Share

Bab 8

Author: Iyustine
last update Last Updated: 2025-12-10 15:54:54

“Eh, m-maaf.” Revan menelan ludah.

Faya menutup wajah menggunakan kedua tangannya sendiri. Mencoba menghentikan suara isak yang tak kuasa dia tahan lagi. Bahu perempuan berkulit putih bersih itu berguncang, dan dadanya mendadak terasa sesak.

Beberapa saat terus begitu, sampai Faya mendengar bunyi benda digeser di atas meja. Menimpa suara isak tangisnya.

Spontan Faya melonggarkan jari jemari, sehingga dia bisa melihat tangan Revan yang berbulu halus sedang memindahkan mangkuk mie milik Faya. Rev
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 151

    “Khusus untuk aku?” Faya mengulang ucapan Bibi Fatimah. “Jangan begitu, Bi. Sofia juga sedang hamil kan? Jadi tolong bagi dua dengan Sofia.”Bibi Fatimah tampak tergagap. Dia menatap Sofia dengan bola mata yang bergerak-gerak. “Bu Sofia—”“Aku nggak suka bubur, teksturnya aneh!” sambar Sofia. Melirik pada Mama Vero, kemudian keduanya saling tersenyum miring.“Kalau kamu nggak suka, boleh ganti makanan yang lain, Fay.” Alex langsung menengahi.“Mungkin lain kali, pelayan di sini perlu menanyakan apa yang ingin dimakan Faya. Orang hamil kan kadang nggak semua bisa dimakan,” celetuk Tante Nina.Faya menatap Bibi Fatimah yang masih memegang mangkuk keramik berisi bubur. Sebenarnya baunya amat gurih menggoda, tetapi dia takut makanan ini sama dengan es krim yang semalam.“Baik. Mohon maaf. Bu Faya ingin dimasakkan apa?” Bibi Fatimah bertanya, sedikit membungkuk.“Manja amat.” Mama Vero mencibir. “Sofia saja makan apa yang ada.”“Kondisi orang hamil kan beda-beda, Ve.” Tante Nina gegas meny

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 150

    “Pap….” Faya menoleh pada tubuh suaminya yang baru masuk dalam selimut. “Seandainya bayi ini gugur apa—”“Ngomong apa kamu?” tukas Alex. Suaranya tinggi. “Tugasmu sekarang hanya tinggal menjaga anak itu sampai lahir. Jangan aneh-aneh, Fay. Cepatlah tidur!”Faya menghela napas. Tidak menjawab, tetapi dia bergerak kembali ke posisinya. Cara ternyaman biasa dia tidur.Saat-saat seperti ini, dia sungguh merindukan Revan. Hanya kepada lelaki itu dia bebas mengutarakan kekuatirannya. Revan tidak akan pernah memotong ucapannya, tidak pernah menghakiminya. Revan pasti mendengarkan, sebelum akhirnya lelaki itu akan menenangkan dirinya.Pasti Revan akan mengucapkan kata-kata penenang, sambil memeluknya….Set. Tangan Alex tiba-tiba mengungkung tubuh Faya yang meringkuk. Jari jemarinya terasa bergerak sebentar di pundak dekat leher Faya.Mendadak jantung perempuan itu terasa rontok. Takut jika Alex menginginkan dirinya malam ini. Namun ternyata jemari Alex diam. Dan detik-detik berlalu, tangan A

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 149

    Faya kembali mendekati pintu. Melongok pada koridor yang panjang. Tidak tampak tanda-tanda ada orang, padahal sudut matanya benar-benar menangkap seseorang melintas. Dan telinganya juga benar-benar mendengar suara kaki berlari.“Halo, siapa di situ?” Faya berseru. Suaranya sedikit menggema di koridor sepi itu.Sebuah pintu terbuka. Alex muncul dari sana. “Ada apa, Fay?” tanyanya. Sosok lelaki itu terlihat mendekat. “Kupikir aku salah dengar, ternyata bener kamu yang berteriak-teriak dari tadi. Ada apa?”Faya menelan ludah. “Aku melihat kayak ada orang melintas depan pintu kita, terus kayak ada orang berlari… Pap dengar nggak?”Wajah Alex mendadak terlihat tegang. Meraih pundak Faya, dan menuntun ke dalam. “Ayo, aku temani kamu tidur.”Alex menutup pintu, lalu menguncinya. “Aman, aku ada di sini, Fay. Bersiaplah tidur.”Faya mengangguk. Namun dia melihat mangkuk es krim yang perlu dibereskan terlebih dahulu. “Pap, aku panggil pelayan dulu—”“Biar aku. Kamu bersihkan dirimu saja.” Alex

