Share

Diskusi

Dikarenakan keributan itu Bunda Alia serta Ibu Mira segera beranjak dari kursi. Keduanya keluar pontang-panting menuju luar. Tadinya mereka tengah membahas rencana pernikahan, tentang resepsi dan lain-lain. Sekarang, keduanya tergopoh-gopoh menuju taman dan terdiam membeku melihat Rara meneriaki Gilang.

"Rara, kenapa ini?" tanya Ibu Mira. Secara bergantian ia melihat Rara dan Gilang. Anaknya itu memperlihatkan wajah bengis sedangkan Gilang terdiam bingung.

"Mama serius mau menikahkan aku dengan laki-laki sombong itu?" tuding Rara ke Gilang. Telunjuknya teracung mantap. Meski duduk di kursi roda rona takut sama sekali tidak ada di wajahnya.

Merasa keadaan mulai kacau, Gilang pun maju mendekati Ibu Mira. "Maafkan saya, Bu. Ini hanya kesalahpahaman."

"Salah paham? Salah paham kamu bilang?" Rara terkekeh hambar. Binar matanya menyalang-nyalang bak ada kobaran api di sana. Kekaguman yang sempat hadir sirna seketika saat melihat Gilang enggan berjabat tangan dengan. Rara insecure dan mulai berpikir yang tidak-tidak tentang Gilang.

"Iya, ini salah paham. Saya tidak berniat menghina ataupun merendahkan kamu, Ra."

"Bohong. Pembohong."

"Saya tidak bohong." Gilang masih mencoba menjelaskan, tapi usaha itu ditepis oleh Rara. Dia sudah terlanjur sakit hati.

"Apa kamu pikir aku bodoh tidak membedakan mana salah paham mana sengaja? Kamu mengejekku, bukan?"

"Tidak. Sungguh bukan begitu maksudku." Gilang yang sudah frustrasi mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Dadanya naik turun, bingung bagaimana harus menjelaskan pada Rara.

"Pembohong. Balum menikah saja kamu pintar berkelit. Apalagi nanti, pasti aku akan kamu bodohi setiap waktu. Aku cacat, aku tidak bisa apa-apa. Kamu bohongi pun aku tidak akan tau. Ayo ngaku.

Kontan Gilang istighfar.

"Rara." Ibu Mira menginterupsi.

"Ma, aku tidak ingin menikah dengannya!" tegas Rara yang buat tiga orang lain di sana terbelalak.

"Rara kamu tenang."

Namun Rara tidak peduli. Emosinya tengah berada di puncak dan ia tidak berniat menurunkan sedikit tekanan itu. Baginya ia adalah beban yang mungkin saja Gilang menerimanya karena ada niat terselubung

"Gilang, tolong jelaskan." Bunda Alia menimpali.

"Begini, Bun. Tadi dia mengajak bersalaman jadi ... jadi ...." Gilang menjeda kata dan itu sudah dimengerti oleh Ibu Mira dan Bunda Alia. Keduanya tersenyum kecil sembari menatap heran Rara yang masih memberi sorot kebencian.

"Kan, sudah jelas itu, Ma. Dia menghina fisikku. Dia sombong, memegang tanganku saja dia jijik," omel Rara lagi, tak habis-habisnya dan itu buat Ibu Mira tersenyum kecil. Ia usap rambut panjang Rara

"Ra, jangan berpikir yang bukan-bukan. Gilang bukan bermaksud menghina."

"Kalau bukan lalu apa?" lanjut Rara. Dia menjawab perkataan Ibu Mira tapi matanya menyalang ke depan, tepat ke arah Gilang. Sorot mata yang sudah seperti laser yang mampu memecah bebatuan. Gilang sedikit merinding dibuatnya.

"Maafkan aku, Ra. Aku memang tidak boleh bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram. Itu dosa."

Mata Rara tak ubahnya bola bekel. Sekarang Gilang secara terang-terangan bilang kalau dirinya itu menyebabkan dosa.

"Wah, kamu keterlaluan, kamu menganggap aku biang dosa, begitu?" cecar Rara. Matanya melotot geram.

"Bu-bukan." Gilang memukul pelan bibirnya. Ia salah menjelaskan hingga Rara salah paham.

"Aku hanya ingin menjaga diri kita. Aku menjaga diriku dan kamu. Kita bukan mahram jadi dilarang bersentuhan."

