LOGINSesuai janji, pagi ini Theo sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan Alfan. Dia datang lebih awal ternyata, dan Alfan belum datang. Hal tersebut membuat Theo sedikit cemas kalau-kalau saja Alfan berbohong.
Sepuluh menit menunggu, akhirnya Alfan datang dan Theo pun merasa lega. Dia menyapa Alfan dengan ramah, berusaha mencairkan suasana agar tidak kaku dan canggung. Ini pertama kalinya Theo bertemu secara pribadi dengan Alfan. "Bagaimana kabar Anda, Pak Theo?" Alfan bertanya seraya mendudukkan diri di hadapan Theo. "Baik, Pak Alfan." "Baguslah. Maaf mengganggu waktu Anda pagi-pagi seperti ini," ujar Alfan. Theo tertawa pelan mendengar itu. "Tak masalah, Pak. Saya malah senang karena diundang untuk bertemu," balas Theo. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. Sebelum memulai pembahasan, mereka berdua memesan dulu makanan. "Apakah Pak Bara sudah memberitahukan Anda tentang perkataan saya?" Alfan bertanya. Theo pun menganggukkan kepala. "Iya. Bara sudah mengatakannya pada saya." "Baguslah. Untuk sekarang, saya memang memiliki niat untuk membantu perusahaan Anda yang saya dengar sedang ada sedikit masalah." Alfan berujar. "Terima kasih atas bantuannya, Pak Alfan. Saya sangat senang karena bisnis saya memang sedang ada kendala masalah biaya," balas Theo. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. "Sebelum memberikan bantuan yang saya sebutkan, saya ingin meminta sesuatu dulu kepada Anda, Pak. Anggap saja sebagai imbalannya mungkin," ujar Alfan. Theo mengerutkan kening mendengar itu. Dia sudah menduga kalau Alfan tak mungkin mau membantu jika tak mendapatkan imbalan. "Saya menginginkan putri Anda, Pak Theo." Mata Theo melebar kaget mendengar penuturan Alfan barusan. Benaknya langsung tertuju pada Dinara, seolah lupa kalau wanita tersebut bukanlah anak kandungnya. "Dinara?" tanya Theo. Alis Alfan bertaut tajam saat mendengar nama lain yang Theo sebutkan. Ah, pasti Dinara itu nama anak tiri Theo yang Aisha ceritakan. "Aisha, bukan Dinara." Alfan menjawab. Dan Theo semakin kaget dengan jawaban Alfan barusan. "Aisha? Ya, dia memang putri kandung saya, anak saya dengan mendiang istri saya. Tapi, bagaimana Anda tahu kalau Aisha adalah anak saya?" tanya Theo dengan curiga dan penasaran. "Saya mencari tahu. Tak sulit untuk saya menemukan informasi detail tentang seseorang yang saya inginkan," jawab Alfan dengan senyuman tipis. Dia kemudian menyerahkan selembar foto pada Theo, dan Theo pun mengambilnya. "Foto itu diambil lima tahun yang lalu. Saya pertama kali melihatnya di sebuah minimarket, saat dia masih memakai seragam SMA. Saat itu saya tak berani mendekatinya karena merasa dia belum cukup umur untuk saya miliki. Saya bertemu kembali dengannya kemarin di sebuah cafe. Dan Aisha menolak saya mentah-mentah." Alfan bercerita. Sebagian adalah kebohongan, sebagian lagi bukan. "Be-benarkah?" Theo bertanya, merasa tak percaya. Dia memperhatikan foto yang Alfan berikan barusan. Itu memang foto Aisha dan terlihat Aisha memakai seragam SMA. Foto itu diambil dari kejauhan, pertanda kalau Aisha tak sadar ada yang memotret dirinya. "Prinsip saya adalah saya harus mendapatkan apapun yang saya inginkan. Jadi, jika Pak Theo berkenan menyerahkan Aisha pada saya, maka saya akan dengan senang hati membantu kesulitan Anda." Alfan berucap dengan tegas. Dia menatap Theo yang masih memperhatikan foto Aisha tersebut. "Apakah permintaan saya terlalu sulit untuk dikabulkan, Pak Theo?" Alfan bertanya saat Theo tak memberikan