LOGINDi dalam kamar yang gelap, napas memburu dan detak jantung saling bersahutan. Tangan Axel merayap masuk ke balik pakaian istrinya, Elis—atau setidaknya, wanita yang ia kira adalah Alicia. Bibir mereka bertaut tanpa kata, hanya gairah yang berbicara. Namun… ada yang berbeda. “Baby, malam ini kau sangat berbeda,” bisik Axel, curiga namun tak mampu menahan hasratnya. Senyum dingin terukir di balik kegelapan. Karena wanita itu bukan Alicia. Dia adalah Elis—Adik kembar yang dibuang, dibenci, dan dikorbankan. Demi menyelamatkan Alicia dari jerat hukum, Elise dijebloskan ke penjara. Tiga tahun penuh siksaan merusak tubuh dan jiwanya, hingga kewarasannya nyaris hilang dan berakhir di rumah sakit jiwa. Namun saat ia akhirnya dibebaskan, takdir kejam kembali menertawakannya. Ia dipaksa menggantikan kakaknya… menikah dengan Axel Smith, pria berbahaya yang hanya mencintai Alicia. Dijanjikan kebebasan dan uang, Elise menerima peran itu tanpa ragu. Tapi mereka tidak pernah tahu satu hal. Elise tidak datang untuk menggantikan. Dia datang untuk merebut. Merebut cinta Axel. Merebut kehidupan Alicia dan menghancurkan keluarga yang telah membuang dan menghancurkannya. Namun, di hadapan Axel Smith—pria dingin yang penuh kecurigaan dan hanya mencintai satu wanita— Apakah Elise mampu menipu… dan membuatnya jatuh cinta? Atau justru ia yang akan kembali terjerat dalam permainan berbahaya yang tak bisa ia kendalikan dan kembali berakhir di rumah sakit jiwa?
View MoreLorong panjang itu dipenuhi suara-suara samar. Bisikan, tawa, dan jeritan yang bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kegilaan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Para pasien pria dan wanita berlalu lalang, tertawa dan berbicara sendiri. Dan beberapa wanita terlihat menangis. Aroma obat-obatan menusuk tajam di udara. Dan di sebuah ruangan yang berlapis kaca, seorang wanita duduk di sudut. Rambutnya terurai tak rapi, sebagian menutupi wajahnya yang pucat. Gaun putih rumah sakit menggantung longgar di tubuhnya yang kurus. Kedua tangannya memeluk lutut, bergoyang pelan ke depan dan belakang. Bibirnya bergerak. Membicarakan sesuatu. Namun, tidak ada siapa pun berada di dekatnya. “Tidak, bukan aku!” Gumamnya lirih, lalu terkekeh pelan. “Kau yang melakukannya… kau yang jahat. Tapi kenapa aku yang dihukum?” Tawanya pecah. Lalu tawa itu tiba-tiba menjadi tangisan. “Kau yang jahat, bukan aku. Bukan aku!” teriaknya, rambutnya di tarik. Kepalanya di benturkan berkali-kali. Wanita itu, Elise Parker, putri kedua Diana dan Edward Parker. Dia pasien rumah sakit jiwa itu. Terkadang Elise diam seperti mayat hidup. Terkadang dia tertawa seperti kehilangan akal, dan terkadang berteriak seolah sesuatu mengejarnya. Sesungguhnya dia tidak gila, tapi dia dipaksa menjadi gila. Demi menyelamatkan kakak kembarnya, Alicia Parker dari jerat hukum, Elise di korbankan oleh kedua orang tuanya. Dia dikirim ke penjara. Selama 3 tahun, dia mendapatkan siksaan yang merusak mental, tubuh dan jiwanya. Dia dilempar ke rumah sakit jiwa, menjalani perawatan yang membuat mentalnya semakin terganggu. Elise tertawa pelan. Tubuhnya pun ikut bergoyang. Dan dia kembali mengucapkan perkataan yang sama. Langkah kaki terdengar mendekat, pintu ruangannya terbuka. Dua sosok muncul di balik pintu kaca. Orang