MasukDiana mendapatkan laporan kalau putrinya akan menghadapi persidangan beberapa hari lagi.Dia juga sudah tahu putrinya ditahan di penjara mana. Penjara khusus wanita, penjara yang tidak sama dengan suaminya.Meski dalam keadaan sakit, Diana tetap pergi menjenguk putrinya apalagi besok adalah hari persidangan. Dia harus mencari cara untuk membebaskan putrinya Alicia dibawa keluar dari penjara, diantar ke ruang tunggu. Dan begitu melihat ibunya, Alicia langsung memeluknya dan menangis. Selama di dalam penjara, dia disiksa oleh para tahanan yang telah menghuni tempat itu begitu lama. Mereka semua menakutkan, dia bagaikan semut di antara serangga yang ingin mencabik tubuhnya.“Apa yang terjadi denganmu, Alicia?” ibunya tampak khawatir, “Kenapa tubuhmu dipenuhi luka seperti ini?”“Mereka menyiksa aku, Mom. Setiap hari mereka memukulku, menjadikan aku seperti mainan mereka. Mom, Aku tidak mau berada di tempat ini terlalu lama.”“Jahat. Sama-sama tahanan, kenapa mereka menyiksamu seperti ini
Kasus lama yang sudah ditutup itu kini kembali diusut. Pengakuan Alicia juga bukti-bukti yang masih ada telah diserahkan pada pihak berwajib. Axel yang membawanya secara langsung, memberikan semua bukti itu dan meminta pihak berwajib mengusutnya tuntas. Dia juga menyerahkan Alicia, tersangka utama dari kejahatan itu. Alicia tidak berdaya, kali ini dia tidak bisa mencari kambing hitam lagi untuk menutupi dosanya. Dia sendirian, ibunya pun tidak bisa membelanya lagi. Alicia memandangi Axel, setelah pria itu melengkapi laporan yang dia serahkan. “Apakah harus berakhir seperti ini, Axel? Mengingat perasaan yang ada di hatimu padaku, tidak bisakah kau lepaskan aku?” “Ini bukan diantara kita, Alicia. Kau tahu betul itu. Masalah ini diantara kau dan Elise. Aku berada di sini untuk menegakkan keadilan untuknya, untuk membersihkan namanya dari ketidakadilan yang kau berikan padanya.” “Ketidakadilan,” Alicia tertawa pelan, “Demi wanita itu, kau rela menghancurkan pernikahan kita. Buk
Alicia telah dibawa pergi, meninggalkan ibunya yang masih menangis. Kini dia ditinggal sendirian, Putri kesayangannya entah dibawa ke mana sedangkan Elise begitu membencinya.Dengan perlahan, Diana kembali merangkak mendekati Elise. Dia harus memohon pada putrinya itu untuk melepaskan Alicia.Elise hanya memandangi, membiarkan ibunya memegangi kakinya. Selama ini, itu yang ingin dia lihat. Melihat mereka hancur, melihat mereka tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa mereka banggakan dan sombongkan.“Elise, Mommy mohon padamu. Tolong lepaskan kakakmu. Kau tidak boleh mengirimnya ke penjara dan rumah sakit jiwa, dia bisa hancur.”“Dia tidak boleh, lalu kenapa aku boleh?” Elise menarik kakinya, “Dari dulu sampai sekarang, selalu saja Alicia yang kau pentingkan sedangkan aku tidak penting sama sekali. Kau melakukan apapun untuknya. Lihat dirimu sekarang, kau rela berlutut dan merangkak seperti itu hanya untuk dirinya saja.”“Bukan seperti itu, Elise. Kau salah paham. Mommy memohon padamu ka
