LOGIN🥰🥰 ikut berbunga-bunga El
Keputusan untuk kembali ke apartemen Park Avenue, sepulangnya dari rumah sakit, mungkin bukan hal yang tepat untuk mengembalikan semangat Ivy. Tapi Ivy tidak bisa menghindar, karena Ellie terus mengatakan jika semua sempurna.Ini mengajuk tentang keadaan mereka kini akan kembali bertetangga. Ellie tidak pernah benar-benar meninggalkan New York. Kemarin dia ada di Neive, hanya untuk menunggu Raven. Jadi tempat tinggal terakhirnya adalah New York.Fakta ini sangat menggembirakan Ellie, karena dia tidak perlu bekerja keras untuk berpindah rumah untuk berada dekat dengan Ivy. Ellie sudah menetapkan, jika semua itu adalah takdir yang sangat kebetulan. Ellie semakin merasa jika dia memang ditugaskan untuk menjaga Ivy.Dengan semua keyakinan seperti itu, Ivy tidak mungkin menolak untuk pulang ke apartemennya itu, meski dia tidak suka.Keputusan Ivy untuk menurut, juga karena dirinya merasa membutuhkan teman. Ivy sangat sadar, jika sedikit saja dirinya mengambil langkah yang salah, maka tekatn
Ivy tidak menyukai suasana sunyi di sekitarnya. Dia ingin ada suara yang memanggil namanya saat nanti membuka mata. Bertanya apakah keadaannya baik-baik saja.Ivy juga ingin ada yang menggenggam tangannya, mengelus kepalanya perlahan. Lalu dalam bisikan lembut, mengabarkan jika keadaan dunia baik-baik saja. Menjelaskan jika dirinya hanya sedang bermimpi. Dan pedih yang saat ini merajai hatinya akan hilang.Namun, semua rasa sakit fisik, yang saat ini Ivy rasakan, hampir di setiap lekuk tubuhnya, memberi tahu jika dirinya tidak bermimpi.Meski begitu, Ivy masih bertahan memejamkan mata. Dengan bodoh berharap jika dirinya kembali pingsan, dia tidak perlu merasakan semua rasa sakit itu. Dia ingin menunda menghadapi kehilangan itu.Tapi Ivy tak mungkin terus memejamkan mata. Dengan gerakan sangat perlahan, Ivy membuka mata, dan melihat langit-langit putih bersih. Itu adalah tempat asing. Ivy belum pernah melihatnya.Lalu terlihat tiang infus, memberi tahu jika dia sedang berada di rumah sa
Ivy seolah sedang melihat adegan film dalam gerak lambat, menolak jika keadaan yang ada di depannya saat ini adalah nyata. Tidak mungkin dia baru saja melihat Dante menembak Matteo.Tapi semua itu kenyataan. Ivy menatap Matteo perlahan meraba perutnya, lalu mengangkat tangan dengan heran, karena tangan itu basah dan merah.Mungkin rasa heran itu yang membuat Matteo tidak tumbang, dia perlahan berbalik, memandang ke arah Dante yang belum menurunkan senjata.Tidak ada amarah di wajah Matteo, hanya heran."Dengan ini, Notte akan menjadi milikku," kata Dante, dengan nada datar, lalu menurunkan senjatanya. Dia menatap lurus pada Matteo. Tidak ada suara gemetar ragu, apalagi ketakutan. Dia memang berniat melakukan itu, tidak merasa sedang melakukan kesalahan.Matteo melangkah pelan sambil menahan luka di perutnya, ingin mendengar penjelasan lain, karena penjelasan yang tadi didengarnya, terlalu mustahil."DOM!" Dante berteriak sekali."Yes!" Matteo juga mendengarnya, jawaban tegas dari Dom,
Matteo berteriak nyaring saat melihat mobil itu menubruk pagar, tanpa tahu apa yang terjadi di dalamnya. Ia lalu berlari menghampiri, namun langkah kakinya terhenti.Leone keluar dari dalam mobil yang telah rusak itu, menyeret Ivy, dalam cengkeraman lengannya. Tumbukan itu membuat mobil rusak, dan akan sulit berjalan, tapi tidak menimbulkan luka berat pada Leone, Ivy yang justru terlihat lebih parah.Wajahnya ternoda warna merah darah, dari dahi yang sobek akibat benturan dengan dashboard, lalu juga darah mengering di sudut bibir akibat tamparan dari Leone.Matteo mengeratkan genggaman pada senjatanya, yang kini terpaksa turun, karena Leone menodongkan senjata pada kepala Ivy.Leone yang sama sekali tidak bisa mempertahankan ketenangan, karena panik dia menyeret Ivy ke arah yang salah. Seharusnya, kalau ingin lari dia akan berjalan ke arah gerbang, namun dia justru menyeret Ivy kembali ke arah rumah. Sepertinya benturan mengganggu jalan pikirannya."Buang senjatamu!" kata Leone. "SEKAR
