Teilen

Pengejaran di Landasan Pacu

last update Veröffentlichungsdatum: 17.09.2026 11:36:31

Langit subuh di atas jalan tol bandara Profesor Sedyatmo perlahan memudar dari kepekatan malam menjadi kelabu keemasan.

Maybach hitam yang ditumpangi Rayyan dan Clara melesat dengan kecepatan seratus empat puluh kilometer per jam di jalur cepat.

Dua mobil pengawal bersirene darurat membuka jalan di depan mereka, membelah kabut tipis yang menyelimuti rawa-rawa pesisir barat Jakarta.

Di kursi belakang, Clara membuka laptop ramping miliknya di atas pangkuan.

Jemarinya menari lincah di atas papan k
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Jejak Darah yang Terkubur

    Keheningan di ruang kerja Direktur Utama terasa begitu menyesakkan setelah pintu ganda tertutup rapat.Aroma parfum mawar Prancis milik Elena Vance perlahan memudar, tertelan desing pendingin ruangan.Tangan kiri Clara masih berada dalam genggaman jemari Rayyan di atas meja marmer. Telapak tangan pria itu hangat dan kokoh, menjadi satu-satunya penopang yang menahan Clara agar tidak luruh ke lantai.Clara mendongak, menatap lekat sepasang mata elang di hadapannya."Rayyan, jawab aku," bisik Clara dengan suara bergetar tertahan. "Siapa yang dimaksud Elena?"Rayyan tidak langsung bersuara. Rahang pria itu mengeras, guratan ketegangan terlihat jelas di pelipisnya.Perlahan, Rayyan melepaskan tautan jemari mereka. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap gedung pencakar langit Jakarta yang bermandikan cahaya senja."Tujuh tahun lalu di Danau Jenewa," suara Rayyan terdengar berat. "Sebuah kapal pesiar kecil meledak di tengah badai malam."Darah Clara seketika membeku. Matanya membel

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Konfrontasi Dua Pewaris

    Aroma parfum mawar Prancis yang pekat dan mahal mendadak memenuhi lorong lantai tiga puluh lima gedung Daniswara Holding.Dua daun pintu kayu jati ruang kerja Direktur Utama terdorong terbuka. Dua pengawal bertubuh tegap dalam setelan jas hitam melangkah masuk lebih dulu, berdiri di kedua sisi pintu dengan sikap siaga.Di belakang mereka, Elena Vance melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin.Mantel kasmir putih gading yang tersampir di bahunya bergerak anggun seirama dengan langkah sepatu hak tingginya. Wanita berambut pirang tembaga itu melepas kacamata hitam berbingkai emas miliknya, menampakkan sepasang mata abu-abu terang yang memancarkan arogansi seorang pewaris dinasti perbankan Eropa.Pandangan Elena langsung terkunci pada Rayyan yang berdiri tegak di dekat meja marmer."Sudah lama sekali tidak melihatmu dari dekat, Rayyan," suara Elena terdengar begitu halus, namun sarat nada posesif yang tajam."Kau tampak sangat lelah bermain rumah-rumahan di kota yang bising ini. Padah

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Bayang-Bayang dari Jenewa

    Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Detik-Detik di Ujung Dermaga

    Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Badai di Pesisir Kalibaru

    Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Jebakan di Gedung Kargo Lama

    Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status