Share

3. Zahra Raihana

Author: Rossy Dildara
last update Last Updated: 2026-01-27 22:00:01

“Pak! Tahan, Pak!!”

Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa.

Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.

Tidak.

Papa tidak boleh mati sekarang.

Dan bukan oleh tanganku.

Jika aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Itu terlalu mudah baginya. Papa harus tetap hidup. Dia harus hidup cukup lama untuk merasakan semua balasan atas rasa sakit yang Mama derita.

“Bapak tidak boleh masuk lagi ke dalam rumah sakit! Sekarang Bapak pulang!” Salah satu satpam menunjuk wajahku dengan tegas. Bersama rekannya, dia menyeret tubuhku keluar dari rumah sakit.

Aku masih sempat memberontak, tapi tenagaku terkuras oleh amarah dan duka yang menumpuk.

“Aku akan pulang bersama Mamaku! Dan harusnya yang Bapak usir tadi adalah pria tua yang aku cekik, karena dialah penyebab Mamaku meninggal!” Aku murka. Tatapanku tajam menelusuri wajah mereka satu per satu, penuh kebencian dan keputusasaan.

“Tapi Bapak lah yang lebih dulu mencari ribut. Ini rumah sakit, Pak. Saya harap Bapak bisa mengerti dan lebih mengontrol diri.”

Kedua pria itu tetap berdiri menghadang, mencegahku kembali masuk ke dalam rumah sakit.

Akhirnya aku mengalah.

Aku memutuskan pulang ke rumah. Namun sebelum itu, aku menghubungi asistenku, memintanya mengurus kepulangan jenazah Mama dari rumah sakit sekaligus seluruh persiapan pemakamannya.

Hari sudah terlalu gelap dan hatiku juga.

Aku memutuskan untuk memakamkan Mama besok hari.

*

*

*

Malam itu, aku mengundang seorang Ustadz, para kerabat, dan tetangga terdekat. Rumah yang biasanya hangat kini dipenuhi suasana duka. Kami menggelar pengajian, melantunkan doa-doa untuk Mama.

Aku duduk terdiam, menunduk, air mata jatuh tanpa suara.

Aku yakin…

semakin banyak doa yang dipanjatkan,

semakin lapang jalan Mama menuju surga.

Dan di saat yang sama, di balik doa-doa itu—sumpah balas dendamku mulai tumbuh, pelan tapi pasti.

“Pak Veer, maaf ....” Bisikan itu terdengar pelan di sampingku, tepat setelah aku menutup bacaan surah Yaasin. Suara ayat-ayat suci masih terngiang di telinga, namun hatiku kosong oleh duka yang bertaburan.

Aku menoleh. Tio—asisten pribadiku bergeser lebih dekat, wajahnya tampak tegang dan ragu. "Pak Dendi diluar marah-marah, Pak. Dia mau masuk untuk melihat Bu Retno.”

Aku menarik napas perlahan.

Papa memang sengaja dilarang masuk ke dalam rumah. Aku bahkan menyewa beberapa orang untuk berjaga di luar. Tidak ada satu pun celah yang kubiarkan terbuka untuknya.

Meski ini rumahnya… tapi aku tidak sudi melihatnya melangkah masuk. Dan aku yakin, meskipun Mama telah tiada, hatinya pasti m menolak bertemu dengan pria yang telah menghancurkannya.

“Jangan pedulikan dia. Ayok ikut aku sebentar.”

Aku berdiri, meninggalkan ruang pengajian, lalu melangkah menuju kamar yang biasa kutempati di rumah ini. Begitu pintu tertutup, suasana berubah. Tidak ada lagi lantunan doa—yang tersisa hanya niat gelap yang sejak tadi kutahan.

Aku mengeluarkan ponsel, membuka galeri, lalu memperlihatkan sebuah foto kepada Tio.

“Aku akan mengirimkan foto ini kepadamu. Nanti kamu sewa dua orang untuk menculiknya, sekaligus mencari informasi tentangnya.”

“Menculik?!” Mata Tio mendelik kaget. Dia menatapku tak percaya, seperti baru saja melihat sisi diriku yang belum pernah dia kenal. "Kenapa harus menculiknya, Pak? Memangnya dia siapa?”

