Share

Bab 56

Penulis: Iyustine
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 21:19:16

Revan yang terkaget, sigap memeluk tubuh kecil Faya yang sudah duduk di pangkuannya. Dia berpasrah mengikuti irama hentak bibir Faya, yang terasa penuh gelora membara.

“Mmm… ternyata ciuman itu enak ya.” Faya mendesis, lalu terkikik disela-sela ciuman itu. “Mmm… bibirmu manis, Sayang.”

Revan berdesir. Darahnya seperti terpompa sangat cepat di setiap syarafnya.

“Mm… Hihi… ternyata kumis kamu pun enak!” Bibir Faya yang tebal terus menggerus bibir Revan yang tipis.

Ah, gairah Revan cepat terpancing. Perlahan dia memejamkan mata, mulai menikmati sensasi enak itu, dan merasakan alat vitalnya menggeliat menuju…. Tes. Benda cair hangat jatuh di puncak hidungnya. Revan spontan membuka mata kembali.

Ternyata Faya menangis! Perempuan itu memang masih liar memagut bibir Revan, terkadang menghisap dalam-dalam, tetapi air mata sudah berlelehan memenuhi wajah cantiknya. Dia terlihat memejamkan mata di sela-sela pagutannya.

Revan hendak menelan ludah. Susah juga ternyata, karena bibir bawahnya dikul
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Afiyah Fiya
kapan lanjut kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 64

    “Oh, siapa perempuan yang beruntung itu?” Faya menampakkan senyum. Meski hatinya bergelombang tak karuan. Aneh juga sebenarnya kalau dia merasa cemburu. Namun rasa itu muncul tanpa bisa dia cegah.Revan tersenyum kecil. “Namanya Kai. Tapi dia bukan cewek, dia laki-laki kecil termanis di dunia. Jantung hatiku.”“Yang ada di wall paper hape-mu?” Faya spontan menyambar. Dengan keterkejutan dan rasa penasaran yang meledak. “Eh, maaf… waktu hape-mu jatuh tadi, aku nggak sengaja liat.”Bibir Revan kembali tersenyum seraya mengangguk, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. “Kai, anak almarhum kakakku. Kakak yang sering aku ceritakan ke kamu itu.”“Almarhum? Jadi….” Faya menggigit bibir. Tak kuasa untuk meneruskan ucapannya. Sama sekali tidak menyangka kalau orang yang sering kali Revan bicarakan dengan nada ringan, ternyata sudah meninggal.“Ya. Kai adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa, setelah kepergian kakakku. Tapi sekarang Kai ada di panti asuhan, sebab dinas sosial menilaiku nggak la

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 63

    “Geli, ah kumisnyaaa….” Nada Faya sengaja bermanja, sambil melepaskan diri. Dia segera membalik badannya lagi, dan langsung merasakan tubuh Revan merapat.“Nakal ya,” bisik Revan gemas.Faya mulai terkikik ketika merasai sesuatu yang menempel di bokongnya mulai sedikit menekan. Kedua tangan Revan pun sudah mulai menyisir halus, membelai kulit perut, kemudian….Dert, dert. Ponsel Faya yang diletakkan di nakas bergetar-getar. Membuat kedua manusia itu otomatis menghentikan aktifitas mereka serempak.“Huff….” Faya justru menarik selimut. Membenamkan wajahnya ke lengan Revan. Napas perempuan itu menghembus panjang.“Faya, itu—”“Udah, ah, tidur aja yuk. Aku capek banget.” Faya memejamkan mata.“Telponnya… mungkin Pak Alex,” desis Revan.“Ya, sudah pasti dia. Selama ini nggak ada orang lain yang menghubungiku selain suamiku. Paling dia itu menelpon untuk memastikan kepentingannya berjalan lancar. Bukan karena ingin tau tentang keadaanku.” Faya mendadak memuntahkan kekesalan.Revan terden

