Share

Bab 7

Author: Ummu Nadin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-13 13:57:44

Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus.

"Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.

Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.

“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.

Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran.

"Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan dengannya di lorong.

"Eh, Bang Doni, ngagetin aja. Itu barusan ketemu sama orang gila, bikin kesel, Bang," jawabnya sambil lalu.

Doni mengerutkan dahi beberapa saat. “Orang gila? Maksud lu, ada orang gila di luar?”

Tak ada gunanya bertanya, karena Vivian sudah masuk ruang latihan. Doni berlari ke pintu depan. Pastinya, dia harus memeriksa sendiri. Jangan sampai ada orang gila yang membuat onar di luar. Namun, sesampai di sana, halaman sepi. Dia celingak-celinguk sampai sebuah suara mengagetkannya.

"Bang Doni nyari siapa sih?" tanya Kania.

"Nyari orang gila," jawab Doni sekilas. Dia masih celingak-celinguk.

"Lah, ngapain sih Bang Doni nyari orang gila?" Kania ikutan celingak-celinguk. Dalam hati dia curiga, orang gila itu mungkin saja sudah merusak properti milik klub.

"Itu, barusan Vivian datang sambil ngomel-ngomel. Katanya habis ketemu orang gila," jawab Doni tanpa curiga.

"Kania nggak lihat ada orang gila di sini, Bang," balasnya.

Doni akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangan latihan. Vivian pasti punya penjelasan. Kania mengekori Doni tanpa banyak tanya.

Sampai di dalam, mereka melihat Vivian sedang memukul samsak dengan beringas. Mulutnya komat-kamit entah menggumamkan apa. Satu hal yang pasti, gerakannya yang acak dan tidak teratur menunjukkan bahwa Vivian sedang emosional. Keduanya hanya menatap sambil terbengong.

"Vivian kenapa, Bang?" tanya Kania.

Doni hanya mengendikkan bahu. Dia juga bingung, tidak biasanya Vivian tidak terkendali seperti itu. Selama kurang lebih lima belas menit, keduanya menyaksikan aksi Vivian tanpa berusaha mengganggu. Baru setelah gadis itu jauh lebih tenang, Kania berjalan mendekat.

"Elo kenapa, Viv?" tanya Kania.

Vivian hanya menoleh sebentar. Tangannya masih sibuk memukuli samsak. Baru setelah merasa cukup, dia berhenti dengan napas tersengal-sengal.

"Gue kesel hari ini, tahu ga, sih," jawabnya sambil berjalan ke lemari pendingin yang ada di sudut ruangan. Meneguk air mineral dari botol, nyaris setengahnya. Kania dengan setia mengekor di belakang.

"Kesel kenapa sih, Viv?" Gadis berkerudung biru itu bertanya dengan sabar. Tak biasanya Vivian emosi seperti ini. Dia yakin, pasti ada masalah besar yang sedang dihadapi Vivian sekarang.

Vivian melanjutkan meneguk air mineral di botol kecil 600ml itu hingga tandas, kemudian membuang napas gusar.

"Baru kali ini gue ketemu cowok songongnya kebangetan. Dia udah bikin emosi gue naik di ubun-ubun," ujarnya.

“Oh, jadi ada cowok yang bikin elu uring-uringan kek gini?” Kania mendeham.

“Situasinya nggak seperti apa yang elu bayangin, Nia!” semburnya sebal.

“Lah, emang gue bayangin apa? Gue kagak bayangin apa-apa tuh!” Kania berkata sambil tertawa.

“Nyebelin!” Vivian menyenggol bahu sahabatnya setengah jengkel.

"Iya, makanya ceritain, gih! Biar gue nggak salah paham," balasnya.

Vivian masih manyun. Ekor matanya melirik Kania sebal. Namun, napasnya mulai tenang. Kejengkelannya pada Arsenio sedikit terobati ketika menatap Kania. Jika di dunia ini ada orang yang mendapatkan semua kepercayaan Vivian, orang itu adalah Kania. Mereka bersahabat sejak sekolah menengah sampai sekarang. Tak terpisahkan. Disatukan oleh hobi dan kegemaran yang sama, Vivian dan Kania seperti dua sisi mata uang koin. Bagi Vivian, mereka berdua jauh lebih bisa diandalkan dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Doni dan Kania yang selalu menjadi tempat bercerita dan mengeluarkan uneg-uneg saat dia merasa kesal ataupun bahagia.