“Dia selingkuhan Papaku. Aku akan memberikannya pelajaran, atas apa yang telah diperbuatnya.” Gigiku tergertak keras. Kedua tanganku mengepal, urat-uratnya menegang. Rasanya gatal—bukan sekadar marah, tapi ingin melampiaskan. Bayangan menjambak rambut wanita itu hingga botak berkelebat jelas di kepalaku.

“Astaghfirullah... jadi Pak Dendi selama ini berselingkuh? Kasihan sekali Bu Retno, Pak.”

“Itulah, betapa kurang ajarnya Papa. Dia benar-benar tidak tau diri. Padahal, apa kurangnya Mama? Wanita gatal ini hanya menang muda doang, kalau wajah sih ....” Aku kembali menatap foto itu. Wajah perempuan muda yang tersenyum manja di dada Papa.

Memang dia cantik, aku sendiri tidak menyangkalnya. Tapi jika dibandingkan dengan Mama? Dia tidak ada apa-apanya.

“Mamaku jauh lebih cantik. Iya 'kan, Tio?” Lanjutku.

“Itu benar, Pak." Tio mengangguk setuju. "Padahal dia masih sangat muda, ya, bisa-bisanya jadi pelakor. Memang wanita zaman sekarang nggak ada yang beres.”

“Pokoknya aku mau, besok wanita itu sudah ada dalam genggamanku, Tio.” Nada suaraku datar. Terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya mengerikan.

“Pasti, Pak. Saya akan melakukannya sesuai perintah Bapak.”

Untuk pertama kalinya sejak Mama pergi, sudut bibirku terangkat. Sebuah senyum tipis—dingin dan penuh perhitungan.

Aku segera mentransfer uang lima puluh juta ke rekening Tio. Jumlah kecil, jika dibandingkan dengan kepuasan yang akan kudapat nanti.

Permainan baru saja dimulai.

Dan kali ini…

aku tidak berniat berhenti sampai mereka benar-benar merasakan neraka yang sama seperti yang Mama rasakan.

***

Hari berganti.

Aku adalah pria yang sangat sulit untuk menangis. Sejak kecil, aku diajarkan untuk kuat, untuk menahan air mata apa pun yang terjadi. Tapi kali ini… semua itu runtuh.

Saat melihat tubuh Mama perlahan diturunkan ke dalam liang lahat, dadaku seolah ikut dikubur bersamanya. Kakiku lemas. Pandanganku mengabur. Dan tanpa bisa kutahan lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Isakanku pecah, air mata tumpah deras tanpa peduli siapa pun yang melihat.

Aku tahu ini tidak baik. Aku tahu orang-orang bilang, tangisan orang yang ditinggalkan bisa membuat yang pergi ikut bersedih. Tapi aku benar-benar tidak sanggup menahannya.

Mama…

meskipun Mama sudah tidak ada di dunia ini, Mama akan selalu hidup di hatiku. Selamanya. Mama adalah cinta pertamaku, rumah pertamaku, dan tak akan pernah ada siapa pun yang mampu menggantikan posisi itu.

Sebelum tanah benar-benar menutup tubuhnya, aku sempat menatap wajah Mama untuk terakhir kalinya. Wajah itu tampak damai. Cantik. Bibirnya melengkung membentuk senyum lembut—senyum yang selama ini selalu menyambutku setiap kali aku pulang.

Senyum yang kini tak akan pernah kulihat lagi.

Mama… tenanglah di sana. Berbahagialah.

Biar aku saja yang memikul semuanya.

Biar aku saja yang membalas rasa sakit yang selama ini Mama pendam sendirian.

Semuanya akan beres, Ma.

*

*

Setelah acara pemakaman selesai, aku dan Tio segera meluncur ke arah apartemen yang telah kusiapkan. Mobil melaju membelah jalanan sore yang mulai lengang, meninggalkan tanah pemakaman yang masih basah oleh doa dan air mata.

Di dalam mobil, suasana terasa sunyi. Hanya suara mesin dan pikiranku sendiri yang saling beradu.

