Share

Bab 54

Penulis: Iyustine
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 16:23:22

Faya menyeringai, mengusap perut, sedikit ke bawah. Hihihi aneh sekali rasanya. Faya mengulum senyum sambil memejamkan mata. Lalu tertidur pulas, dia bahkan tidak tahu jam berapa Alex naik ke ranjang, menjejerinya tidur.

Keesokan paginya, Alex menginformasikan jika Papa Agusto kemungkinan akan sedikit lebih lama di Singapura. Dan Faya mengiyakan saja kebohongan itu dengan wajah menyungging senyum.

Terus begitu pada hari-hari berikutnya. Setiap Alex mengatakan sesuatu, Faya hanya perlu setuju. Tidak perlu bertanya apa pun.

Di hari ke dua belas, setelah Faya menerapkan prinsip diamnya….

“Kamu kenapa sih?” tanya Alex. Akhirnya dia mulai tampak menyadari perubahan sang istri.

“Kenapa gimana, Pap?” Faya memasang wajah datar. Mati-matian menahan mulutnya agar tidak meringis, apalagi tersenyum.

“Kamu sekarang jarang bicara.” Alex terlihat menatap tajam.

Faya urung menyuap nasi ke mulutnya. “Masa sih? Kayaknya aku biasa aja deh, Pap.”

Dia kemudian memasukkan nasi, mengunyah dengan menunduk. S
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 63

    “Geli, ah kumisnyaaa….” Nada Faya sengaja bermanja, sambil melepaskan diri. Dia segera membalik badannya lagi, dan langsung merasakan tubuh Revan merapat.“Nakal ya,” bisik Revan gemas.Faya mulai terkikik ketika merasai sesuatu yang menempel di bokongnya mulai sedikit menekan. Kedua tangan Revan pun sudah mulai menyisir halus, membelai kulit perut, kemudian….Dert, dert. Ponsel Faya yang diletakkan di nakas bergetar-getar. Membuat kedua manusia itu otomatis menghentikan aktifitas mereka serempak.“Huff….” Faya justru menarik selimut. Membenamkan wajahnya ke lengan Revan. Napas perempuan itu menghembus panjang.“Faya, itu—”“Udah, ah, tidur aja yuk. Aku capek banget.” Faya memejamkan mata.“Telponnya… mungkin Pak Alex,” desis Revan.“Ya, sudah pasti dia. Selama ini nggak ada orang lain yang menghubungiku selain suamiku. Paling dia itu menelpon untuk memastikan kepentingannya berjalan lancar. Bukan karena ingin tau tentang keadaanku.” Faya mendadak memuntahkan kekesalan.Revan terden

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 62

    Revan tampak tersenyum getir. “Orang miskin sepertiku memang mudah sekali ketebak masalahnya ya?”“O-oh, bukan gitu… jangan salah paham, Re. Aku….” Faya menghela napas. Menatap lelaki muda itu. Kebingungan mengeluarkan kalimat yang tepat, agar tidak menyinggung perasaan Revan.Lelaki itu justru berderai ringan. Wajahnya mendadak berubah, sudah tidak setegang beberapa detik lalu. “Aku sudah lapar. Boleh kita makan sekarang?”“O-oh, i-iya dong.” Faya meringis.“Wah, liat ini udangnya gendut banget. Mungkin pas di laut dulu dia terkenal sebagai si tukang rebahan,” celetuk Revan. Derainya kembali mengudara.Faya tertawa, sedikit dipaksakan, demi menghargai Revan.“Beneran enak makanannya.” Revan kembali bicara setelah suapan pertama. Tampak sekali dia ingin menghidupkan suasana.

