Share

6

Author: Alfylla
last update publish date: 2026-03-02 10:58:32

Sesuai janji, pagi ini Theo sudah berada di sebuah restoran untuk bertemu dengan Alfan. Dia datang lebih awal ternyata, dan Alfan belum datang. Hal tersebut membuat Theo sedikit cemas kalau-kalau saja Alfan berbohong.

Sepuluh menit menunggu, akhirnya Alfan datang dan Theo pun merasa lega. Dia menyapa Alfan dengan ramah, berusaha mencairkan suasana agar tidak kaku dan canggung. Ini pertama kalinya Theo bertemu secara pribadi dengan Alfan.

"Bagaimana kabar Anda, Pak Theo?" Alfan bertanya seraya mendudukkan diri di hadapan Theo.

"Baik, Pak Alfan."

"Baguslah. Maaf mengganggu waktu Anda pagi-pagi seperti ini," ujar Alfan. Theo tertawa pelan mendengar itu.

"Tak masalah, Pak. Saya malah senang karena diundang untuk bertemu," balas Theo. Alfan tersenyum tipis mendengar itu. Sebelum memulai pembahasan, mereka berdua memesan dulu makanan.

"Apakah Pak Bara sudah memberitahukan Anda tentang perkataan saya?" Alfan bertanya. Theo pun menganggukkan kepala.

"Iya. Bara sudah mengatakannya pada saya."

"Baguslah. Untuk sekarang, saya memang memiliki niat untuk membantu perusahaan Anda yang saya dengar sedang ada sedikit masalah." Alfan berujar.

"Terima kasih atas bantuannya, Pak Alfan. Saya sangat senang karena bisnis saya memang sedang ada kendala masalah biaya," balas Theo. Alfan tersenyum tipis mendengar itu.

"Sebelum memberikan bantuan yang saya sebutkan, saya ingin meminta sesuatu dulu kepada Anda, Pak. Anggap saja sebagai imbalannya mungkin," ujar Alfan. Theo mengerutkan kening mendengar itu. Dia sudah menduga kalau Alfan tak mungkin mau membantu jika tak mendapatkan imbalan.

"Saya menginginkan putri Anda, Pak Theo." Mata Theo melebar kaget mendengar penuturan Alfan barusan. Benaknya langsung tertuju pada Dinara, seolah lupa kalau wanita tersebut bukanlah anak kandungnya.

"Dinara?" tanya Theo. Alis Alfan bertaut tajam saat mendengar nama lain yang Theo sebutkan. Ah, pasti Dinara itu nama anak tiri Theo yang Aisha ceritakan.

"Aisha, bukan Dinara." Alfan menjawab. Dan Theo semakin kaget dengan jawaban Alfan barusan.

"Aisha? Ya, dia memang putri kandung saya, anak saya dengan mendiang istri saya. Tapi, bagaimana Anda tahu kalau Aisha adalah anak saya?" tanya Theo dengan curiga dan penasaran.

"Saya mencari tahu. Tak sulit untuk saya menemukan informasi detail tentang seseorang yang saya inginkan," jawab Alfan dengan senyuman tipis. Dia kemudian menyerahkan selembar foto pada Theo, dan Theo pun mengambilnya.

"Foto itu diambil lima tahun yang lalu. Saya pertama kali melihatnya di sebuah minimarket, saat dia masih memakai seragam SMA. Saat itu saya tak berani mendekatinya karena merasa dia belum cukup umur untuk saya miliki. Saya bertemu kembali dengannya kemarin di sebuah cafe. Dan Aisha menolak saya mentah-mentah." Alfan bercerita. Sebagian adalah kebohongan, sebagian lagi bukan.

"Be-benarkah?" Theo bertanya, merasa tak percaya. Dia memperhatikan foto yang Alfan berikan barusan. Itu memang foto Aisha dan terlihat Aisha memakai seragam SMA. Foto itu diambil dari kejauhan, pertanda kalau Aisha tak sadar ada yang memotret dirinya.

"Prinsip saya adalah saya harus mendapatkan apapun yang saya inginkan. Jadi, jika Pak Theo berkenan menyerahkan Aisha pada saya, maka saya akan dengan senang hati membantu kesulitan Anda." Alfan berucap dengan tegas. Dia menatap Theo yang masih memperhatikan foto Aisha tersebut.

"Apakah permintaan saya terlalu sulit untuk dikabulkan, Pak Theo?" Alfan bertanya saat Theo tak memberikan jawaban apa-apa. Theo mengerjap dan langsung menatap Alfan.

"Tentu tidak, Pak Alfan. Pak Alfan tak perlu khawatir, saya akan bicara pada Aisha. Dia pasti akan mendengarkan perkataan saya." Theo berucap dengan cepat. Alfan tersenyum mendengar itu.

