LOGIN“Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”
Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku. “Veer ... apakah ini kamu? Kamu sudah pulang ke Indonesia?” Suara Papa terdengar antusias. Hangat. Seolah tidak ada dosa yang sedang dia sembunyikan. Wajar dia terkejut. Aku memang tidak memberi tahu siapa pun soal kepulanganku hari ini. Rencananya, aku ingin memberi kejutan. Untuk Papa dan Mama. Tapi justru akulah yang dibuat terkejut—oleh kelakuan beja*t Papa sendiri. “Eh, tadi kamu bilang apa? Papa harus ke rumah sakit, ya? Memangnya siapa yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja, Veer?” Nada khawatir itu terdengar begitu tulus, dan entah kenapa justru membuat dadaku semakin panas. “Mama yang sakit,” jawabku dengan suara berat. Ada jeda di seberang sana. “Astaghfirullah ... di rumah sakit mana? Papa akan segera ke sana, Veer.” “Rumah Sakit Sejahtera.” Aku menutup panggilan sebelum emosiku benar-benar lepas kendali. Tanganku refleks mengelus dada, berusaha mengatur napas yang naik turun tak beraturan. Tapi tetap saja, rasa sesak itu tak mau pergi. Di sudut ruangan, Bi Leha berdiri mematung. Dari kejauhan, dia tampak gelisah. Langkahnya maju sedikit, lalu berhenti, seolah ragu. Wajahnya menyiratkan ketakutan, bibirnya seperti ingin bicara tapi tak sanggup. “Ada apa, Bi?” Dia terkesiap kecil, cepat-cepat menggelengkan kepala, lalu menunduk dalam. "Enggak, Pak. Enggak ada apa-apa.” Sikap itu justru menguatkan kecurigaanku. “Aku tau Bibi pasti mengetahui sesuatu. Dan tentang foto ini ....” Aku melangkah mendekat dan memperlihatkan ponsel Mama ke arahnya. Layar itu menyala terang, menampilkan wajah Papa dan wanita muda itu tanpa ampun. "Ini Papa dengan siapa? Pasti Papa berselingkuh, kan?” “Bibi nggak tau, Pak. Bibi nggak tau apa-apa.” Kepalanya kembali menggeleng cepat. Tapi kali ini tubuhnya gemetar, kakinya mundur beberapa langkah, seperti berusaha menjauh dariku. “Kalau Bibi nggak mau jujur, aku akan menyalahkan Bibi kalau sampai Mamaku kenapa-kenapa! Bibi akan bertanggung jawab!” Nada suaraku meninggi, penuh ancaman. Aku memang paling tidak suka dibohongi. Dan lebih dari itu—aku membenci orang yang memilih diam saat tahu kebenaran. “Ampun, Pak. Bibi hanya kerja. Bibi takut.” Tangannya bergetar saat diangkat setengah, seolah ingin melindungi diri. Aku melangkah maju lagi. Tatapanku tajam, menusuk, membuat Bi Leha semakin terpojok hingga punggungnya nyaris menempel dinding. “Bibi nggak perlu takut. Kalau pun Bibi dipecat ... aku yang akan memberikan Bibi pekerjaan baru.” “Tapi yang Bibi takutkan Pak Dendi, Pak. Soalnya Pak Dendi meminta Bibi untuk—” Kalimat itu terputus. Wajah Bibi semakin pucat, bibirnya bergetar hebat seolah takut kata-kata berikutnya akan menjadi petaka. “Cepat kasih tau aku, atau Bibi yang akan aku salahkan di sini!!” Suaraku meledak. Amarah yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah tanpa sisa. Tanganku refleks mencengkeram tangan Bibi dengan kuat. Tubuhnya tersentak kaget. “Ba-baik, Pak. Bibi akan ju-jur. Tapi lepaskan dulu tangan Bibi ... i-ni sakit, Pak!” Bibi meringis, matanya berkaca-kaca, nyaris menangis. Aku tersadar, lalu segera melepaskan genggamanku. Meski begitu, tatapanku masih tajam menekannya, seolah memaksa kebenaran keluar dengan sendirinya. “Benar, Pak.” Bibi mengangguk cepat, napasnya masih tersengal. "Pak Dendi berselingkuh, dan wanita yang bersamanya itu adalah selingkuhannya. Bibi sering melihat mereka berdua dipusat perbelanjaan.” Dunia di sekitarku terasa semakin sempit. Dadaku panas, napasku berat. Setiap kata Bibi seperti bahan bakar yang disiramkan ke api amarahku. “Sedang apa mereka?” “Sedang belanja bulanan.” “Belanja bulanan?!” Dahiku berkerut, otakku berusaha mencerna betapa kejinya semua ini. “Jadi Mama tau dari Bibi, kalau Papa ternyata berselingkuh?” “Bibi nggak tau, Pak, kalau Bu Retno itu sudah tau atau belum.” Bibi menggeleng ragu. “Tapi yang Bibi tau ... mereka berdua memang sudah lama sering bertengkar.” Jantungku berdegup keras. Potongan-potongan kejadian mulai tersusun di kepalaku. “Terus, Mama bisa punya foto ini dari siapa?” Belum sempat Bibi menjawab, suara engsel pintu menginterupsi segalanya. Pintu ruang IGD terbuka. Aku langsung menoleh. Seorang dokter pria berkacamata keluar dengan raut wajah serius. Hanya dari ekspresinya saja, firasat buruk langsung menghantam dadaku. “Keluarga Bu Retno Narendra?” “Aku anaknya, Dok!” Aku mendekat cepat, langkahku hampir tersandung oleh rasa panik. “Bagaimana kondisi Mamaku? Dia baik-baik saja, kan?” “Bu Retno mengalami serangan jantung, Pak. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya, tapi semuanya terlambat.” “Terlambat?!” Mataku terbelalak, napasku tercekat. "Apa maksud Dokter?” Dokter itu menatapku dengan sorot penuh iba. "Mama Anda sudah meninggal dunia, Pak. Saya harap ... Bapak dan keluarga bisa mengikhlaskan kepergiannya.” Sejenak, dunia terasa sunyi. Aku tidak mendengar apa pun lagi selain denging di telingaku. “Apa?! Meninggal??” Teriakan itu datang dari samping. Aku menoleh refleks. Papa. Pria itu berlari tergesa-gesa ke arah kami, wajahnya panik, napasnya memburu. Tapi sebelum dia sempat mendekat lebih jauh—sebelum satu kata pun keluar dari mulutnya—seluruh amarah, kesedihan, dan kehancuran di dalam diriku meledak. Tinjuku melayang. Bugh!! Suara hantaman itu menggema, menjadi penanda runtuhnya segalanya. Keluarga, kepercayaan, dan sisa cintaku sebagai seorang anak. “Veerrr!! Apa-apaan kamu? Kenapa nonjok Papa??” Papa menatapku dengan mata membelalak, campuran terkejut dan marah. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras, napasnya berat—tapi semua itu sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku saat ini. “Semua ini gara-gara Papa!" geramku. Tanpa ampun, aku membabi buta menghantam wajahnya lagi dan lagi. Tidak ada hitungan, tidak ada kendali. Aku benar-benar seperti orang kesetanan—akal sehat lenyap, yang tersisa hanya rasa hancur yang tak tertahankan. Aku hancur. Mama… orang yang paling kusayangi di dunia ini… kini telah tiada. Dia meregang nyawa setelah mengetahui pengkhianatan Papa. Aku tahu betul betapa besarnya cinta Mama pada Papa. Betapa dia menggantungkan hidup, hati, dan dunianya pada pria itu. Dan kenyataan pahit itu—perselingkuhan, pasti mengguncangnya terlalu keras, hingga jantungnya tak sanggup lagi menahan rasa sakit. Dan karena itu… Papa pantas menerima semua ini. Tidak peduli siapa pun dia. Bahkan jika dia adalah ayah kandungku sendiri. Aku akan membalasnya. Aku akan menghancurkan hidupnya dan hidup wanita selingkuhannya—seperti mereka menghancurkan hidup Mama. Bersambung...."Aku ingin menagih hutang, dia punya hutang padaku."Hutang lagi.Kata itu kembali muncul. Seakan menjadi benang kusut yang terus mengikat nama Papa di berbagai tempat yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya.Astaga… bagaimana bisa Papa punya banyak hutang di mana-mana? Dan kali ini pada pria yang bahkan baru aku temui ini.Aku menarik napas pelan, mencoba tetap tenang meski kepalaku mulai dipenuhi pertanyaan yang saling bertabrakan."Kalau boleh tau berapa hutangnya, Pak?""10 juta. Papamu bilang dia akan membayarnya setelah dia kaya, tapi dia justru pergi tanpa kabar selama 3 tahun."Aku terdiam sesaat.Tiga tahun. Papa bilang akan membayar setelah kaya?Aku hampir tertawa kecil, tapi tidak ada satu pun rasa lucu di situ.Bagaimana bisa Papa mengatakan hal seperti itu? Bukankah Papa sejak dulu sudah kaya… lebih tepatnya sejak dia diadopsi oleh keluarga angkatnya?Kepalaku mulai berdenyut pelan."Sebentar, aku telepon Papaku dulu. Aku akan tanya dia ada di mana sekarang." Aku segera
Aku menghentikan mobilku tepat di depan salah satu toko ponsel yang berada di pinggir jalan.Lampu-lampu etalase yang terang memantulkan bayanganku di kaca, sementara deretan ponsel tersusun rapi di dalamnya. Tujuank ingin membelikan Zahra ponsel baru.Aku segera turun dan melangkah masuk."Selamat datang, Pak. Mau cari hape model apa?" Seorang pria, penjaga toko itu menyapa dengan ramah sambil tersenyum."Aku mau beli hape yang harga nggak terlalu mahal tapi kualitasnya bagus."Sebentar ya, Pak. Saya cari."Dia membuka etalase kaca dengan hati-hati, tangannya bergerak lincah memilih satu per satu ponsel sebelum akhirnya mengambil satu unit. Dia kemudian menaruhnya di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arahku."Ini hape merek Oppay, Pak. Harganya 5,5 juta. Sudah tahan air, tahan banting dan tahan ledakan."Aku menatap ponsel itu sekilas saja. Tanpa banyak pertimbangan, aku sudah merasa cukup."Oke. Bungkusi satu."Penjaga toko itu tampak sedikit terkejut dengan keputusanku yang ce
“Apa ada masalah, Pak? Kok saya perhatikan Bapak nggak fokus dan terus melihat hape?”Pertanyaan dari Tio membuatku tersentak dari kursi putar kerjaku. Tubuhku yang tadi bersandar langsung tegak, seperti seseorang yang baru saja ditarik keluar dari lamunannya.Di hadapanku, berkas-berkas penting masih terbuka—laporan produksi bulanan pabrik, grafik distribusi, hingga rencana ekspansi. Semua angka dan strategi itu seharusnya menjadi pusat perhatianku.Tapi sejak tadi pikiranku tidak ada di sini.Tanganku masih menggenggam ponsel, sesekali layar itu menyala hanya karena aku membuka dan menutupnya berulang kali. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan.Kosong.“Aku sebenarnya sejak tadi menunggu kabar dari Bi Leha, Tio,” jawabku jujur, suaraku terdengar lebih berat dari biasanya.“Memangnya Bi Leha sakit, Pak?”“Nggak sakit.”Aku menarik napas pelan, lalu menatap layar ponsel lagi sebelum akhirnya meletakkannya di atas meja.“Di rumah ada Zahra dan Papa. Aku khawatir mereka berbuat macam-m
“Sumpah demi Allah, Pak. Dan aku beneran nggak tau soal Papa terlilit hutang.” Suara Zahra terdengar lebih lirih dari sebelumnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, tapi dia tetap berusaha menatapku lurus.Tapi aku justru semakin naik darah melihatnya bersikap seperti itu. Seolah-olah dia benar-benar tidak tahu apa-apa, padahal aku yakin sebaliknya.“Lama-lama mulutmu kurobek ya, Zahra! Karena masih mengelak!” bentakku keras.Braakkk!!Tanganku menghantam meja hingga sendok di piring bergetar. Suara benturan itu membuat suasana ruang makan yang sejak tadi tegang menjadi mencekam.Zahra langsung tersentak. Bahunya bergetar kecil.Untuk beberapa detik dia terdiam, menundukkan kepala. Seperti sedang berusaha menelan semua kata-kata kasar yang baru saja keluar dari mulutku.“Aku nggak bohong, Pak,” katanya lagi pelan. Suaranya nyaris seperti bisikan. “Kalau Bapak nggak percaya… aku juga nggak tau harus bilang apa lagi.”Aku mendengus kesal.“Sudah cukup. Aku muak dengar alasanmu!”Aku langsun
“Kok Bapak diem aja?”Pertanyaan dari Zahra membuatku tersentak dari lamunan. Aku baru sadar sejak tadi hanya menatapnya tanpa menjawab apa pun.“Jadi gimana? Bapak mau mandi dulu apa sarapan dulu?” lanjutnya dengan suara lembut.“Mandi,” jawabku singkat.Sengaja. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia akan bersikap seperti ini. Aku ingin tahu alasan apa yang membuatnya tiba-tiba sok baik pagi-pagi begini.“Oke, aku siapkan air hangat untuk mandinya dulu ya, Pak.”Aku hanya mengangguk pelan.Zahra langsung berbalik dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar. Pintu itu terbuka sebentar, lalu tertutup lagi. Dari dalam terdengar suara keran air dibuka, bunyi ember bergeser, dan sesekali suara benda kecil beradu.Sementara itu aku tetap duduk di atas ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku justru terlalu aktif. Banyak hal berputar-putar di dalam sana—Mama, Papa, Pak Nanang… dan sekarang Zahra.Beberapa menit kemudian pintu kam
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. Panjang… berat… seperti seseorang yang tahu pengakuannya akan mengubah segalanya.“Saya dengar dari ART di rumah Bapak kalau penyebab Bu Retno meninggal karena terkena serangan jantung, sehabis melihat foto Pak Dendi dengan selingkuhannya. Dan sayalah orangnya yang memberikan foto itu padanya, Pak.”Kalimat itu jatuh begitu saja ke telingaku, tapi efeknya seperti palu godam yang menghantam kepala. Dunia terasa senyap beberapa detik. Tanganku yang memegang ponsel langsung gemetar.“Kurang ajar, kenapa Bapak melakukan itu??” Aku berteriak, suaraku pecah antara marah dan nyeri yang tak tertahankan. “Seharusnya Bapak tidak perlu memberitahu Mama dulu, tapi beritahu aku!”Dadaku naik turun tak beraturan. Nafasku memburu, pandanganku memanas. Andai dia ada di depanku saat ini, mungkin sudah kuhantam tanpa pikir panjang.“Maafkan saya, Pak. Tapi saat itu almarhumah yang meminta tolong saya untuk mencarikan bukti perselingkuhan Pak Dendi, karen







