Share

23. Tetaplah Tampan

Author: Maulana Hani
last update Last Updated: 2025-07-19 05:10:53

"Barnaz mengatakan ..."

"Bukankah sudah ku bilang aku benci pesta? Apa kau tak mendengarnya?" Ia membentakku begitu saja, tapi aku sudah terbiasa untuk menghadapi segala tingkah lelaki ini.

Lagipula ini hanya seorang Naqib yang membentakku, dulu aku bahkan harus bertahan dengan bentakkan serta teriakan amarah Ayah juga Ibuku, yang selalu saja marah padaku hanya karena hal sepele.

Aku menyunggingkan senyum, meletakkan piring ke meja nakas, lalu mendekat pada lelaki yang masih menghadap ke arah jendela besar, atau sebut saja pintu balkon.

"Aku tahu, tapi kau harus tetap menghormati si pemilik acara 'kan? Lagipula Paman Qasim yang memintamu ikut, memangnya kau tak apa menolak permintaannya?" Aku mencoba membujuknya, bahkan menyebut nama Paman Qasim, berharap lelaki ini sedikit luluh, dan mau ikut ke pesta.

Lelaki ini hanya diam, dan aku kali ini berjongkok di sebelahnya.

"Aku juga sama sepertimu, tak suka pesta. Aku bahkan tak pernah senang dengan keramaian, tapi jika diundang aku tetap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   49. Pertanyaan Membuatmu Hidup

    Kami berakhir dengan keheningan, karena jika tidak begitu, mungkin perdebatan akan terus berlanjut, dan kami tak akan jadi pergi."Kita akan pergi ke mana?" Ia membuka pembicaraan lebih dulu, tak apa walau mungkin hanya basa-basi semata saja.Aku mengulum senyum. "Kita akan jalan-jalan di sekitar rumah, lalu aku akan mengajakmu pergi ke beberapa tempat," jelasku mencoba berbicara santai, seolah kami tak pernah berdebat sebelumnya.Lelaki ini langsung mengangguk, tak menyahuti apa-apa lagi.Segera setelahnya kami keluar dari kamar, menaiki lift, yang kacanya transparan, sehingga kami bisa melihat sekitar, sebelum akhirnya tiba di lantai pertama rumah.Aku akan membawanya ke taman depan lebih dulu, melihat-lihat bunga tulip yang ditanam oleh Paman Qasim, dan katanya bunga-bunga itu adalah bunga kegemaran Bibi Zulaina. Kadang aku merasa aneh tiap kali melihat Bibi Zulaina, terutama bagaimana ia bersikap, maksudku kepribadiannya seperti sangat bersebrangan dengan Paman Qasim, terutama sik

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   48. Takkan Pernah Bisa

    Aku sungguh tak mengerti mengapa Naqib sampai sebegitunya menanyakan apa, yang ku lakukan di gudang. Apa memang benar-benar sesuatu pernah terjadi di sana? Dan sesuatu itu adalah hal yang mengerikan, benarkah?Kami masih bertatapan, dan ku putuskan untuk menjawab dengan segera, atau kalau tidak lelaki ini pasti akan kesal padaku."Pintunya tak terkunci. Jadi, aku masuk saja ke sana, hanya penasaran, dan aku tak dengan sengaja ke sana," sahutku tenang.Aku memang tak sengaja ke sana, lagipula niat awalku saat itu adalah kembali ke kamar, tetapi pintu gudang itu menarik perhatianku, membuatku jadi memiliki keberanian untuk masuk ke sana. Dan, aku sejujurnya ingin menceritakan tentang apa yang ku lihat di sana, tetapi ku urungkan niatku, takut kalau ia mendengarnya, kesehatannya akan memburuk, serta ia akan mengalami kejang, dan aku tak akan membiarkan hal itu terjadi lagi padanya.Tak ada reaksi apapun dari Naqib, lelaki ini hanya diam saja, tetapi setelahnya entah apa yang terjadi pada

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   47. Kepercayaan[POV3]

