Home / Lainnya / Menikahi CEO Rival Demi Warisanku / Tanda Tangan Sebelum Fajar

Share

Tanda Tangan Sebelum Fajar

Author: Colle
last update publish date: 2026-09-14 23:23:27

Detik jam dinding di sudut ruang kerja Rayyan berdetak teratur, memecah kesunyian malam yang kian larut.

Di luar kaca besar, gemerlap lampu kota Jakarta perlahan meredup seiring mendekatnya pergantian hari.

Clara masih berdiri tegak di tempatnya. Ia menatap map kulit hitam di hadapannya dengan tatapan nanar.

Dalam dunia bisnis yang kejam, ia tahu tidak pernah ada yang namanya makan siang gratis. Rayyan Pratama bukan malaikat penyelamat. Pria itu adalah hiu pemangsa yang menunggu mangsanya tersudut sebelum menyodorkan jerat paling mematikan.

Namun rekaman suara Hendra tadi terus terngiang di telinganya. Jika besok pagi ia ditangkap atas tuduhan rekayasa penggelapan dana seratus dua puluh miliar, reputasinya akan hancur dalam sekejap.

Media massa akan memberitakannya, para investor akan panik, dan faksi Hendra akan mengambil alih dua puluh persen hak veto itu dengan dalih pengamanan aset sengketa.

Kakeknya mempercayakan saham itu padanya bukan untuk diserahkan cuma-cuma kepada para pengkhianat.

Clara menarik napas panjang, lalu melangkah maju. Sepatu hak tingginya berbunyi tajam di lantai marmer. Ia duduk di kursi seberang Rayyan, meraih map hitam tersebut, dan membuka halaman terakhir.

"Aku bukan pion yang bisa kau gerakkan sesuka hatimu di papan caturmu, Rayyan," suara Clara dingin dan terukur. "Jika kau menginginkan aliansi ini, kita bermain dengan aturanku juga."

Alis Rayyan terangkat tipis. Sudut bibirnya membentuk senyum samar yang nyaris tak terlihat. "Katakan."

Clara membuka tas tangannya, mengeluarkan selembar kertas catatan kosong dan sebuah pena bertinta hitam miliknya sendiri.

Tanganya bergerak lincah menuliskan tiga poin tambahan dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.

"Pertama," Clara mendorong kertas itu ke hadapan Rayyan, "pernikahan ini murni aliansi di atas kertas hukum dan mata publik. Di balik pintu tertutup, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat rumah. Tidak ada keintiman fisik. Kamar tidur terpisah. Batas privasiku adalah wilayah mutlak yang tidak boleh kau langgar."

Rayyan membaca poin pertama dengan tatapan datar, lalu kembali menatap mata Clara.

"Adil. Aku mencari sekutu bisnis untuk melumpuhkan Hendra, bukan istri sungguhan yang menuntut perhatian emosional."

Clara menahan debar di dadanya mendengar jawaban dingin itu, lalu melanjutkan ke poin berikutnya.

"Kedua, seluruh keputusan mengenai dua puluh persen hak suaraku di Daniswara Holding harus melalui persetujuan tertulis dariku. Kau tidak boleh menggunakan hak vetoku untuk melebur perusahaan kakekku ke dalam konglomerasi Pratama Capital tanpa izinku."

"Diterima," sahut Rayyan tenang. "Tujuanku hanya menghentikan penjualan pelabuhan ke konsorsium asing bentukan pamanmu. Aku tidak berniat mencaplok sisa bisnis keluargamu yang sekarat."

"Dan ketiga," suara Clara merendah, tetapi ketegasannya berlipat ganda, "kau harus membantuku membuka kembali berkas investigasi audit lima tahun lalu. Bersihkan nama mendiang ayahku yang difitnah menggelapkan dana sebelum ia meninggal."

Ruangan itu mendadak sunyi senyap.

Mata elang Rayyan menatap lurus ke dalam manik mata Clara. Sorot matanya yang biasanya sedingin es tampak bergetar sesaat, seolah kata-kata Clara menyentuh sebuah kenangan terpendam yang berusaha ia tutupi.

"Ayahmu," gumam Rayyan pelan. "Arya Daniswara."

"Ya," Clara mengepalkan jemarinya. "Hendra menuduh ayahku mencuri uang perusahaan hingga ayahku jatuh sakit dan meninggal dalam kehinaan. Aku tahu paman dan komplotannya yang merekayasa laporan itu. Jika kau benar-benar berkuasa di lingkaran finansial kota ini, kau pasti bisa membongkar jejak aliran dana mereka yang sebenarnya."

