Share

5

Author: Alfylla
last update publish date: 2026-01-26 10:52:00

Datanglah pukul 10 pagi besok.

Itu adalah balasan dari Alfan semalam saat Aisha bertanya apakah mereka bisa bertemu lagi atau tidak. Aisha merasa lega dengan jawaban Alfan, karena pria itu tidak mengulur waktu hingga Aisha tidak kehabisan banyak waktu untuk mempersiapkan segalanya.

Sekarang, Aisha sudah berada di rumah Alfan, di jam yang Alfan sebutkan. Dia duduk di ruang tamu, dan Alfan juga sudah menyambutnya.

"Jadi, apa keputusan yang kamu buat?" Alfan bertanya. Secara sengaja, dia berbicara non-formal pada Aisha. Dan Aisha agak heran, namun tak mau mempermasalahkan.

"Saya tak bisa menyerah begitu saja untuk memperjuangkan hak saya. Tapi imbalan yang Anda minta tidak sesuai dengan prinsip hidup saya." Aisha menjawab dengan tenang. Dia lalu menyimpan map yang dia bawa di atas meja, dan menyodorkannya pada Alfan.

"Apa ini?" tanya Alfan heran.

"Anda bisa lihat dulu isinya apa, Pak Alfan," jawab Aisha. Alfan mengangguk kecil dan meraih map tersebut.

"Ngomong-ngomong, jangan terlalu kaku dan formal. Santai saja," ujar Alfan sebelum akhirnya dia membuka map yang disodorkan oleh Aisha. Keningnya berkerut setelah membaca isi map tersebut. Sementara Aisha menunggu reaksi Alfan dengan tak sabar dan khawatir. Apa rencananya terlalu gila?

Setelah beberapa saat, Alfan menutup map tersebut dan menyimpannya lagi di atas meja. Dia tertawa kecil, merasa tak percaya dengan apa yang Aisha tawarkan dan inginkan.

"Menikah?" tanya Alfan dengan sebelah alis terangkat heran. Aisha pun langsung menganggukkan kepala dengan tegas.

"Jika memang Anda menginginkan sesuatu atas tubuh saya-"

"Sudah kubilang jangan terlalu formal." Alfan memotong perkataan Aisha. Aisha jadi bingung sendiri harus memanggil Alfan dengan sebutan apa agar terdengar masih sopan.

"Kamu paham apa yang aku maksud kemarin?" Alfan bertanya seraya bersedekap dada.

"Isi kertas itu? Ya, aku rasa aku paham ke arah mana maksudnya." Aisha menjawab. Alfan tersenyum kecil, agak heran dengan Aisha yang bisa tetap tenang setelah mengerti apa yang Alfan inginkan darinya.

"Lalu kenapa kamu menyarankan sebuah pernikahan?" tanya Alfan heran.

"Aku punya prinsip, Pak Alfan. Aku tak mau melakukan hubungan badan dengan laki-laki yang bukan suamiku. Aku tak mau berzina." Aisha menjawab dengan tegas, dan sedikit penekanan di kata akhir. Alfan merasa takjub mendengar Aisha yang mengatakan alasan dengan jelas.

"Pak Alfan memintaku menemani di malam hari, tentu karena ada keinginan kan? Tak mungkin aku hanya menemani sebatas makan malam saja, karena mungkin itu tak akan setimpal dengan bantuan yang Pak Alfan berikan padaku. Jadi, aku menawarkan sebuah pernikahan agar Pak Alfan mendapatkan yang diinginkan tanpa melanggar prinsip hidupku selama ini." Aisha menjelaskan. Ayolah, dia sudah seperti orang gila saja sekarang. Berani-beraninya dia mengajak menikah pada seorang pria berpengaruh seperti Alfan yang memiliki kekuasaan tak terkira. Tapi seperti yang Senna katakan, harus dicoba dulu jika ingin tahu hasilnya.

