Share

Bab 6

Penulis: Ummu Nadin
last update Tanggal publikasi: 2026-10-13 13:56:44

"Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan.

Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.

“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.

“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.

Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.”

Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian.

"Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19 tahun. Mahasiswa dan seorang Karateka dengan prestasi lumayan," gumamnya setelah selesai membaca semua informasi. Rega bahkan melampirkan foto-foto untuk menguatkan semua laporannya. Arsenio selalu puas dengan cara kerja Rega.

"Bukan putri kesayangan, ibunya pilih kasih.” Dahi pria itu berkerut sedikit lebih lama ketika membaca bagian tersebut.

“Bahkan hal begini juga bisa dilihat orang luar. Entah seberapa parah situasinya di dalam rumah? Nggak heran dia memilih tujuan hidupnya sendiri dalam pernikahan ini. Kalau begitu, mari kita lakukan sesuai keinginan elu, Kurcaci Kecil.”

Arsenio melanjutkan membaca beberapa saat lamanya. Setelah berpikir sebentar, Arsenio memutuskan untuk memanggil Rega kembali.

"Hmm, lumayan berkarakter, pantas saja berani menggertak gue," gumamnya lagi. Sebentuk senyuman tercipta dari sudut bibir Arsenio.

Dia ingat bagaimana Vivian bernegosiasi dengannya. Meski masih begitu naif, tapi dia melakukannya dengan percaya diri. Itu yang terpenting. Dia percaya diri mengatakan bahwa akan menjadi pengantin pengganti.

"Rega, masuk!"

"Ya, Presdir." Hanya setengah menit, sosok Rega sudah muncul di depan Arsenio.

"Rega, elu hubungi semua media. Sampaikan bahwa Arsenio Kertanegara mengomentari ada kesalahpahaman berita yang saat ini viral, klarifikasi bahwa yang akan menjadi Nyonya Arsenio Kertanegara bukan Eliana Wibisono, melainkan Vivian Wibisono!”

"Maksudnya, Presdir batal menikah dengan Nona Eliana?"

"Bukan pembatalan, Rega. Ini kebenarannya," tegasnya.

Rega terbengong. Dia tidak mengerti jalan pikiran sang Majikan.

"Umumkan juga, kalau kami berdua akan segera melangsungkan—”

"Presdir, ini---"

"Katakan juga bahwa pernikahan kami akan dilaksanakan bulan depan.” Rega tampak syok mendengar keputusan Arsenio.

"Anda membiarkan Nona Eliana lepas dari tangan anda, Presdir?" cicitnya. Siapa Eliana, semua orang di pelosok negeri wakanda mengetahui perhatian Arsenio Kertanegara padanya. Bukankah selama ini majikannya ini mengejar Eliana? Kenapa malah menikahi adiknya?

"Lakukan perintahku, Rega!" Arsenio menggeram melihat ekspresi Rega yang melongo. Selama ini Rega yang selalu mengatur hadiah-hadiah untuk Eliana. Barang-barang mewah yang tidak pernah diberikan pada wanita manapun sebelumnya. Seharusnya, majikannya itu menaruh hati pada Eliana, kan?

“B-baik, Presdir.” Tak berani membantah, atau bertanya kenapa, Arsenio memang selalu membuat kejutan. Kendati tidak memahami jalan pikiran Arsenio, sebagai bawahan dia hanya wajib mengikuti perintah. Dia hanya asisten pribadi yang tugasnya menjalankan perintah tanpa tapi, tanpa nanti.

Dalam waktu dekat, dia pasti akan segera memahami jalan pikiran majikannya. Apa tujuan dari tugas yang harus dilaksanakan malam ini.

