Share

2. Aku hancur

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2026-01-27 21:59:33

“Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”

Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku.

“Veer ... apakah ini kamu? Kamu sudah pulang ke Indonesia?”

Suara Papa terdengar antusias. Hangat. Seolah tidak ada dosa yang sedang dia sembunyikan.

Wajar dia terkejut. Aku memang tidak memberi tahu siapa pun soal kepulanganku hari ini. Rencananya, aku ingin memberi kejutan. Untuk Papa dan Mama. Tapi justru akulah yang dibuat terkejut—oleh kelakuan beja*t Papa sendiri.

“Eh, tadi kamu bilang apa? Papa harus ke rumah sakit, ya? Memangnya siapa yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja, Veer?”

Nada khawatir itu terdengar begitu tulus, dan entah kenapa justru membuat dadaku semakin panas.

“Mama yang sakit,” jawabku dengan suara berat.

Ada jeda di seberang sana.

“Astaghfirullah ... di rumah sakit mana? Papa akan segera ke sana, Veer.”

“Rumah Sakit Sejahtera.”

Aku menutup panggilan sebelum emosiku benar-benar lepas kendali. Tanganku refleks mengelus dada, berusaha mengatur napas yang naik turun tak beraturan. Tapi tetap saja, rasa sesak itu tak mau pergi.

Di sudut ruangan, Bi Leha berdiri mematung. Dari kejauhan, dia tampak gelisah. Langkahnya maju sedikit, lalu berhenti, seolah ragu. Wajahnya menyiratkan ketakutan, bibirnya seperti ingin bicara tapi tak sanggup.

“Ada apa, Bi?”

Dia terkesiap kecil, cepat-cepat menggelengkan kepala, lalu menunduk dalam. "Enggak, Pak. Enggak ada apa-apa.”

Sikap itu justru menguatkan kecurigaanku.

“Aku tau Bibi pasti mengetahui sesuatu. Dan tentang foto ini ....” Aku melangkah mendekat dan memperlihatkan ponsel Mama ke arahnya. Layar itu menyala terang, menampilkan wajah Papa dan wanita muda itu tanpa ampun. "Ini Papa dengan siapa? Pasti Papa berselingkuh, kan?”

“Bibi nggak tau, Pak. Bibi nggak tau apa-apa.” Kepalanya kembali menggeleng cepat. Tapi kali ini tubuhnya gemetar, kakinya mundur beberapa langkah, seperti berusaha menjauh dariku.

“Kalau Bibi nggak mau jujur, aku akan menyalahkan Bibi kalau sampai Mamaku kenapa-kenapa! Bibi akan bertanggung jawab!” Nada suaraku meninggi, penuh ancaman. Aku memang paling tidak suka dibohongi. Dan lebih dari itu—aku membenci orang yang memilih diam saat tahu kebenaran.

“Ampun, Pak. Bibi hanya kerja. Bibi takut.” Tangannya bergetar saat diangkat setengah, seolah ingin melindungi diri.

Aku melangkah maju lagi. Tatapanku tajam, menusuk, membuat Bi Leha semakin terpojok hingga punggungnya nyaris menempel dinding.

“Bibi nggak perlu takut. Kalau pun Bibi dipecat ... aku yang akan memberikan Bibi pekerjaan baru.”

“Tapi yang Bibi takutkan Pak Dendi, Pak. Soalnya Pak Dendi meminta Bibi untuk—” Kalimat itu terputus. Wajah Bibi semakin pucat, bibirnya bergetar hebat seolah takut kata-kata berikutnya akan menjadi petaka.

“Cepat kasih tau aku, atau Bibi yang akan aku salahkan di sini!!” Suaraku meledak. Amarah yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah tanpa sisa. Tanganku refleks mencengkeram tangan Bibi dengan kuat. Tubuhnya tersentak kaget.

“Ba-baik, Pak. Bibi akan ju-jur. Tapi lepaskan dulu tangan Bibi ... i-ni sakit, Pak!” Bibi meringis, matanya berkaca-kaca, nyaris menangis. Aku tersadar, lalu segera melepaskan genggamanku. Meski begitu, tatapanku masih tajam menekannya, seolah memaksa kebenaran keluar dengan sendirinya.

“Benar, Pak.” Bibi mengangguk cepat, napasnya masih tersengal. "Pak Dendi berselingkuh, dan wanita yang bersamanya itu adalah selingkuhannya. Bibi sering melihat mereka berdua dipusat perbelanjaan.”

Dunia di sekitarku terasa semakin sempit. Dadaku panas, napasku berat. Setiap kata Bibi seperti bahan bakar yang disiramkan ke api amarahku.

“Sedang apa mereka?”

“Sedang belanja bulanan.”

“Belanja bulanan?!” Dahiku berkerut, otakku berusaha mencerna betapa kejinya semua ini.

“Jadi Mama tau dari Bibi, kalau Papa ternyata berselingkuh?”

“Bibi nggak tau, Pak, kalau Bu Retno itu sudah tau atau belum.” Bibi menggeleng ragu. “Tapi yang Bibi tau ... mereka berdua memang sudah lama sering bertengkar.”

Jantungku berdegup keras. Potongan-potongan kejadian mulai tersusun di kepalaku.

“Terus, Mama bisa punya foto ini dari siapa?”

Belum sempat Bibi menjawab, suara engsel pintu menginterupsi segalanya.

Pintu ruang IGD terbuka.

Aku langsung menoleh. Seorang dokter pria berkacamata keluar dengan raut wajah serius. Hanya dari ekspresinya saja, firasat buruk langsung menghantam dadaku.

“Keluarga Bu Retno Narendra?”

“Aku anaknya, Dok!” Aku mendekat cepat, langkahku hampir tersandung oleh rasa panik.

“Bagaimana kondisi Mamaku? Dia baik-baik saja, kan?”

“Bu Retno mengalami serangan jantung, Pak. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya, tapi semuanya terlambat.”

“Terlambat?!” Mataku terbelalak, napasku tercekat. "Apa maksud Dokter?”

Dokter itu menatapku dengan sorot penuh iba. "Mama Anda sudah meninggal dunia, Pak. Saya harap ... Bapak dan keluarga bisa mengikhlaskan kepergiannya.”

Sejenak, dunia terasa sunyi.

Aku tidak mendengar apa pun lagi selain denging di telingaku.

“Apa?! Meninggal??” Teriakan itu datang dari samping. Aku menoleh refleks.

Papa.

Pria itu berlari tergesa-gesa ke arah kami, wajahnya panik, napasnya memburu. Tapi sebelum dia sempat mendekat lebih jauh—sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya—seluruh amarah, kesedihan, dan kehancuran di dalam diriku meledak.

Tinjuku melayang.

Bugh!!

Suara hantaman itu menggema, menjadi penanda runtuhnya segalanya. Keluarga, kepercayaan, dan sisa cintaku sebagai seorang anak.

“Veerrr!! Apa-apaan kamu? Kenapa nonjok Papa??” Papa menatapku dengan mata membelalak, campuran terkejut dan marah. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, napasnya berat—tapi semua itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku saat ini.

“Semua ini gara-gara Papa!" geramku.

Tanpa ampun, aku membabi buta menghantam wajahnya lagi dan lagi. Tidak ada hitungan, tidak ada kendali. Aku benar-benar seperti orang kesetanan—akal sehat lenyap, yang tersisa hanya rasa hancur yang tak tertahankan.

Aku hancur.

Mama… orang yang paling kusayangi di dunia ini… kini telah tiada. Dia meregang nyawa setelah mengetahui pengkhianatan Papa.

Aku tahu betul betapa besarnya cinta Mama pada Papa. Betapa dia menggantungkan hidup, hati, dan dunianya pada pria itu. Dan kenyataan pahit itu—perselingkuhan, pasti mengguncangnya terlalu keras, hingga jantungnya tak sanggup lagi menahan rasa sakit.

Dan karena itu… Papa pantas menerima semua ini.

Tidak peduli siapa pun dia. Bahkan jika dia adalah ayah kandungku sendiri. Aku akan membalasnya. Aku akan menghancurkan hidupnya dan hidup wanita selingkuhannya—seperti mereka menghancurkan hidup Mama.

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   6. Kejutan spesial

    Tubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan.“Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini sangat—”“Diam, kau!” Aku menyentak marah, memotong ucapan Pak Penghulu. Tatapanku nyalang, penuh ancaman. “Bapak tidak berhak mencampuri urusanku. Bapak disini hanya dibayar, dan kalau Bapak keberatan ... pintu ruangan ini terbuka lebar untuk Bapak!”Tio segera bergerak cepat menuju pintu, lalu membukakannya lebar-lebar. Suara engsel pintu terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam.Pria berpeci yang usianya tak jauh dari Papa itu langsung menggelengkan kepala. Senyum kecil terpaksa terukir di wajahnya.Aku yakin dia tak mungkin berniat pergi dari sini, karena bayaran yang akan dia terima menjadi penghuluku bernilai fantastis. Lima kali lipat dari harga biasanya.“Maafkan saya, Pak