"Kamu bebas melakukan apapun terhadapku. Asal kamu membantu aku agar ayahku tak menyerahkan perusahaan pada kakak tiriku."

"Apapun? Kuharap kamu tak menyesal dengan perkataanmu barusan, Nona Aisha."

Alfan menyeringai mendengar perkataan Aisha yang terdengar putus asa dan tak mau lagi bernegosiasi. Mungkin sekuat itu keinginan Aisha untuk melawan ayahnya hingga dia tak peduli kalau secara tak langsung dia menjual dirinya sendiri pada Alfan.

"Jadi, bagaimana?" Aisha bertanya dengan tak sabar. Alfan diam sesaat, seolah sedang mempertimbangkan. Namun beberapa saat kemudian dia menganggukkan kepala, setuju dengan rencana Aisha.

Aisha merasa lega sekarang karena dia sudah memegang kunci untuk bisa mengalahkan ayahnya. Ayahnya memang orang yang berpengaruh. Tapi pengaruh ayahnya tak seberapa jika dibandingkan dengan pengaruh yang Alfan miliki. Dan Aisha merasa sangat tak sabar untuk segera melihat kejatuhan ayahnya.

***

Theo Winata, seorang pria berusia lanjut yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan damai beserta istri dan kedua anak tirinya. Dia nyaman hidup bersama mereka bertiga selama lebih dari 20 tahun. Dia adalah seorang ayah yang sangat jahat karena lebih mengutamakan ketentraman hidup anak-anak tirinya, tanpa pernah sedikit pun memikirkan kehidupan anak kandungnya.

Malam ini, Theo berkumpul bersama istrinya yang bernama Sarah di ruang keluarga. Tidak hanya berdua, tapi kedua anak tirinya juga ada di sana. Bara, anak sulung Sarah lah yang mengumpulkan mereka dengan alasan ada sesuatu penting yang harus di bahas.

"Apa yang mau dibahas, Bara?" Theo bertanya pada anak tirinya tersebut yang sudah dewasa.

"Pak Alfan menghubungiku tadi sore, Pa." Bara berucap. Mendengar nama Alfan disebutkan, Theo terlihat kaget.

"Alfan pemilik Wijaya Group?" tanya Theo memastikan. Bara pun menganggukkan kepala.

"Pak Alfan menawarkan kerja sama dan bantuan dana untuk perusahaan kita, Pa. Dan aku rasa kita harus terima bantuan darinya, mengingat perusahaan yang hampir masuk ke dalam keadaan sulit sekarang. Belum lagi kita juga butuh dana untuk persiapan pernikahan Dinara." Bara menjelaskan. Ya, keadaan finansial mereka sekarang memang sedang tidak stabil. Penjualan perusahaan yang anjlok juga pengeluaran yang banyak membuat Theo cukup pusing. Kerja sama perusahaan dengan Alfan adalah salah satu hal yang dia impikan sejak beberapa tahun ke belakang. Namun permintaan kerja sama darinya tak pernah diterima oleh Alfan.

"Tak mungkin dia menawarkan bantuan jika tak menginginkan sesuatu dari kita, Bara." Theo berucap. Bara pun mengangguk.

"Aku tahu. Pak Alfan pasti juga sudah memikirkan keuntungan apa yang akan dia dapatkan. Karena itu, dia meminta Papa menemuinya besok di sebuah restoran sekalian sarapan," ujar Bara. Kening Theo berkerut bingung mendengar itu. Tumben sekali Alfan yang mengajak bertemu. Theo masih ingat kalau sebelum ini Alfan selalu menolak pertemuan dengannya dengan alasan sibuk.

"Temui saja dulu, Mas. Kalau keuntungan yang dia inginkan tidak membuat kita rugi, terima saja tawarannya. Ini kesempatan emas loh," ujar Sarah. Theo diam sesaat kemudian menganggukkan kepala.

"Kira-kira apa yang dia inginkan? Aku ragu kalau dia menginginkan hal sepele," ujar Dinara. Theo menggelengkan kepala tanda tak tahu.

"Kita belum tahu sebelum Papa bertemu dengannya besok. Kamu jangan khawatir," ujar Theo. Semua yang ada di sana tersenyum, bagai mendapat durian runtuh. Nyatanya, itu semua adalah jebakan yang sudah Aisha dan Alfan rencanakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Duda   39. End

    Beberapa bulan kemudian. Hari demi hari terus berlalu, tak terasa kini pernikahan Alfan dan Aisha sudah berusia satu tahun. Mereka melewati waktu ke waktu dengan perasaan bahagia, hingga tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu bersama dalam waktu yang lumayan lama. Hari ini cuaca mendung dan turun hujan rintik-rintik. Mungkin seharusnya Aisha dan Alfan diam saja di rumah saat cuaca kurang bagus seperti hari ini. Namun ada hal yang memaksa mereka harus keluar dari rumah dan menghadiri sebuah acara. Bukan acara pesta, tapi acara pemakaman. Alfan dan Aisha berpakaian serba hitam, sama seperti orang lain yang ikut mendatangi pemakaman tersebut. Setelah selesai di pemakaman, Alfan dan Aisha pun segera pergi dari TPU. Tidak langsung pulang ke rumah, namun Aisha memilih untuk berkunjung sebentar ke kantor polisi. Dan sekarang, di sinilah Aisha berada. Duduk berhadapan dengan seorang pria tua yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Penampilan ayah kandungnya jauh dari kata baik d

  • Menikahi Duda   38

    Benar dugaan Alfan, keluarganya masih akan terus mengganggu karena mereka belum mendapatkan sanksi yang cukup atas semua sikap mereka yang mengganggu. Hari ini, Alfan dan Aisha berniat pergi ke gym bersama. Namun sebelum berhasil keluar dari rumah, keluarga besar Alfan yang berjumlah lima orang sudah datang dan menunggu di depan gerbang. Mereka memaksa masuk dan terus saja mengucapkan sumpah serapah pada satpam yang tak mau membukakan gerbang untuk mereka. Alfan malas bertemu langsung dengan mereka. Akhirnya Alfan menghubungi polisi dan meminta polisi datang ke rumahnya untuk menertibkan keluarganya yang terus saja mengganggu dan membuat kericuhan di depan gerbang rumahnya. Respon mereka? Jelas marah besar. Perkataan mereka semakin tak terkontrol saat tahu Alfan memanggil polisi untuk menangkap mereka semua. Polisi menahan mereka atas aduan Alfan karena merasa terganggu. Tentu mereka tidak akan berakhir di penjara. Namun dengan melibatkan polisi, membuat keluarga Alfan ketar-ketir

  • Menikahi Duda   37

    Ancaman yang Alfan katakan memang bukan sekedar ancaman saja. Alfan memang sengaja membongkar semua rahasia Dimitri dan adiknya pada orang-orang yang bersangkutan. Dan tentu saja hal tersebut berdampak besar pada kehidupan mereka berdua. Berita tentang adik Dimitri yang menjadi selingkuhan menjadi berita panas di universitas tempatnya kuliah. Keluarga istri dosen tersebut berhasil menemui adik Dimitri dan tentu saja melabraknya. Nama adik Dimitri yang merupakan salah satu mahasiswi populer langsung tercoreng. Dan Alfan cukup puas dengan hal itu. Lalu Dimitri, jelas masalahnya membuat jabatannya di perusahaan tempat dia bekerja terancam. Setelah perselingkuhan Dimitri dengan istri temannya terbongkar, akhirnya masalah lain ikut terbongkar. Salah satunya adalah rekan kerja Dimitri yang mengaku dekat dengan Dimitri selama beberapa bulan ke belakang, dan mengaku sedang hamil anak Dimitri. Hal tersebut menandakan kalau Dimitri menghamili dua wanita sekaligus. Ibu kandung Dimitri syok be