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 62

    Revan tampak tersenyum getir. “Orang miskin sepertiku memang mudah sekali ketebak masalahnya ya?”“O-oh, bukan gitu… jangan salah paham, Re. Aku….” Faya menghela napas. Menatap lelaki muda itu. Kebingungan mengeluarkan kalimat yang tepat, agar tidak menyinggung perasaan Revan.Lelaki itu justru berderai ringan. Wajahnya mendadak berubah, sudah tidak setegang beberapa detik lalu. “Aku sudah lapar. Boleh kita makan sekarang?”“O-oh, i-iya dong.” Faya meringis.“Wah, liat ini udangnya gendut banget. Mungkin pas di laut dulu dia terkenal sebagai si tukang rebahan,” celetuk Revan. Derainya kembali mengudara.Faya tertawa, sedikit dipaksakan, demi menghargai Revan.“Beneran enak makanannya.” Revan kembali bicara setelah suapan pertama. Tampak sekali dia ingin menghidupkan suasana.

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 61

    “Fay, pakai piring ini saja…?” Revan terdengar berseru, tetapi di ujung kalimat nadanya menjadi samar. Sepertinya karena dia kaget memergoki Faya tengah menatap ponselnya.Faya meringis malu. Meletakkan gawai tersebut ke tempat semula. “Maaf, hape-mu barusan kesenggol, jadi jatuh… tapi, kayaknya nggak apa-apa sih.”Wajah Revan yang semula sedikit tegang, terlihat mulai mengendur. Lelaki itu mengangguk.Faya segera bergabung ke meja makan. Sedikit memberi instruksi, dan beberapa saat setelah itu, orang dari restoran pergi.“Ayo kita makan.” Faya mengambil piring duluan. “Eh, kamu nggak ada alergi makanan laut kan? Kok aku lupa tanya ya.”“Kan sudah kubilang, aku ini pemakan segala,” cetus Revan. Tertawa riang.“Aduh, ngeri. Nanti kalau aku tidur tau-tau aku dimakan juga.” Fay

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 60

    “Saya akan transfer untuk biaya Kai dua minggu ke depan ya, Bu. Tapi tolong jaga dia, s-saya pasti akan menjemputnya… iya, iya… tolonglah…. Saya mengerti… terima kasih, Bu.”Faya menahan napas. Siapa Kai? Apakah dia yang menyebabkan Revan menerima tawaran Alex untuk menghamilinya? Faya menelan ludah. Berarti benar, Revan melakukan ini demi uang, mungkin demi keluarganya.Klek.Suara pintu depan yang terbuka mengagetkan Faya. Dia pun gegas berdiri dan sedikit berlari ke arah koper, lalu berpura-pura baru saja masuk ke dalam kamar. Menenteng tas dan memegang koper.Revan terlihat masuk sambil berdehem. Tatapan mata mereka bertemu. Saling pandang beberapa saat.“Apa kamu sudah lapar, Re?” Akhirnya Faya memecah kecanggungan.Revan terlihat mengambil kaosnya yang tergeletak di sandaran sofa. Kemudian memakainya s

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 59

    Faya terkikik senang, saat melihat Revan mengangguk dengan mulut melongo. Dia pun semakin berani mewujudkan keinginannya untuk mengambil peran memimpin dalam penyatuan tubuh dengan Revan sekarang. Sebab selama ini bersama Alex… ah! Segera dia tepis pikiran itu.‘Persetan Alex!’ seru batinnya. Kini dia akan menjadi dirinya sendiri.Tangan Faya kembali bergerak, kini mengangkat bra-nya hingga tersembullah benda kenyal nan putih itu. Lagi-lagi dia terkikik senang, sebab kali ini melihat mata Revan semakin besar sembari menelan ludah.Faya mendekat, sengaja melangkah dengan menggoyangkan panggul. Dan sesuai harapan, bukit kembarnya pun bergetar. Faya tertawa, Revan otomatis ikut tertawa.“Kamu suka, Re?” Faya kembali meremas benda kenyal miliknya itu, sembari menempatkan diri. Duduk di pangkuan Revan.“Tapi ini kecil kan?” bisik perempuan it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status