ログインDuuggg… Duuggg … Duuggg. Suara ketukan palu hakim bergema keras di seluruh ruang sidang, memecah keheningan yang menegangkan. Saat itulah, vonis hukuman pun dijatuhkan dengan tegas, terdengar jelas dan berat memenuhi ruangan: "Berdasarkan segala pembuktian, keterangan saksi, serta barang bukti yang sah di mata hukum, Majelis Hakim memutuskan dan menjatuhkan vonis kepada terdakwa, Dendo, atas kesalahan yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian identitas, penyekapan, penganiayaan berat, penyanderaan, serta tindakan yang mengakibatkan kematian orang lain. Maka dari itu, terdakwa dihukum dengan pidana penjara seumur hidup, dikurangi masa tahanan yang telah dijalani, serta wajib membayar denda sebesar lima miliar rupiah kepada negara dan ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah kepada korban atas segala kerugian materiil maupun moril yang telah ditimbulkan. Putusan ini adalah sah dan berkekuatan hukum tetap." Seharusnya, mendengar keputusan itu, hatiku
Ada jeda panjang. Papa menunduk dalam, rasa bersalah tampak jelas terpancar dari wajah tuanya yang penuh luka itu. "Itu mungkin adalah kesalahan Papa, Veer ...." suaranya terdengar parau dan lemah, masih disertai isak tangis yang sesekali kembali pecah. "Papa nggak pernah bercerita padamu, juga kepada Mama. Papa menyimpannya sendirian selama puluhan tahun." "Kenapa, Pa?" tanyaku, rasa heran bercampur kecewa tak bisa kututupi sepenuhnya. "Kita ini keluarga. Harusnya di antara kita nggak ada hal yang perlu ditutup-tutupi, kan? Hal sebesar ini... seharusnya kita saling tau." Papa menghela napas panjang, napas yang terdengar berat dan penuh penyesalan. "Bukan karena Papa bermaksud ingin menutupi atau menyembunyikan sesuatu dari kalian, Nak. Tapi... itu adalah pesan dan permintaan dari mendiang Papa dan Mama-nya Papa, opa dan omamu. Dulu mereka berpesan keras agar hal ini tidak boleh diketahui siapa pun. Dan jujur saja... sampai detik ini pun, Papa sendiri nggak pernah tau apa alasan s
Satu bulan kemudian… Waktu berlalu begitu cepat. Sudah sebulan lamanya Papa berjuang melawan maut dan menjalani perawatan intensif di ruang ICU. Dan hari ini, kabar gembira itu akhirnya datang juga. Kondisi kesehatan Papa perlahan namun membaik, hingga dokter memutuskan beliau sudah cukup kuat untuk dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Rasa bahagia dan lega begitu besar memenuhi dadaku, seolah beban berat yang selama ini menindihku perlahan terangkat. Harapanku kini hanya satu: melihat Papa pulih sepenuhnya, agar kami bisa kembali berkumpul dan hidup bersama seperti dulu. Karena bagiku, di dunia ini sekarang, hanya dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku duduk di samping ranjang rumah sakit, sesekali membaca buku untuk mengisi waktu, sambil terus mengawasi setiap pergerakan kecil pada diri Papa yang masih berbaring lemah. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara detak jantung dari alat pemantau di s
"Halo, Tio, tolong kamu ambilkan semua pakaian dan barang-barang milik Zahra di rumahku besok, bawa dan antarkan padanya ke rumah sakit. Sekalian dengan tas miliknya, yang dari awal aku simpan. Minta Bi Leha ambilkan, ada di dalam laci lemariku yang paling besar," ucapku berbicara dengan Tio dari sambungan telepon. Hening sejenak terdengar dari seberang sana, sebelum suara Tio terdengar. "Kok diambil semua? Kenapa memangnya, Pak?" Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sejenak. "Aku akan menyudahi hubunganku dengan Zahra." "Menyudahi??" Suara Tio meninggi tak percaya, kaget yang dirasakannya begitu jelas terdengar. "Maksudnya, Bapak dan Nona Zahra ingin bercerai?" "Iya." Jawabku singkat dan tegas, tak ada keraguan sedikit pun. "Kenapa??" tanyanya lagi, seolah belum bisa menerima keputusan itu. Aku diam sejenak, menatap kosong ke arah dinding di hadapanku, pikiranku melayang kembali pada semua fakta
"Apa ... Apa setelah ini kamu akan melaporkanku ke polisi? Kamu ingin memenjarakan aku?" tanyaku dengan suara bergetar. Rasa cemas dan keraguan seketika berkecamuk di dalam dada.Kemungkinan itu memang bisa saja terjadi, apalagi dia sudah menegaskan bahwa kami harus berpisah."Enggak, Mas." Zahra menggeleng pelan, tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang masih menetes deras di pipinya. Tatapannya terlihat lemah. "Tenang aja, aku nggak akan melakukan apa pun yang akan membuat Mas Veer semakin tersakiti. Tolong ambil benda-benda ini, lalu pergilah dan tinggalkan aku sekarang. Aku ingin istirahat, Mas. Kepalaku sakit."Dengan rasa ragu, aku perlahan meraih ponsel serta kartu hitam yang disodorkannya itu dari genggaman tangannya. Tanganku terasa berat, seolah sedang mengambil bukan benda biasa, melainkan memutuskan sisa-sisa ikatan yang masih tersisa di antara kami."Apa perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu lagi?" tanyaku lagi dengan nada khawatir."Nggak usah, Mas. Aku h
Zahra menoleh kembali ke arahku, matanya berkaca-kaca namun sorotnya penuh dengan kesedihan mendalam yang bercampur dengan api kemarahan yang meluap-luap dan terpendam. "Kenapa harus Bunda yang Mas bunuh? Kenapa nggak aku saja yang Mas bunuh?? Kenapa??" Dia tiba-tiba berteriak histeris.Aku sontak terkejut, tubuhku menegang. Dan seketika aku tersadar akan sesuatu yang menyakitkan. Bundanya Zahra telah meninggal dunia pagi tadi. Bagaimana bisa aku begitu lupa dan tak peka akan hal yang begitu menyakitkan baginya? "Aku sama sekali nggak berniat membunuh Bundamu, Zahra." Aku mencoba menenangkan, suaraku terdengar berat dan penuh penyesalan. "Tapi kenyataannya Bunda sudah meninggal, Mas! Dan Mas pasti seneng, kan?" tuduhnya lagi, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya. "Enggak!" Aku menggelengkan kepala dengan cepat, menatapnya tajam namun berusaha tetap tenang dan meyakinkan. "Ohhh... jadi Mas belum puas, ya? Kalau begi







