เข้าสู่ระบบTidak menyangka sedikit balasan yang dia lakukan membuatnya cukup merasa puas.Suasana hati Elise begitu baik. Begitu pulang, dia langsung mencari pelayan dan meminta mereka untuk mengajarinya membuat makanan.Malam ini, dia ingin membuatkan makan malam untuk Axel. Walaupun dia tidak terlalu pandai, tapi dia ingin melakukannya. Masalah rasa urusan belakangan karena yang paling penting dia bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa ada yang melarangnya.Aroma makanan gosong memenuhi udara saat Axel kembali. Dari arah dapur, terdengar suara pelayan yang panik juga terdengar suara istrinya.Axel melepaskan jasnya, tersenyum tipis saat melangkah masuk. Sekarang rumah itu kembali hidup setelah Elise kembali. Dan sekarang, dia tidak akan kesepian saat melangkah masuk ke dalam rumah itu. Setelah memberikan jasnya pada pelayan pribadinya, Axel pergi ke dapur. Dia melangkah dengan hati-hati, tidak menimbulkan suara sehingga Elise tidak tahu akan kehadirannya.Istrinya terlihat sibuk deng
Alicia sedang merapikan beberapa pakaian yang baru saja dicoba oleh pelanggan saat Elise masuk ke butik itu.Alicia terkejut sebentar, tapi kemudian senyuman liciknya mengembang. Sangat kebetulan. Wanita itu datang sendiri tanpa perlu dia cari.Hari ini, dia harus tahu apakah dia Elise atau bukan..Pekerjaannya ditinggalkan, Alicia menghampiri Elise yang sedang melihat-lihat. Dilihat dari belakang seperti itu justru semakin membuatnya yakin kalau wanita itu memanglah Elise.“Wah... Wah,” Alicia berdiri di hadapannya, memandangi penampilan Elise dari atas ke bawah, “Tidak menduga akan kedatangan pelanggan yang tidak biasa.”“Kita bertemu lagi , Nona Alicia. Jadi kau bekerja di tempat ini?" Elise tersenyum, tapi senyumannya itu seperti sedang menertawakan keadaan Alicia.Terserah saja dia tidak menyukainya wanita itu jelas-jelas sedang menertawakan dirinya.“Kau sengaja datang ke sini apa ingin mempermalukan aku?”“Apa maksud perkataan Nona Alicia?” Elisa mengangkat satu tangannya denga
Suasana hatinya cukup baik hari itu. Elise duduk di ruang tamu, mengeluarkan barang-barang yang dia beli satu persatu.Tas, perhiasan, cukup banyak sampai membuatnya bingung bagaimana dia harus memakai barang-barang itu. Padahal dia hanya memerlukan satu saja, apalagi dia jarang keluar rumah.Kotak perhiasan sudah menumpuk di atas meja. Melihatnya saja membuatnya bingung. Elise memijit pelipis, kepalanya pusing melihat begitu banyak barang berharga seperti itu. Mungkin dia belum terbiasa, dan mulai sekarang harus dia biasakan.Axel membawakan segelas air hangat untuknya. Melihat istrinya sedang pusing dengan barang-barang itu justru membuatnya tersenyum.“Kenapa? Apa kurang?” dia duduk di samping Elise, dan memberikan air hangat itu untuknya, “Kalau kurang kita bisa membelinya lagi. Apapun yang kau inginkan, pasti kau dapatkan.”“Aku sudah tidak mau!” Elise langsung menolak, “Kau lihat barang-barang itu?” Kini dia menunjuk ke arah tumpukan perhiasan, “Leherku cuma satu. Bagaimana aku
Selama hidupnya, Elise belum pernah berbelanja sampai sebanyak itu. Apa yang dia lihat dan yang dia bilang bagus dibelikan oleh ibu mertuanya walaupun dia menolak dengan keras.Dia tidak biasa diperlakukan seperti itu apalagi menghabiskan banyak uang hanya untuk satu kali belanja saja. Terus terang, dia harus mengendalikan akal sehatnya setiap melihat harga barang-barang mewah itu.Kedua orang tuanya tidak pernah membelikan barang bagus untuknya. Pakaian yang dia kenakan selalu milik Alicia yang tak diinginkan lagi oleh kakaknya. Kalau dia membutuhkan sesuatu, dia harus memohon dan menyenangkan hati kedua orang tuanya terlebih dahulu tapi setelah dia berada dalam penjara hal itu tidak pernah terjadi lagi.Kalau diingat-ingat, hidupnya bagaikan lelucon yang dipermainkan oleh keluarganya sendiri.Saat dia kembali, Axel sudah berada di rumah. Barang belanjaannya dibawa masuk oleh pelayan, dan ditumpuk di ruang tamu.Begitu Axel menghampirinya, Elise merasa tidak enak hati. Meski pria it
Alicia sangat marah, dia memilih pulang. Ibunya harus tahu kalau Elise masih hidup. Meski tidak ada pengakuan secara langsung tapi dia sangat yakin wanita itu adalah Elise.Axel tidak mungkin menemukan pengganti dalam waktu yang begitu singkat apalagi dia telah mendengar pria itu masih mencari keberadaan Elise.l“Mom,” Alicia memanggil ibunya dengan keras. Ibunya sedang berbaring saat dia masuk ke dalam kamar. Semenjak jatuh sakit keadaannya begitu lemah.“Ada apa, Alicia? Kenapa kau belum pergi bekerja?”“Dengar, Mom. Elise masih hidup.”“Apa kau bilang?” Diana mengangkat tubuhnya, “A- adikmu masih hidup?”“Ini hanya dugaanku saja.”“Hanya dugaanmu saja tapi kau berkata dia masih hidup. Daripada berbicara tidak jelas seperti itu, sebaiknya kau pergi bekerja. Obat Mommy sudah mau habis, kau harus membelikannya nanti.”“Aku tidak memiliki uang lagi, Mom. Untuk membeli make up ku saja tidak cukup.”“Dibandingkan make up mu, obat Mommy jauh lebih penting. Pergilah, jangan sampai kau dipe
Aneh, ada yang aneh. Wanita yang duduk di hadapannya itu asing baginya tapi entah kenapa suaranya begitu mirip dengan Elise. Tidak saja suaranya, tapi postur tubuhnya pun sangat mirip dengan Elise.Seorang wanita gila, apakah mungkin bisa melakukan sampai sejauh itu?Mengubah wajahnya menyerupai orang lain dan memalsukan kematiannya, tidak ada satu orang gila pun yang bisa melakukannya.Tidak mungkin Axel yang membantu. Dia tahu pria itu pun sedih karena kematian adiknya. Tapi bagaimana mungkin orang tidak waras sepertinya bisa melakukan semua itu?“Axel, kenapa mantan istrimu memandangi aku seperti itu? Dia tidak gila, kan?” ucapan Elise membuatnya tersentak.Alicia mengepalkan tangannya. Tidak, wanita itu tidak mungkin Elise. Dia harus memastikan kalau wanita itu bukan Elise.“Abaikan saja, habiskan makananmu!” ucap Axel. Elise memberanikan diri buka suara, pasti sengaja supaya Alicia mengenalnya.Entah apa yang dia rencanakan, dia tidak akan melarang. Karena bisa saja Elise ingin
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye







