MasukKedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.
Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise. Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau Elise dapat menyelesaikan peran itu sampai selesai. Kebahagiaan mereka semakin terasa sempurna setelah mendapat kabar Kalau dalam waktu tiga hari lagi pernikahan itu akan dilakukan. Itulah yang mereka harapkan, setelah Elise menikah dengan Axel, hubungan antar kedua keluarga akan semakin erat dan bisnis mereka akan semakin maju. Siapa yang tidak mengenal keluarga Smith? Mereka adalah keluarga besar yang menguasai segalanya. Beberapa bisnis perhotelan, bahkan beberapa bisnis di dunia gelap dan banyak lagi bisnis yang dikelola oleh mereka. Kendali yang mereka miliki begitu besar. Tak saja dikenal sebagai pembisnis, tapi mereka juga dikenal sebagai mafia kejam yang tak punya hati. Sekarang, setelah pernikahan itu terjalin, para pengusaha itu akan merapat pada mereka. Dan hari ini, adalah hari pernikahan. Elise berada dalam kamarnya, membereskan barang-barang yang dia miliki. Tidak banyak, tapi setidaknya dia mendapatkan barang-barang bagus meski bekas pakai Alicia. Sementara itu, Diana Sedang menghubungi Alicia untuk memberi kabar itu. Pernikahan yang seharusnya diadakan minggu depan, tidak menyangka akan dipercepat. Dan bukannya terkejut, Alicia justru tertawa senang karena dalam tiga hari lagi dia akan menjadi istri sah Axel. Meski si gila itu yang menggantikan, tapi dialah yang terdaftar secara sah. “Jadi Axel tidak curiga sama sekali?” Dia bertanya pada ibunya mengenai makan malam yang dilakukan oleh Elise tiga hari lalu. “Tidak. Setidaknya si gila itu tahu diri.” “Mom, setidaknya tawaran yang kita berikan membuat otak gilanya menjadi sedikit waras. Tapi, Mommy harus selalu mengawasinya dan katakan pada Elise kalau dia tidak boleh mengandung anak Axel.” “Kau tidak perlu khawatir akan hal itu, Sayang. Mommy yang akan urus. Mommy pastikan, dia tidak akan bisa mengandung anak Axel. Dan begitu kau kembali, peran itu adalah milikmu.” “Aku percaya denganmu, Mom. Jangan biarkan dia bertindak sesuka hati. Dan berikan ancaman tambahan, agar dia tidak berkhianat.” “Sudah Mommy katakan kau tidak perlu khawatir. Fokus saja dengan operasi yang kau jalani agar kau bisa cepat kembali. Dengan begitu kita bisa menendang si gila itu dari hidup kita secepatnya.” Alicia tertawa. Semakin dibenci oleh kedua orang tuanya, semakin membuat posisinya aman sebagai satu-satunya Putri keluarga Parker. “Baiklah, kami sudah harus pergi. Jangan sampai membuat mereka menunggu lalu curiga. Mommy juga harus memperingati si gila itu agar tidak berulah saat berada di rumah Axel.” “Pergilah, berikan tekanan lebih agar dia tidak berkhianat.” Ibunya tersenyum tipis. Setelah berbicara dengan putrinya, dia pergi ke kamar Elise, putri yang tak dianggap ada. Pintu dibuka tanpa diketuk. Elise yang sedang menutup tasnya, menatap tajam ke arah ibunya. “Ada perlu apa?” dia bertanya dengan dingin, dan kembali membereskan pakaiannya. “Hanya memberimu sedikit peringatan agar kau tidak berkhianat.” “Tidak perlu diulang. Aku tahu batasan dan aku tahu apa yang harus aku lakukan.” “Bagus kalau begitu, tapi ingat,” ibunya mendekat, “Jangan coba-coba menghianati kepercayaan kami karena kau tidak akan pernah mendapatkan kehidupan damaimu lagi.” “Kehidupan damai?” Elise mengulangi perkataan itu dan tertawa, “Sejak kapan aku memiliki kehidupan damai, Mom?” Koper diturunkan, dia