Selepas kepergian Rega, Arsenio menyambar gawainya. Setelah membaca hasil penyelidikan Rega, pikirannya lebih terbuka. Dia akhirnya memahami alasan kenapa Vivian menawarkan kontrak pernikahan dengannya. Gadis kecil itu sedang mencari jalan keluar untuk hidupnya. Melihatnya yang polos dan apa adanya, hatinya sedikit tersentuh. Lalu, setelah menghela napas panjang, pria tampan itu menekan aplikasi hijau bergambar telepon, mencari kontak seseorang.

Kurcaci Kecil

Lalu, dia mengetik kalimat di sana.

[Datang ke kantorku besok siang!]

Langsung bercentang biru. Kurcaci Kecil sedang mengetik….

Ting

Pesan dari Kurcaci Kecil.

[Siapa?]

Arsenio mendengus kasar. Perlukah menjelaskan siapa dirinya. Harusnya gadis ingusan itu sudah tahu.

[Pahlawan penolong perusahaan elu.]

Sudut bibirnya melengkung membaca kalimat yang diketik di room chat itu.

Kurcaci Kecil sedang mengetik…

Ting

[Besok siang gue ada ujian.]

Arsenio menatap ponselnya geram. Sejak kapan seseorang berhak tawar menawar dengannya?

Kembali mengetik…

[Itu urusan elu.]

[Gue nggak punya banyak waktu, Kurcaci Kecil]

[Datang atau lupain semuanya!]

Arsenio jengkel. Bukankah, dia hanya mengabulkan permintaannya. Sekarang, gadis ingusan itu malah makin ngadi-ngadi.

Ting

[Hei Pithecanthropus Erectus, bisa nggak elu bicara yang nggak nyebelin gitu?]

Mata Arsenio sontak melotot membaca balasan chat tersebut. Ada penyesalan berkilat, tadi dia sempat menilai Vivian sebagai gadis polos yang harus dikasihani, tapi sekarang lihatlah. Si gadis polos itu ternyata berani mengatainya sebagai manusia purba. Arsenio memijat pelipisnya. Selama ini tidak ada seorangpun yang berani tidak patuh padanya. Sejak kecil dia hidup dengan previlege, main perintah ini itu tak ada yang berani berkomentar buruk. Ini sungguh di luar nalar.

"Bocah ingusan ini harus diberi pelajaran," geram Arsenio. Dia sampai berkali-kali ingin membanting gawainya.

Setelah beberapa puluh menit, Arsenio memutuskan untuk bicara. Dia menekan nomor telepon Kurcaci Kecil.

"Hallo," terdengar suara Vivian di seberang.

"Besok siang gue tunggu di kantor!" jawab Arsenio menahan geram.

"Gue ga bisa, besok gue ujian kalkulus, itu dosen killer bang---" jawab Vivian terpotong.

"Dateng sendiri atau bodyguard gue yang jemput elu di kampus!" tekan Arsenio.

"Ebusyet, nggak bisa gitu dong. Elu nentuin timing seenak jidat." Vivian protes.

"Terserah gue!" jawab Arsenio.

Sambil mendengus kasar, Arsenio melempar gawai di meja kerja. Jengkel, itu sudah jelas. Siapa yang tidak marah dipanggil Pithecanthropus Erectus?

“Sialan.”

Namun di detik berikutnya, runtukan itu berubah jadi seringaian. Arsenio cukup puas bisa membuat Vivian harus meninggalkan ujian kalkulus besok siang.

"Itu pelajaran pertama untuk elo, Kurcaci Kecil. Menuruti ucapan gue," senyuman Arsenio terbit.

Dia membayangkan pasti gadis itu sekarang sedang menggerutu atau menyumpahinya dengan sumpah serapah untuknya. Dia membayangkan Vivian yang lugu tapi sok licik itu.

“Ha-ha-ha, sekarang pasti telinga dan hidung elu sedang keluar asap. Lalu, ada dua taring muncul untuk gigit gue. Ha-ha-ha.” Arsenio meregangkan otot lehernya yang tegang sejak tadi siang. Ada rasa senang membuncah karena berhasil membuat Vivian jengkel. Akhirnya masih ada hal menyenangkan juga di keluarga Wibisono. Ketika teringat kembali dengan Hendrawan dan Eliana, senyumnya perlahan memudar.