"Baguslah. Kalau bisa sekalian siapkan dokumen-dokumen penting milik Aisha. Saya ingin langsung menikahinya."

Theo meneguk ludahnya sendiri mendengar perkataan Alfan barusan. Jelas dia tak keberatan menyerahkan Aisha demi kepentingan dirinya sendiri. Bodohnya dia tak sadar kalau Aisha bisa saja memanfaatkan kekuasaan Alfan untuk menjatuhkannya. Ya, Theo tidak berpikir jauh sampai ke sana. Yang penting baginya sekarang adalah uang.

***

Aisha duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Daffa dan Luna. Siang ini, Theo datang ke kediaman adik perempuannya tersebut. Daffa dan Luna merasa heran karena Theo tak pernah sekali pun menginjakkan kaki di rumah mereka sejak menikahi janda beranak dua itu.

"Aku minta surat-surat penting milik Aisha." Theo berucap tanpa basa-basi.

"Untuk apa?" Aisha bertanya dengan heran dan bingung.

"Pokoknya siapkan saja sekarang." Theo menjawab dengan nada tinggi. Aisha memicingkan mata mendengar itu. Penasaran rencana macam apa yang disusun oleh Alfan untuk menjebak ayahnya.

"Untuk apa? Berikan kami alasan yang jelas, Kak." Luna berucap, terlihat tak suka dengan sikap kakaknya tersebut.

"Ada seseorang yang ingin menikahinya. Dia tak boleh menolak," ujar Theo seraya menatap Aisha dengan tajam. Aisha tersenyum tipis mendengar itu. Ah, pasti seseorang yang Theo maksud itu adalah Alfan.

"Tak boleh menolak? Setelah tak menganggapku anak, menghinaku, tak menafkahiku, sekarang kamu mau menjualku demi kepentingan diri sendiri?" Aisha melontarkan pertanyaan dengan nada sinis.

"Kamu sudah gila, Kak?! Aisha ini anak kandungmu! Bisa-bisanya kamu berpikiran sejahat itu pada anakmu sendiri!" Luna memekik marah pada Theo yang tak terlihat merasa bersalah sedikit pun.

"Ini bukan urusanmu! Sebagai anak dia itu harus berguna! Kalian yang terlalu memanjakannya hingga dia jadi kurang ajar seperti ini!" bentak Theo. Daffa yang semula diam pun mulai angkat bicara.

"Kak, kami menganggap Aisha sebagai anak kami sendiri. Kami memperlakukannya sama seperti kami memperlakukan Alex dan Alexa," ujar Daffa. Theo mendecih pelan mendengar itu. Aisha memicingkan mata tajam ke arah Theo. Kenapa sih dia harus memiliki ayah biologis macam iblis seperti Theo?

"Siapa yang mau menikahiku?" Aisha bertanya, berusaha tenang dan seolah tak tahu.

"Kamu akan tahu nanti. Yang jelas kamu tak boleh menolak. Kamu itu jadi anak harus ada gunanya sedikit. Jangan bertindak bodoh dan kurang ajar terus pada orang tua." Theo berkata. Aisha tertawa sinis mendengar itu. Ayolah, tangannya gatal sekali ingin menumpahkan air keras pada tua bangka itu.

"Kak, kamu tidak bisa seenaknya seperti ini pada Aisha. Aku bersumpah, aku tak rela Aisha dipaksa menikah demi kepentinganmu sendiri. Aku yang merawatnya sejak dia masih bayi sampai sekarang. Aku lah yang lebih berhak atas hidupnya," ucap Luna. Ya, dia sangat marah dan sakit hati karena ucapan Theo.

"Diam kamu. Jangan ikut campur urusanku," balas Theo dengan tajam.

"Siapkan berkasnya besok. Dan ingat, jangan coba-coba kabur," ancam Theo pada Aisha. Setelah mengatakan itu, Theo pun melenggang keluar dari rumah Daffa dan Luna.

"Aisha, jangan dengarkan perkataan ayahmu," ucap Luna. Dia mendekat pada Aisha dan menggenggam kedua tangannya dengan erat.

"Om dan Tante jangan khawatir. Ini semua sebenarnya adalah rencanaku sendiri," ucap Aisha.

"Maksud kamu?" tanya Daffa bingung.

"Aku menawarkan pernikahan pada Pak Alfan dan dia menerimanya. Tapi Pak Alfan berpura-pura seolah dia lah yang menginginkan aku. Papa sudah masuk ke dalam jebakan," ujar Aisha menjelaskan. Luna merasa tubuhnya lemas seketika.

"Sha, kenapa kamu tak berunding dulu dengan kami? Kenapa kamu mengambil keputusan berat seperti ini?" tanya Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Aisha pun tersenyum, berusaha meyakinkan Daffa dan Luna kalau dia baik-baik saja.