menghampiri ibunya. “Kehidupanku telah kalian rusak hanya untuk membela Alicia. Aku menderita dalam penjara, tidak sekalipun kalian berniat membebaskanku. Kalian justru melemparkan aku ke rumah sakit jiwa, membiarkan aku semakin menderita di sana. Lalu kapan aku mendapatkan kehidupan damai?” “Semua ada harganya, Elise!” ucap ibunya dengan dingin, “Apa yang terjadi padamu adalah harga yang pantas kau tanggung karena gara-gara dirimu, aku hampir saja mati. Sekarang, ealau kau tidak memainkan peran dengan baik, harganya akan lebih mahal dibandingkan sebelumnya.” Elise kembali tertawa dan berbalik, “Setelah aku selesai dengan semua kebohongan ini, aku tidak memiliki hubungan dengan kalian lagi!” Elise mengambil kopernya, saatnya bersiap-siap untuk melangkah menuju kehidupan barunya. Biarkan saja mereka mengira dia begitu patuh tapi nanti, mereka akan merasakan sakitnya sebuah pengkhianatan. Ibunya ingin mengatakan sesuatu tapi waktu mereka sudah tidak banyak karena jemputan telah datang. Tidak masalah, mereka memiliki banyak waktu untuk bicara dan selama Elise membutuhkan obatnya, maka dia tidak akan berani melawan. *** Hari itu langit begitu cerah, gedung pernikahan berdiri megah, dipenuhi dekorasi putih dan bunga-bunga mahal yang tersusun sempurna. Segalanya tampak indah, bagaikan sebuah cerita di negeri dongeng. Pernikahan yang selalu didambakan oleh siapa saja, tapi bagi Elise, pernikahan itu bagaikan sebuah pertaruhan besar untuk hidupnya. Gaun pengantin berwarna putih melekat sempurna di tubuhnya. Anggun, tidak bercela, menutupi dirinya yang tidak sempurna. Ibunya kembali mengingatkan, dia harus pulang dua hari sekali untuk mendapatkan obat. Dan Elise, tidak memperdulikan hal itu. Dia bersikap tenang, di hari besar itu. Satu langkah lagi, dia akan mendapatkan apa yang Alicia miliki pertama kali dalam hidupnya. Musik mulai mengalun, pintu aula terbuka perlahan. Semua mata tertuju ke satu arah, di mana Elise melangkah masuk dengan tenang. Tatapannya tertuju pada Axel, pria itu terlihat gagah dengan setelan jas hitam yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Senyum tipis terukir di bibir, rasa tak sabar membuat dadanya berdebar. Alicia, kau akan melihat bagaimana aku mengambil laki-laki milikmu. Axel mengulurkan tangan, tatapannya tak lepas dari calon istrinya itu. Entah kenapa hati kecilnya berkata, ada yang salah. Pernikahan itu tidak seharusnya terjadi. Tapi, dia menepis dengan cepat karena tak seharusnya dia meragukan wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. “Siap menjadi istriku, Alicia?” “Aku selalu siap, Axel.” ya, siap menjadi istrimu selamanya. Upacara pun dimulai. Suara pendeta terdengar formal, membacakan janji suci yang dianggap serius oleh Elise. Dan ketika pendeta itu mulai melemparkan pertanyaan pada Axel, tiba-tiba pria itu tampak ragu. “Tuan Smith, apa anda bersedia menerima Alicia Parker sebagai istri anda dalam suka maupun duka?” Axel memandangi wanita yang berdiri di hadapannya. Tidak, kenapa keraguan itu kembali muncul? “Axel, ada apa denganmu?” Elise pura-pura sedih. “Oh,” Axel melonggarkan dasinya sedikit, “Aku bersedia!” ucapnya tanpa ada keraguan lagi. Elise tersenyum manis. Akhirnya. Dan ketika pertanyaan yang sama diberikan padanya, dia juga menjawab dengan mantap. Tapi, dia menerima pria itu sebagai suami Elise Parker, bukan suami Alicia. Meski diucapkan dalam hati, tapi sumpah itu sah baginya. Cincin disematkan. Axel melangkah