FAZER LOGINHening di dalam kabin Maybach hitam itu terasa lebih menekan daripada kegelapan di lantai bawah tanah gedung notaris tadi.
Clara duduk merapat ke pintu mobil, menjaga jarak sejauh mungkin dari pria di sebelahnya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat pantulan lampu-lampu jalanan Sudirman meluncur cepat di kaca jendela yang kedap suara.
Rayyan Pratama tidak menoleh sedikit pun. Jemarinya yang panjang bertumpu santai di atas lutut, menatap lurus ke depan seolah keberadaan Clara di sampingnya hanyalah barang bawaan biasa.
Sepuluh menit berlalu tanpa satu kata pun terucap. Mobil berhenti mulus di lobi privat Pratama Tower.
Akses lift khusus membawa mereka melesat tanpa henti menuju lantai lima puluh dua, langsung bermuara ke ruang kerja pribadi Rayyan yang luas dan minim sekat.
Dinding kaca setinggi empat meter membentang di hadapan Clara, menyajikan panorama Jakarta malam hari yang bertabur cahaya keemasan di bawah sapuan rintik gerimis. Namun kemewahan ruangan itu tidak mengurangi rasa waspada yang merayap di tengkuknya.
"Duduk," kata Rayyan pendek.
Pria itu melepas jas arangnya, menyampirkannya ke sandaran kursi kulit, lalu melangkah ke sudut ruangan di dekat mesin pembuat kopi otomatis.
Suara desis uap panas memecah kesunyian. Tak lama kemudian, Rayyan kembali membawa dua cangkir keramik hitam pekat. Asap tipis mengepul dari permukaannya, menebarkan aroma pekat biji kopi arabika tanpa campuran gula.
Clara tidak menyentuh cangkir yang diletakkan di hadapannya. Ia tetap berdiri di dekat sofa marmer, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau tidak membawaku ke sini hanya untuk menawarkan kopi malam hari, Rayyan," suara Clara dingin, menuntut kepastian.
"Apa maumu? Sejak kapan seorang Rayyan Pratama peduli pada urusan internal Daniswara Corp?"
Rayyan menarik kursi di seberang meja kopi, duduk dengan tenang, lalu menyilangkan kakinya. Sorot matanya tajam dan tak terbaca saat ia menatap Clara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Aku tidak peduli pada drama keluargamu," jawab Rayyan datar. "Yang kupedulikan adalah dua puluh persen hak suara kunci yang sekarang ada di tanganmu."
Clara tersenyum sinis. "Tentu saja. Saham. Kau rival kakekku selama lima tahun. Kau menghancurkan lini bisnis tekstil dan logistik kami di bursa. Dan sekarang kau berharap aku menyerahkan hak veto itu kepadamu?"
"Aku tidak memintamu menyerahkannya."
Rayyan merogoh sebuah map kulit hitam dari laci meja, lalu mendorongnya meluncur di atas permukaan meja marmer hingga berhenti tepat di depan Clara. "Buka."
Dengan ragu, Clara mengulurkan tangannya. Lembar pertama dokumen itu memuat judul berkas resmi berlogo kantor hukum ternama di Singapura: Perjanjian Aliansi dan Perlindungan Aset Strategis.
Mata Clara menyusuri baris demi baris teks hukum tersebut, hingga pupil matanya melebar saat membaca klausul kedua.
"Pernikahan sipil sah secara hukum selama tiga ratus enam puluh lima hari?" Clara mengangkat pandangannya, menatap Rayyan dengan tatapan tak percaya. "Kau gila."
"Itu solusi paling rasional di atas meja saat ini," sahut Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir kopinya.
"Rasional?" Suara Clara meninggi. "Kau memintaku menandatangani pernikahan kontrak dengan musuh terbesar keluargaku sendiri! Kau pikir aku begitu putus asa sampai rela menjual diriku demi bertahan hidup?"
"Duduklah dan dengarkan baik-baik, Clara," potong Rayyan. Nada suaranya tidak meninggi, tetapi getaran otoritas di dalamnya membuat ruangan itu terasa mendingin.
"Kau cerdas dalam mengelola laporan keuangan, tapi kau terlalu naif untuk membaca pergerakan Hendra Daniswara."
Rayyan meletakkan cangkirnya, lalu mengeluarkan ponsel tipis miliknya. Ia menekan satu tombol pemutar audio di layar, menyalakan pelantang suara.
Suara Hendra Daniswara terdengar jelas melalui speaker, serak dan penuh intrik:
Pastikan audit rekayasa itu sudah ditandatangani kantor akuntan publik sebelum subuh. Besok jam sembilan pagi kita gelar RUPS Luar Biasa darurat. Laporkan Clara atas tuduhan penggelapan dana proyek perluasan pelabuhan sebesar seratus dua puluh miliar. Begitu statusnya jadi tersangka, hak vetonya gugur secara hukum dan sahamnya disita holding sementara. Polisi sudah siap menjemputnya di lobi kantor.
Rekaman berakhir. Keheningan kembali menelan ruangan itu, jauh lebih pekat dari sebelumnya.
Warna darah perlahan surut dari wajah Clara. Jemarinya yang memegang tepi map mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Hendra tidak berniat sekadar menekannya. Pamannya sudah menyiapkan perangkap kriminal yang sempurna untuk menghancurkan nama baiknya dan mengurungnya di balik jeruji besi.
"Hendra sudah membeli tiga dari lima anggota dewan komisaris," Rayyan bersuara lagi, memecah lamunan Clara yang terpaku.
"Besok pagi, kau tidak akan punya panggung untuk membela diri. Begitu kau melangkah masuk ke gedung Daniswara Corp, kau akan keluar dengan tangan diborgol."
Clara menelan ludah. Tenggorokannya terasa tercekat. "Dan kau... kau ingin menjadi pahlawan yang menuntut imbalan hak suaraku?"
"Aku bukan pahlawan, Clara. Ini murni transaksi bisnis," tatap Rayyan lurus ke dalam manik mata Clara, tanpa kepura-puraan.
"Posisiku di Pratama Capital butuh akses untuk memblokir konsorsium asing bentukan Hendra yang ingin mencaplok pelabuhan Daniswara. Jika kita menikah sah secara hukum besok pagi, statusmu dilindungi penuh oleh imunitas korporasi Pratama Group."
Rayyan melanjutkan penjelasannya dengan tenang. "Hak veto milikmu akan digabungkan dengan lima belas persen obligasi konversiku. Posisi Hendra lumpuh seketika di hadapan notaris dan dewan komisaris."
Clara menarik napas panjang yang gemetar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa logikanya yang berserakan. "Satu tahun. Lalu setelah itu?"
"Setelah satu tahun, kita bercerai secara damai di luar negeri tanpa pembagian harta gono-gini. Hak suaramu tetap milikmu seutuhnya, dan nama ayahmu bersih dari segala tuduhan Hendra."
Rayyan melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu menatap Clara dengan sorot menantang.
"Sekarang pukul sebelas malam. Fajar terbit pukul lima pagi. Kau punya waktu enam jam untuk memilih, Clara. Keluar dari pintu ini dan hadapi borgol Hendra besok pagi, atau tanda tangani surat itu dan melangkah ke ruang rapat sebagai Nyonya Pratama yang tak tersentuh."
Aroma parfum mawar Prancis yang pekat dan mahal mendadak memenuhi lorong lantai tiga puluh lima gedung Daniswara Holding.Dua daun pintu kayu jati ruang kerja Direktur Utama terdorong terbuka. Dua pengawal bertubuh tegap dalam setelan jas hitam melangkah masuk lebih dulu, berdiri di kedua sisi pintu dengan sikap siaga.Di belakang mereka, Elena Vance melangkah masuk dengan keanggunan yang dingin.Mantel kasmir putih gading yang tersampir di bahunya bergerak anggun seirama dengan langkah sepatu hak tingginya. Wanita berambut pirang tembaga itu melepas kacamata hitam berbingkai emas miliknya, menampakkan sepasang mata abu-abu terang yang memancarkan arogansi seorang pewaris dinasti perbankan Eropa.Pandangan Elena langsung terkunci pada Rayyan yang berdiri tegak di dekat meja marmer."Sudah lama sekali tidak melihatmu dari dekat, Rayyan," suara Elena terdengar begitu halus, namun sarat nada posesif yang tajam."Kau tampak sangat lelah bermain rumah-rumahan di kota yang bising ini. Padah
Gemerlap panorama gedung-gedung pencakar langit Jakarta dari balik dinding kaca mendadak terasa hampa bagi Clara.Ponsel di tangannya bergetar pelan saat sambungan telepon internasional itu terputus. Kata-kata wanita beraksen dingin itu terus berdenging di telinganya, meremukkan rasa lega yang baru saja ia rasakan di ruang rapat tadi.Rayyan berdiri mematung di samping meja marmer. Sorot matanya yang beberapa detik lalu sempat menghangat kini kembali membeku bagai baja dingin."Siapa dia, Rayyan?" suara Clara jernih memecah kesunyian, menuntut jawaban tanpa basa-basi."Dan apa maksudnya dengan akta pembatalan pernikahan di Mahkamah Sipil Singapura tiga hari sebelum kakekku meninggal?"Rayyan tidak langsung menjawab. Pria itu melangkah ke tepi dinding kaca, menatap arus lalu lintas di bawah dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana panjangnya."Suara itu milik Elena Vance," ucap Rayyan perlahan. Nada bicaranya begitu berat, menyiratkan beban masa lalu yang selama ini terkunci rapat
