LOGIN“Pak! Tahan, Pak!!”
Dua orang satpam datang dengan cepat. Mereka menarik tubuhku sekuat tenaga, memisahkanku dari Papa. Aku meronta, tapi genggaman mereka terlalu kuat. Sedikit lagi… sedikit lagi aku mungkin sudah merenggut nyawa Papa, karena wajahnya sudah hampir membiru saat lehernya kucekik. Tidak. Papa tidak boleh mati sekarang. Dan bukan oleh tanganku. Jika aku membunuhnya, aku akan masuk penjara. Itu terlalu mudah baginya. Papa harus tetap hidup. Dia harus hidup cukup lama untuk merasakan semua balasan atas rasa sakit yang Mama derita. “Bapak tidak boleh masuk lagi ke dalam rumah sakit! Sekarang Bapak pulang!” Salah satu satpam menunjuk wajahku dengan tegas. Bersama rekannya, dia menyeret tubuhku keluar dari rumah sakit. Aku masih sempat memberontak, tapi tenagaku terkuras oleh amarah dan duka yang menumpuk. “Aku akan pulang bersama Mamaku! Dan harusnya yang Bapak usir tadi adalah pria tua yang aku cekik, karena dialah penyebab Mamaku meninggal!” Aku murka. Tatapanku tajam menelusuri wajah mereka satu per satu, penuh kebencian dan keputusasaan. “Tapi Bapak lah yang lebih dulu mencari ribut. Ini rumah sakit, Pak. Saya harap Bapak bisa mengerti dan lebih mengontrol diri.” Kedua pria itu tetap berdiri menghadang, mencegahku kembali masuk ke dalam rumah sakit. Akhirnya aku mengalah. Aku memutuskan pulang ke rumah. Namun sebelum itu, aku menghubungi asistenku, memintanya mengurus kepulangan jenazah Mama dari rumah sakit sekaligus seluruh persiapan pemakamannya. Hari sudah terlalu gelap dan hatiku juga. Aku memutuskan untuk memakamkan Mama besok hari. * * * Malam itu, aku mengundang seorang Ustadz, para kerabat, dan tetangga terdekat. Rumah yang biasanya hangat kini dipenuhi suasana duka. Kami menggelar pengajian, melantunkan doa-doa untuk Mama. Aku duduk terdiam, menunduk, air mata jatuh tanpa suara. Aku yakin… semakin banyak doa yang dipanjatkan, semakin lapang jalan Mama menuju surga. Dan di saat yang sama, di balik doa-doa itu—sumpah balas dendamku mulai tumbuh, pelan tapi pasti. “Pak Veer, maaf ....” Bisikan itu terdengar pelan di sampingku, tepat setelah aku menutup bacaan surah Yaasin. Suara ayat-ayat suci masih terngiang di telinga, namun hatiku kosong oleh duka yang bertaburan. Aku menoleh. Tio—asisten pribadiku bergeser lebih dekat, wajahnya tampak tegang dan ragu. "Pak Dendi diluar marah-marah, Pak. Dia mau masuk untuk melihat Bu Retno.” Aku menarik napas perlahan. Papa memang sengaja dilarang masuk ke dalam rumah. Aku bahkan menyewa beberapa orang untuk berjaga di luar. Tidak ada satu pun celah yang kubiarkan terbuka untuknya. Meski ini rumahnya… tapi aku tidak sudi melihatnya melangkah masuk. Dan aku yakin, meskipun Mama telah tiada, hatinya pasti m menolak bertemu dengan pria yang telah menghancurkannya. “Jangan pedulikan dia. Ayok ikut aku sebentar.” Aku berdiri, meninggalkan ruang pengajian, lalu melangkah menuju kamar yang biasa kutempati di rumah ini. Begitu pintu tertutup, suasana berubah. Tidak ada lagi lantunan doa—yang tersisa hanya niat gelap yang sejak tadi kutahan. Aku mengeluarkan ponsel, membuka galeri, lalu memperlihatkan sebuah foto kepada Tio. “Aku akan mengirimkan foto ini kepadamu. Nanti kamu sewa dua orang untuk menculiknya, sekaligus mencari informasi tentangnya.” “Menculik?!” Mata Tio mendelik kaget. Dia menatapku tak percaya, seperti baru saja