Mulut Alicia dan ibunya disumpal sehingga mereka tidak bisa mengeluarkan sedikit suara pun.Tali cambuk terus menghantam tubuh mereka, meninggalkan rasa sakit juga perih yang tak tertahankan.Punggung Alicia dipenuhi luka. Bajunya pun robek akibat pukulan itu. Dia ingin meminta Elise untuk berhenti, tidak memukulnya lagi tapi satu kata pun sulit dia ucapkan. Dan Elisa pun duduk santai menjadi menonton apa siksaan yang menyakitkan itu.Taman itu dijaga dengan begitu ketat sehingga tidak ada satupun yang bisa melihat apa yang terjadi pada mereka. Hanya pria itu saja, yang bisa melakukan hal itu. Meski dia iri dengan Elise, tapi dia juga bersyukur bisa bercerai karena dia takut dengan pria kejam itu.“Bagaimana? Apa kau puas?” Elise tersenyum tipis, “Puas, tentu saja aku sangat puas.”Dari tadi, dia tidak memalingkan matanya sedikitpun. Seperti itulah yang dia rasakan. Dia berteriak memohon ampun dan meminta mereka untuk berhenti tapi kedua orang tuanya yang lebih gila daripada dirinya
Tali ikat pinggang yang terbuat dari kulit itu di cengkram dengan begitu kuat sampai berbunyi. Tatapannya membara, Alicia benar-benar berani. Sepertinya hukuman yang dia berikan kemarin tidak cukup.Wajah Alicia semakin pucat, “A-Axel, kenapa kau berada di sini?”“Kalau aku tidak berada di sini, maka aku tidak akan melihat apa yang ingin kau lakukan pada istriku.”Ikat pinggang itu terlepas dari tangan, “Tidak. Kau salah paham. Aku tidak akan memukulnya.”“Kau pikir aku buta?!” Axel melempar ikat pinggang itu ke arahnya.Alicia tidak berani bersuara saat kepala ikat pinggang yang terbuat dari besi itu menghantam dahinya. Dia menunduk, menahan rasa sakitnya.Axel melewatinya, menghampiri Elise, “Apa kau baik-baik saja?"Axel memegangi tangannya, memeriksanya seolah ada luka disana. Dan dia kembali bertanya, “Apa ada yang terluka?”“Axel,” Elise pura-pura lemah, “Untung saja kau datang. Kalau tidak mereka akan membunuhku dengan benda itu.”“Jangan asal bicara, siapa yang mau membunuhmu?
Mereka sudah sampai di tempat yang sepi. Taman yang berada di dekat restoran itu. Karena jam makan siang, tidak ada satupun orang berada di sana.Akhirnya kesempatan itu datang, Alicia dan ibunya tidak menyia-nyiakan kesempatan.Mereka langsung menekan Elise, membuatnya terpojok, Alicia tidak memberinya banyak ruang gerak.Elise tersenyum tipis dan bersandar di pohon besar, sedangkan ibu dan kakaknya berdiri di hadapannya. Mereka tidak akan membiarkan Elise lari begitu saja.“Jadi, benar-benar ingin main keroyok?”“Tidak perlu pura-pura tenang, Elise. Setelah merebut semua yang aku miliki, kau melupakan kami sebagai keluargamu. Kau benar-benar kurang ajar dan tak tahu diri.”“Keluargaku?” Elise berdiri tegak. Matanya bergerak pelan, memandangi ibu dan kakaknya dari atas sampai ke bawah. Lalu dia kembali bersandar sambil mengangkat bahunya, “Sudah lama aku tidak memiliki keluarga, jangan mengaku-ngaku!”“Elise, Kami memang bersalah padamu,” ucap ibunya. Suaranya terdengar lembut, tidak
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Surat perjanjian sudah berada di atas meja keesokan paginya. Elise duduk dengan tegak, tatapan matanya tak lepas dari saudara kembarnya.Jadi, mereka membawanya kembali agar dia menggantikan kakaknya menikah dengan laki-laki bernama Axel Smith?Lagi, dia harus menggantikan kakaknya itu meski kali i
Mobil yang dibawa oleh ayahnya melesat dengan cepat. Elis duduk di belakang, tertawa pelan dan menggumamkan sesuatu. Melihat itu membuat Diana sedikit cemas. Dia takut mereka salah mengambil keputusan lalu membuat kekacauan. “Edward,” dia berpaling ke arah suaminya, “Apakah keputusan kita sudah b
Lorong panjang itu dipenuhi suara-suara samar. Bisikan, tawa, dan jeritan yang bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kegilaan yang tak pernah benar-benar berhenti.Para pasien pria dan wanita berlalu lalang, tertawa dan berbicara sendiri. Dan beberapa wanita terlihat menangis.Aroma obat-obat