tuanya. Bersama seorang dokter berdiri di samping, berbicara dengan suara rendah. Pertama kali setelah dia dilempar ke rumah sakit itu, ini kali pertama mereka datang. Tentunya dengan sebuah tujuan. Diana memandangi putrinya sendiri tanpa memiliki sedikitpun belas kasihan, “Katakan, bagaimana dengan keadaannya?” “Keadaannya… belum sepenuhnya stabil,” ujar dokter itu hati-hati. “Dia masih menunjukkan gejala halusinasi dan disosiasi. Jika dipicu, dia bisa kembali agresif… atau justru melukai dirinya sendiri.” “Cih,” bukannya simpati, dia justru kesal, “Bukankah waktu itu kau bilang dia sudah lebih baik?” Dokter itu terdiam sejenak sebelum menjawab, “Dia hanya sedikit lebih tenang, berbeda dengan sembuh.” Tatapan ayahnya mengeras, “Kalau begitu bagaimana kami membawanya pulang?” “Tuan, keadaannya belum membaik, sebaiknya tidak membawanya sekarang.” “Tidak bisa!” Diana melangkah mendekat, “Kami harus membawanya. Segera persiapkan semuanya.” “Tapi, Nyonya?” “Jangan membantah, kamu tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi!” Dokter itu ingin menolak, tapi akhirnya hanya bisa menghela napas. “Kalau begitu, kami akan memberikan obat penenang dan antipsikotik. Pastikan dia meminumnya secara rutin. Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama.” “Baik, hanya perlu minum tepat waktu, kan?” “Ya, kalau minum dengan rutin maka keadaannya akan semakin membaik.” “Kalau begitu siapkan, berikan obatnya lebih banyak untuk beberapa bulan ke depan.” “Baiklah, akan segera saya siapkan," dokter itu berpamitan pergi. Elise masih tertawa kecil saat kedua orang tuanya mendekat. Diana dan suaminya menggeleng. Sungguh Putri yang tidak berguna. Tapi mereka harus mengorbankannya lagi, demi Alicia. “Elise.” panggilan itu memotong tawanya. Perlahan, Elise mengangkat wajahnya. Matanya kosong. Namun di dalamnya, ada sesuatu yang bergerak. Kedua sosok yang berdiri di hadapannya saat ini, tidak asing. Mereka, bukankah mereka yang telah melemparnya ke dalam penjara? “Kau harus menyelamatkan adikmu!” teriakan itu terngiang, dan kejadian itu samar di ingatan. Beberapa tahun yang lalu, Alicia pulang di tengah badai dalam keadaan ketakutan. Dia bersembunyi, meringkuk di samping piano dan terlihat kacau. Ayah dan ibu mereka begitu menyayangi Alicia dibandingkan dirinya. Bagi mereka, dia hanyalah anak yang tidak sepantasnya ada. Dan dia dianggap sebagai pembawa kesialan bagi keluarga itu. Ibunya benci dengannya karena saat hendak melahirkannya, ibunya hampir mati. Kebencian itu sudah dia dapatkan dari kecil. Kedua orang tuanya lebih mempedulikan Alicia, dibandingkan dirinya walaupun dia sudah berusaha mati-matian. Malam itu, dalam keadaan kacau, Alicia mengatakan kalau dia telah menabrak seseorang. Dia takut, tidak mau mendekam di penjara. Dan demi menyelamatkan masa depan Putri kesayangan, dia pun dikorbankan. Kedua orang tuanya pula yang mendorongnya pada polisi, dan bersaksi kalau dia lah yang melakukannya. Meski dia sudah berusaha menyangkal, tetap saja yang tidak diinginkan harus berkorban. Sepanjang hari dia mengutuk dalam penjara, dia bersumpah akan membalas mereka. Tapi Alicia yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya, membayar orang untuk menyiksanya. Dan dengan keji, dia dilempar di tempat seperti itu. “Tuli,” ayahnya membentak, “Apa