melihat sisi diriku yang belum pernah dia kenal. "Kenapa harus menculiknya, Pak? Memangnya dia siapa?” “Dia selingkuhan Papaku. Aku akan memberikannya pelajaran, atas apa yang telah diperbuatnya.” Gigiku tergertak keras. Kedua tanganku mengepal, urat-uratnya menegang. Rasanya gatal—bukan sekadar marah, tapi ingin melampiaskan. Bayangan menjambak rambut wanita itu hingga botak berkelebat jelas di kepalaku. “Astaghfirullah... jadi Pak Dendi selama ini berselingkuh? Kasihan sekali Bu Retno, Pak.” “Itulah, betapa kurang ajarnya Papa. Dia benar-benar tidak tau diri. Padahal, apa kurangnya Mama? Wanita gatal ini hanya menang muda doang, kalau wajah sih ....” Aku kembali menatap foto itu. Wajah perempuan muda yang tersenyum manja di dada Papa. Memang dia cantik, aku sendiri tidak menyangkalnya. Tapi jika dibandingkan dengan Mama? Dia tidak ada apa-apanya. “Mamaku jauh lebih cantik. Iya 'kan, Tio?” Lanjutku. “Itu benar, Pak." Tio mengangguk setuju. "Padahal dia masih sangat muda, ya, bisa-bisanya jadi pelakor. Memang wanita zaman sekarang nggak ada yang beres.” “Pokoknya aku mau, besok wanita itu sudah ada dalam genggamanku, Tio.” Nada suaraku datar. Terlalu tenang untuk sesuatu yang seharusnya mengerikan. “Pasti, Pak. Saya akan melakukannya sesuai perintah Bapak.” Untuk pertama kalinya sejak Mama pergi, sudut bibirku terangkat. Sebuah senyum tipis—dingin dan penuh perhitungan. Aku segera mentransfer uang lima puluh juta ke rekening Tio. Jumlah kecil, jika dibandingkan dengan kepuasan yang akan kudapat nanti. Permainan baru saja dimulai. Dan kali ini… aku tidak berniat berhenti sampai mereka benar-benar merasakan neraka yang sama seperti yang Mama rasakan. *** Hari berganti. Aku adalah pria yang sangat sulit untuk menangis. Sejak kecil, aku diajarkan untuk kuat, untuk menahan air mata apa pun yang terjadi. Tapi kali ini… semua itu runtuh. Saat melihat tubuh Mama perlahan diturunkan ke dalam liang lahat, dadaku seolah ikut dikubur bersamanya. Kakiku lemas. Pandanganku mengabur. Dan tanpa bisa kutahan lagi, aku menangis sejadi-jadinya. Isakanku pecah, air mata tumpah deras tanpa peduli siapa pun yang melihat. Aku tahu ini tidak baik. Aku tahu orang-orang bilang, tangisan orang yang ditinggalkan bisa membuat yang pergi ikut bersedih. Tapi aku benar-benar tidak sanggup menahannya. Mama… meskipun Mama sudah tidak ada di dunia ini, Mama akan selalu hidup di hatiku. Selamanya. Mama adalah cinta pertamaku, rumah pertamaku, dan tak akan pernah ada siapa pun yang mampu menggantikan posisi itu. Sebelum tanah benar-benar menutup tubuhnya, aku sempat menatap wajah Mama untuk terakhir kalinya. Wajah itu tampak damai. Cantik. Bibirnya melengkung membentuk senyum lembut—senyum yang selama ini selalu menyambutku setiap kali aku pulang. Senyum yang kini tak akan pernah kulihat lagi. Mama… tenanglah di sana. Berbahagialah. Biar aku saja yang memikul semuanya. Biar aku saja yang membalas rasa sakit yang selama ini Mama pendam sendirian. Semuanya akan beres, Ma. * * Setelah acara pemakaman selesai, aku dan Tio segera meluncur ke arah apartemen yang telah kusiapkan. Mobil melaju membelah jalanan sore yang mulai lengang, meninggalkan tanah pemakaman yang masih basah oleh doa dan air mata. Di dalam mobil, suasana terasa sunyi. Hanya suara mesin dan pikiranku sendiri yang saling beradu. Aku membuka selembar kertas berisi data diri wanita itu, lengkap dengan sebuah KTP yang baru saja diserahkan Tio. Jemariku mengerat tanpa sadar saat membaca setiap barisnya. Zahra Raihana. Nama yang indah. Terlalu indah untuk kelakuan yang menjijikkan. Dari data yang tertera, dia masih tercatat sebagai mahasiswi di salah satu universitas ternama di Jakarta. Tempat tinggalnya pun tak jauh dari area kampus. Mataku langsung membulat saat pandanganku berhenti di bagian tanggal lahir. 