Akhirnya cerita dari A sampai Z meluncur dari mulut Vivian. Bagaimana dia mendatangi kantor Arsenio untuk menolong papinya untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Hingga pada bagian Arsenio, pria menyebalkan itu bertindak semena-mena padanya.

“Arsenio maksa ngajak ketemu siang ini. Padahal kan kita ada ujian Kalkulus.” Wajah Vivian yang eksotis makin merah padam karena kesal. Kania menahan tawa melihat betapa ekspresifnya Vivian. Doni juga tidak ketinggalan. Dia yang sedari tadi menyimak dengan setia juga ikut terbahak.

"Oh, jadi sekarang sudah punya julukan Kurcaci Kecil dari calon suami, hahaha ...." Kelakar Doni sambil terbahak.

"Udah, deh, Bang Doni nggak usah ikut-ikutan," sungut Vivian sambil memutar bola mata malas.

“Jangan lupa juga, Bang. Vivian juga punya panggilan kesayangan untuk calon suaminya. Pithecanthropus Erectus, Ha-ha-ha….” Dua orang itu kembali terbahak sampai guling-guling. Jarang sekali ada kesempatan seperti ini. Vivian bukan orang yang suka menjalin hubungan spesial dengan teman pria. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya.

“Yaelah, nyesel gue cerita sama kalian berdua. Nia, bisa diem kagak elu!” Vivian membungkam mulut Kania yang masih tertawa nyaring. Keduanya sama-sama terguling di matras. Lantas, setelah beberapa lama mereka terbahak bersama-sama.

“Jadi, nggak ada solusi lain, Viv?” Kania bertanya memastikan. Vivian menggeleng pelan. Setelah itu, mendongak menatap langit-langit gedung.

“Keluarga gue maksa, Key. Lagipula, gue harus lakukan ini. Gue akan terlepas dari kendali keluarga Wibisono setelah gue nikah. Pengorbanan ini worth it, gue rasa.”

“Elu yakin Arsenio setuju dengan tawaran elu?”

“Gue tebak sih, iya. Dia nyuruh gue datang, pastinya dia udah bikin pertimbangan, kan?” Kania manggut-manggut. Jujur, dia ingin memberi nasihat, tapi mungkin Vivian tidak akan mempertimbangkannya sekarang. Jadi, akhirnya dia mengurungkan niat.

“Gue selalu berharap yang terbaik buat elu, Viv.” Vivian tersenyum senang.

Setelah bercerita, perasaannya menjadi lebih baik. Meski Doni dan Kania terkadang bersikap menyebalkan, tapi mereka adalah sahabatnya. Vivian lebih sering menghabiskan waktu di tempat latihan karate bersama dengan Kania dan Doni, daripada di rumah. Dua orang itu membuat Vivian nyaman berteman. Di tempat ini dia bisa menjadi diri sendiri tanpa mengingat keluhan ayah dan ibunya.

“Ayo, kita latihan lagi!” Mereka kembali berlatih. Vivian telah melupakan beban yang sejak kemarin menekan kepalanya.

Paling tidak, sebelum menemui Arsenio nanti siang, dia harus bersenang-senang lebih dahulu di sini. Keputusannya sudah bulat, pernikahannya dengan Arsenio adalah sesuatu yang pasti. Jadi, apa yang harus dilakukannya adalah memegang kendali nasibnya sendiri dengan menjadikan Arsenio sebagai sekutu.

Tak peduli seberapa dalam cinta Arsenio pada Eliana, semua itu pada akhirnya harus diruntuhkan. Vivian yakin, Arsenio pasti masih mempunyai akal sehat.

‘Lihat aja nanti siang, Pithecanthropus Erectus!’

_Tbc_

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 10

    TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 9

    Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 8

    Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 7

    Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 6

    "Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 5

    Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status