jawaban apa-apa. Theo mengerjap dan langsung menatap Alfan. "Tentu tidak, Pak Alfan. Pak Alfan tak perlu khawatir, saya akan bicara pada Aisha. Dia pasti akan mendengarkan perkataan saya." Theo berucap dengan cepat. Alfan tersenyum mendengar itu. "Baguslah. Kalau bisa sekalian siapkan dokumen-dokumen penting milik Aisha. Saya ingin langsung menikahinya." Theo meneguk ludahnya sendiri mendengar perkataan Alfan barusan. Jelas dia tak keberatan menyerahkan Aisha demi kepentingan dirinya sendiri. Bodohnya dia tak sadar kalau Aisha bisa saja memanfaatkan kekuasaan Alfan untuk menjatuhkannya. Ya, Theo tidak berpikir jauh sampai ke sana. Yang penting baginya sekarang adalah uang. *** Aisha duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Daffa dan Luna. Siang ini, Theo datang ke kediaman adik perempuannya tersebut. Daffa dan Luna merasa heran karena Theo tak pernah sekali pun menginjakkan kaki di rumah mereka sejak menikahi janda beranak dua itu. "Aku minta surat-surat penting milik Aisha." Theo berucap tanpa basa-basi. "Untuk apa?" Aisha bertanya dengan heran dan bingung. "Pokoknya siapkan saja sekarang." Theo menjawab dengan nada tinggi. Aisha memicingkan mata mendengar itu. Penasaran rencana macam apa yang disusun oleh Alfan untuk menjebak ayahnya. "Untuk apa? Berikan kami alasan yang jelas, Kak." Luna berucap, terlihat tak suka dengan sikap kakaknya tersebut. "Ada seseorang yang ingin menikahinya. Dia tak boleh menolak," ujar Theo seraya menatap Aisha dengan tajam. Aisha tersenyum tipis mendengar itu. Ah, pasti seseorang yang Theo maksud itu adalah Alfan. "Tak boleh menolak? Setelah tak menganggapku anak, menghinaku, tak menafkahiku, sekarang kamu mau menjualku demi kepentingan diri sendiri?" Aisha melontarkan pertanyaan dengan nada sinis. "Kamu sudah gila, Kak?! Aisha ini anak kandungmu! Bisa-bisanya kamu berpikiran sejahat itu pada anakmu sendiri!" Luna memekik marah pada Theo yang tak terlihat merasa bersalah sedikit pun. "Ini bukan urusanmu! Sebagai anak dia itu harus berguna! Kalian yang terlalu memanjakannya hingga dia jadi kurang ajar seperti ini!" bentak Theo. Daffa yang semula diam pun mulai angkat bicara. "Kak, kami menganggap Aisha sebagai anak kami sendiri. Kami memperlakukannya sama seperti kami memperlakukan Alex dan Alexa," ujar Daffa. Theo mendecih pelan mendengar itu. Aisha memicingkan mata tajam ke arah Theo. Kenapa sih dia harus memiliki ayah biologis macam iblis seperti Theo? "Siapa yang mau menikahiku?" Aisha bertanya, berusaha tenang dan seolah tak tahu. "Kamu akan tahu nanti. Yang jelas kamu tak boleh menolak. Kamu itu jadi anak harus ada gunanya sedikit. Jangan bertindak bodoh dan kurang ajar terus pada orang tua." Theo berkata. Aisha tertawa sinis mendengar itu. Ayolah, tangannya gatal sekali ingin menumpahkan air keras pada tua bangka itu. "Kak, kamu tidak bisa seenaknya seperti ini pada Aisha. Aku bersumpah, aku tak rela Aisha dipaksa menikah demi kepentinganmu sendiri. Aku yang merawatnya sejak dia masih bayi sampai sekarang. Aku lah yang lebih berhak atas hidupnya," ucap Luna. Ya, dia sangat marah dan sakit hati karena ucapan Theo. "Diam kamu. Jangan ikut campur urusanku," balas Theo dengan tajam. "Siapkan berkasnya besok. Dan ingat, jangan coba-coba kabur," ancam Theo pada Aisha. Setelah mengatakan itu, Theo pun melenggang keluar dari rumah Daffa dan Luna. "Aisha, jangan dengarkan perkataan ayahmu," ucap Luna. Dia mendekat pada Aisha dan menggenggam kedua tangannya dengan erat. "Om dan Tante jangan