kau tidak mendengar panggilanku?” “A-ayah…” bisiknya lirih, lalu tertawa lagi. “Bukan, kau bukan ayahku.” Elis berdiri perlahan. Langkahnya tertatih. Dia tersenyum, senyuman yang membuat udara terasa lebih dingin. Dia mendekat, “Kau, pria tua yang jahat!” “Diam!” bentak ibunya, “Lihat baik-baik. Kami orang tuamu, dan kau hanya anak pembawa sial. Jangan pernah menghina kami dengan mulut kotormu itu!” “Oh,” Elise tertawa pelan, “Aku pembawa sial, ya?!” “Kalian,” dia menatap wajah ayahnya seolah mencoba memastikan sesuatu. Lalu, dia berbisik pelan, “Kalian datang, ingin membuang aku ke mana lagi? Apa ke penjara lagi? Atau, ke rumah sakit lain?” Keheningan menelan ruangan. Ayahnya mengencangkan rahangnya, tapi istrinya menahan agar mereka mengendalikan emosi. “Elise, kami akan membawamu pulang,” ucap ibunya, bersikap lebih lembut. Elise memiringkan kepalanya, “Pulang?" tanyanya, seolah kata itu asing. “Memangnya aku punya tempat untuk pulang?” Dia tertawa pelan, “Sepertinya aku tidak punya itu dan kalian tidak menginginkan aku. Lalu untuk apa aku pulang?” “Elise!” ibunya melangkah mendekat, lalu berbisik di telinganya, “Aku tidak tahu kau benar-benar gila atau sedang berpura-pura. Tapi kalau kau bisa bekerja sama, kami akan membebaskanmu.” Elise melirik tajam, “Membebaskan aku?” “Ya, kau tidak akan berada di rumah sakit jiwa ini. Kami akan memberimu uang, dan kau bisa pergi kemanapun kau mau asalkan kau bisa diajak bekerja sama.” Elise tidak langsung menjawab. Kedua orang tua licik itu, mau apa lagi? Tapi... kalau memang dia bisa bebas, dia harus mengambil kesempatan itu. Dia tertawa, melangkah menuju tempat tidurnya. Elise duduk dengan perlahan, memukul-mukul tempat tidurnya sambil tertawa keras. Akan memberikan kebebasan? Entah kenapa itu seperti janji palsu. “Cukup, hentikan tawamu!” bentak ayahnya, “Kau mau atau tidak, putuskan sekarang.” “Memangnya apa yang harus aku lakukan? Apa kalian ingin meminta aku menggantikan anak kesayangan kalian itu lagi?” “Kita bicarakan di rumah. Asalkan kau setuju, kami akan mengurus semuanya dan membawamu pulang.” Elise menatap tajam. Apa ini perangkap lain? Atau justru jalan keluar untuknya? “Baiklah, aku bersedia.” “Baguslah kalau begitu, tunggu di sini baik-baik!” kedua orang tuanya meninggalkannya sebentar. Mereka harus pergi menemui dokter itu, mengambil obat supaya penyakit gilanya itu tidak kambuh. Elise tertawa pelan. Menatap kepergian kedua orang tuanya dengan seringai licik. Akan membebaskannya? Dia terima. Tapi kalau mereka bohong, itu artinya mati.Begitu sampai di Belanda, David langsung mengajak Elise ke hotel untuk menyimpan barang-barang mereka.Selama di perjalanan, Elise telah mencari tahu banyak hal tentang Belanda. Dia juga telah menandai banyak tempat yang ingin dia kunjungi. Selama David mengurus pekerjaannya, dia akan menikmati waktunya sendiri. Jalan-jalan, menikmati waktunya.David hanya memesan satu kamar. Bukannya ingin berhemat, tapi dia ingin hubungan mereka semakin dekat seperti dulu.Elise masuk ke dalam kamar itu, melihat-lihat. Tempat tidur yang besar, tampak empuk dan nyaman. Jendela kamar yang langsung menghadap ke arah kota, dan kamar mandi yang begitu luas. Tempat itu tak kalah mewah dengan kamar yang ada di Villa Axel.Setelah melihat seluruh kamar itu, Elise menghampiri David. Pria itu sedang sibuk memasukkan barang-barang mereka yang baru saja diantarkan pelayan hotel.“David, kamar ini sangat bagus.”“Bagus kalau kau menyukainya.”“Kenapa kau memasukkan semua barang-barangmu? Kamarmu.. apa di sebelah