Aku membuka selembar kertas berisi data diri wanita itu, lengkap dengan sebuah KTP yang baru saja diserahkan Tio. Jemariku mengerat tanpa sadar saat membaca setiap barisnya.

Zahra Raihana.

Nama yang indah. Terlalu indah untuk kelakuan yang menjijikkan. Dari data yang tertera, dia masih tercatat sebagai mahasiswi di salah satu universitas ternama di Jakarta. Tempat tinggalnya pun tak jauh dari area kampus.

Mataku langsung membulat saat pandanganku berhenti di bagian tanggal lahir.

2006?!

Dadaku berdesir.

Astaga… yang benar saja?

Berarti usianya baru memasuki dua puluh dua tahun. Sementara aku sendiri sudah menginjak kepala tiga.

Ini gila.

Papa benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

Bagaimana bisa dia berselingkuh dengan perempuan semuda itu?

Bersambung....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   6. Kejutan spesial

    Tubuh Zahra langsung memegang. Aku bisa merasakan bagaimana dia menelan ludah dengan susah payah. Napasnya tercekat, dadanya naik turun tak beraturan. Tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan di matanya begitu nyata—dan itu memberiku kepuasan.“Pak Veer ... apa yang Bapak lakukan? Bukankah tindakan ini sangat—”“Diam, kau!” Aku menyentak marah, memotong ucapan Pak Penghulu. Tatapanku nyalang, penuh ancaman. “Bapak tidak berhak mencampuri urusanku. Bapak disini hanya dibayar, dan kalau Bapak keberatan ... pintu ruangan ini terbuka lebar untuk Bapak!”Tio segera bergerak cepat menuju pintu, lalu membukakannya lebar-lebar. Suara engsel pintu terdengar nyaring di tengah keheningan yang mencekam.Pria berpeci yang usianya tak jauh dari Papa itu langsung menggelengkan kepala. Senyum kecil terpaksa terukir di wajahnya.Aku yakin dia tak mungkin berniat pergi dari sini, karena bayaran yang akan dia terima menjadi penghuluku bernilai fantastis. Lima kali lipat dari harga biasanya.“Maafkan saya, Pak

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   5. Tidak berhak

    Aku berdiri tegak di depan cermin, menatap pantulan diriku sendiri.Stelan jas putih yang membalut tubuhku membuat penampilanku tampak rupawan—bahkan terlalu sempurna untuk sebuah pernikahan yang lahir dari amarah dan dendam. Rambutku tersisir rapi, wajahku bersih, seolah aku benar-benar akan melangkah menuju hari paling bahagia dalam hidup.Ironis.Di ruang tengah, Pak penghulu dan para saksi yang sudah kubayar duduk menunggu dengan raut canggung. Mereka saling bertukar pandang, mungkin bertanya-tanya mengapa prosesi sakral ini terasa begitu dingin dan janggal.Namun satu hal yang membuatku kesal—sejak tadi Zahra tak kunjung sadar.Tubuhnya terbaring di atas ranjang, kini sudah mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih. Wajahnya dipoles make up tipis oleh MUA yang kubayar mahal. Jika dilihat sekilas, dia tampak seperti pengantin pada umumnya.“Pak, Nona Zahra belum sadar juga,” kata Tio yang sejak tadi sibuk mengusap minyak angin ke hidung dan leher Zahra. Gerakannya terliha

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   4. Sugar baby

    Aku mendengus keras.Dasar gatal!Aku yakin Zahra bukan mencintai Papa. Tidak mungkin. Yang dia incar pasti harta. Pria tua itu hanya dompet berjalan baginya. Atau jangan-jangan… dia memang sekadar sugar baby?Pikiranku semakin dipenuhi rasa muak.“Pak Veer ... maaf saya ingin bertanya,” kata Tio yang sejak tadi fokus menyetir.“Katakan.”“Setelah wanita itu diculik, kira-kira nanti mau Bapak apakan? Apa Bapak ingin menyiksanya? Atau mau Bapak perkos ....” Tio tiba-tiba menghentikan ucapannya. Dari kaca depan, kulihat sorot matanya ragu, seolah menimbang apakah kalimat itu pantas dilanjutkan atau tidak.“Kenapa nggak dilanjut?”“Maaf, saya hanya penasaran saja, Pak. Tapi saya harap ... Bapak tidak melakukan tindakan yang membuat Bapak dalam bahaya. Saya hanya takut.” Nada suaranya tulus. Bukan menentang—lebih seperti khawatir.“Dalam bahaya gimana maksudmu?”“Melakukan tindakan kriminal. Seperti pemerko*saan, misalnya.”Aku terkekeh pelan, bukan karena lucu, melainkan karena pikiran T

