Share

4

Author: Alfylla
last update publish date: 2026-01-26 10:51:35

Setelah lulus wisuda, Alexa langsung gencar mencari pekerjaan karena tak mau lama bergelar sebagai pengangguran. Sedangkan Aisha masih gitu-gitu saja, tak ada kemajuan. Dia jadi malu pada om dan tantenya karena terus menjadi beban bagi mereka berdua. Walau begitu, Daffa dan Luna tak masalah. Mereka malah berkata kalau untuk sekarang Aisha fokus saja berusaha mendapatkan haknya.

Hari ini, lebih tepatnya saat jam makan siang, Aisha sudah berada di sebuah restoran ternama. Dia tidak makan siang sendirian, tapi berdua dengan seorang pria tua di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandungnya, Theo.

"Harusnya kamu legowo sejak awal untuk melepaskan Harris. Jadi tak perlu ada drama membosankan." Theo berucap pada Aisha yang masih menyantap makanannya.

"Seorang pelacur melahirkan seorang jalang murahan. Lalu jalang murahan itu akan melahirkan seorang apa selanjutnya?" Aisha melemparkan pertanyaan pedas seraya menyimpan garpunya dengan gerakan kasar di atas meja. Dengan berani dia menatap tajam ke arah ayahnya yang sudah sangat marah karena perkataannya barusan.

"Tutup mulutmu! Tidak seharusnya kamu bicara buruk seperti itu pada keluargamu sendiri!" sentak Theo marah. Aisha tertawa mendengar itu.

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kira-kira, siapa yang menurunkan sifat buruk ini padaku? Bisa beritahu?" tanya Aisha lagi dengan senyuman sinis. Theo memicingkan mata ke arah Aisha. Mata hatinya benar-benar sudah tertutup. Pikirannya sudah diracuni oleh istrinya, tentang dia yang tak boleh mempedulikan Aisha.

"Aku mendengar kabar kalau bisnismu mengalami penurunan setelah dikelola oleh Bara. Yakin mau menyerahkan perusahaan pada orang yang tidak ahli? Bisa-bisa dalam tiga tahun ke depan kalian malah guling tikar nantinya," ujar Aisha. Ya, dia memiliki dua kakak tiri. Yang pertama berjenis kelamin laki-laki, bernama Bara. Yang kedua adalah Dinara, yang dihamili oleh mantan pacar Aisha.

"Daffa dan Luna sangat buruk mendidikmu." Theo berujar. Aisha tertawa lagi mendengar itu.

"Mereka mendidik aku dengan sangat baik. Hanya saja sekarang aku bersikap rasional saja. Untuk apa menghormati seseorang yang tak pantas mendapatkan penghormatan?" Aisha berujar disertai dengan seringai. Yap, beginilah dia. Dia akan menjadi anak yang baik dan lemah di depan om dan tantenya. Dan dia akan menjadi anak yang sangat menjengkelkan di depan ayahnya sendiri.

"Sebaiknya kamu pikirkan lagi tentang keputusan menyerahkan perusahaan pada Bara, yang jelas tak memiliki hak apa-apa. Jika kamu tetap pada pendirian tersebut, maka kita akan bertemu di pengadilan. Aku akan menuntutmu karena tak melaksanakan kewajiban menafkahi aku." Aisha berucap dengan tenang. Sebutan 'kamu' yang dia pakai pada Theo menandakan kalau dia tak sudi menyebut sosok itu dengan sebutan 'ayah'. Sebutan itu terlalu berharga bagi pria semacam Theo.

"Kamu mau menuntut ayahmu sendiri? Memangnya apa yang kamu punya? Sanggup menyewa pengacara?" Theo bertanya dengan nada yang meremehkan. Kemudian dia tertawa, membuat Aisha sangat muak.

"Seharusnya kamu ikut mati saja dengan ibumu. Kelahiranmu malah membuat keluargaku kacau. Benar-benar tak berguna." Theo mengatakan itu tanpa mempedulikan bagaimana sakitnya Aisha sekarang. Dia lalu berdiri dan merapikan jas mahalnya.