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 61

    “Fay, pakai piring ini saja…?” Revan terdengar berseru, tetapi di ujung kalimat nadanya menjadi samar. Sepertinya karena dia kaget memergoki Faya tengah menatap ponselnya.Faya meringis malu. Meletakkan gawai tersebut ke tempat semula. “Maaf, hape-mu barusan kesenggol, jadi jatuh… tapi, kayaknya nggak apa-apa sih.”Wajah Revan yang semula sedikit tegang, terlihat mulai mengendur. Lelaki itu mengangguk.Faya segera bergabung ke meja makan. Sedikit memberi instruksi, dan beberapa saat setelah itu, orang dari restoran pergi.“Ayo kita makan.” Faya mengambil piring duluan. “Eh, kamu nggak ada alergi makanan laut kan? Kok aku lupa tanya ya.”“Kan sudah kubilang, aku ini pemakan segala,” cetus Revan. Tertawa riang.“Aduh, ngeri. Nanti kalau aku tidur tau-tau aku dimakan juga.” Fay

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 60

    “Saya akan transfer untuk biaya Kai dua minggu ke depan ya, Bu. Tapi tolong jaga dia, s-saya pasti akan menjemputnya… iya, iya… tolonglah…. Saya mengerti… terima kasih, Bu.”Faya menahan napas. Siapa Kai? Apakah dia yang menyebabkan Revan menerima tawaran Alex untuk menghamilinya? Faya menelan ludah. Berarti benar, Revan melakukan ini demi uang, mungkin demi keluarganya.Klek.Suara pintu depan yang terbuka mengagetkan Faya. Dia pun gegas berdiri dan sedikit berlari ke arah koper, lalu berpura-pura baru saja masuk ke dalam kamar. Menenteng tas dan memegang koper.Revan terlihat masuk sambil berdehem. Tatapan mata mereka bertemu. Saling pandang beberapa saat.“Apa kamu sudah lapar, Re?” Akhirnya Faya memecah kecanggungan.Revan terlihat mengambil kaosnya yang tergeletak di sandaran sofa. Kemudian memakainya s

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 59

    Faya terkikik senang, saat melihat Revan mengangguk dengan mulut melongo. Dia pun semakin berani mewujudkan keinginannya untuk mengambil peran memimpin dalam penyatuan tubuh dengan Revan sekarang. Sebab selama ini bersama Alex… ah! Segera dia tepis pikiran itu.‘Persetan Alex!’ seru batinnya. Kini dia akan menjadi dirinya sendiri.Tangan Faya kembali bergerak, kini mengangkat bra-nya hingga tersembullah benda kenyal nan putih itu. Lagi-lagi dia terkikik senang, sebab kali ini melihat mata Revan semakin besar sembari menelan ludah.Faya mendekat, sengaja melangkah dengan menggoyangkan panggul. Dan sesuai harapan, bukit kembarnya pun bergetar. Faya tertawa, Revan otomatis ikut tertawa.“Kamu suka, Re?” Faya kembali meremas benda kenyal miliknya itu, sembari menempatkan diri. Duduk di pangkuan Revan.“Tapi ini kecil kan?” bisik perempuan it

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 58

    “Aku lelah menjadi istri Alex. Jadi aku berharap aku tidak hamil supaya Alex menceraikan aku.” Faya terlihat melempar senyum hambar. Merebahkan badannya lagi ke sofa besar itu, dengan setengah membanting. Lalu memejamkan mata. Air terlihat menggulir lagi di sudut pelupuk.Revan menghela napas. Entah mengapa hatinya teriris mendengar ucapan Faya, apalagi melihat gestur tubuh perempuan itu yang tampak menahan kesakitan. Apa yang harus dia perbuat? Tanpa sadar dia mengetuk-ngetuk mug yang ada di tangan dengan satu jarinya. Berusaha menemukan kata-kata yang tepat, tetapi otaknya serasa buntu.Beberapa detik terus begitu, sampai akhirnya dia menyesap kopi. Sambil melirik, dia letakkan kopi hangat tersebut.“Kamu beneran mau jadi temanku kan, Re?” Faya bertanya. Matanya masih terpejam. Namun senyumnya terlihat terkembang. “Beberapa hari ke belakang, aku terus memikirkan diriku, hidupku… Eh!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status