"Ini satu-satunya cara, Tante. Menjadi istri Pak Alfan adalah salah satu cara agar aku bisa menjatuhkan Papa dan mengambil semua hakku. Pak Alfan berjanji akan membantuku sampai selesai. Kalian jangan khawatir. Aku baik-baik saja dengan keputusan ini," ucap Aisha. Daffa dan Luna terdiam mendengar itu. Tak menyangka ternyata Aisha berani mengambil langkah yang sulit demi bisa membalas dendam pada ayahnya sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
ayah seperti Theo wajib diganjar dengan kelicikan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menikahi Duda   30

    Setelah Theo resmi di tahan, keluarganya jadi kacau dan tak seindah dulu. Aisha sudah berhasil mendapatkan haknya, juga harta warisan mendiang ibunya. Selain itu Aisha juga sudah mendapatkan uang denda dari Theo karena tak pernah menafkahinya. Hak yang Aisha terima bukan berupa uang, tapi berupa satu unit rumah dan satu unit apartemen. Lalu dia juga mendapatkan satu bangunan kosong berlantai tiga yang merupakan bagian warisan mendiang ibunya. Karena aset yang Theo miliki beralih pada Aisha, jelas dia kehilangan banyak hartanya. Sisa aset yang dia miliki disita oleh bank dan sebagian lagi terpaksa di jual untuk menutupi hutang. Bagian Sarah pun terpaksa harus rela dijual untuk membayar hutang biaya pernikahan Dinara. Jadi, sekarang mereka benar-benar jatuh dan tak memiliki apa-apa. Aisha dengar kabar kalau Dinara ikut tinggal di rumah mertuanya, di rumah orang tua Harris karena mereka memang belum punya rumah pribadi. Sedangkan Bara dan Sarah tinggal di sebuah rumah minimalis, satu-

  • Menikahi Duda   29

    Theo berusaha keras untuk menemui Aisha, namun usahanya tak pernah berhasil. Hampir setiap hari dia datang ke rumah Alfan dengan niat menemui Aisha. Namun Aisha tak pernah mau menemuinya walau hanya sebentar. Akhirnya, Theo selalu diusir oleh satpam dan pulang tanpa mendapatkan apa-apa. Hal tersebut berlangsung sampai hari sidang kedua dilaksanakan. Sebelum sidang dimulai, Theo memaksa untuk bicara pada Aisha. Dia berusaha memanipulasi pikiran Aisha, agar Aisha tidak tega untuk menuntutnya. Namun, Aisha sudah tak mempan dengan kata-kata seperti itu. Siapapun yang berkata dia adalah anak durhaka, maka Aisha akan dengan senang hati mengatakan kebenarannya. Karena kebanyakan masalah antara anak dan orang tua, selalu saja anak yang di salahkan. Padahal mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya bagaimana. Di sidang kedua, Daffa dan Luna bersaksi. Mereka bercerita sesuai dengan apa yang mereka jalani selama ini. Dan Aisha yang mendengarkan cerita mereka sampai meneteskan air mata. "Saat h

  • Menikahi Duda   28

    Aisha ingat sekali kalau dia diberitahu tentang kedatangan ayahnya dan yang lain itu sekitar dua jam yang lalu. Oh tentu. Dia menghabiskan waktu yang tak terlalu lama ketika bercinta dengan Alfan. Yang memakan waktu lama adalah saat mereka mandi sambil membicarakan banyak hal. Lalu sekarang Aisha dan Alfan sudah berdandan rapi karena berniat untuk jalan-jalan. Tapi justru mereka heran sekaligus kaget saat tahu Theo bersama yang lain masih berada di luar gerbang. "Saya sudah berpesan pada ART tadi agar kalian mengusir mereka saja." Aisha bicara pada satpam yang berjaga, yang beberapa minggu lalu menyambutnya juga. "Kami sudah berusaha keras untuk menyuruh mereka pergi, Non. Tapi mereka bersikeras ingin menunggu." Satpam yang masih muda menjawab dengan tatapan takut-takut. Aisha mendesis kesal mendengar itu. Dia ingin menghabiskan hari yang indah dan cerah ini hanya berdua dengan Alfan. Tapi ternyata malah ada masalah yang mengganggu. "Sha, biarkan saja mereka masuk dan kita dengarka