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   5. Tidak berhak

    Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melangkah menuju hari paling bahagia dalam hidup.Ironis.Di ruang tengah, Pak penghulu dan para saksi yang sudah kubayar duduk menunggu dengan raut canggung. Mereka saling bertukar pandang, mungkin bertanya-tanya mengapa prosesi sakral ini terasa begitu dingin dan janggal.Namun satu hal yang membuatku kesal—sejak tadi Zahra tak kunjung sadar.Tubuhnya terbaring di atas ranjang, kini sudah mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih. Wajahnya dipoles make up tipis oleh MUA yang kubayar mahal. Jika dilihat sekilas, dia tampak seperti pengantin pada umumnya.“Pak, Nona Zahra belum sadar juga,” kata Tio yang sejak tadi sibuk mengusap minyak angin ke hidung dan leher Zahra. Gerakannya terliha

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   4. Sugar baby

    Aku mendengus keras.Dasar gatal!Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby?Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak.“Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio yang sejak tadi fokus menyetir.“Katakan.”“Setelah wanita itu diculik, kira-kira nanti mau Bapak apakan? Apa Bapak ingin menyiksanya? Atau mau Bapak perkos ....” Tio tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dari kaca depan, kulihat sorot matanya ragu, seolah menimbang apakah kalimat itu pantas dilanjutkan atau tidak.“Kenapa nggak dilanjut?”“Maaf, saya hanya penasaran saja, Pak. Tapi saya harap ... Bapak tidak melakukan tindakan yang membuat Bapak dalam bahaya. Saya hanya takut.” Nada suaranya tulus. Bukan menentang—lebih seperti khawatir.“Dalam bahaya gimana maksudmu?”“Melakukan tindakan kriminal. Seperti pemerko*saan, misalnya.”Aku terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena pikiran T

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   3. Zahra Raihana

    “Pak! Tahan, Pak!!”Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa.Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.Tidak.Papa tidak boleh mati sekarang.Dan bukan oleh tanganku.Jika aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Itu terlalu mudah baginya. Papa harus tetap hidup. Dia harus hidup cukup lama untuk merasakan semua balasan atas rasa sakit yang Mama derita.“Bapak tidak boleh masuk lagi ke dalam rumah sakit! Sekarang Bapak pulang!” Salah satu satpam menunjuk wajahku dengan tegas. Bersama rekannya, dia menyeret tubuhku keluar dari rumah sakit.Aku masih sempat memberontak, tapi tenagaku terkuras oleh amarah dan duka yang menumpuk.“Aku akan pulang bersama Mamaku! Dan harusnya yang Bapak usir tadi adalah pria tua yang aku cekik, karena dialah penyebab Mamaku meninggal!” Aku murka. Tatapanku tajam menel

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   2. Aku hancur

    “Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku.“Veer ... apakah ini kamu? Kamu sudah pulang ke Indonesia?”Suara Papa terdengar antusias. Hangat. Seolah tidak ada dosa yang sedang dia sembunyikan.Wajar dia terkejut. Aku memang tidak memberi tahu siapa pun soal kepulanganku hari ini. Rencananya, aku ingin memberi kejutan. Untuk Papa dan Mama. Tapi justru akulah yang dibuat terkejut—oleh kelakuan beja*t Papa sendiri.“Eh, tadi kamu bilang apa? Papa harus ke rumah sakit, ya? Memangnya siapa yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja, Veer?”Nada khawatir itu terdengar begitu tulus, dan entah kenapa justru membuat dadaku semakin panas.“Mama yang sakit,” jawabku dengan suara berat.Ada jeda di seberang sana.“Astaghfirullah ... di rumah sakit mana? P

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   1. Foto wanita muda di ponsel Papa

    “Aaawww!! Sakiiitttt!!”Jeritan itu menggema di ruang apartemen. Wanita itu menggeliat liar saat aku merobek lakban di mulutnya tanpa ampun.Air matanya langsung mengalir, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Rambutnya yang kusut menempel di wajah pucatnya saat dia menatapku—heran dan kebingungan bercampur jadi satu.“Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!”Aku mencengkeram rambutnya lebih keras, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya teregang paksa. Dia meringis, menjerit semakin histeris tampak kesakitan.Tapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding apa yang telah dia lakukan padaku.Dia telah merenggut nyawa Mama. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku, cinta pertamaku—satu-satunya perempuan yang kucintai tanpa syarat. Dan sekarang, tepat di hadapanku, duduk terikat Zahra. Wanita jal*ng. Selingkuhan Papaku.“Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??”Amarahku meledak. Tanganku semakin kasar, jari-jariku mencengkeram rambutnya tanpa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status