MasukZahra menoleh kembali ke arahku, matanya berkaca-kaca namun sorotnya penuh dengan kesedihan mendalam yang bercampur dengan api kemarahan yang meluap-luap dan terpendam. "Kenapa harus Bunda yang Mas bunuh? Kenapa nggak aku saja yang Mas bunuh?? Kenapa??" Dia tiba-tiba berteriak histeris.Aku sontak terkejut, tubuhku menegang. Dan seketika aku tersadar akan sesuatu yang menyakitkan. Bundanya Zahra telah meninggal dunia pagi tadi. Bagaimana bisa aku begitu lupa dan tak peka akan hal yang begitu menyakitkan baginya? "Aku sama sekali nggak berniat membunuh Bundamu, Zahra." Aku mencoba menenangkan, suaraku terdengar berat dan penuh penyesalan. "Tapi kenyataannya Bunda sudah meninggal, Mas! Dan Mas pasti seneng, kan?" tuduhnya lagi, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya. "Enggak!" Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menatapnya tajam namun berusaha tetap tenang dan meyakinkan. "Ohhh... jadi Mas belum puas, ya? Kalau begi
"Veer ... to-long Pa ...." Ucapan itu terputus-putus dengan susah payah, suaranya lemah dan hampir tak terdengar, sebelum akhirnya tubuh Papa terasa lemas di pelukanku dan dia langsung tak sadarkan diri seketika. "Pa! Bangun, Pa!!"Aku panik luar biasa, segera menggoyangkan tubuhnya perlahan agar sadar kembali. Namun melihat kondisi Papa yang begitu memprihatinkan, dengan kulit pucat pasi, tubuh yang kurus kering dan terlihat sangat rapuh, aku tak tega melakukannya terlalu keras. Aku takut setiap gerakan hanya akan menambah rasa sakit dan penderitaan yang dia rasakan."Cepat! Tolong bantu aku bawa Papa keluar dari ruangan ini sekarang juga!" perintahku dengan nada tegas, menatap anak buahku yang sejak tadi berdiri diam terpaku menyaksikan kejadian itu.Pria itu langsung mengangguk cepat. Tidak ada waktu untuk melepaskan ikatan dikaki dan tangan Papa, karena situasinya sudah cukup genting. Kami pun dengan sigap dan penuh kehati-hatian mengangkat t
"Pintu apa ini?" gumamku pelan, rasa penasaran seketika menguasai diri.Aku pun turun dari kursi besar itu, lalu berjongkok tepat di depan pintu kayu yang tersembunyi di sela-sela lantai marmer mengkilap.Jari-jariku meraba pinggiran kayu yang tampak tua namun kokoh, lalu berusaha menariknya ke atas dengan sekuat tenaga. Namun sayang, pintu itu terasa sangat keras dan berat, seolah telah lama tertutup dan tak pernah disentuh siapa pun.Aku segera bangkit dan bergegas berjalan cepat menuju gudang penyimpanan di sisi lain gedung. Tanganku menyambar sebuah linggis besi yang cukup kuat, serta palu besi yang masih tersimpan rapi di sana. Aku pun memanggil salah satu anak buahku yang sedang sibuk mengangkut barang, memintanya ikut membantuku.Kami kembali ke ruangan itu dan segera memulai usaha membuka pintu tersebut. Ujung linggis kumasukkan perlahan ke celah sempit di pinggiran pintu kayu itu."Dorong pelan tapi mantap," perintahku.Kami berdua menumpukan berat badan ke batang linggis itu
Petugas itu menoleh sejenak ke arah rekannya yang berdiri di sampingnya, saling bertukar pandang seolah berdiskusi secara diam-diam sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju.Setelah itu, dia kembali menatap ke arahku dengan wajah tegas namun tenang."Kami bersedia menginterogasi beliau malam ini. Namun saya mohon maaf sebelumnya... Peraturan baku penyidikan mewajibkan sesi ini hanya boleh dihadiri oleh pihak kepolisian dan tersangka saja. Bapak dilarang ikut serta ke dalam ruang pemeriksaan. Namun Bapak tidak perlu cemas, seluruh jalannya interogasi akan kami rekam secara utuh, dan berkas rekaman tersebut akan kami tunjukkan kepada Bapak," jelasnya dengan nada profesional."Nggak masalah, Pak. Yang terpenting pria yang memakai identitas palsu Papaku diinterogasi dengan seksama serta pastikan dia berbicara sejujur-jujurnya," jawabku tegas.Aku sama sekali tidak keberatan dilarang ikut serta, asalkan pihak kepolisian mau berada dipihakku."Kami berjanji akan melakukannya semaksimal mung
Rasa cemas meledak hebat di dalam dadaku melihat apa yang terjadi. Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku langsung berlari tergopoh-gopoh keluar dari ruang rawat itu, meneriakkan dokter dengan suara nyaris tercekat demi meminta pertolongan segera. "Dokter! Tolong istriku, dia pingsan, Dok!" Salah satu dokter yang tak sengaja lewat langsung datang menghampiriku, namun dia melarangku ikut masuk saat dia hendak masuk ke dalam kamar rawat itu. "Bapak sebaiknya tunggu diluar, ya. Biar saya bisa memeriksa istri Bapak dengan fokus." "Baik, Dok." Aku terpaksa menuruti perintah itu. Aku memilih menunggu di luar dengan gelisah, melangkah mondar-mandir di depan pintu kaca yang dingin itu. Dari celah kaca, aku hanya bisa menatap samar sosok Zahra yang terbaring lemah tanpa berdaya. Ting! Suara pendek dari ponselku memecah keheningan dan kecemasan yang menyelimutiku. Segera aku meraih benda pipih itu dengan tangan gemetar. Sebuah pesan masuk tertera jelas dikirimkan oleh Tio. Dengan napas te
"Bu Niah Raihana, Pak."Jawaban singkat dari dokter itu seperti sambaran petir di siang bolong yang menghantam dadaku hingga terasa sesak dan bergetar hebat.Kedua kakiku seketika terasa lemas tak bertulang. Secara refleks tanganku langsung meraba dan menumpukan tubuh pada dinding putih di sampingku agar tidak jatuh."Bapak yang sabar dan tabah ya, Pak. Kalau tentang Nona Zahra... kondisinya sudah agak membaik dan sebentar lagi bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Namun Bapak harap menunggu sekitar setengah jam lagi," tambah dokter itu lembut sebelum akhirnya berbalik masuk kembali ke ruang perawatan.Aku hanya bisa mengangguk lemah sebagai tanda jawaban. Sesaat setelah sosok dokter itu menghilang, Bi Leha perlahan melangkah mendekat ke arahku dengan raut wajah sedih."Pak ... Bundanya Nona Zahra meninggal dunia, dan semua ini gara-gara Bapak. Bagaimana kalau nantinya—""Enggak!! Itu bukan karena aku!!" Aku segera memotong ucapan Bi Leha dengan penyangkalan tegas sambil menggele