Belanda, semua izin sudah didapatkan dan hari ini juga mereka akan berangkat.Tapi entah kenapa sejak pagi, perasaan Elise merasa tidak tenang. Hati kecilnya berkata tidak seharusnya dia pergi. Dan firasatnya pun mengatakan ada yang menunggunya saat dia tiba di sana.Meski begitu dia tidak tahu apa, dan tak bisa membatalkan perjalanan karena David telah mengurusnya dengan susah payah.“Emma," David mengetuk pintu kamar yang setengah terbuka, “Apa semuanya sudah siap? Atau perlu aku bantu?”“Tidak perlu, aku sudah selesai, “Elise menarik sebuah koper kecil dari kamar, “Apa sudah harus pergi sekarang?”“Hm, tapi habiskan makananmu terlebih dahulu. Aku perhatikan dari pagi kau tidak berselera. Kau sakit?”“Tidak. Aku hanya terlalu gugup karena aku sudah tidak sabar untuk pergi," dustanya.Sejak pagi ada sesuatu mengganjal di hati. Membuatnya tak tenang, makan pun tidak berselera seolah-olah ada yang mengganjal di tenggorokannya.“Kalau begitu segera habiskan makanannya, kita pergi. Janga
Elise mulai terbiasa hidup sebagai Emma Grace. Dia terbiasa dengan lingkungan tinggal, pekerjaan Emma, dan persahabatan Emma yang terjalin cukup baik dengan beberapa orang yang dia kenal.Tidak hanya itu, dia juga sudah terbiasa dengan keberadaan David yang begitu baik dan perhatian padanya. Hidup barunya itu, tidak seburuk yang dia duga asalkan dia menjalaninya dengan baik.Walaupun ada yang sempat curiga dengannya tapi David menjadi tameng, meyakinkan yang lainnya kalau dia memang Emma.Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan bagaimana memiliki sahabat, bagaimana bekerja dan mendapatkan uang, dan bagaimana diperdulikan oleh seseorang dengan begitu tulus.Kehidupan seperti itu, dulu hanya ada dalam khayalannya saja. Tak menyangka dia dapat menjalaninya.Setiap hari, Daniel datang membawakan makanan. Walaupun Elise sudah berusaha mencegah agar pria itu tidak melakukannya, tapi Daniel melakukannya sebagai bentuk kepeduliannya pada Emma.Dia khawatir, penyakit Emma kambuh mesk
Alicia kembali dengan tangan kosong. Tubuhnya kotor, dan terdapat beberapa luka karena jatuh ke atas aspal. Bahunya memar, akibat ditendang Axel. Tak hanya itu, dia merasa bahunya bergeser karena Axel menendangnya dengan kuat.Ibunya bergegas keluar dari rumah saat melihat putrinya telah kembali. Dia harap Alicia berhasil membujuk Axel agar rumah mereka tidak di sita.Tapi ketika melihat keadaan Alicia, ibunya begitu panik.“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa penuh luka seperti ini?”“Mom, Axel menendangku. Bahuku sangat sakit sekarang.”“Dia menendangmu?” ibunya berteriak marah, “Beraninya dia menendangmu?”“Kita bicara di dalam saja, Mom,” langkahnya terseok, “Pria itu benar-benar kejam,” Diana memapah tubuh putrinya, “Padahal kau sudah bersedia memohon padanya, tapi beraninya dia memperlakukanmu seperti ini?”“Mom, bagaimana sekarang?” keadaannya itu tidak terlalu membuatnya pusing tapi bagaimana dengan permasalahan mereka? Hari ini, kalau tak ada yang bisa mereka selesaikan maka
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews