ANMELDENSelama hidupnya, Elise belum pernah berbelanja sampai sebanyak itu. Apa yang dia lihat dan yang dia bilang bagus dibelikan oleh ibu mertuanya walaupun dia menolak dengan keras.Dia tidak biasa diperlakukan seperti itu apalagi menghabiskan banyak uang hanya untuk satu kali belanja saja. Terus terang, dia harus mengendalikan akal sehatnya setiap melihat harga barang-barang mewah itu.Kedua orang tuanya tidak pernah membelikan barang bagus untuknya. Pakaian yang dia kenakan selalu milik Alicia yang tak diinginkan lagi oleh kakaknya. Kalau dia membutuhkan sesuatu, dia harus memohon dan menyenangkan hati kedua orang tuanya terlebih dahulu tapi setelah dia berada dalam penjara hal itu tidak pernah terjadi lagi.Kalau diingat-ingat, hidupnya bagaikan lelucon yang dipermainkan oleh keluarganya sendiri.Saat dia kembali, Axel sudah berada di rumah. Barang belanjaannya dibawa masuk oleh pelayan, dan ditumpuk di ruang tamu.Begitu Axel menghampirinya, Elise merasa tidak enak hati. Meski pria it
Alicia sangat marah, dia memilih pulang. Ibunya harus tahu kalau Elise masih hidup. Meski tidak ada pengakuan secara langsung tapi dia sangat yakin wanita itu adalah Elise.Axel tidak mungkin menemukan pengganti dalam waktu yang begitu singkat apalagi dia telah mendengar pria itu masih mencari keberadaan Elise.l“Mom,” Alicia memanggil ibunya dengan keras. Ibunya sedang berbaring saat dia masuk ke dalam kamar. Semenjak jatuh sakit keadaannya begitu lemah.“Ada apa, Alicia? Kenapa kau belum pergi bekerja?”“Dengar, Mom. Elise masih hidup.”“Apa kau bilang?” Diana mengangkat tubuhnya, “A- adikmu masih hidup?”“Ini hanya dugaanku saja.”“Hanya dugaanmu saja tapi kau berkata dia masih hidup. Daripada berbicara tidak jelas seperti itu, sebaiknya kau pergi bekerja. Obat Mommy sudah mau habis, kau harus membelikannya nanti.”“Aku tidak memiliki uang lagi, Mom. Untuk membeli make up ku saja tidak cukup.”“Dibandingkan make up mu, obat Mommy jauh lebih penting. Pergilah, jangan sampai kau dipe
Aneh, ada yang aneh. Wanita yang duduk di hadapannya itu asing baginya tapi entah kenapa suaranya begitu mirip dengan Elise. Tidak saja suaranya, tapi postur tubuhnya pun sangat mirip dengan Elise.Seorang wanita gila, apakah mungkin bisa melakukan sampai sejauh itu?Mengubah wajahnya menyerupai orang lain dan memalsukan kematiannya, tidak ada satu orang gila pun yang bisa melakukannya.Tidak mungkin Axel yang membantu. Dia tahu pria itu pun sedih karena kematian adiknya. Tapi bagaimana mungkin orang tidak waras sepertinya bisa melakukan semua itu?“Axel, kenapa mantan istrimu memandangi aku seperti itu? Dia tidak gila, kan?” ucapan Elise membuatnya tersentak.Alicia mengepalkan tangannya. Tidak, wanita itu tidak mungkin Elise. Dia harus memastikan kalau wanita itu bukan Elise.“Abaikan saja, habiskan makananmu!” ucap Axel. Elise memberanikan diri buka suara, pasti sengaja supaya Alicia mengenalnya.Entah apa yang dia rencanakan, dia tidak akan melarang. Karena bisa saja Elise ingin
Tanpa sengaja, sahabat Alicia melihat Axel saat makan siang bersama Elise dan keluarganya. Dia tahu Axel dan Alicia telah bercerai, dan wanita yang bersama Axel cukup mengejutkan.Melihat perlakuan Axel pada wanita itu, dia menebak kekasih barunya atau bisa saja istri barunya. Alicia harus mengetahui hal itu, karena dia tahu selama ini sahabatnya sangat ingin mengetahui bagaimana dengan keadaan mantan suaminya sebab Alicia belum rela hubungan mereka berakhir.Hidup Alicia tidak jelas. Bergantung dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Dia bekerja di sebuah butik berkat koneksi sahabatnya. Tapi gaji yang didapatkan tidak cukup untuk membiayai hidup glamornya.Mendapat telepon dari sahabatnya membuatnya sedikit bersemangat. Mungkin ada kabar baik, karena dia sedang mencari pekerjaan tambahan. Dia ingin segera keluar dari situasi hidup yang semakin sulit itu. Tidak saja harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya, tapi dia juga harus membiayai ibunya yang sakit-sakitan.Hidup mereka yan
Mereka berdua berada di Kantor Catatan Sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka.Semua dokumen disiapkan dalam waktu yang cukup singkat, tidak ada yang kurang satu pun. Dan yang paling penting, Elise tidak lagi menyandang nama keluarganya. Elise resmi memakai nama Axel, resmi menjadi bagian dari mereka dan sudah tidak menjadi seorang pengganti yang bisa ditendang kapan saja.Elise memandangi surat pernikahan mereka cukup lama. Itu hanya surat yang terlambat didapatkan tapi itu juga surat yang menegaskan dan menjelaskan apa hubungan mereka berdua.Dia tidak pernah berpikir akan sampai sejauh itu.“Kenapa?” Axel memegangi tangannya, “Apa ada yang kurang atau ada yang kau tambahkan?”“Tidak,” Elise menggeleng, “Aku hanya tidak menduga akan berakhir seperti ini.”“Itu berarti kita berdua memang ditakdirkan untuk bersama. Hubungan kita sudah jelas sekarang. kau telah menjadi istri sahku, bukan penggangti lagi. Kau hanya perlu menikmati hidup mulai sekarang.”Elisa tersenyum, dia memang
Semua masih tampak sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Bahkan barang-barang miliknya yang dia tinggalkan masih berada di tempatnya.Kalung mahal itu, hadiah pertama yang diberikan Axel untuknya, masih tersimpan rapi dalam kotak seolah tidak ada yang menyentuhnya.Benda itu seharusnya milik Alicia. Waktu melihat kalung itu, Alicia memarahinya dan memintanya untuk tidak menggunakannya. Dia ingat betul setiap kata yang mereka ucapkan waktu itu.Axel menjaga semua barang-barang itu. Perhiasan kecil yang sering dia pakai pun masih berada di tempatnya. Dia tidak menyangka kalau dirinya begitu berarti bagi pria itu padahal waktu yang mereka lewati begitu singkat.Tapi setelah melihat barang-barang itu Elise tidak bertanya. Dia memilih tidur, dengan alasan sudah larut dan lelah. Axel pun tidak memaksanya. Dia tidak mengganggu Elise, dan membiarkan istrinya itu beristirahat. Dia tahu, butuh waktu bagi Elise untuk kembali seperti dulu.Pagi itu terasa lebih damai dibandingkan biasanya. Axe
Elise bergerak pelan di atas tubuhnya. Tangannya bergerak pelan, di atas otot dada suaminya begitu juga dengan bibirnya.Axel membiarkannya, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Setiap kali bibir Elise mendarat di atas tubuhnya, membuat Axel bergetar. Dia dapat merasakan bibir lembu
Pintu kamar utama tertutup perlahan.Suara tepuk tangan, musik, dan ucapan selamat yang memenuhi pesta pernikahan beberapa jam lalu kini telah menghilang. Elise melangkah masuk, berjalan pelan menuju jendela besar yang menghadap ke arah bukit.Dari sana, dia dapat melihat lampu kota seperti bintan
Kedua orang tuanya sangat puas, karena makan malam yang dilakukan oleh Elise berjalan dengan lancar.Axel mengantarnya pulang, pria itu tidak terlihat curiga sama sekali dengan sandiwara yang dimainkan oleh Elise.Wanita gila itu berakting dengan cukup sempurna. Dan mereka pun semakin percaya kalau
Musik mengalun pelan. Lembut, dan mengisi ruangan yang dipenuhi ketegangan.Perlahan, Elise merasa suasana lebih tenang meski di bawah tekanan aura gelap dan tatapan tajam Axel yang sedang menilai dirinya.Elisa duduk dengan anggun di kursinya. Bersikap tenang dan menjaga kewarasan. Jemarinya menye







