LOGIN"Kamu tak perlu khawatir. Ayahmu akan aku urus."
Itulah yang Alfan katakan padanya saat Aisha bertanya, kira-kira jebakan macam apa yang harus dilakukan. Satu hal yang penting adalah jangan sampai ayahnya merasa curiga, apalagi kemarinnya Aisha berkata akan menggugat Theo ke pengadilan. Mendengar perkataan ayahnya kemarin, Aisha jadi penasaran apa yang Alfan lakukan hingga ayahnya terlihat sangat tak sabar bahkan tak terlihat curiga sedikit pun. Dan sekarang, di sinilah Aisha berada. Dia berada di KUA bersama dengan Alfan juga ayahnya, Theo. Aisha sangat kaget saat tahu kalau Alfan langsung mengurus pendaftaran nikah mereka. Ya, lebih cepat memang lebih baik. Tapi ini terlalu cepat bagi Aisha! "Kita langsung menikah? Beneran langsung menikah tanpa ada waktu untuk menyiapkan diri lebih dulu?" Aisha bertanya pada Alfan dengan wajah syok dan tak percaya. "Tentu. Ayahmu bahkan dengan senang hati mengantar kita ke sini. Dia sudah sangat tak sabar dengan bayaran yang akan di dapatkan dari hasil menjual anak kandungnya sendiri." Alfan menjawab. Aisha mendecih pelan kemudian tertawa sinis. Dasar ayah biadab. Alfan dan Aisha kini berdiri di parkiran KUA, menunggu Theo yang masih bicara dengan petugas KUA di dalam. Entah apa yang dibicarakan pria tua itu, yang jelas Aisha yakin hal tersebut demi keuntungan dia sendiri. Tak lama, Theo pun keluar dari dalam kantor. Dia tersenyum sangat lebar, terlihat sangat senang. Dan Aisha muak melihat senyuman pria brengsek tersebut. Jika saja membunuh dibolehkan, mungkin sekarang Aisha akan memaksakan diri masuk ke dalam mobil dan menabrak tua bangka itu. Hah, terlalu banyak adegan sadis dalam benaknya yang ingin dia lakukan pada ayahnya sendiri. "Petugas bilang lusa kalian bisa langsung melaksanakan akad nikah di sini." Theo berucap dengan senyuman lebar. Aisha melotot kaget mendengar itu. "Lusa? Kok cepet banget?" tanya Aisha heran. "Udah. Kamu jangan banyak tanya. Papa yang akan mengurus sisanya," ucap Theo. Aisha tertawa sinis mendengar itu. Papa? Dasar munafik. "Kalau begitu, saya minta izin mengajaknya pergi hari ini." Alfan berucap dengan sopan pada Theo. "Tentu saja. Silakan. Kalau dia nggak mau pulang juga gak masalah," balas Theo. Aisha semakin geram mendengar setiap kalimat yang diucapkan Theo. "Menjual anak kandung demi mendapatkan uang untuk biaya pernikahan anak tiri. Dasar ayah biadab." Aisha berkata, tanpa mempedulikan Alfan yang menyaksikan. Setelah mengatakan kata yang tidak sopan tersebut, Aisha pun melangkah menjauhi Alfan dan Theo. Dengan perasaan marah, dia masuk ke dalam mobil Alfan yang terparkir tak jauh dari sana. "Pak Alfan, saya benar-benar minta maaf atas sikapnya yang kurang ajar. Maklum, dia tak pernah mendapatkan kasih sayang ibunya dan sangat dimanja oleh tantenya. Makanya sekarang sikapnya begitu," ucap Theo. Alfan tersenyum mendengar itu. Padahal Alfan yakin, sifat kurang ajar Aisha sebenarnya menurun dari Theo sendiri. Tapi ya, mana mungkin Theo sadar dan berpikir ke sana. "Tak masalah, Pak. Saya bisa mengatasinya," balas Alfan. Setelah berpamitan, Alfan pun menyusul Aisha masuk ke dalam mobil. *** Menikah dengan orang yang dicintai dan juga mencintai. Kalimat itu Aisha tulis di dalam buku diary miliknya, sebagai salah satu harapan terbesarnya dalam hidup. Dia membayangkan sebuah pernikahan yang bahagia karena saling mencintai. Memiliki keluarga kecil sendiri, lalu dikaruniai anak-anak yang lucu. Ya, itu adalah harapan dan bayangan yang dia harapkan. Namun jelas, semuanya tak akan terkabulkan. Aisha memang ingin menikah dengan orang yang dia cintai. Namun, sepertinya dia memang tak ditakdirkan memiliki nasib baik dalam kisah percintaan. Sejak awal mengenal cinta sampai sekarang, dia selalu berakhir menjadi pihak yang tersakiti. Berkali-kali menjalin hubungan, dirinya selalu berakhir menjadi korban perselingkuhan. Saat bertemu dengan Harris dua tahun yang lalu, Aisha berpikir Harris akan menjadi orang terakhir untuknya. Sikapnya sangat baik juga perhatian. Aisha bahkan tak percaya Harris bisa setega itu padanya. Lalu sekarang, dia akan menikah dengan Alfan, yang bagi Aisha adalah orang asing. Tak ada cinta di antara mereka, dan Aisha sudah tak mempedulikan itu. Untuk apa memakai perasaan dalam sebuah hubungan jika akhirnya selalu dia yang sakit sendirian? "Kita hanya akan melakukan akad saja tanpa resepsi ataupun pesta." Alfan berucap, membuat Aisha tersadar dari lamunannya sendiri. "Yap. Lebih baik begitu," balas Aisha tanpa merasa keberatan. Dia kemudian menegakkan tubuhnya, lalu menatap Alfan yang duduk di hadapannya. "Terima kasih banyak atas bantuannya. Ayahku terlihat tak curiga sedikit pun padamu," ucap Aisha. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. "Lebih baik seperti itu agar rencana kita berjalan mulus," balas Alfan. Aisha menganggukkan kepalanya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Alfan bertanya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Kurang baik. Aku masih belum rela mantanku akan menikah dengan kakak tiriku." Aisha menjawab diakhiri dengan helaan nafas kecil. Move on itu tidaklah mudah. Banyak orang yang membutuhkan waktu sampai bertahun-tahun untuk bisa move on. Dan Aisha pun masih dalam tahap berusaha move on dari Harris. Bagaimana pun juga, Harris tak akan bisa kembali padanya karena pria itu lebih memilih Dinara. "Dia berjanji akan melamarku setelah aku wisuda. Ternyata dia malah memberikan kabar tentang selingkuhannya yang hamil," ujar Aisha disertai dengan senyuman miris. "Dan kamu mau menikah denganku saat keadaanmu masih seperti ini?" tanya Alfan dengan tatapan heran. "Kenapa tidak? Aku sudah lelah menyerahkan seluruh perasaanku dalam sebuah hubungan dan selalu saja berakhir dikhianati. Jadi, tak ada masalah dengan pernikahan yang akan terjadi di antara kita. Yang penting bagiku sekarang adalah bisa menjatuhkan ayahku," jawab Aisha tanpa beban. Dia seperti benar-benar pasrah dengan yang akan terjadi pada dirinya. Dia tak lagi mau memikirkan masalah hubungan asmara. Balas dendam pada ayahnya yang paling utama sekarang. Aisha sebenarnya sakit hati sejak dulu karena kelakuan ayahnya. Namun perasaan itu berubah menjadi marah saat ayahnya menghina ibunya. Aisha sangat tak terima, jadi dia ingin balas dendam pada pria tua itu. Aisha akan membuat Theo menyesal karena tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Aisha ingin Theo menyesal karena lebih menyayangi Bara dan Dinara ketimbang dirinya.Aisha berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya sendiri. Dia tersenyum lebar melihat bayangannya sendiri di cermin. Bukan terlalu pede, tapi Aisha merasa sangat cantik sekarang. "Bagaimana? Apa ada yang kurang?" Rahma yang bertugas merias Aisha bertanya pada Aisha yang masih mengagumi diri sendiri. "Tidak. Riasannya sangat bagus. Aku terlihat sangat cantik sekarang," ujar Aisha dengan senyuman lebar. MUA tersebut tertawa pelan mendengarnya. "Pada dasarnya kamu memang sudah cantik." Rahma, yang waktu itu bertugas merias Aisha di hari akad nikah, sekarang dipanggil lagi oleh Alfan untuk merias Aisha karena mereka akan datang ke pernikahan Dinara dan Harris. "Jadi, yang menikah hari ini siapa?" Rahma bertanya seraya membereskan peralatan meriasnya. "Kakak tiriku menikah dengan mantan pacarku. Mereka selingkuh di belakang aku sampai kakak tiriku hamil," jawab Aisha, sekalian menjelaskan kronologinya secara singkat. "Wah, kamu hebat ya. Kamu yang dikhianati tapi kamu yang
Jam menunjukkan pukul empat sore, dan Aisha bersama Alfan kini berada di panti jompo tempat di mana ibu tiri Alfan tinggal. Mereka baru saja pulang dari butik dan menyempatkan diri untuk mampir. Sekaligus membawakan hadiah berupa pakaian untuk Lia. Dikunjungi oleh anak dan menantunya jelas membuat Lia bahagia. Walau Alfan hanya sebatas anak tiri, namun Lia sangat menyayanginya layaknya anak kandungnya. Untuk hari ini, Lia mengajak Aisha ke halaman belakang untuk mengobrol di sana. Sementara Alfan menemui pengurus panti tersebut untuk membahas masalah biaya juga keseharian ibunya. Dia harus mendapatkan laporan apapun tentang ibu tirinya tersebut. "Kenapa Ibu tetap ingin tinggal di sini?" Aisha bertanya pada Lia yang duduk di sampingnya. "Ibu betah di sini. Di sini Ibu memiliki banyak kegiatan. Banyak teman mengobrol juga. Ibu tidak kesepian," jawab Lia dengan senyuman lembutnya. Kerutan-kerutan di wajahnya memberitahukan bahwa usianya sudah tidak muda lagi. "Ibu tinggal di sini bu
Aisha masih merasa ragu dengan ungkapan perasaan Alfan, dan sepertinya Alfan tahu tentang hal tersebut. Dia tak masalah jika Aisha masih meragukan perasaannya. Namun, Alfan memperlakukan Aisha dengan sangat baik. Agar suatu hari nanti Aisha tahu kalau Alfan tidak berbohong tentang perasaannya. Perlakuan Alfan yang lembut dan manis pun akhirnya membuat Aisha baper sendiri. Dia sering tersipu malu atau salah tingkah saat bersama dengan Alfan. Dan pada akhirnya, momen berduaan dengan Alfan menjadi salah satu momen yang Aisha sukai. Seperti sekarang, Alfan sedang duduk di meja kerjanya, menghadap ke arah laptop. Dia sedang memeriksa laporan yang masuk ke email-nya. Sedangkan Aisha duduk di atas pangkuannya, dan hal tersebut tak membuat Alfan merasa terganggu. Bahkan sebelah tangannya setia memeluk pinggang Aisha. "Jadi tugasmu begini, Mas? Memantau seluruh perusahaan?" Aisha bertanya. Alfan pun mengangguk pelan. "Ya. Aku harus memastikan para petinggi di perusahaan menjalankan tugas m
Aisha berbaring di atas ranjang dengan posisi menyamping, menghadap ke arah Alfan yang sudah terlelap. Tubuhnya dan Alfan hanya terlapisi selimut saja tanpa ada kain lagi yang menghalangi kulit mereka untuk bersentuhan. Aisha sejak tadi terus memperhatikan Alfan yang sudah terlelap. Entah kenapa, kantuk tak kunjung datang hingga membuatnya terus terjaga sejak tadi. Alasannya? Sepertinya karena dia kepikiran tentang pengakuan Alfan tadi.Semua CCTV yang ada di rumah ini terhubung langsung ke ponselku, hingga aku bisa tahu siapa saja yang datang dan ingin bertemu denganku. Termasuk saat kamu datang. Aku meminta KTP untuk memastikan apakah kamu memang sosok yang aku sukai sejak lima tahun yang lalu atau bukan. Dan ternyata, kamu memang orangnya. Itulah alasan kenapa aku tidak mempersulit kamu untuk masuk ke rumah ini.Alfan menjelaskan hal itu tadi pada Aisha, setelah mereka selesai dengan permainan malam mereka yang panas. Dan jujur saja, semua pengakuan dari Alfan membuat pikiran Aish
Aisha kini berada di kamar dan duduk di atas ranjang dengan punggung menyandar pada kepala ranjang. Tangannya sedang memegang ponsel, berbalas pesan dengan Alexa. Baru dua hari Aisha pindah, Alexa sudah merasa rindu. Karena biasanya mereka selalu bersama-sama. Saat sedang berbalas pesan dengan Alexa, Aisha mendapatkan pesan lagi dari orang lain. 'Nenek Sihir', itulah nama kontak yang mengirim pesan pada Aisha barusan. Karena penasaran, Aisha pun membuka pesan dari nomor tersebut. Aisha, kamu tega melihat ayahmu sendiri kesulitan sekarang? Kenapa kamu dan suamimu sangat tega sekali pada ayahmu yang sudah tua? Harusnya sekarang ayahmu sudah istirahat dan menikmati jerih payahnya. Aisha tersenyum sinis membaca itu. Duh, wanita tua itu memiliki otak atau nggak sih sebenarnya? Kok gak bisa gitu ya sadar diri sedikit saja. Karena anak-anaknya lah Theo banyak mengalami kesulitan sekarang. Aisha mengetik sesuatu untuk membalas pesan dari Sarah, namun setelah beberapa kata, Aisha menghapus
Jam menunjukkan jam sembilan pagi lebih beberapa menit. Alfan kini berada di perusahaan Theo, sesuai janji temu yang sudah disepakati. "Pernikahan Dinara akan dilaksanakan dua minggu lagi. Ada sedikit kendala biaya, dan saya sangat berterima kasih karena Pak Alfan mau membantu." Theo berucap dengan senyuman bahagianya. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. "Tentang hal itu, saya akan meluruskan sesuatu," ujar Alfan. Theo menatap Alfan dengan bingung. "Sepertinya saya tidak jadi memberikan bantuan modal untuk Anda, Pak Theo." Alfan berucap dengan nada yang datar dan sangat tenang. Theo jelas terkejut bukan main saat mendengar itu. "Tapi kita sudah melakukan perjanjian, Pak Alfan. Saya sudah bersedia menikahkan putri saya dengan Anda. Anda tak bisa seenaknya begini," ucap Theo. Alfan lagi-lagi tersenyum tipis. "Perjanjian apa? Apa Anda memiliki bukti kalau saya menyetujui perjanjian tersebut?" tanya Alfan. Theo terdiam seketika dengan jantung mencelos. Kedua tangannya terkepal deng