“Masalah kecil seperti ini, tidak akan bisa menghancurkan Arsenio Kertanegara. Kalian yang harus menanggung harga semuanya, bila perlu. Lihat aja besok!”

_Tbc_

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 10

    TingPithecanthropus Erectus mengirim pesan.[Dandan yang cantik!]Vivian mengetik sebagai balasan.[Dih, ribet.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus sedang mengetik…Ting[Buat mamiku terkesan!]Vivian mendengus membaca balasan dari Arsenio. “Emang gue pikirin. Mau terkesan apa kagak, toh pernikahan ini hanya pura-pura.”[Ogah.] Centang biru. Pithecanthropus Erectus mengetik…Ting[Kalo gue kecewa sama penampilan elu. Gue pastikan elo dapat hukuman setimpal.]"Eleh, bisanya ngancam," sungut Vivian kesal. Bibirnya cemberut.Setelah itu dia mengabaikan ponselnya. Terlalu malas harus berdebat dengan spesies manusia purba zaman neozoikum itu.Tanpa disuruh oleh Arsenio-pun, pastinya Vivian sudah didandani maximal. Tidak mungkin dia menemui calon mertua dengan penampilan tomboy-nya, kan. Saking seriusnya menyiapkan penampilan Vivian supaya segala sesuatunya berjalan sesuai keinginan, Lusi sampai harus mengundang MUA secara khusus untuk mendandaninya. Vivian adalah penyelamat mereka. S

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 9

    Berita tentang pernikahan antara Arsenio Kertanegara dengan Vivian Wibisono telah menjadi pembicaraan dimana-mana. Bukan hanya di kampus tempat Vivian kuliah, bahkan di lingkungan kerja Eliana. Biasanya profesi mereka yang selalu dekat menjadi sasaran gosip infotainment. Sialnya, kali ini Eliana bukan lagi bintang utama, melainkan Vivian. Sosok yang sebelumnya tidak pernah terdengar namanya."Hei, bukannya gosip sebelumnya bilang kalau Arsenio akan menikah dengan elu, El?” “Eh, iya bener. Jadi, wartawan salah ngutip nama apa gimana?”“Gue kira hadiah barang-barang mewah itu akan berakhir dengan pernikahan. Ternyata hanya pendekatan dan perhatian dari seorang calon adik ipar.”Salah satu yang mendongkrak popularitas Eliana adalah keterkaitannya dengan Arsenio. Media selalu menganggap adanya hubungan spesial antara dirinya dengan Presdir muda itu, hingga nama Eliana menjadi makin dikenal. Berita yang beredar belakangan ini adalah sebuah anti klimaks yang mengubah pandangan semua orang.

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 8

    Pagi-pagi, Vivian sudah sampai di parkiran fakultas. Kuliah pagi. Gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus yang sudah ramai dengan mahasiswa. Seperti biasa, gadis ini melangkah dengan gagah berani menuju kelasnya. Suasana kampus agak sedikit ganjil. Dia bisa mendengar kasak-kusuk dari gerombolan mahasiswa yang dilewatinya. Mereka sedang bergosip, itu bukan hal istimewa. Yang yang membuatnya curiga adalah tatapan mata yang dihujamkan padanya, diantara kasak-kusuk tersebut.Sikap mereka yang ganjil itu mengundang rasa penasaran Vivian. ‘Hei, apa ada yang aneh dengan penampilan gue?’Langkah demi langkah terus dilaluinya, meski dengan rasa tidak nyaman.“Ish, natapnya gitu banget. Apa jangan-jangan, mereka sudah tahu kalau gue adik dari Eliana Wibisono?” tebaknya. Vivian yakin dengan tebakannya. Mereka semua pasti sedang membandingkan dirinya dengan Eliana yang putih, tinggi, cantik paripurna. Diam-diam, Vivian mendengus."Emang kalau gue sama Eliana beda, kenapa?” keluhnya. Vivian l