Bunyi bip digital berkecepatan tinggi bergema di dinding seng aula kargo yang berlubang.Layar merah di tangan Richard berkedip cepat, memperlihatkan angka yang merosot tanpa ampun: empat puluh lima detik."Semua tim, evakuasi!" teriak Rayyan memberi komando mutlak.Dua anggota pasukan taktis langsung menyeret anak buah Richard yang pingsan ke arah lubang dinding kendaraan lapis baja. Tangan kanan Rayyan menyambar lengan Clara, berusaha menariknya keluar dari aula."Lari ke kendaraan taktis sekarang, Clara!" seru Rayyan di antara deru angin laut yang menerobos masuk."Tidak!" Clara menahan langkahnya sekuat tenaga, menolak ditarik.Napas wanita itu memburu, namun matanya menatap tajam ke arah lantai panggung kayu tempat Richard mencoba merangkak kabur menuju pintu palka rahasia."Dua puluh kilogram bahan peledak akan meruntuhkan seluruh dermaga ini ke laut dalam hitungan detik!" bentak Rayyan, suaranya sarat kepanikan yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Richard tidak berniat
Bau anyir darah segar dari jaket taktis yang teronggok di depan sepatunya membuat perut Clara bergejolak mual.Namun wanita itu menolak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap ujung tongkat berkepala rajawali perak milik Richard yang mengarah tepat ke dadanya."Kau membunuh saudaramu sendiri, membunuh keponakanmu, dan sekarang kau ingin membunuhku?" suara Clara jernih memecah kesunyian aula kargo yang lembap."Kau bukan pebisnis, Richard. Kau hanya parasit pengecut yang bersembunyi di balik kematian palsu."Wajah keriput Richard berkedut menahan amarah. Sepasang matanya yang cekung memancarkan kebencian murni."Pengecut?" desis Richard serak seraya melangkah maju satu langkah."Aku mengorbankan sepuluh tahun hidupku di pengasingan untuk membangun Vanguard Phoenix! Aku yang mengendalikan jalur penyelundupan bahan kimia dari Shanghai hingga Rotterdam! Dan seluruh kekayaan itu butuh legitimasi Daniswara Holding untuk dicuci menjadi uang bersih!"Richard me
Hujan gerimis membungkus kawasan pergudangan tua di pesisir Kalibaru dengan hawa lembap yang dingin.Lampu jalanan yang remang-remang memantulkan bayangan genangan air bercampur oli di atas aspal retak. Di hadapan Clara, sebuah gedung kargo era kolonial berdinding seng berkarat berdiri angkuh menghadap deburan ombak laut utara.Di dalam mobil Maybach yang terparkir dua ratus meter di balik deretan kontainer kosong, Rayyan memeriksa alat penyadap berukuran kancing baju yang terpasang di balik kerah jaket Clara."Begitu kau masuk, jangan pernah menyentuh apa pun," suara Rayyan terdengar begitu rendah dan tajam.Jemarinya yang kokoh merapikan kerah jaket Clara, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu."Tim taktisku sudah mengepung perimeter dermaga belakang. Sinyal audio ini terhubung langsung ke frekuensi telingaku. Jika ada pergerakan mencurigakan, aku akan mendobrak masuk dalam sepuluh detik."Clara mengangguk pelan. Di tangannya, ia mendekap map kulit hitam berisi dokumen s
Hening di dalam kabin Maybach yang melaju meninggalkan bandara terasa lebih dingin daripada es.Clara duduk mematung di sudut kursi belakang, memeluk kedua lengannya sendiri. Suara Hendra di landasan pacu tadi terus bergema di kepalanya bagai dengung lebah yang menyiksa.Di sebelahnya, Rayyan menatap lurus ke depan. Rahang pria itu mengeras kaku, tidak menoleh sedikit pun ke arah Clara."Katakan padaku itu bohong, Rayyan," suara Clara akhirnya memecah kesunyian. Suaranya rendah dan bergetar, menahan sesak yang membakar tenggorokannya.Rayyan tidak langsung menjawab. Jemarinya yang bertumpu di atas lutut mengepal erat."Katakan padaku paman bajinganku itu hanya mengarang cerita untuk mengadu domba kita!" desak Clara, kini menolehkan kepalanya menatap Rayyan dengan mata yang mulai berkaca-kaca."Bukan di sini, Clara," sahut Rayyan datar tanpa menoleh. "Kita bicara setelah sampai di rumah.""Aku ingin jawaban sekarang!""Aku bilang setelah sampai di rumah!" potong Rayyan dengan n