"Anak bodoh dilahirkan oleh seorang wanita bodoh juga." Setelah mengatakan itu, Theo melenggang pergi dari hadapan Aisha. Tangan Aisha mengepal kuat di atas meja, dengan mata yang berkaca-kaca. Dia masih tahan saat dirinya dihina dan direndahkan oleh ayah kandungnya sendiri. Dan jelas dia tak akan terima jika ibunya yang direndahkan.

"Selamat atas kehamilan putri tersayangmu. Selamat atas kehamilan diluar nikahnya. Semoga bayi tersebut lahir dan tidak menuruni sifat murahan ibu beserta neneknya. Sifat seperti sampah yang sangat menjijikkan."

Aisha mengatakan itu dengan suara bergetar menahan tangis. Setelah berucap seperti itu, dia melangkah keluar dari restoran, melewati Theo yang berhenti melangkah saat mendengar perkataan terakhirnya. Aisha langsung masuk ke dalam taksi, mengabaikan Theo yang menatap sangat tajam ke arahnya, seperti ingin menelannya hidup-hidup.

***

Aisha duduk di balkon kamar dengan laptop yang menyala di depannya. Dia baru saja membuka sebuah file yang dikirimkan oleh Senna lewat email. File itu berisi tentang biografi Alfan, juga segala macam hal tentang Alfan yang Senna ketahui. Senna berusaha membantu Aisha sebisa mungkin, karena jujur saja dia sangat geram dengan perlakuan Theo terhadap Aisha.

"Terima kasih, Kak. Btw, untuk bertemu dengannya memang susah kah? Aku bisa bertemu dengannya hanya dengan memperlihatkan kartu identitas saja."

"Iyakah? Kamu beruntung berarti. Banyak orang yang kesulitan untuk bertemu dengan beliau."

Aisha mengerutkan kening saat membaca balasan dari Senna. Dia pikir, Senna ada campur tangan agar memudahkannya bertemu dengan Alfan. Ternyata tidak. Mungkin, memang dia yang beruntung.

Kembali pada biografi Alfan, Aisha agak kaget sebenarnya setelah membaca keseluruhan informasi yang Senna berikan.

Nama lengkapnya adalah Alfan Gerald Wijaya. Dua bulan lagi, usianya menginjak angka 38. Itu berarti usianya dengan Alfan terpaut 16 tahun. Alfan pernah menikah, namun istrinya meninggal dunia tujuh tahun yang lalu karena sebuah penyakit. Dari informasi yang Senna berikan, pernikahan Alfan hanya berlangsung selama satu bulan saja. Dan istrinya meninggal dunia dalam keadaan hamil.

Jujur saja, Aisha merinding saat mengetahui itu.

Info lainnya adalah Alfan sudah tak memiliki orang tua. Ibunya meninggal 20 tahun yang lalu, dan ayahnya meninggal lima tahun yang lalu. Alfan memiliki ibu tiri yang masih hidup sampai sekarang. Dan infonya lagi, Alfan masih menganggap ibu tirinya sebagai keluarga walau orang yang menyatukan mereka sebagai keluarga sudah tiada.

"Pasti ibu tirinya baik," gumam Aisha.

Pak Alfan menikah secara mendadak dengan mendiang istrinya. Ada yang bilang karena mendiang istrinya terlanjur hamil. Tapi berita itu simpang siur dan tak pernah ada yang meluruskan.

Itu adalah paragraf terakhir yang Senna tulis. Dan entah kenapa Aisha jadi bete setelah membacanya.

"Mungkin benar mendiang istrinya hamil duluan jadi mereka menikah secara mendadak." Aisha bergumam. Bukan sok tahu ingin membenarkan, tapi alasan tersebut terasa nyambung dengan isi kertas yang Alfan berikan tadi padanya.