2006?! Dadaku berdesir. Astaga… yang benar saja? Berarti usianya baru memasuki dua puluh tahun. Sementara aku sendiri sudah menginjak kepala tiga. Ini gila. Papa benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Bagaimana bisa dia berselingkuh dengan perempuan semuda itu? Bersambung....“Kok Bapak diem aja?”Pertanyaan dari Zahra membuatku tersentak dari lamunan. Aku baru sadar sejak tadi hanya menatapnya tanpa menjawab apa pun.“Jadi gimana? Bapak mau mandi dulu apa sarapan dulu?” lanjutnya dengan suara lembut.“Mandi,” jawabku singkat.Sengaja. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia akan bersikap seperti ini. Aku ingin tahu alasan apa yang membuatnya tiba-tiba sok baik pagi-pagi begini.“Oke, aku siapkan air hangat untuk mandinya dulu ya, Pak.”Aku hanya mengangguk pelan.Zahra langsung berbalik dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar. Pintu itu terbuka sebentar, lalu tertutup lagi. Dari dalam terdengar suara keran air dibuka, bunyi ember bergeser, dan sesekali suara benda kecil beradu.Sementara itu aku tetap duduk di atas ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku justru terlalu aktif. Banyak hal berputar-putar di dalam sana—Mama, Papa, Pak Nanang… dan sekarang Zahra.Beberapa menit kemudian pintu kam
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. Panjang… berat… seperti seseorang yang tahu pengakuannya akan mengubah segalanya.“Saya dengar dari ART di rumah Bapak kalau penyebab Bu Retno meninggal karena terkena serangan jantung, sehabis melihat foto Pak Dendi dengan selingkuhannya. Dan sayalah orangnya yang memberikan foto itu padanya, Pak.”Kalimat itu jatuh begitu saja ke telingaku, tapi efeknya seperti palu godam yang menghantam kepala. Dunia terasa senyap beberapa detik. Tanganku yang memegang ponsel langsung gemetar.“Kurang ajar, kenapa Bapak melakukan itu??” Aku berteriak, suaraku pecah antara marah dan nyeri yang tak tertahankan. “Seharusnya Bapak tidak perlu memberitahu Mama dulu, tapi beritahu aku!”Dadaku naik turun tak beraturan. Nafasku memburu, pandanganku memanas. Andai dia ada di depanku saat ini, mungkin sudah kuhantam tanpa pikir panjang.“Maafkan saya, Pak. Tapi saat itu almarhumah yang meminta tolong saya untuk mencarikan bukti perselingkuhan Pak Dendi, karen
Aku menerima amplop itu dengan perasaan tak enak. Kertasnya terasa berat di tanganku, seolah isinya bukan sekadar dokumen biasa. Perlahan aku membuka lipatannya. Di dalamnya ada fotokopi KTP Papa. Ada tanda tangan. Ada stempel resmi. Dan ada lembar perjanjian pinjaman dengan nominal yang membuat mataku membulat, heran sekaligus kaget. Pinjaman awal 80 juta. Kini membengkak menjadi 100 juta karena bunga. Namun, bukannya sombong, nominal segitu terasa kecil untukku—apalagi untuk Papa. Tidak mungkin dia sampai tak mampu membayar. Tapi untuk apa Papa sampai melakukan pinjol? Ini benar-benar aneh. “Bagaimana, Pak? Bapak sudah percaya?” tanya salah satu dari mereka, menatapku penuh selidik. “Aku percaya,” jawabku akhirnya. “Tapi untuk sekarang Papaku berada di rumah sakit. Papa dirawat.” “Bapak ini keluarganya, kan?” “Iya. Aku anaknya.” Aku mengangguk cepat. “Kalau begitu Bapak bayarkan saja dulu. Setengah juga tidak apa. Nanti bulan depan kami tunggu sisanya, setelah Pak Dendi
Zahra menoleh, dahinya berkerut. “Bapak tanya aku?”“Ya iyalah, siapa lagi? Di sini ‘kan cuma ada kita berdua.”“Tapi aku nggak tau, Pak.”“Nggak mungkin kamu nggak tau,” jawabku tak percaya.“Sumpah, Pak.” Kali ini dia menatapku. “Malah aku juga baru tau sekarang kalau ternyata Papa tatoan.”“Jangan bohong kamu, Zahra!" Suaraku meninggi lagi. “Semenjak Papa mengenalmu, dia banyak berubah!”Sendok di tangannya bergetar halus.“Berubah gimana, Pak? Tapi aku benar-benar nggak tau apa-apa.”“Ah, kamu ini sama saja seperti Papa,” kataku sinis. “Suka berbohong. Padahal tinggal jujur saja, apa susahnya? Nanti kamu juga yang nyesel karena aku bisa menghukummu!”Bahuku terasa panas oleh emosi yang tak jelas arahnya.“Tapi aku sudah jujur,” balas Zahra pelan, suaranya bergetar. “Dan kenapa juga nggak Bapak tanya langsung saja ke Papa, biar jelas.”Aku mendengus. “Alah, percuma. Dia juga pasti nggak mau jujur.”Zahra terdiam sejenak. Lalu tangannya kembali menyuapiku, tapi gerakannya makin lamb
Mengetahui bahwa Papa ternyata memiliki tato saja aku sudah heran. Sekarang ditambah lagi fakta bahwa dia nongkrong bersama anak-anak punk di kafe ini. Apa tidak salah, ya?Itu jelas bukan Papa yang aku kenal selama ini.Kenapa setelah aku kembali dari Indonesia, rasanya dia berubah begitu banyak? Apa yang sebenarnya membuatnya berubah? Apa… Zahra?“Kok melamun kamu, Veer?”Pertanyaan Om Radit membuatku tersentak. Aku segera mengalihkan pandangan dariku sendiri dan menatapnya kembali.“Ah ya, maaf-maaf, Om,” ucapku sambil menghela napas. “Aku juga heran sebenarnya sama Papa. Dia juga punya tato di dadanya, Om. Tato tengkorak.”“Kok bisa?” Om Radit tampak benar-benar tak percaya. “Setahu Om, dia itu orang yang paling anti sama tato. Bahkan lihat orang bertato saja dulu dia nggak suka. Makanya Om juga heran kenapa dia bisa nongkrong sama anak-anak punk. Soalnya hampir semua anak punk itu rata-rata punya tato.”“Entahlah, Om.” Aku mengedikkan bahu, perasaan frustasi makin menekan dadaku.
Bab 15 ada kesalahan nyalin pada saat mau update, nanti kalau judul babnya udah ganti menjadi (tato tengkorak) bisa dibaca ulang ya, Gess....***"Pak Veer ... Bapak kapan sadar?"Seseorang tiba-tiba muncul di hadapanku, membuatku tersentak kaget. Dari penampilannya yang memakai jas putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya, jelas dia seorang dokter."Eh... barusan kok, Dok.""Berbaring lagi yuk, Pak. Saya periksa Bapak dulu," pintanya sambil menunjuk ke arah tempat tidur.Aku mengangguk pelan. Dengan bantuan Tio, aku kembali berbaring. Kepalaku masih terasa berat, seperti ada beban yang menekan dari dalam.Dokter itu langsung menempelkan stetoskop ke dadaku, memintaku menarik napas dalam-dalam. Setelah itu, dia memeriksa tekanan darahku dan menyorotkan senter kecil ke kedua mataku."Aku kenapa ya, Dok, kok bisa pingsan?" tanyaku, menatap langit-langit ruangan."Bapak mengalami stres berat," jawabnya tenang. "Tekanan darah Bapak sempat naik drastis. Ditambah emosi yang meledak-