"Apaan, cuma salaman, 'kan? Kamu terlalu kaku. Bilang saja kamu tidak ingin terlibat denganku. Kamu tidak menyukaiku karena aku lumpuh. Iya, kan?" Rara kembali terkekeh ironi dan entah kenapa terdengar penuh kesedihan di telinga Gilang.

"Ra ...." Bunda Alia mendekat. Ia pegang tangan Rara. "Laki-laki dan perempuan memang diharamkan bersentuhan kalau bukan muhrim. Jadi kamu jangan salah paham. Bersentuhan antar lawan jenis yang bukan mahram itu tidak boleh."

Rara diam mendengar penjelasan lanjutan tentang bersentuhan dengan lawan jenis itu memang diharamkan, termasuk berjabat tangan.

Setelah Rara agak tenang Gilang pun menimpali, ia juga menjelaskan beberapa hadis yang mengatakan larangan bersentuhan dengan orang yang bukan mahram.

Di sini Rara telah paham, tapi terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan. Mulutnya kaku untuk sekadar meminta maaf.

"Kebiasaan nge-gas kamu harus dihilangkan, Ra." Ibu Mira tersenyum saat mengatakan itu.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu ayo kita masuk. Tidak enak. Kita dilihatin anak-anak," timpal Bunda Alia.

Rara cuma terdiam membeku, bahkan pasrah saat kursi rodanya didorong menuju ruang tempat Bunda Alia bekerja mengatur segala sesuatunya tentang panti asuhan. Sesekali ia melihat Gilang. Lelaki itu terlihat sangat tampan dan gagah. Ia sedikit kagum dengan fisik Gilang. Hanya sebatas kagum, ya. Hanya sebatas itu. Ia tidak ingin berharap lebih. Takutnya malah sakit. Kelumpuhan itu buat Rara tidak percaya dengan semua, termasuk Gilang.

Sekarang mereka berempat duduk berembuk di sofa dan saling berhadap-hadapan.

"Bagaimana, Gilang? Apa kamu setuju pernikahannya kita adakan dua bulan lagi?" tanya Ibu Mira, harap-harap cemas.

"Iya, Bu. Tidak mengapa. Saya akan ikuti apa kata ibu sama Bunda Alia. Insyaallah saya siap." Gilang memperlihatkan senyumnya lagi.

Melihat itu bukannya terpesona Rara malah muak. Ia berpikir Gilang hanya bersandiwara. Berkelakuan sok baik agar bisa menikahinya.

"Itu ciri-ciri laki-laki tidak punya pendirian," ejek Rara. Suaranya lirih. Namun meski lirih masih terdengar di telinga Gilang. Beruntungnya Bunda Alia tidak mendengar itu karena sibuk di meja belakang.

"Hanya laki-laki bodoh yang mau menikahi aku. Wah, hidupku dramatis sekali, aku cacat dan akan menikah dengan laki-laki bodoh. Tidak beruntungnya hidupku. Aku pikir hidupnya gelandangan lebih beruntung ketimbang aku," lanjut Rara yang masih terdengar sinis.

"Rara ...." Ibu Mira sampai menyentuh lengan Rara, menegur anaknya itu secara halus. Hanya saja Rara cuek. Ia justru kembali memalingkan wajah. Sejak pertengkaran tadi ia jadi enggan berserobok pandang dengan Gilang. Antara malas, marah dan malu.

"Bu Mira, apa boleh saya mengatakan sesuatu?"

"Apa itu, Nak Gilang?" Bu Mira tanpa sadar menelan ludah. Jantungnya bertalu takut Gilang membatalkan rencana pernikahan ini.

"Mungkin ini terdengar tidak tahu malu, tapi saya hanya ingin bilang, terima kasih kerena telah melahirkan wanita cantik Rara."

Rara yang tadinya menatap luar kontan melotot geram. Tak habis pikir ia bisa-bisanya Gilang merayu tepat di depan orang tua.

"Insyaallah saya siap jadi suaminya," lanjut Gilang.

"Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Nak. kamu berhati besar."

Gilang cuma membalas dengan senyum saja. Lalu menundukkan kepala. Sejujurnya ia ingin melihat wajah Rara lagi dan lagi. Namun, keinginan itu ia telan kuat-kuat lantaran tidak ingin terjebur ke dosa zina mata. Rara walau galak tetap saja sedap di pandang mata. Dan ia tak ingin menodai matanya dengan berlama-lama melihat Rara.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status