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 7

    Vivian berkali-kali memukul stir mobilnya dengan geram. Suasana hatinya sangat buruk sejak semalam. Arsenio telah berhasil melemparkan granat yang membakar habis seluruh kesabaran dalam dirinya. Saat ini, dia sedang dalam perjalanan menuju ke klub karate, tempat dia menghabiskan waktu selain dari kampus."Dasar cowok sok kecakepan, ga sadar diri. Seenaknya nentuin hari untuk ketemuan," gerutunya di dalam mobilnya.Hari ini, Vivian butuh pelampiasan. Satu-satunya tempat yang memenuhi syarat untuk menstabilkan emosinya adalah tempat latihan. Dia ingin segera mendapatkan samsak untuk dipukul habis-habisan supaya hatinya lega.“Liat aja ntar siang, elu bakal gue bikin babak belur,” sungutnya. Kulit wajahnya yang eksotis terlihat lebih gelap karena amarah.Begitu sampai, Vivian memarkirkan mobilnya serampangan. Hari masih pagi, tidak banyak yang datang sepagi ini biasanya. Hanya ada kendaraan Bang Doni dan Kania di parkiran."Kok bete gitu kenapa, Vi?" tanya Doni yang kebetulan berpapasan

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 6

    "Semua informasi tentang Nona Vivian Wibisono ada di sini, Presdir.” Rega menyerahkan berkas hasil penyelidikannya. Arsenio membaca cepat beberapa hal yang menurutnya dibutuhkan. Arsenio meregangkan jemarinya. Dengan posisi dua tangan membuat segitiga di depan dada, memindai detail wajah Rega yang berekspresi siap menerima tugas baru.“Kamu tidak melewatkan sedikitpun, bahkan ketika seekor semut menggigit gadis ingusan itu kan?” Arsenio menekankan hal ini, menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Kendati dia sudah hafal dengan hasil kerja Rega selama ini. Tak ada salahnya memberi peringatan.“Semua informasi tidak ada yang terlewat, Presdir.” Rega percaya diri.Di detik berikutnya, Arsenio sudah membuka tumpukan berkas di tangannya, “good job, Rega.” Rega tersenyum senang melihat wajah puas majikannya. Gegas, dia keluar ruangan. Tak ingin mengganggu Arsenio yang mulai sibuk membaca semua informasi yang dia inginkan tentang Vivian."Ah, benar saja dugaanku. Usianya masih bocil, 19

  • Menikahi Milyader Lumpuh    Bab 5

    Arsenio melemparkan pandangan ke luar jendela. Bahunya lunglai di sandaran kursi roda. Kendati tampak dingin tak tersentuh, sejujurnya kedatangan Vivian itu cukup memberi pukulan keras untuknya. Keluarga Wibisono jelas sedang mempermainkan dirinya. Sebelumnya, Hendrawan datang memohon bantuannya. Sebagai kompensasi, pria tua itu menjanjikan pernikahan dengan Eliana. Tapi apa? Sekarang, mereka akan mengubah pengantin wanita sesuka hati. Entah darimana keluarga Wibisono mendapatkan keberanian itu.Jemari pemuda yang duduk di kursi roda itu mengepal. Jejak amarah tercetak jelas di wajahnya. Pertama, Hendrawan Wibisono sengaja mempermainkan perasaannya. Mereka jelas tahu ketertarikan Arsenio pada Eliana. Lalu, dengan modal kepercayaan diri itu, menawarkan pernikahan, tapi baru selang sehari mereka malah berniat mengganti pengantin. Ini adalah penghinaan yang belum pernah dirasakannya.Dalam hidupnya, kecuali kecelakaan yang telah menjadikannya lumpuh, Arsenio adalah pria yang cemerlang.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status