  • Menikahi Duda   27

    Aisha sangat tak sabar menunggu hari sidang tiba. Dan dia tersenyum lebar saat harinya tiba. Dia semakin terlihat bahagia melihat wajah masam ayahnya di pengadilan. Sidang pertama berjalan dengan lancar, walau ya sedikit menjengkelkan karena Theo tidak berbicara dengan jujur. Dia berbohong tentang gugatan yang Aisha layangkan ke pengadilan. Dia mengaku kalau sejak bayi sampai dewasa sekarang dia selalu menafkahi Aisha. Jelas hal tersebut membuat Aisha geram dan kesal. Sidang belum selesai dan akan dilanjutkan minggu depan dengan memanggil para saksi. Luna dan Daffa lah yang akan bersaksi di pengadilan nanti. Mereka sanggup bersaksi, karena mereka ingin membantu Aisha mendapatkan haknya. Sebenarnya, Theo dan keluarganya panik saat di pengadilan. Mereka takut, karena potensi kekalahan pada mereka sangat besar. Pengacara Aisha sudah memegang banyak bukti tentang Theo yang menelantarkan Aisha selama ini. Sedangkan Theo tak memiliki bukti apa-apa untuk menyangkal. Hari ini, Aisha jal

  • Menikahi Duda   26

    Makan siang dulu dengan suami yang sangat mencintai istrinya dan menyayangi calon anaknya.Aisha hampir saja tertawa saat membaca pesan masuk dari Dinara. Akhirnya dia hanya terkekeh geli saja dengan kelakuan kakak tirinya tersebut. Kelihatan sekali berusaha sangat keras untuk membuat Aisha panas atau iri sepertinya. Padahal Aisha sudah gak peduli."Mas, bangun. Aku mau ambil foto." Aisha menggoyangkan lengan Alfan, memaksa suaminya tersebut untuk duduk."Ambil foto apa?" tanya Alfan heran. Aisha tak menjawab namun langsung menarik tangan Alfan agar pria itu memeluknya. Kemudian Aisha mengarahkan kamera ponselnya ke arah cermin, memotret bayangan dia dan Alfan yang sedang berpelukan di cermin.Setelah berhasil, Aisha langsung mengirimkan foto itu pada Dinara. Tentu saja untuk membalas perbuatan wanita itu. Siang-siang gini enaknya bobo bareng sama suami tersayang. Kasihan sih kamu yang suaminya sibuk kerja di siang hari wkwkwkBtw, uang yang suami kamu pakai sekarang pasti uang bayar

  • Menikahi Duda   25

    Cuaca hari ini cukup dingin, kurang mendukung untuk bepergian keluar rumah. Namun Aisha dan Alfan tetap nekat keluar dari rumah dan pergi menemui Lia di panti jompo. Sebenarnya Lia sudah melarang mereka datang terlalu sering. Tahu kalau selama ini Alfan hidup sendirian dan kesepian, Lia ingin Alfan memanfaatkan waktunya untuk berduaan dengan Aisha saja. Apalagi mereka juga masih tergolong pengantin baru. Tapi, Aisha dan Alfan tetap saja datang ke sana untuk menemui Lia. "Aku ingin Ibu mendoakan kami agar bisa menang sidang nanti." Aisha berucap. Dia sudah menceritakan kisah dia dan ayahnya yang jauh dari kata baik dan harmonis. Lia bahkan sangat kaget saat mendengar cerita Aisha. "Jika memang hal tersebut yang bisa membuatmu merasa tenang, lakukanlah. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian di sini," balas Lia. Tangan keriputnya bergerak meraih tangan Aisha dan menggenggamnya dengan erat. "Kamu anak yang hebat dan penyabar. Pesan dari Ibu hanya satu. Jangan sampai kamu

  • Menikahi Duda   9

    Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan sekarang Aisha sedang sibuk membereskan barang-barangnya. Tidak sendirian, karena dia dibantu oleh Luna juga Alexa. Sementara Daffa menemani Alfan di ruang tamu. "Sha, ini beneran kamu pindah dari sini?" Alexa bertanya, merasa tak percaya Aisha akan segera pi

  • Menikahi Duda   8

    Hari sudah malam, dan sekarang Aisha sedang berkumpul dengan orang-orang yang menjadi keluarga baginya selama ini. Alex dan Senna pun diundang makan malam bersama, karena Aisha harus memberitahu mereka semua tentang keputusan yang sudah dia ambil. "Jadi, Pak Alfan mau membantu?" Senna bertanya pen

  • Menikahi Duda   10

    Hari ini adalah hari pernikahan Alfan dan Aisha. Walau mereka tak mengadakan resepsi atau pesta, tetap saja Aisha dipaksa bangun lebih awal karena akan di rias. MUA yang meriasnya adalah pilihan Alfan, dan lumayan terkenal. Bahkan MUA tersebut pernah beberapa kali mendapat job merias artis dan juga

  • Menikahi Duda   12

    Hari sudah gelap, dan Alfan baru saja sampai di rumah. Dia pergi keluar sore tadi karena ada urusan. Saat masuk ke dalam rumah, Alfan langsung melihat sekitar. Dia tak melihat sosok Aisha di sana, menandakan kalau gadis itu masih di dalam kamar. "Aisha tidak keluar dari kamar?" Alfan bertanya pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status