mendekat, mengangkat kain Veil yang menutupi wajahnya. Mata Elise berbinar, dadanya pun kembali berdegup. Dan ketika Axel mencium bibirnya, mereka dinyatakan sah sebagai suami istri. Tepuk tangan para tamu undangan terdengar, ucapan selamat mereka dapatkan. Axel menggandeng tangan wanita asing yang telah menjadi istrinya itu. Mereka berdiri menghadap ke arah para tamu. Elise tersenyum, tapi senyumannya itu ditunjukkan pada kedua orang tuanya. Sudah dia dapatkan. Dia telah melangkah maju satu langkah. Dan apa yang telah menjadi miliknya, tidak akan pernah dia kembalikan.Elise hanya diam, membiarkan ibunya menumpahkan tangisan. Sesungguhnya dia tidak senang. Rasanya ingin dia dorong agar pelukan ibunya terlepas tapi dia sudah berada di sana dan tidak bisa menghindar lagi.Beberapa menit dalam keadaan seperti itu. Elise mulai mendorong ibunya agar pelukannya terlepas.“Tidak perlu memelukku seperti ini. Aku tidak ingat kalau kau akan merindukan aku sampai seperti ini.”“Mommy terlalu senang bisa bertemu denganmu. Elise, Mommy mengira tidak akan mendapatkan kesempatan bertemu dan memelukmu seperti ini.”“Jangan terlalu berlebihan, kau belum mati,” Elisa mendorongnya lagi dengan kuat, lalu melangkah mundur, “Aku datang bukan untuk melepas rindu. Hanya ingin melihatmu masih hidup atau sudah mati.”“Mommy tahu,” dia memandangi putrinya. Ada yang aneh, perutnya sedikit membesar, dan Elise tampak lebih gemuk.“Elise, kau?”“Kenapa?” kedua tangannya menyilang di depan dada, “Terkejut karena obatmu tidak mempan padaku?”“Bukan begitu. Mommy memang bersalah kar
Elise pergi ke penjara terlebih dahulu, sebelum menjenguk ibunya ke kota sebelah.Kalau bukan karena ada yang ingin dia sampaikan pada ayahnya, maka dia tidak akan berada di sana karena dia sudah memutuskan tak mau lagi berurusan dengan ayahnya. Namun, dia sendiri yang melanggar keputusan itu. Seharusnya dia abaikan saja, tapi hatinya masih lemah karena belas kasihan.Dua sudah berada di ruang tunggu, menunggu ayahnya dibawa oleh sipir penjara. Elisa duduk dengan tenang, dia yang memutuskan pergi ke sana jadi tak ada satupun yang bisa menindas dirinya.Pintu ruangan terbuka. Elise memandangi ayahnya yang dibawa masuk oleh seorang petugas. Pria itu tak bicara tapi banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan putrinya.Mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan kesunyian itu membuat Elise tertawa pelan.“Jadi kau memintaku datang hanya untuk saling menatap seperti itu?” Elise akhirnya buka suara, “Atau kau ragu mengutarakan permintaanmu yang tidak masuk akal itu?”“Tidak. Dadd
Perutnya mulai terlihat, keadaan janinnya pun begitu sehat. Semenjak mengetahui istrinya hamil, Axel jarang pergi. Pekerjaan dibereskan di rumah. Dia pergi saat ada rapat penting saja. Sisanya dia serahkan pada asistennya. Walaupun sudah ada yang menjaga istrinya, tapi dia tidak tenang. Dia ingin selalu berada di sisi Elise, menemaninya agar istrinya tak bosan.Perhatian yang dia berikan membuat Elise merasa nyaman. Setelah tahu dia hamil, banyak yang dia khawatirkan. Masa lalu buruknya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua justru membuatnya takut menjadi seorang ibu.Apakah dia pantas?Apakah dia bisa menjadi ibu yang baik tanpa mengulang nasib buruknya?Setiap kali dia memikirkan hal itu, justru membuatnya mual dan membuatnya semakin gelisah saja.Elise duduk di sebuah kursi malas yang diletakkan di bawah pohon. Setiap kali dasar gelisah itu datang, dia akan menghabiskan waktunya begitu lama di sana.Kedua matanya terpejam, dia berusaha menyingkirkan bayang
