LOGIN“Faya, ini…?” Revan memungut benda tersebut. Memperlihatkan kepada Faya dengan kening berkerut. “Jadi... ini yang kamu beli di apotik tadi?”Faya terkekeh. Mengangguk-angguk. Terlihat biasa saja.“Tapi ini pil kontrasepsi?” Revan masih membelalak sembari mengamati tulisan kecil-kecil yang ada di dusnya.“Ya, memangnya kenapa?” Faya terkekeh lagi.Revan menghela napas. Meletakkan dus obat itu ke dalam tas Faya, juga barang-barang yang tadi sempat tercecer dari tas tersebut. Dia simpan sendiri saja pertanyaan yang tiba-tiba tercetus di benaknya.Agak trauma kalau pertanyaannya menimbulkan reaksi negatif lagi dari Faya, karena bagi Revan, membuat Faya senang dan tenang adalah salah satu kewajiban kerja. Meski Pak Alex tidak pernah menyuruhnya begitu.“Aku bikin kopi dulu ya,” ujar Revan selembut mungkin. Langkah kakinya menuju ke area dapur kecil yang sudah terlihat dari tempat mereka duduk.Dia menoleh pada Faya, yang tampak bergerak meraih bantal kursi besar di dekatnya. Lalu terlihat
Revan yang terkaget, sigap memeluk tubuh kecil Faya yang sudah duduk di pangkuannya. Dia berpasrah mengikuti irama hentak bibir Faya, yang terasa penuh gelora membara.“Mmm… ternyata ciuman itu enak ya.” Faya mendesis, lalu terkikik disela-sela ciuman itu. “Mmm… bibirmu manis, Sayang.”Revan berdesir. Darahnya seperti terpompa sangat cepat di setiap syarafnya.“Mm… Hihi… ternyata kumis kamu pun enak!” Bibir Faya yang tebal terus menggerus bibir Revan yang tipis.Ah, gairah Revan cepat terpancing. Perlahan dia memejamkan mata, mulai menikmati sensasi enak itu, dan merasakan alat vitalnya menggeliat menuju…. Tes. Benda cair hangat jatuh di puncak hidungnya. Revan spontan membuka mata kembali.Ternyata Faya menangis! Perempuan itu memang masih liar memagut bibir Revan, terkadang menghisap dalam-dalam, tetapi air mata sudah berlelehan memenuhi wajah cantiknya. Dia terlihat memejamkan mata di sela-sela pagutannya.Revan hendak menelan ludah. Susah juga ternyata, karena bibir bawahnya dikul
“Aku senang ngeliat kamu, kayaknya bahagia banget hari ini,” celetuk Revan setelah mobil berjalan beberapa saat. “Beda sama bulan lalu, kamu… galak.”“Sialan,” desis Faya. Dia melengos. Melihat ke samping kiri. “Kalau gitu aku mau galak aja ah!”Revan terkekeh. “Aduh, jangan cepat ngambek dong. Baru juga aku bilang senang melihat kamu bahagia. Ketawa-tawa, nge-prank aku… walau tadi aku agak terkejut, takut salah orang. Soalnya beda banget sama yang bulan lalu.”Faya meringis. Mendadak perasaannya pecah perlahan. Menyadari dia memang merasa bahagia. Mungkin justru terlihat terlalu bahagia, seperti yang baru saja Revan katakan.Istri Alex itu pun spontan menghembuskan napas kuat-kuat. Nyaris seperti mendengus.“Faya… maaf kalau aku salah ngomong ya,” kata Revan hati-hati. Matanya melirik berkali-kali, membagi konsentrasi antara menyetir dan ingin melihat wajah Faya.Perempuan berambut panjang itu malah menghembuskan napasnya lagi. Lalu tersenyum kecut. Hatinya yang sedang tidak karuan
Faya menyeringai, mengusap perut, sedikit ke bawah. Hihihi aneh sekali rasanya. Faya mengulum senyum sambil memejamkan mata. Lalu tertidur pulas, dia bahkan tidak tahu jam berapa Alex naik ke ranjang, menjejerinya tidur.Keesokan paginya, Alex menginformasikan jika Papa Agusto kemungkinan akan sedikit lebih lama di Singapura. Dan Faya mengiyakan saja kebohongan itu dengan wajah menyungging senyum.Terus begitu pada hari-hari berikutnya. Setiap Alex mengatakan sesuatu, Faya hanya perlu setuju. Tidak perlu bertanya apa pun.Di hari ke dua belas, setelah Faya menerapkan prinsip diamnya….“Kamu kenapa sih?” tanya Alex. Akhirnya dia mulai tampak menyadari perubahan sang istri.“Kenapa gimana, Pap?” Faya memasang wajah datar. Mati-matian menahan mulutnya agar tidak meringis, apalagi tersenyum.“Kamu sekarang jarang bicara.” Alex terlihat menatap tajam.Faya urung menyuap nasi ke mulutnya. “Masa sih? Kayaknya aku biasa aja deh, Pap.”Dia kemudian memasukkan nasi, mengunyah dengan menunduk. S
Uhuk. Faya terbatuk. Gegas dia meraih gelas. Tangannya mendadak gemetar ketika meraih sedotan, dan terpatah-patah menyeruput… oh! Ternyata minumannya sudah habis.Faya bangkit. Sedikit terhuyung. “Saya pesan minum dulu, kamu mau nambah juga?”Begitu Puput menggeleng, istri Alex tersebut langsung menuju kasir. Meminta air mineral saja, agar tidak perlu menunggu. Tenggorokannya benar-benar terasa kering.Sebenarnya bukan kabar pernikahan itu yang membuat Faya tiba-tiba sesak napas, tetapi kenyataan bahwa semua pekerja di rumah keluarga Chandra sudah diberitahu tentang rencana tersebut.Astaga! Faya bisa membayangkan. Mungkin saja setiap hari para pekerja itu melihat dirinya dengan tatapan kasihan, bisa jadi sambil sibuk menggosip. Atau justru dia dijadikan lelucon di antara mereka?Masih sambil berdiri di situ, Faya menyeruput minumannya lagi. Berharap hatinya yang meradang sedikit dingin.Tidak berapa lama, Faya melihat pesanan mie-nya sudah datang. Setelah mengambil napas dalam-dalam,
Faya mendengar deru napas Alex untuk beberapa saat. Sampai akhirnya, Alex berkata, “Oke.”“Makasih, Pap!” Faya berseru suka cita. “Aku mau makan mie bangka. Yeay!”Dan Alex meresponnya dengan menutup telepon, tanpa kalimat apa pun. Namun Faya tetap ceria. Terserah dengan suaminya itu. Dia sudah mempunyai rencana manis yang disusun di kepalanya.Faya setengah berlari ke kamar untuk bersiap. Melompati buket mawar cantik yang penuh kepalsuan itu. Lalu bertukar pakaian dan merapikan diri. Mengambil tas, memasukkan ponsel, serta dompet.Kakinya melangkah ringan menuruni tangga. Senandung kecil keluar dari mulutnya yang masih tersenyum-senyum.“Bu Faya.” Seorang pelayan muda, yang Faya kenal wajahnya tapi tidak tahu namanya, terlihat berdiri ketika Faya mendekat.“Ya, ada apa?” Faya berhenti tepat di depan







