LOGINJangan kasar Bang :)
"Hazel, ada apa?" Raven yang mendengar suara mug berjatuhan dan pecah, mulai gelisah, dan mencoba menggeser kursi."Jangan bergerak, aku baik-baik saja. Hanya ceroboh!" Ellie mencegah Raven bergerak dengan suaranya, sementara kepala dan matanya berusaha mencegah Caius bersuara.Ellie menempelkan telunjuk ke bibir menggeleng, dan memohon dengan matanya yang penuh kepanikan. Ia tahu Caius teman Raven, kecil kemungkinan akan mengikuti keinginannya, tapi ingin tetap mencoba."Hazel?" Caius, jelas heran.Ellie mengangkat kedua tangan ke mulut, memperjelas isyarat, meminta pria itu untuk diam."Ya, dia Hazel Murdock. Terapis yang sedang merawat kakiku. Aku hanya bersamanya saat ini," jelas Raven. Mengira suara heran Caius, karena terkejut melihat sosok asing Ellie.Mata hijau Caius, kini beralih antara Ellie dan Raven."Aku akan jelaskan nanti!" Ellie membentuk kata itu dengan mulut, tanpa suara sedikitpun. Mengulang dua kali malah."Terapis ya?" Caius mengikuti permintaan Ellie, tapi sekali
"Ini." Ellie meletakkan walker di depan kursi roda, lalu meletakkan kedua tangan Raven pada bagian pegangan."Genggam erat, lalu berdiri. Ayo!" Dengan aba-aba Ellie, Raven menjejakkan kakinya ke lantai."Ingat, kerahkan kekuatan kaki, jangan tangan! Tangan hanya menyangga saja." Ellie memberi peringatan, saat melihat otot tangan Raven menggembung.Raven sudah terbiasa bergerak dengan mengandalkan tangan. Butuh pembiasaan agar kembali memperlakukan otot kakinya seperti dulu."Sekarang coba melangkah." Ellie melepaskan pegangan pada tubuh Raven, setelah memastikan dia bisa berdiri tegak sendiri.Mulut Raven menipis membulatkan tekat. Dengan perlahan kaki kanannya bergerak kedepan."Bagus! Sekarang kiri." Ellie terus memberi semangat. Sudah kembali dalam mode bekerja serius, tidak lagi ingin menggoda Raven, karena kemajuan ini sangat penting dalam perkembangan motorik pasiennya.Rahang Raven mengeras, menandakan betapa kerasnya berusaha bergerak. Raven berhasil melangkah, tapi tidak terla
Badai semakin memburuk malam itu. Suara deruan angin, mampu menembus tembok rumah Raven yang sebenarnya sudah cukup tebal. Ini kabar buruk bagi Ellie.Suara badai yang menggema di rumah sebesar itu, mulai terdengar seperti musik latar adegan di film horror.Ellie sudah berjam-jam meringkuk di dalam selimut, tapi matanya masih menyala tajam. Tubuhnya mengerut gelisah setiap kali suara tiupan angin mengganggunya."Tidur Ellie! Itu hanya angin. Tidak akan ada yang keluar dari kegelapan. Itu hanya cerita khayalan!" Meski sudah membujuk ribuan kali, otaknya masih saja gelisah, mencegah Ellie merasakan kantuk."Ini tidak akan berhasil!" keluh Ellie, dalam hati. Padahal dia masih harus bekerja besok. Dia tidak mau pekerjaannya menjadi kacau karena kantuk."Hazel?"Ellie pasti akan berteriak jika saja wajahnya tidak terbenam dalam bantal. Pekikannya teredam."Mengapa kau belum tidur?" tanya Ellie, menatap sosok Raven lengkap dengan kursi rodanya, sedang berada di dekat ranjang."Itu pertanyaan
"Kami akan baik-baik saja, Sophie. Makanan kami belum habis." Ellie menjelaskan dengan sepelan mungkin, agar Sophie tidak semakin panik."Raven baik-baik saja, dan latihan kami lancar. Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Tenang saja..." Ellie menghentikan kalimatnya, karena tangan Raven terulur, meminta ponsel yang sedang menempel di telinga Ellie."Sophie, berhenti khawatir. Jika memang makanan yang kau tinggal habis aku masih bisa meminta pengiriman dari Noctis, mereka akan dan bisa tetap datang meski badai salju berlangsung. Jadi jangan berlebihan! Kau nikmati saja tambahan hati libur ini."Mengabaikan entah bantahan apa yang diucapkan Sophie, Raven menyerahkan ponsel itu pada Ellie."Matikan!" katanya."Bye, Sophie!" Ellie masih berpamitan, agar lebih sopan."Apa kata berita?" tanya Raven.Ellie meraih remote yang biasanya hanya tergeletak begitu saja di meja Raven, tanpa peminat, dan menekan tombol power.Layar televisi datar menempel di dinding, yang berseberangan dengan ranjang
Perlahan Ellie mencoba beringsut ke belakang, tapi tubuhnya tertahan. Melirik ke bawah, dan Ellie kembali mengumpat. Kaki Raven yang kini sudah bisa bergerak lumayan bebas, menindih kedua kakinya."Berpikir Ellie!" Dia kembali memaksa otaknya untuk bekerja. Matanya terpejam rapat, menghalangi pemandangan kulit eksotik itu, agar otaknya bisa lebih lurus."Kenapa kau memilih bertelanjang dada hari ini?!" Ellie meratap dalam hati. Raven tidak selalu tidur dalam keadaan seperti ini. Saat mereka terpaksa tidur bersama sebelum kiriman ranjangnya datang, Raven selalu tidur memakai kaos putih tipis dan celana panjang.Setelah Ellie memiliki ranjang sendiri, beberapa kali Ellie melihat dia tidur tanpa kaus, tapi Ellie tidak pernah mempermasalahkan, karena rutinitas pagi mereka berbeda. Ellie lebih sering bangun sebelum Raven, dan segera keluar kamar untuk mempersiapkan segala keperluan terapi.Dan kini dia berada sangat dekat, dengan tubuh yang mampu memporak-porandakan akal sehatnya, padahal b
"Tidak!" Ellie menarik tangannya dari genggaman Raven, merasa kalau membiarkan lebih lama maka otaknya pasti akan meleleh menjadi bodoh."Bukan permintaan seperti itu! Aku tidak mau!" Ellie nyaris berteriak, karena harus menyadarkan diri sendiri juga. "Aku tidak mau..."Kalimat Ellie terpotong oleh gelak tawa Raven yang sangat keras. Pria itu kembali tertawa seperti kemarin setelah Ellie terbangun dari mabuk. "Kau sengaja! Sialan!" Ellie tidak peduli lagi dan mengumpat."Ya... sengaja." Raven menjawab diantara kekehan tawa mengejek. "Aku ingin sekali melihat wajahmu saat ini.""Tidak perlu!" sungut Ellie, sambil mengusap pipinya. Bahkan hangat pipinya pun sangat terasa. Sudah pasti wajahnya sangat merah. "Aku tidak akan meminta kita tidur bersama, Hazel. Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku tidak akan pernah memaksa siapapun untuk tidur denganku."Ellie mendengus, ingin membalas, tapi Raven sudah melanjutkan."Lebih tepatnya tidak ada yang menolak saat aku menginginkannya.Dengus