Elise masih membeku, tidak percaya mendengar perkataan dokter itu. Dia hamil?Ucapan itu seperti mimpi. Dia ingin percaya, tapi juga sulit dipercaya. Dia juga tidak salah mendengar, suaminya pun bahkan membeku. Seperti dirinya, tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu.Bagaimana mungkin dia bisa hamil sedangkan keadaan tubuhnya tidak dalam keadaan sehat?Meskipun waktu itu dokter berkata masih ada peluang tapi dia tahu tidak mungkin bisa hamil dalam waktu singkat. Dia curiga, dokter itu ingin membohonginya.Elise tertawa pelan, untuk menghibur dirinya. Semua itu bohong. Sudah pasti bohong.“Nyonya, apa ada yang salah?” perawat bertanya padanya. Seharusnya mereka senang, tapi mereka justru memperlihatkan keterkejutan yang terlalu berlebihan.“Kau bilang aku hamil?” ucapnya, “Dokter, aku tahu kau ingin menghiburku. Tapi jangan mengucapkan kebohongan seperti ini. Kesehatanku tidak baik, meski aku memiliki peluang untuk hamil tapi bukan berarti hal itu bisa terjadi dalam
Sudah beberapa hari, Elise tak berselera makan. Dia tidak merasakan ada yang aneh dengan keadaan tubuhnya, dia hanya merasa bosan dengan makanan di rumah.Demamnya juga sudah sembuh. Dia diminta untuk beristirahat di rumah. Akan tetapi, Elisa memutuskan pergi ke kantor.Dia tidak memberitahu, sengaja memberikan kejutan. Saat dia tiba, Axel tidak ada karena masih berada dalam ruang rapat. Elise memutuskan menunggu, dan melihat ruangan itu membuatnya jadi teringat dengan kehidupannya saat menjadi Emma. Dia juga teringat dengan David.Entah bagaimana hidup pria itu sekarang. Semoga saja lebih baik dibanding yang dia duga.Beberapa majalah bisnis yang ada di atas meja menjadi satu-satunya hiburan untuk mengusir kebosanan. Sepertinya dia memang harus belajar bisnis supaya waktunya tidak terbuang sia-sia di rumah. Mungkin saja dia bisa membantu Axel walaupun menjadi staf biasa.Dia akan membicarakan hal itu dengan Axel nanti. Mungkin sedikit kegiatan yang dia lakukan bisa mengurangi kebosan
Hanya gara-gara menangis, membuat Elise demam. Kepalanya sakit, hidungnya tersumbat sampai membuatnya sulit bernafas. Keadaannya itu sudah sejak semalam sampai membuatnya tidak bisa tidur. Setiap kali berbaring, hidungnya begitu menyiksa dirinya. Elise duduk di sofa, semalam sampai dia tertidur. Dia berada di luar, keluar saat tengah malam agar tidak mengganggu suaminya. Dia kira keadaannya akan membaik, tapi semakin parah saja. Obat yang dia minum semalam tidak berarti sama sekali. Axel menggeleng saat melihat istrinya. Dia membawa sebuah selimut, menghampiri Elise. Saat Axel duduk di sampingnya, Elise mencoba memandanginya. Namun, kedua matanya begitu berat. “Bagaimana dengan keadaanmu?” Elise menggeleng. Pendengarannya berdengung, tenggorokannya sakit dan suaranya berat. “Kita ke rumah sakit saja, Aku tidak suka melihat keadaanmu seperti ini.” “Tidak mau,” Elise langsung menolak, “Aku tidak mau ke rumah sakit. Cukup minum obat saja, aku akan baik-baik saja.” “Apan
Lorong panjang itu dipenuhi suara-suara samar. Bisikan, tawa, dan jeritan yang bercampur menjadi satu, menciptakan simfoni kegilaan yang tak pernah benar-benar berhenti.Para pasien pria dan wanita berlalu lalang, tertawa dan berbicara sendiri. Dan beberapa wanita terlihat menangis.Aroma obat-obat
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye







