MasukDari tiga hari mengenal Caius, mungkin ini adalah kali pertama Ellie melihatnya berpikir dengan sedikit serius."Cerita lengkapnya akan sangat panjang, dan melibatkan banyak pihak, jadi aku akan menyampaikan versi sederhananya saja."Ellie mengangkat alis heran. Sepertinya Caius ingin bercerita dengan jujur, tapi dia terbentur oleh suatu hal yang tidak bisa diceritakan dengan bebas."Aku mendekatimu, karena tahu jika wanita yang bersama Raven biasanya palsu.""Palsu? Wanita palsu?! Transgender maksudmu?" Ellie tidak bisa menyembunyikan kekagetan. Ellie tidak akan menghakimi apapun, tapi Raven seharusnya sangat normal. Apalagi dengan jelas menciumnya dengan nafsu dulu."Apa? Ha...ha...ha..."Caius tertawa hebat, sampai terbit air mata, mendengar tebakan Ellie yang terlalu jauh. Ellie juga akhirnya tersenyum kecil. Sadar dia berlebihan."Bukan palsu seperti itu, El!" Caius mengusap air matanya. "Aku ingin tahu bagaimana reaksi Raven, jika tahu kau baru saja meragukan kejantanannya.""Tid
Ellie merapatkan jaket tebal dan sarung tangannya, karena di luar lebih dingin dari bayangannya. Volume hujan salju sudah mulai berkurang, tapi rambut Ellie masih terasa basah, saat butiran salju perlahan mencair. Dia menyesal tidak memakai topi.Perkiraan Ellie, rumah Caius bisa dicapai dengan cepat, tapi ternyata mereka harus berjalan kurang lebih sepuluh menit.Raven dan Caius bertetangga dengan rumah berjejer, tapi luasnya lahan masing-masing rumah, membuat jarak tempuh menjadi cukup panjang untuk bisa sampai di pintu depan."Apa kau membiarkan sistem penghangat sentral menyala?"Ellie bertanya dengan heran, karena merasakan hembusan udara hangat, saat Caius membuka pintu."Tentu saja. Rumahku akan membeku jika kutinggal dalam keadaan mati." Caius menjawab seolah tindakannya adalah wajar.Tapi sebagai warga dalam tingkat ekonomi normal, Ellie mengeluh dalam hati, karena membayangkan banyaknya listrik yang terbuang percuma dan juga tagihan.Namun Ellie menahan teguran itu. Percuma m
"Jangan muram begitu. Kau tahu ini hanya sementara. Aku akan membereskannya nanti. Kau tenang saja." Caius menepuk pelan bahu Raven dengan senyum ceria.Wajah Raven tidak terpengaruh sedikitpun oleh senyum cemerlang itu, tetap penuh kerutan tidak suka. "Kau tidak pernah serius saat mengurus sesuatu, Caz! Awas saja kalau sampai gagal!" desisnya."Tidak akan, tenanglah. Sekarang nikmati saja teh buatan El... Hazel." Caius mengerling ke arah Ellie yan sudah melotot mengancam.Ellie tidak tahu mereka membicarakan apa karena baru saja sampai membawa teh, dan langsung tidak ingin tahu karena lebih ingin melemparkan cangkir ke arah Caius.Caius hanya tertawa tentu, tanpa suara, agar Raven tidak curiga. Nyaris salah menyebut nama itu bukanlah tidak sengaja. Caius sengaja ingin menggoda Ellie.Awalnya Ellie mengira Caius memang lupa, tapi setelah terulang, Ellie akhirnya paham kalau memang Caius gemar menggoda."Hazel, apa kau mau membantuku? Aku membutuhkan orang lain mengangkut sesuatu." Caiu
"Aku hanya ingin tahu, bagaimana bisa kekasih Lonan menjadi terapis Raven, dan kenapa kau memakai nama palsu?" Caius mengancam, tapi dengan cepat juga menarik diri, saat melihat Ellie yang menatapnya galak."Kau sudah mendengarnya tadi, Dr. Stefan yang mengirimku ke sini.""Maksudmu kau benar-benar...""Ya. Aku bekerja di rumah sakit milik Dr. Stefan, dan dia mengirimku ke sini, karena ingin membantu Raven untuk pulih," potong Ellie. "Untuk bagian itu benar-benar kebetulan. Aku tidak mengatur apapun."Caius mengangguk. "Kebetulan memang sangat bisa terjadi. Aku percaya. Kau tidak dikirim siapapun untuk mencelakakan Raven."Senyum Caius lebih lepas setelah itu, menatap Ellie dengan sudut bibir terangkat, sangat puas."Begitu saja? Kau percaya padaku dengan mudah?" Ellie lega Caius percaya dan tidak lagi tampak mengancam, tapi rasanya mengganjal karena terlalu mudah."Ya, karena Raven juga sangat percaya padamu. Raven buta, tapi instingnya masih jauh lebih tajam dariku. Dia yang akan tah
"Hazel, ada apa?" Raven yang mendengar suara mug berjatuhan dan pecah, mulai gelisah, dan mencoba menggeser kursi."Jangan bergerak, aku baik-baik saja. Hanya ceroboh!" Ellie mencegah Raven bergerak dengan suaranya, sementara kepala dan matanya berusaha mencegah Caius bersuara.Ellie menempelkan telunjuk ke bibir menggeleng, dan memohon dengan matanya yang penuh kepanikan. Ia tahu Caius teman Raven, kecil kemungkinan akan mengikuti keinginannya, tapi ingin tetap mencoba."Hazel?" Caius, jelas heran.Ellie mengangkat kedua tangan ke mulut, memperjelas isyarat, meminta pria itu untuk diam."Ya, dia Hazel Murdock. Terapis yang sedang merawat kakiku. Aku hanya bersamanya saat ini," jelas Raven. Mengira suara heran Caius, karena terkejut melihat sosok asing Ellie.Mata hijau Caius, kini beralih antara Ellie dan Raven."Aku akan jelaskan nanti!" Ellie membentuk kata itu dengan mulut, tanpa suara sedikitpun. Mengulang dua kali malah."Terapis ya?" Caius mengikuti permintaan Ellie, tapi sekali
"Ini." Ellie meletakkan walker di depan kursi roda, lalu meletakkan kedua tangan Raven pada bagian pegangan."Genggam erat, lalu berdiri. Ayo!" Dengan aba-aba Ellie, Raven menjejakkan kakinya ke lantai."Ingat, kerahkan kekuatan kaki, jangan tangan! Tangan hanya menyangga saja." Ellie memberi peringatan, saat melihat otot tangan Raven menggembung.Raven sudah terbiasa bergerak dengan mengandalkan tangan. Butuh pembiasaan agar kembali memperlakukan otot kakinya seperti dulu."Sekarang coba melangkah." Ellie melepaskan pegangan pada tubuh Raven, setelah memastikan dia bisa berdiri tegak sendiri.Mulut Raven menipis membulatkan tekat. Dengan perlahan kaki kanannya bergerak kedepan."Bagus! Sekarang kiri." Ellie terus memberi semangat. Sudah kembali dalam mode bekerja serius, tidak lagi ingin menggoda Raven, karena kemajuan ini sangat penting dalam perkembangan motorik pasiennya.Rahang Raven mengeras, menandakan betapa kerasnya berusaha bergerak. Raven berhasil melangkah, tapi tidak terla