Ivy menatap Al dengan lega, karena dia mulai mengunyah makanannya dengan lancar, meski masih ada sisa tangis di wajahnya. Rahangnya bergerak mengunyah sandwich yang tadi diantar oleh salah satu penjaga.Dari segala jenis sandwich yang ada di dunia ini, mereka mengantarkan satu jenis yang paling tidak bisa dimakan oleh Ivy, sandwich tuna mayo.Beruntung Ivy sempat memeriksa isinya sebelum memakannya tadi. Jika tidak, maka keadaannya akan lebih buruk daripada hanya sekedar terkurung."Apakah enak?" tanya Ivy sambil mengelus kepala Al. Ivy kagum bagaimana Al bisa sangat berani dan tabah, untuk ukuran anak yang baru berumur dua tahun lebih.Al memang menangis setelah rambutnya dijambak oleh Leone, ini sangat wajar, karena Ivy juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi tangisan itu cepat luruh begitu Ivy memeluknya, dan hanya terisak pelan, dalam kegelapan, lalu tertidur. Diikuti Ivy yang terkuras secara emosional.Mereka terbangun, saat penjaga mengantar makanan, dan memberi kesempatan merek
Dengan memakai semacam alat pembuat pijakan portabel, mereka merayap naik, dengan gaya pemanjat tebing. Tak sampai lima menit, mereka sudah menghilang di balik tembok.Terlihat mudah, tapi sebenarnya tidak. Butuh otot tangan yang sangat kuat untuk melakukannya, dan kesulitan ini yang membuat Matteo memutuskan sisa pasukan akan masuk melalui gerbang. Akan butuh waktu berjam-jam, jika semua anggota rombongan memakai cara yang sama untuk menyusup.Kini sisa rombongan bergerak mengendap menghampiri gerbang rumah, sedekat mungkin."Lima meter." Terdengar suara dari radio komunikasi. Itu bukan Dom, tapi dari anak buah Matteo yang ada didalam. Mereka berjarak lima meter lagi dari gerbang, dan masih belum ada yang melihat.Cukup menggembirakan, Matteo memperkirakan penjaga seharusnya sudah memergoki mereka sejak tadi. Penjaga di dalam sana sepertinya lebih payah dari pada yang dia bayangkan.Namun Matteo lega terlalu cepat."Terlihat!" Suara itu sekarang terdengar lebih lantang.Ada yang melih
Ellie menemukan Raven berdiri di depan UGD. Mondar-mandir dengan wajah pucat dan kuyu."Rave!"Raven menyambut panggilan itu dengan wajah aneh. Dia ingin tersenyum, tapi seakan otot yang bertanggung jawab untuk membentuk senyum di bibirnya telah rusak."Dia ada di dalam. Mereka tidak memperbolehkan
Sejak awal Willow tidak pernah berniat untuk melompat maupun tertipu oleh kebohongan Raven yang sangat jelas itu. Dia mengatur drama ini, agar bisa berada cukup dekat dengan Raven,untuk melukainya.Kini Willow menjerit marah, karena sekali lagi rencananya gagal. Dia sama sekali tidak peduli bagaima
Lonan sendiri maju menemani Raven. Entah kehadirannya berguna atau tidak, dia hanya ingin memastikan Willow selamat."JANGAN MENDEKAT! AKU AKAN MELOMPAT!"Suara jeritan dengan nada tinggi milik Willow, bergema di langit, saat dia mendengar ada suara langkah kaki di belakangnya."TURUN!"Raven tidak
Sekitar sepuluh petugas keamanan, berhamburan keluar dari dalam gedung, begitu mendengar keributan itu, dengan wajah bingung.Namun saat melihat dua mobil yang melesat masuk adalah milik Raven dan Lonan, mereka menjadi maklum, dan dengan cepat berlari menuju palang pintu rusak itu.Mereka berbaris m