Aisha diam beberapa saat dan berpikir harus mengambil keputusan bagaimana. Yang jelas sih, dia tak boleh menyerah sekarang karena secara tak langsung dia sudah mengibarkan bendera perang pada ayahnya sendiri. Jika dia mundur, ayahnya pasti akan tertawa.

Setelah berpikir lumayan lama, Aisha lalu masuk ke dalam kamar dan mengambil kertas dari Alfan tadi. Dia mengetik nomor Alfan di ponselnya dan menyimpannya juga. Aisha juga langsung mengetik sebuah pesan yang akan dia kirimkan pada pria itu.

Tak apa. Menjatuhkan ayahnya untuk sekarang adalah yang terpenting.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
semangat Aisha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menikahi Duda   39. End

    Beberapa bulan kemudian. Hari demi hari terus berlalu, tak terasa kini pernikahan Alfan dan Aisha sudah berusia satu tahun. Mereka melewati waktu ke waktu dengan perasaan bahagia, hingga tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lumayan lama. Hari ini cuaca mendung dan turun hujan rintik-rintik. Mungkin seharusnya Aisha dan Alfan diam saja di rumah saat cuaca kurang bagus seperti hari ini. Namun ada hal yang memaksa mereka harus keluar dari rumah dan menghadiri sebuah acara. Bukan acara pesta, tapi acara pemakaman. Alfan dan Aisha berpakaian serba hitam, sama seperti orang lain yang ikut mendatangi pemakaman tersebut. Setelah selesai di pemakaman, Alfan dan Aisha pun segera pergi dari TPU. Tidak langsung pulang ke rumah, namun Aisha memilih untuk berkunjung sebentar ke kantor polisi. Dan sekarang, di sinilah Aisha berada. Duduk berhadapan dengan seorang pria tua yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Penampilan ayah kandungnya jauh dari kata baik d

  • Menikahi Duda   38

    Benar dugaan Alfan, keluarganya masih akan terus mengganggu karena mereka belum mendapatkan sanksi yang cukup atas semua sikap mereka yang mengganggu. Hari ini, Alfan dan Aisha berniat pergi ke gym bersama. Namun sebelum berhasil keluar dari rumah, keluarga besar Alfan yang berjumlah lima orang sudah datang dan menunggu di depan gerbang. Mereka memaksa masuk dan terus saja mengucapkan sumpah serapah pada satpam yang tak mau membukakan gerbang untuk mereka. Alfan malas bertemu langsung dengan mereka. Akhirnya Alfan menghubungi polisi dan meminta polisi datang ke rumahnya untuk menertibkan keluarganya yang terus saja mengganggu dan membuat kericuhan di depan gerbang rumahnya. Respon mereka? Jelas marah besar. Perkataan mereka semakin tak terkontrol saat tahu Alfan memanggil polisi untuk menangkap mereka semua. Polisi menahan mereka atas aduan Alfan karena merasa terganggu. Tentu mereka tidak akan berakhir di penjara. Namun dengan melibatkan polisi, membuat keluarga Alfan ketar-ketir

  • Menikahi Duda   37

    Ancaman yang Alfan katakan memang bukan sekedar ancaman saja. Alfan memang sengaja membongkar semua rahasia Dimitri dan adiknya pada orang-orang yang bersangkutan. Dan tentu saja hal tersebut berdampak besar pada kehidupan mereka berdua. Berita tentang adik Dimitri yang menjadi selingkuhan menjadi berita panas di universitas tempatnya kuliah. Keluarga istri dosen tersebut berhasil menemui adik Dimitri dan tentu saja melabraknya. Nama adik Dimitri yang merupakan salah satu mahasiswi populer langsung tercoreng. Dan Alfan cukup puas dengan hal itu. Lalu Dimitri, jelas masalahnya membuat jabatannya di perusahaan tempat dia bekerja terancam. Setelah perselingkuhan Dimitri dengan istri temannya terbongkar, akhirnya masalah lain ikut terbongkar. Salah satunya adalah rekan kerja Dimitri yang mengaku dekat dengan Dimitri selama beberapa bulan ke belakang, dan mengaku sedang hamil anak Dimitri. Hal tersebut menandakan kalau Dimitri menghamili dua wanita sekaligus. Ibu kandung Dimitri syok be