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   3. Zahra Raihana

    “Pak! Tahan, Pak!!”Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa.Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik.Tidak.Papa tidak boleh mati sekarang.Dan bukan oleh tanganku.Jika aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Itu terlalu mudah baginya. Papa harus tetap hidup. Dia harus hidup cukup lama untuk merasakan semua balasan atas rasa sakit yang Mama derita.“Bapak tidak boleh masuk lagi ke dalam rumah sakit! Sekarang Bapak pulang!” Salah satu satpam menunjuk wajahku dengan tegas. Bersama rekannya, dia menyeret tubuhku keluar dari rumah sakit.Aku masih sempat memberontak, tapi tenagaku terkuras oleh amarah dan duka yang menumpuk.“Aku akan pulang bersama Mamaku! Dan harusnya yang Bapak usir tadi adalah pria tua yang aku cekik, karena dialah penyebab Mamaku meninggal!” Aku murka. Tatapanku tajam menel

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   2. Aku hancur

    “Papa di mana sekarang? Cepat datang ke rumah sakit!”Aku berusaha mengontrol diri saat akhirnya berhasil menghubungi Papa. Tapi rasanya sia-sia. Tanganku sudah sangat gatal. Begitu dia tiba nanti, aku yakin, tinjuku akan lebih dulu mendarat di wajahnya sebelum kata-kata keluar dari mulutku.“Veer ... apakah ini kamu? Kamu sudah pulang ke Indonesia?”Suara Papa terdengar antusias. Hangat. Seolah tidak ada dosa yang sedang dia sembunyikan.Wajar dia terkejut. Aku memang tidak memberi tahu siapa pun soal kepulanganku hari ini. Rencananya, aku ingin memberi kejutan. Untuk Papa dan Mama. Tapi justru akulah yang dibuat terkejut—oleh kelakuan beja*t Papa sendiri.“Eh, tadi kamu bilang apa? Papa harus ke rumah sakit, ya? Memangnya siapa yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja, Veer?”Nada khawatir itu terdengar begitu tulus, dan entah kenapa justru membuat dadaku semakin panas.“Mama yang sakit,” jawabku dengan suara berat.Ada jeda di seberang sana.“Astaghfirullah ... di rumah sakit mana? P

  • Menikahi Wanita Selingkuhan Papa   1. Foto wanita muda di ponsel Papa

    “Aaawww!! Sakiiitttt!!”Jeritan itu menggema di ruang apartemen. Wanita itu menggeliat liar saat aku merobek lakban di mulutnya tanpa ampun.Air matanya langsung mengalir, napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Rambutnya yang kusut menempel di wajah pucatnya saat dia menatapku—heran dan kebingungan bercampur jadi satu.“Bapak siapa? Lepaskan akuuu!! Sakit rambutkuuuu, Pak!!”Aku mencengkeram rambutnya lebih keras, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya teregang paksa. Dia meringis, menjerit semakin histeris tampak kesakitan.Tapi rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding apa yang telah dia lakukan padaku.Dia telah merenggut nyawa Mama. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku, cinta pertamaku—satu-satunya perempuan yang kucintai tanpa syarat. Dan sekarang, tepat di hadapanku, duduk terikat Zahra. Wanita jal*ng. Selingkuhan Papaku.“Apa kau bilang? Sakit?? Ini kau bilang sakit??”Amarahku meledak. Tanganku semakin kasar, jari-jariku mencengkeram rambutnya tanpa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status