    Qasim adalah langit yang memayunginya.Qasim adalah awan yang mengiringi langkahnya.Qasim adalah matahari yang memberi cahayanya untuk hidupnya yang gelap. Qasim tanpa diminta datang untuknya, menyayanginya, mengobati luka, dan memberi cinta dengan sebegitu banyaknya."Assalamualaikum!" Zulaina tak sanggup untuk mendongakkan kepala, ia hanya menimpali salam itu dalam hati. Suara itu jelas milik Qasim, lelaki yang apabila ia minta untuk mengorbankan nyawanya untuknya, mungkin akan melakukannya, dan menyadari hal itu membuat Zulaina merasa semakin buruk untuk memiliki Qasim dalam hidupnya. Merasa tak pantas, tetapi ia tak sanggup untuk hidup tanpa lelaki itu, tanpa mataharinya yang memberi segala-gala untuknya."Zulaina!" Suara itu selalu menjadi pengiring tidurnya sejak lama, menenangkannya apabila mimpi buruk datang, suara yang pemiliknya begitu ia cintai itu.Tanpa mengatakan apa-apa, Zulaina langsung berbalik dan memeluk erat lelaki, yang tak di sadarinya telah duduk di sampingnya

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   46. Matahari Untuknya[POV3]

    Plakk...Seorang lelaki ditampar begitu saja, wajahnya sampai terpaling ke arah kanan, tetapi biar begitu ia justru menyeringai, lalu kembali menatap ke arah perempuan paruh baya, yang siang ini mengenakan gaun sederhana berwarna kuning gading sepanjang betis. Riasan di wajahnya, terutama di bibir paling mencolok karena begitu kontras dengan kulit putihnya, rambut panjang cokelat gelapnya tergerai sepanjang punggung dengan rapi."Jangan bersikap kurang ajar pada putriku, Jon!" Perempuan paruh baya itu menegaskan, tangannya terkepal kuat, telunjuknya mengarah pada lelaki di hadapannya, yang ternyata adalah Jon."Kurang ajar? Ayolah, aku hanya menyapa saja, apa itu salah, Ibu Mertua?" Jon membalas dengan ekspresi santai, yang sungguh menyebalkan bagi si perempuan paruh baya. Dan kembali sebuah tamparan melayang dengan mudahnya pada wajah Jon.Lelaki itu hanya diam, tetapi segera air mukanya berubah keruh, tak lagi tersisa senyum atau sikap santai secuil pun di sana."Sekali lagi kau men

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   45. Menjadi Majnun[POV3]

    Sementara itu Barnaz tengah berada di sebuah kafe, ia duduk seorang diri, meski begitu gelagatnya seperti tengah menunggu seseorang. Lelaki berusia 23 tahun itu berulang kali menatap ke arah pintu, tiap kali suara berderit yang muncul akibat pintu, yang mungkin sudah tua itu dibuka, tetapi berulang kali pula ia menghela napas, karena yang muncul bukanlah seseorang yang ia tunggu sejak tadi. Lelaki itu segera meminum kopi, yang dipesannya saat baru datang, dan kini tentu saja sudah dingin.Sampai entah sudah berapa puluh kali pintu kafe terbuka, akhirnya ketika kepala Barnaz mendongak ia tak lagi menghela napas, bibir tipisnya melengkung ke atas, ia langsung bangkit, menyambut seorang perempuan berambut panjang bergelombang sepunggung, yang sejak tadi telah ia tunggu."Hai!" Perempuan berwajah khas Turki itu menyapa Barnaz malu-malu, membuat lengkungan di bibir Barnaz semakin melebar."Hai! Silakan duduk," Barnaz bukan hanya mempersilakan perempuan itu, tetapi ia juga membantu menarikk

  • Menikahi Tuan Muda Buruk Rupa   44. Bersama-sama Hancur

    Dua hari berlalu, setelah insiden penembakkan di laut hari itu, Paman Qasim meminta Laiba dan Naqib untuk sementara waktu tetap tinggal di rumah, dan tak pergi ke mana-mana. Mereka pagi ini ikut sarapan di bawah bersama anggota keluarga lainnya. Suasananya tak begitu menyenangkan. Barnaz dan Aleisha yang tampak memakan nasi goreng mereka dengan malas, karena mereka ingin segera pergi dari rumah, ke tempat kegemaran masing-masing, Zulaina yang merasa jengkel dalam hati berulang kali mengutuk Naqib, dan Syadiah yang disebut Nyonya Besar Kamandhana, yang juga merupakan Nenek dari Naqib, Barnaz, dan Aleisha itu juga memasang wajah tak senang. Hanya Qasim yang tampak cerah di antara mendung dan rengutan orang-orang pagi ini, bibirnya melengkung ke atas sejak tadi, ia begitu menikmati sarapan pagi ini. Akhirnya sarapan selesai setelah sekitar 30 menit, mereka semua harus bercengkrama satu sama lain di meja makan. Meja makan itu segera kosong, dan beberapa pekerja mulai berdatangan, terma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status