Hening berlangsung cukup lama di antara mereka. Jarum jam kini menunjuk angka pukul tiga dini hari. Angin malam di luar terdengar menderu tipis menghantam kaca gedung.

Rayyan bangkit dari kursinya. Tubuhnya yang tegap menjulang tinggi di hadapan Clara, menumpahkan bayangan gelap di atas meja marmer.

Pria itu meraih pena Montblanc miliknya, membuka penutupnya dengan gerakan anggun, lalu menandatangani lembar draf resmi dan kertas catatan tambahan tulisan tangan Clara sekaligus.

Goresan tintanya mantap tanpa keraguan sedikit pun.

"Semua syaratmu kuterima, Clara," ucap Rayyan seraya menutup penanya kembali dengan bunyi klik yang tegas.

"Mulai detik ini, kau berada di bawah perlindungan mutlak Pratama Capital. Pengacaraku dan perwakilan Kantor Urusan Agama khusus sudah menunggu di ruang VIP lantai bawah untuk mengesahkan akta pernikahan kita secara kilat sebelum subuh."

Rayyan menyodorkan dokumen itu kembali ke hadapan Clara.

Clara menatap lembar akta tersebut. Jantungnya bergemuruh hebat saat menyadari bahwa begitu ujung penanya menyentuh kertas ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan menjadi istri sah dari pria yang paling ditakuti oleh seluruh keluarganya sendiri.

Dengan helaan napas mantap, Clara membubuhkan tanda tangannya di samping nama Rayyan Pratama.

Rayyan mengambil map yang telah ditandatangani itu, lalu merapikan lengan kemejanya. Ia menatap Clara lekat-lekat dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan.

"Kesepakatan sah, Nyonya Pratama," kata Rayyan dengan suara rendah yang sarat keyakinan.

"Sekarang istirahatlah dua jam. Pukul delapan pagi nanti, kita buat pamanmu berlutut di ruang rapat Daniswara."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Jejak Darah yang Terkubur

    Keheningan di ruang kerja Direktur Utama terasa begitu menyesakkan setelah pintu ganda tertutup rapat.Aroma parfum mawar Prancis milik Elena Vance perlahan memudar, tertelan desing pendingin ruangan.Tangan kiri Clara masih berada dalam genggaman jemari Rayyan di atas meja marmer. Telapak tangan pria itu hangat dan kokoh, menjadi satu-satunya penopang yang menahan Clara agar tidak luruh ke lantai.Clara mendongak, menatap lekat sepasang mata elang di hadapannya."Rayyan, jawab aku," bisik Clara dengan suara bergetar tertahan. "Siapa yang dimaksud Elena?"Rayyan tidak langsung bersuara. Rahang pria itu mengeras, guratan ketegangan terlihat jelas di pelipisnya.Perlahan, Rayyan melepaskan tautan jemari mereka. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap gedung pencakar langit Jakarta yang bermandikan cahaya senja."Tujuh tahun lalu di Danau Jenewa," suara Rayyan terdengar berat. "Sebuah kapal pesiar kecil meledak di tengah badai malam."Darah Clara seketika membeku. Matanya membel

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Konfrontasi Dua Pewaris

    Aroma parfum mawar Prancis yang pekat dan mahal mendadak memenuhi lorong lantai tiga puluh lima gedung Daniswara Holding.Dua daun pintu kayu jati ruang kerja Direktur Utama terdorong terbuka. Dua pengawal bertubuh tegap dalam setelan jas hitam melangkah masuk lebih dulu, berdiri di kedua sisi pintu dengan sikap siaga.Di belakang mereka, Elena Vance melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin.Mantel kasmir putih gading yang tersampir di bahunya bergerak anggun seirama dengan langkah sepatu hak tingginya. Wanita berambut pirang tembaga itu melepas kacamata hitam berbingkai emas miliknya, menampakkan sepasang mata abu-abu terang yang memancarkan arogansi seorang pewaris dinasti perbankan Eropa.Pandangan Elena langsung terkunci pada Rayyan yang berdiri tegak di dekat meja marmer."Sudah lama sekali tidak melihatmu dari dekat, Rayyan," suara Elena terdengar begitu halus, namun sarat nada posesif yang tajam."Kau tampak sangat lelah bermain rumah-rumahan di kota yang bising ini. Padah

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Bayang-Bayang dari Jenewa

    Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Detik-Detik di Ujung Dermaga

    Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Badai di Pesisir Kalibaru

    Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me

  • Menikahi CEO Rival Demi Warisanku   Jebakan di Gedung Kargo Lama

    Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status