingin anak itu?” Tanya Dominic bingung.“Justru karena aku menginginkannya. Dan aku ingin dia hidup tenang bersamaku.”Dominic menghembuskan nafas frustasi. “Ini ide gila, Celina. Sangat gila.”“Hanya kau yang bisa membantuku, Dom.”Keduanya saling menatap sesaat sebelum akhirnya Dominic setuju. “Baiklah.”Ia mengeluarkan kotak kecil berisi suntikan serum berwarna biru metalik. “Tapi dengan syarat, kau harus mengikuti rencanaku.”Dominic menarik tangan Celina.“Apa yang kau lakukan, Dom?”

  • Menikahi Ayah Tunanganku    Ledakan dahsyat di gudang tua

    “Mereka membawa Celina ke sana!”Tatapan David dan Daniel langsung berubah tajam bersamaan. Tanpa ingin membuang waktu, mereka berlari maju bersama menembus hujan dan peluru. Sesekali, Dominic melindungi keduanya dengan kemampuan menembak jitu dan sabetan katana yang presisi.Pintu gudang tua itu dibanting terbuka. David dan Daniel langsung masuk dengan nafas memburu, dengan pistol terangkat tinggi. Tapi langkah mereka mendadak terhenti.“Selamat datang Tuan-tuan Knight.” Irene menyapa dengan tawa kecil. Tatapan keduanya jatuh pada Celina yang terduduk lemah di lantai dingin. Kedua tangannya terikat di belakang kursi besi. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi, dan nafasnya pun kacau. Tapi yang paling membuat jantung kedua bersaudara itu berdebar kencang adalah … cairan kemerahan yang merembes diantara dua kaki Celina.“Celina …,” David memanggilnya dengan suara bergetar. Celina menatap lemah ke arahnya.“Aku baik-baik saja.” Sahutnya pelan setengah sadar.Dominic mengepalkan ta

  • Menikahi Ayah Tunanganku    Mengejar Irene

    “Turunkan senjatamu, David.” Dominic mendekat perlahan, tangannya menekan turun tangan David.Irene mundur perlahan sambil menyeret tubuh Celina yang lemah. Tangannya mencengkeram bahu Celina erat, sementara pistol itu masih menempel di pelipisnya.Rafael Ortega melindunginya hingga mereka berhasil melarikan diri.“Kau tidak akan lolos dari kejaran mereka.” Kata Celina.Irene berdecak sinis, mendorong kasar tubuh Celina agar berjalan cepat. “Kalau begitu, kejar aku sampai neraka.”Rafael berusaha menahan diri. Situasi mereka belum aman dan ketika memasuki salah satu gudang tua, ia mencengkeram lengan Irene kasar. “Hentikan kegilaanmu!” desisnya tajam.Celina nyaris terseret jatuh. Tapi Irene bahkan tidak peduli. Ia terus berjalan,menatap lurus ke depan.“IRENE?!” Rafael menghentikan langkah wanita itu, menariknya kasar.“Kenapa … kau menyesal?” Tatapannya tajam.“Hentikan apa yang ada dalam pikiranmu. Kita harus pergi sekarang.” Rafael menatapnya tajam.Irene diam sejenak lalu menjaw

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status