تسجيل الدخولJantung Faya terasa melorot saat lelaki itu terlihat melangkah mendekatinya. Apalagi ketika sang lelaki sudah berdiri di hadapan Faya, tampak menyungging senyum sembari membetulkan topi kupluk di kepalanya.
“Selamat siang, Bu. Apa Ibu mau menginap di rumah kayu?” tanya lelaki itu sopan sekali. Punggungnya bahkan membungkuk cukup dalam.
Faya menelan ludah. Dadanya mendadak sesak, dia merasa kesulitan bernapas. Matanya melirik pada Revan. Kembali menelan ludah.
Revan gegas bergerak merangkul pundak Faya. Agaknya dia melihat semua perubahan mendadak yang terjadi pada diri perempuannya itu.
Kemudian Revan menjatuhkan pandangan ke lelaki yang terlihat masih tersenyum lebar ke arah Faya. “Oh, nggak, Pak. Bukan ke rumah kayu, kami mau sewa bungalow yang di pinggir danau. Apa pesannya ke Bapak juga?”
Revan sepertinya mengira jika lelaki di hadapan mereka adalah ca
“Kasih tau nggak ya….” Sofia berderai-derai. Merasa sudah menang dari perjuangan yang selama ini dia upayakan. Yaitu, merebut Alex dari tangan Faya. Satu langkah lagi dia akan menjadi menantu keluarga Chandra.“Dasar kamu ya!” tukas Mama Vero. Bukan marah, nadanya justru terdengar bagai semburan suka cita. Sedetik kemudian ibu kandung Alex itu terkekeh. “Semoga setelah ini Alex hatinya akan terbuka terus untuk kamu ya. Mama yakin, Alex akan lebih bahagia sama kamu.”“Oh iya, dong, Ma. Kami akan jadi keluarga sempurna. Suami, istri, dan anak-anak. Bukan sekedar suami dan istri mandul tidak berguna.” Nada Sofia melengking tinggi.Yang disambut tawa pecah membahana oleh Mama Vero. “Ngomong-ngomong, apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil, Sof?”Pertanyaan ibu kandung Alex itu membekukan derai Sofia seketika. “Ih, Mama… anu-nya kan baru minggu lalu. Mm… tepatnya baru lima hari kan? Y-ya belum apa-apa dong, Ma.”“Setau Mama ada kok alat yang bisa menditeksi apakah sudah terjadi pembuahan sete
“Faya….” Alex terlihat menyentuh lengan Faya. “Mama tanya soal terapi.”“O-oh. S-sukses, Ma.” Faya tergagap. Sedetik kemudian menyesali kata ‘sukses’ yang dia pilih. Namun sudah terlanjur. Mama Vero melempar senyum. “Kalian mau makan? Biar nanti Mama minta pelayan siapkan.”“Ya, kita belum makan dari tadi.” Alex yang menjawab. Tangannya bergerak merangkul bahu sang istri. Sedikit menekan di sana. “Kamu makan ya, Fay?”Faya spontan mengangguk. Dia memang lapar, tetapi mulutnya terasa tak sanggup sekedar mengatakan ‘iya’. Dia masih terlalu syok.Alex mendadak bersikap manis padanya, itu mengejutkan. Namun bila Mama Vero tiba-tiba memberi senyum kepadanya, itu… membahayakan! Jadi teringat cerita ibu tiri dan putri salju….“Fay. Ayo!” Alex menekan bahu Faya lagi.Faya terkesiap. Mama Vero sudah tidak ada di depannya. Namun samar-samar suaranya terdengar dari ruang makan. “P-pap, a-apa aku boleh mandi dulu?”Alex tampak mengernyit.Dan Faya sadar, sudah salah bicara. Dia pun segera melan
Faya buru-buru mengikat rambutnya tanpa menyisir, sambil memandang Revan yang tubuhnya masih polos. Lelaki itu tampak terpaku di samping tempat tidur, memegangi koper Faya.“Faya!” Suara Alex lebih tinggi. Terdengar sudah mengandung amarah. Gedoran di pintu pun menyusul sedetik kemudian.“Y-ya!” balas Faya tak kalah kencang. Dia gegas mendekati Revan, mengambil alih kopernya. Dikecupnya sekilas pipi lelaki itu. “Sembunyilah.”Revan hanya terpaku. Dadanya seperti sedang menahan napas.Faya tidak sempat bicara lagi. Segera balik badan, setengah berlari menyeret koper. Keluar kamar tanpa menoleh lagi pada Revan. Kepalanya sudah berisik, mereka-reka apa yang harus dia lakukan jika Alex ternyata masuk dan singgah sebentar.Klek. Faya membuka pintu. Wajah Alex yang terlihat tegang menyergap pandangannya.Perempuan itu bernapas pelan-pelan. Men
Faya yang sudah berada di dalam kolam renang tergelak ketika melihat Revan yang tengah berlari justru terpeleset, dan tercebur dalam posisi kepala masuk air terlebih dulu.Air pun berkecipak beberapa saat, setelah itu kepala Revan muncul dari dalam air. Terbatuk-batuk dengan wajah yang terlihat cengar cengir, tetapi cepat bergerak mendekati Faya.Sementara Faya masih tertawa-tawa, sambil menjaga keseimbangan agar tetap mengapung. Mengesankan jika dia sedang menunggu kedatangan Revan, tetapi ketika tangan lelaki itu hampir menyentuhnya, Faya sengaja menenggelamkan diri, berkelit, lalu bergerak menjauh.“Ayo tangkap aku!” teriak Faya yang muncul di sisi lain. Di belakang Revan. Terbahak lebih kencang. Dia memang pandai berenang.Revan kembali bergerak mendekat, Faya pun melakukan hal yang sama. Berulang kali begitu sampai akhirnya Faya membiarkan Revan menangkapnya.&ld
Wajah Faya spontan menampakkan ekspresi yang senang. Matanya terlihat benar-benar berbinar. “Kamu… mau bawa aku kabur?”Revan mengangguk.“Serius?” Bibir Faya yang tebal sensual, terlihat merekah sempurna. Satu detik kemudian perempuan itu menubruk Revan. Melingkarkan tangannya di leher sang lelaki. “Aa… senangnya. Tapi kenapa sih? Tiba-tiba gini?”Revan tidak siap dengan pertanyaan tersebut. Dia perlu menelan ludah dahulu, sebelum akhirnya menjawab dengan tergagap-gagap. “Y-ya… t-tadi aku… aku… ngeliat kamu bahagia banget… aku… aku—”“Nah, akhirnya kamu paham juga,” tukas Faya sembari melepas pelukan. “Benar kan yang aku bilang, kamu itu pasti seseorang yang akan mengubah jalan hidupku. Membangunkan kesadaranku bahwa selama ini aku sudah terlalu lama bodoh. Menerima begitu saja semua perlakuan Alex dan kedua orang tuanya.”Revan meringis.“Aaa… senang banget!” Faya mengulang ucapannya sendiri. Terlihat melonjak dalam duduknya. Mengecup pipi Revan kanan kiri. Kemudian kembali memeluk.
Revan cepat sampai pada tempat yang dituju. Di sebelah mobil, tempat si mamang yang masih memakai kupluk, tampak salah tingkah.Ternyata si mamang tidak melarikan diri seperti yang Revan kira. Lelaki itu hanya balik badan, menunduk, sambil melepas kupluk di kepala, lalu mulai memainkan benda tersebut di tangannya.“Mas jangan salah sangka, saya di sini tidak memata-matai Mas sama Bu Faya.” Si mamang mendahului bicara, begitu Revan tiba di hadapannya. “Saya memang biasa di sini, cari tambahan. Ini saya lagi janjian nunggu orang yang mau sewa kamar di sini kok.”“Terus kenapa mau lari pas liat saya?” tanya Revan dalam nada tinggi. Meski pun emosinya telah sedikit surut, tetapi dia harus tegas di hadapan orang seperti ini.Si mamang mengangkat kepala. Menyeringai. “Nggak enak aja, Mas. Ya… gitu, takut Mas-nya…ck, pokoknya nggak enak dikira lagi mem