  • Menikahi Duda   36

    Harapan Alfan adalah Dimitri kapok dan tak akan mengganggu dia juga Aisha. Namun sepertinya sepupunya itu tidak kapok ataupun takut dengan ancaman yang diberikan oleh Alfan. Entah apa saja yang dia ceritakan pada seluruh anggota keluarga besar, yang jelas Alfan semakin di benci oleh keluarga besar ayahnya. Tiga hari setelah memperingati dan mengancam Dimitri, Alfan kedatangan tamu tak diundang ke rumahnya. Alfan enggan menghadapi mereka, namun berusaha untuk tetap sopan dengan menerima kedatangan mereka. Dan ya, sepasang suami-istri yang datang itu adalah orang tua Dimitri, di mana ibu Dimitri merupakan adik kandung ayah Alfan. Tujuan kedatangan mereka pun sudah bisa ditebak oleh Alfan. "Jangan mentang-mentang kamu ini kaya raya kamu bisa seenaknya merendahkan anakku, Alfan." Wanita tua yang merupakan ibu kandung Dimitri itu bersuara dengan nada tinggi dan marah pada Alfan. "Jika Tante tak senang aku melakukan sesuatu pada Dimitri, sebaiknya Tante peringati dia untuk tidak mengga

  • Menikahi Duda   35

    Aisha duduk di dalam toko, memperhatikan Alexa yang sedang melayani pelanggan. Hari ini pelanggan sangat ramai hingga semuanya sibuk. Aisha berusaha untuk membantu, namun Daffa melarang dan menyuruhnya untuk diam saja. "Kamu ke sini sendirian saja, Sha? Gak sama Alfan?" Luna bertanya seraya duduk di samping Aisha. Dia menyerahkan sebotol minuman dingin pada keponakannya tersebut. "Mas Alfan ada urusan, Tante. Jadi aku ke sini sendirian. Aku lagi gak mau ikut Mas Alfan," jawab Aisha. Luna manggut-manggut mendengar itu. "Kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Luna dengan santai. Aisha pun langsung menggelengkan kepala. "Enggak kok. Aku dan Mas Alfan baik-baik saja. Hanya saja, orang yang Mas Alfan temui itu menyebalkan. Aku tak mau bertemu lagi dengan orang itu," jawab Aisha diakhiri dengan helaan nafas pelan. Luna tersenyum kecil mendengar itu. Dia tak bertanya lagi lalu menepuk pelan pundak Aisha. "Ibu mertuamu sudah cerita tentang kelakuan keluarga besar Alfan. Kamu yang sabar ya. Dal

  • Menikahi Duda   34

    Alfan marah. Jelas dia marah setelah membaca isi surat dari Dimitri yang menurutnya melecehkan dan merendahkan Aisha. Begitu juga dengan Aisha yang marah namun takut dalam waktu yang bersamaan. Well, dia pikir Dimitri sudah puas mengganggu dan membuatnya risih di hari resepsi kemarin. Tapi ternyata, pria itu masih saja mengganggu. Karena surat tersebut, hampir saja rencana mereka untuk jogging pagi bersama batal. Namun Aisha berusaha terus menenangkan Alfan dan tetap mengajak suaminya itu untuk pergi agar bisa sedikit meredakan amarah. Alfan dan Aisha melakukan jogging dari rumah sampai ke taman kota. Jaraknya tidak terlalu jauh dan tak menghabiskan waktu yang lama juga. Setelah merasa cukup, Alfan dan Aisha pun beristirahat di kursi taman seraya meneguk air mineral. "Apa dulu saat Mba Rini masih hidup Dimitri juga selalu mengganggu?" Aisha bertanya setelah suasana hati mereka cukup tenang. "Ya. Dia bekerja sama dengan pacar Rini untuk menjatuhkanku. Dia beranggapan kalau aku menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status