  • Menikahi Duda   36

    Harapan Alfan adalah Dimitri kapok dan tak akan mengganggu dia juga Aisha. Namun sepertinya sepupunya itu tidak kapok ataupun takut dengan ancaman yang diberikan oleh Alfan. Entah apa saja yang dia ceritakan pada seluruh anggota keluarga besar, yang jelas Alfan semakin di benci oleh keluarga besar ayahnya. Tiga hari setelah memperingati dan mengancam Dimitri, Alfan kedatangan tamu tak diundang ke rumahnya. Alfan enggan menghadapi mereka, namun berusaha untuk tetap sopan dengan menerima kedatangan mereka. Dan ya, sepasang suami-istri yang datang itu adalah orang tua Dimitri, di mana ibu Dimitri merupakan adik kandung ayah Alfan. Tujuan kedatangan mereka pun sudah bisa ditebak oleh Alfan. "Jangan mentang-mentang kamu ini kaya raya kamu bisa seenaknya merendahkan anakku, Alfan." Wanita tua yang merupakan ibu kandung Dimitri itu bersuara dengan nada tinggi dan marah pada Alfan. "Jika Tante tak senang aku melakukan sesuatu pada Dimitri, sebaiknya Tante peringati dia untuk tidak mengga

  • Menikahi Duda   35

    Aisha duduk di dalam toko, memperhatikan Alexa yang sedang melayani pelanggan. Hari ini pelanggan sangat ramai hingga semuanya sibuk. Aisha berusaha untuk membantu, namun Daffa melarang dan menyuruhnya untuk diam saja. "Kamu ke sini sendirian saja, Sha? Gak sama Alfan?" Luna bertanya seraya duduk di samping Aisha. Dia menyerahkan sebotol minuman dingin pada keponakannya tersebut. "Mas Alfan ada urusan, Tante. Jadi aku ke sini sendirian. Aku lagi gak mau ikut Mas Alfan," jawab Aisha. Luna manggut-manggut mendengar itu. "Kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Luna dengan santai. Aisha pun langsung menggelengkan kepala. "Enggak kok. Aku dan Mas Alfan baik-baik saja. Hanya saja, orang yang Mas Alfan temui itu menyebalkan. Aku tak mau bertemu lagi dengan orang itu," jawab Aisha diakhiri dengan helaan nafas pelan. Luna tersenyum kecil mendengar itu. Dia tak bertanya lagi lalu menepuk pelan pundak Aisha. "Ibu mertuamu sudah cerita tentang kelakuan keluarga besar Alfan. Kamu yang sabar ya. Dal

  • Menikahi Duda   34

    Alfan marah. Jelas dia marah setelah membaca isi surat dari Dimitri yang menurutnya melecehkan dan merendahkan Aisha. Begitu juga dengan Aisha yang marah namun takut dalam waktu yang bersamaan. Well, dia pikir Dimitri sudah puas mengganggu dan membuatnya risih di hari resepsi kemarin. Tapi ternyata, pria itu masih saja mengganggu. Karena surat tersebut, hampir saja rencana mereka untuk jogging pagi bersama batal. Namun Aisha berusaha terus menenangkan Alfan dan tetap mengajak suaminya itu untuk pergi agar bisa sedikit meredakan amarah. Alfan dan Aisha melakukan jogging dari rumah sampai ke taman kota. Jaraknya tidak terlalu jauh dan tak menghabiskan waktu yang lama juga. Setelah merasa cukup, Alfan dan Aisha pun beristirahat di kursi taman seraya meneguk air mineral. "Apa dulu saat Mba Rini masih hidup Dimitri juga selalu mengganggu?" Aisha bertanya setelah suasana hati mereka cukup tenang. "Ya. Dia bekerja sama dengan pacar Rini untuk menjatuhkanku. Dia beranggapan kalau aku menc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status