LOGINElise hanya diam, membiarkan ibunya menumpahkan tangisan. Sesungguhnya dia tidak senang. Rasanya ingin dia dorong agar pelukan ibunya terlepas tapi dia sudah berada di sana dan tidak bisa menghindar lagi.Beberapa menit dalam keadaan seperti itu. Elise mulai mendorong ibunya agar pelukannya terlepas.“Tidak perlu memelukku seperti ini. Aku tidak ingat kalau kau akan merindukan aku sampai seperti ini.”“Mommy terlalu senang bisa bertemu denganmu. Elise, Mommy mengira tidak akan mendapatkan kesempatan bertemu dan memelukmu seperti ini.”“Jangan terlalu berlebihan, kau belum mati,” Elisa mendorongnya lagi dengan kuat, lalu melangkah mundur, “Aku datang bukan untuk melepas rindu. Hanya ingin melihatmu masih hidup atau sudah mati.”“Mommy tahu,” dia memandangi putrinya. Ada yang aneh, perutnya sedikit membesar, dan Elise tampak lebih gemuk.“Elise, kau?”“Kenapa?” kedua tangannya menyilang di depan dada, “Terkejut karena obatmu tidak mempan padaku?”“Bukan begitu. Mommy memang bersalah kar
Elise pergi ke penjara terlebih dahulu, sebelum menjenguk ibunya ke kota sebelah.Kalau bukan karena ada yang ingin dia sampaikan pada ayahnya, maka dia tidak akan berada di sana karena dia sudah memutuskan tak mau lagi berurusan dengan ayahnya. Namun, dia sendiri yang melanggar keputusan itu. Seharusnya dia abaikan saja, tapi hatinya masih lemah karena belas kasihan.Dua sudah berada di ruang tunggu, menunggu ayahnya dibawa oleh sipir penjara. Elisa duduk dengan tenang, dia yang memutuskan pergi ke sana jadi tak ada satupun yang bisa menindas dirinya.Pintu ruangan terbuka. Elise memandangi ayahnya yang dibawa masuk oleh seorang petugas. Pria itu tak bicara tapi banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan putrinya.Mereka berdua tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan kesunyian itu membuat Elise tertawa pelan.“Jadi kau memintaku datang hanya untuk saling menatap seperti itu?” Elise akhirnya buka suara, “Atau kau ragu mengutarakan permintaanmu yang tidak masuk akal itu?”“Tidak. Dadd
Perutnya mulai terlihat, keadaan janinnya pun begitu sehat. Semenjak mengetahui istrinya hamil, Axel jarang pergi. Pekerjaan dibereskan di rumah. Dia pergi saat ada rapat penting saja. Sisanya dia serahkan pada asistennya. Walaupun sudah ada yang menjaga istrinya, tapi dia tidak tenang. Dia ingin selalu berada di sisi Elise, menemaninya agar istrinya tak bosan.Perhatian yang dia berikan membuat Elise merasa nyaman. Setelah tahu dia hamil, banyak yang dia khawatirkan. Masa lalu buruknya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua justru membuatnya takut menjadi seorang ibu.Apakah dia pantas?Apakah dia bisa menjadi ibu yang baik tanpa mengulang nasib buruknya?Setiap kali dia memikirkan hal itu, justru membuatnya mual dan membuatnya semakin gelisah saja.Elise duduk di sebuah kursi malas yang diletakkan di bawah pohon. Setiap kali dasar gelisah itu datang, dia akan menghabiskan waktunya begitu lama di sana.Kedua matanya terpejam, dia berusaha menyingkirkan bayang
Elise masih membeku, tidak percaya mendengar perkataan dokter itu. Dia hamil?Ucapan itu seperti mimpi. Dia ingin percaya, tapi juga sulit dipercaya. Dia juga tidak salah mendengar, suaminya pun bahkan membeku. Seperti dirinya, tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu.Bagaimana mungkin dia bisa hamil sedangkan keadaan tubuhnya tidak dalam keadaan sehat?Meskipun waktu itu dokter berkata masih ada peluang tapi dia tahu tidak mungkin bisa hamil dalam waktu singkat. Dia curiga, dokter itu ingin membohonginya.Elise tertawa pelan, untuk menghibur dirinya. Semua itu bohong. Sudah pasti bohong.“Nyonya, apa ada yang salah?” perawat bertanya padanya. Seharusnya mereka senang, tapi mereka justru memperlihatkan keterkejutan yang terlalu berlebihan.“Kau bilang aku hamil?” ucapnya, “Dokter, aku tahu kau ingin menghiburku. Tapi jangan mengucapkan kebohongan seperti ini. Kesehatanku tidak baik, meski aku memiliki peluang untuk hamil tapi bukan berarti hal itu bisa terjadi dalam
Sudah beberapa hari, Elise tak berselera makan. Dia tidak merasakan ada yang aneh dengan keadaan tubuhnya, dia hanya merasa bosan dengan makanan di rumah.Demamnya juga sudah sembuh. Dia diminta untuk beristirahat di rumah. Akan tetapi, Elisa memutuskan pergi ke kantor.Dia tidak memberitahu, sengaja memberikan kejutan. Saat dia tiba, Axel tidak ada karena masih berada dalam ruang rapat. Elise memutuskan menunggu, dan melihat ruangan itu membuatnya jadi teringat dengan kehidupannya saat menjadi Emma. Dia juga teringat dengan David.Entah bagaimana hidup pria itu sekarang. Semoga saja lebih baik dibanding yang dia duga.Beberapa majalah bisnis yang ada di atas meja menjadi satu-satunya hiburan untuk mengusir kebosanan. Sepertinya dia memang harus belajar bisnis supaya waktunya tidak terbuang sia-sia di rumah. Mungkin saja dia bisa membantu Axel walaupun menjadi staf biasa.Dia akan membicarakan hal itu dengan Axel nanti. Mungkin sedikit kegiatan yang dia lakukan bisa mengurangi kebosan
Hanya gara-gara menangis, membuat Elise demam. Kepalanya sakit, hidungnya tersumbat sampai membuatnya sulit bernafas. Keadaannya itu sudah sejak semalam sampai membuatnya tidak bisa tidur. Setiap kali berbaring, hidungnya begitu menyiksa dirinya. Elise duduk di sofa, semalam sampai dia tertidur. Dia berada di luar, keluar saat tengah malam agar tidak mengganggu suaminya. Dia kira keadaannya akan membaik, tapi semakin parah saja. Obat yang dia minum semalam tidak berarti sama sekali. Axel menggeleng saat melihat istrinya. Dia membawa sebuah selimut, menghampiri Elise. Saat Axel duduk di sampingnya, Elise mencoba memandanginya. Namun, kedua matanya begitu berat. “Bagaimana dengan keadaanmu?” Elise menggeleng. Pendengarannya berdengung, tenggorokannya sakit dan suaranya berat. “Kita ke rumah sakit saja, Aku tidak suka melihat keadaanmu seperti ini.” “Tidak mau,” Elise langsung menolak, “Aku tidak mau ke rumah sakit. Cukup minum obat saja, aku akan baik-baik saja.” “Apan
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye