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 148

    Faya spontan menatap Alex. Dan melihat pandangan mata suaminya tertuju pada layar ponsel yang terus bergetar-getar itu.“Ada yang disembunyikan dari aku?” Nada Alex lirih. Napasnya berhembus kasar.Faya menelan ludah. “I-ini b-bukan—”“Angkatlah kalau memang nggak ada sesuatu antara kamu dan Arik,” tukas Alex. Kembali menghembuskan napas.“Hah?” Faya sedikit berseru. Matanya kembali melihat pada layar ponselnya. Jelas-jelas di situ ada nama Rev…. Oh! Ternyata memang Arik yang sedang melakukan panggilan. Kenapa tadi dia membaca nama peneleponnya….“Fay?” Alex sampai memiringkan kepalanya.“Ah, iya.” Faya gegas menyambarnya. Menekan tanda terima. “Ada apa, Ar?”“Maaf, Bu Faya… tadi saya lupa mengkonfirmasi kalau pihak panti asuhan ingin meminta nomor telepon Bu Faya, apakah Ibu berkenan?” Suara Arik jelas terdengar, meski di belakangnya sayup-sayup ada suara anak kecil menangis.“Oh, tentu saja.” Faya menjawab sambil menatap Alex.Telepon ditutup setelah Arik mengucapkan terima kasih.“

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 147

    “Hah? Obat apa?” Faya tampak melebarkan matanya. Lebih lebar daripada ketika dia mendengar pelayan muda di depannya ini mengatakan es krimnya diganti merk biasa. “Jangan ngawur kamu ya!”Puput menatap Faya dengan wajah serius. “Bu Faya, meski saya nggak tau persis obat itu untuk apa, tapi saya melihat sendiri sewaktu Bi Fatimah menuangkan serbuk ke es cream-nya.”Perempuan sembilan belas tahun itu menghela napas. Mengingat tadi, sepanjang dia mempersiapkan stroberi yang diminta Bibi Fatimah, dia sengaja menempatkan diri di depan lemari berkaca sehingga meski dia terlihat membelakangi sang bibi, dia bisa melihat semua dari pantulan kaca.Jelas sekali bagaimana bibinya itu mengambil sesuatu dari kantong celemek, menyobek menggunakan giginya dan terakhir mengaduk es krim memakai jari si bibi.“Bu Faya, sebelum Bibi melakukan itu, saya liat Bi Fatimah bisik-bisik bertiga dengan Bu Vero dan Bu Sofia. Jadi wajar kan saya curiga?” Puput memberanikan diri untuk meraih tangan Bu Faya. “Bu… tol

  • Menikmati Sentuhan Pria Bayaran   Bab 146

    “Ah, betapa membahagiakannya jadi pelayan. Abis semua selesai, aku mau pensiun, menikmati hidup bareng Ayang perkasa.” Fatimah tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan bisa bersama sang kekasih dua puluh empat jam alias nempel terus seharian, dan tentu saja tidak sembunyi-sembunyi lagi.Fatimah pun terburu melangkah mengambil minyak zaitun untuk memijat Sofia. “Huff… apa yang sebenarnya direncanakan perempuan licik satu itu? Apa dia mau coba-coba nantangin Bu Nina?”Fatimah bergerak sembari terus menggerutu. Sementara Puput masih berdiri membeku di anak tangga ke empat. Sosoknya yang kurus kecil, tersembunyi sempurna di balik tembok. Namun dia dapat melihat jelas gerakan Bibi Fatimah, meski dia tidak dapat mendengar gerutuan kakak kandung ayahnya tersebut.Puput menghela napas. Memandang pada permukaan es krim yang sudah tidak semulus yang dia lihat pertama. Jelas sekali, jika sudah diacak-acak oleh Bibi Fatimah. Membuat kecurigaan pada perempuan itu kian besar.Perlahan Puput turun, ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status