khawatir. Ini semua sebenarnya adalah rencanaku sendiri," ucap Aisha. "Maksud kamu?" tanya Daffa bingung. "Aku menawarkan pernikahan pada Pak Alfan dan dia menerimanya. Tapi Pak Alfan berpura-pura seolah dia lah yang menginginkan aku. Papa sudah masuk ke dalam jebakan," ujar Aisha menjelaskan. Luna merasa tubuhnya lemas seketika. "Sha, kenapa kamu tak berunding dulu dengan kami? Kenapa kamu mengambil keputusan berat seperti ini?" tanya Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Aisha pun tersenyum, berusaha meyakinkan Daffa dan Luna kalau dia baik-baik saja. "Ini satu-satunya cara, Tante. Menjadi istri Pak Alfan adalah salah satu cara agar aku bisa menjatuhkan Papa dan mengambil semua hakku. Pak Alfan berjanji akan membantuku sampai selesai. Kalian jangan khawatir. Aku baik-baik saja dengan keputusan ini," ucap Aisha. Daffa dan Luna terdiam mendengar itu. Tak menyangka ternyata Aisha berani mengambil langkah yang sulit demi bisa membalas dendam pada ayahnya sendiri.Beberapa bulan kemudian. Hari demi hari terus berlalu, tak terasa kini pernikahan Alfan dan Aisha sudah berusia satu tahun. Mereka melewati waktu ke waktu dengan perasaan bahagia, hingga tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lumayan lama. Hari ini cuaca mendung dan turun hujan rintik-rintik. Mungkin seharusnya Aisha dan Alfan diam saja di rumah saat cuaca kurang bagus seperti hari ini. Namun ada hal yang memaksa mereka harus keluar dari rumah dan menghadiri sebuah acara. Bukan acara pesta, tapi acara pemakaman. Alfan dan Aisha berpakaian serba hitam, sama seperti orang lain yang ikut mendatangi pemakaman tersebut. Setelah selesai di pemakaman, Alfan dan Aisha pun segera pergi dari TPU. Tidak langsung pulang ke rumah, namun Aisha memilih untuk berkunjung sebentar ke kantor polisi. Dan sekarang, di sinilah Aisha berada. Duduk berhadapan dengan seorang pria tua yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Penampilan ayah kandungnya jauh dari kata baik d
Benar dugaan Alfan, keluarganya masih akan terus mengganggu karena mereka belum mendapatkan sanksi yang cukup atas semua sikap mereka yang mengganggu. Hari ini, Alfan dan Aisha berniat pergi ke gym bersama. Namun sebelum berhasil keluar dari rumah, keluarga besar Alfan yang berjumlah lima orang sudah datang dan menunggu di depan gerbang. Mereka memaksa masuk dan terus saja mengucapkan sumpah serapah pada satpam yang tak mau membukakan gerbang untuk mereka. Alfan malas bertemu langsung dengan mereka. Akhirnya Alfan menghubungi polisi dan meminta polisi datang ke rumahnya untuk menertibkan keluarganya yang terus saja mengganggu dan membuat kericuhan di depan gerbang rumahnya. Respon mereka? Jelas marah besar. Perkataan mereka semakin tak terkontrol saat tahu Alfan memanggil polisi untuk menangkap mereka semua. Polisi menahan mereka atas aduan Alfan karena merasa terganggu. Tentu mereka tidak akan berakhir di penjara. Namun dengan melibatkan polisi, membuat keluarga Alfan ketar-ketir
Ancaman yang Alfan katakan memang bukan sekedar ancaman saja. Alfan memang sengaja membongkar semua rahasia Dimitri dan adiknya pada orang-orang yang bersangkutan. Dan tentu saja hal tersebut berdampak besar pada kehidupan mereka berdua. Berita tentang adik Dimitri yang menjadi selingkuhan menjadi berita panas di universitas tempatnya kuliah. Keluarga istri dosen tersebut berhasil menemui adik Dimitri dan tentu saja melabraknya. Nama adik Dimitri yang merupakan salah satu mahasiswi populer langsung tercoreng. Dan Alfan cukup puas dengan hal itu. Lalu Dimitri, jelas masalahnya membuat jabatannya di perusahaan tempat dia bekerja terancam. Setelah perselingkuhan Dimitri dengan istri temannya terbongkar, akhirnya masalah lain ikut terbongkar. Salah satunya adalah rekan kerja Dimitri yang mengaku dekat dengan Dimitri selama beberapa bulan ke belakang, dan mengaku sedang hamil anak Dimitri. Hal tersebut menandakan kalau Dimitri menghamili dua wanita sekaligus. Ibu kandung Dimitri syok be
Harapan Alfan adalah Dimitri kapok dan tak akan mengganggu dia juga Aisha. Namun sepertinya sepupunya itu tidak kapok ataupun takut dengan ancaman yang diberikan oleh Alfan. Entah apa saja yang dia ceritakan pada seluruh anggota keluarga besar, yang jelas Alfan semakin di benci oleh keluarga besar ayahnya. Tiga hari setelah memperingati dan mengancam Dimitri, Alfan kedatangan tamu tak diundang ke rumahnya. Alfan enggan menghadapi mereka, namun berusaha untuk tetap sopan dengan menerima kedatangan mereka. Dan ya, sepasang suami-istri yang datang itu adalah orang tua Dimitri, di mana ibu Dimitri merupakan adik kandung ayah Alfan. Tujuan kedatangan mereka pun sudah bisa ditebak oleh Alfan. "Jangan mentang-mentang kamu ini kaya raya kamu bisa seenaknya merendahkan anakku, Alfan." Wanita tua yang merupakan ibu kandung Dimitri itu bersuara dengan nada tinggi dan marah pada Alfan. "Jika Tante tak senang aku melakukan sesuatu pada Dimitri, sebaiknya Tante peringati dia untuk tidak mengga
Aisha duduk di dalam toko, memperhatikan Alexa yang sedang melayani pelanggan. Hari ini pelanggan sangat ramai hingga semuanya sibuk. Aisha berusaha untuk membantu, namun Daffa melarang dan menyuruhnya untuk diam saja. "Kamu ke sini sendirian saja, Sha? Gak sama Alfan?" Luna bertanya seraya duduk di samping Aisha. Dia menyerahkan sebotol minuman dingin pada keponakannya tersebut. "Mas Alfan ada urusan, Tante. Jadi aku ke sini sendirian. Aku lagi gak mau ikut Mas Alfan," jawab Aisha. Luna manggut-manggut mendengar itu. "Kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Luna dengan santai. Aisha pun langsung menggelengkan kepala. "Enggak kok. Aku dan Mas Alfan baik-baik saja. Hanya saja, orang yang Mas Alfan temui itu menyebalkan. Aku tak mau bertemu lagi dengan orang itu," jawab Aisha diakhiri dengan helaan nafas pelan. Luna tersenyum kecil mendengar itu. Dia tak bertanya lagi lalu menepuk pelan pundak Aisha. "Ibu mertuamu sudah cerita tentang kelakuan keluarga besar Alfan. Kamu yang sabar ya. Dal
Alfan marah. Jelas dia marah setelah membaca isi surat dari Dimitri yang menurutnya melecehkan dan merendahkan Aisha. Begitu juga dengan Aisha yang marah namun takut dalam waktu yang bersamaan. Well, dia pikir Dimitri sudah puas mengganggu dan membuatnya risih di hari resepsi kemarin. Tapi ternyata, pria itu masih saja mengganggu. Karena surat tersebut, hampir saja rencana mereka untuk jogging pagi bersama batal. Namun Aisha berusaha terus menenangkan Alfan dan tetap mengajak suaminya itu untuk pergi agar bisa sedikit meredakan amarah. Alfan dan Aisha melakukan jogging dari rumah sampai ke taman kota. Jaraknya tidak terlalu jauh dan tak menghabiskan waktu yang lama juga. Setelah merasa cukup, Alfan dan Aisha pun beristirahat di kursi taman seraya meneguk air mineral. "Apa dulu saat Mba Rini masih hidup Dimitri juga selalu mengganggu?" Aisha bertanya setelah suasana hati mereka cukup tenang. "Ya. Dia bekerja sama dengan pacar Rini untuk menjatuhkanku. Dia beranggapan kalau aku menc







