LOGINYeaaa 🤩🤩
Matteo memarkir mobilnya di halaman mansion Ranallo tanpa memperhatikan arah. Dia langsung berlari masuk. Dalam hati dia mengutuk karena Raven kembali memberi masalah kepada Ellie.Setelah selesai membaca semua laporan Dante dulu, Matteo sadar jika Raven bukan orang yang mudah. Dia tidak hanya pengusaha playboy, namun juga seorang riskhertig, dan memiliki tunangan seorang putri raja. Latar belakang yang tidak indah dan merepotkan.Matteo sedikit menghargai bagaimana Raven mengorbankan gelarnya itu, untuk bisa bersama dengan Ellie. Pengorbanan yang menuntunnya pada masalah lain. Status buronan politik yang disandang Raven, kini menjerat leher, dan menyeretnya ke dalam penjara.Matteo menyumpahi kecerobohan Raven. Dia seharusnya tidak berada di Swedia, dan malah membuat dirinya tertangkap.Matteo akan mengingat ini dengan sungguh-sungguh. Begitu Raven keluar dari penjara, Matteo akan menggunakan alasan kebodohan ini untuk mencaci Raven.Pada saat seperti ini Matteo ingin sekali memisahka
"Begini?" tanya Matteo, menunjukkan hasil foto yang diambilnya kepada IvyItu adalah foto yang keseratus sekian kali, pada lokasi ke sepuluh. Paling tidak Matteo mengambil sepuluh sampai dua puluh foto pada masing-masing tempat.Jumlah itu dihitung hanya berdasar foto yang disetujui Ivy. Jika dirasa belum bagus, Ivy akan menghapus dan meminta foto yang baru.Sebelum vakum dari kehidupannya yang glamor, Ivy bisa dikatakan ratu i***a, dengan pengikut jutaan. Jadi pasti dia sudah terbiasa menuntut kesempurnaan dari hasil foto. Kesempurnaan yang mengantar Ivy mendapat endorsement ratusan ribu dolar dalam setiap posenya.Itu semua telah lalu tentu saja. Saat ini dia mengambil foto hanya demi kepuasan diri semata, bukan lagi demi uang.Dan jelas Ivy tidak mengunggah semua foto itu, karena hanya akan mengundang caci maki, meski secantik apapun wajah yang terpampang di foto itu nantinya.Meski sempat merasa sayang, karena lokasi yang menjadi latar belakang fotonya sangat menawan, tapi Ivy tela
"What the hell!"Ivy bahkan tidak menahan umpatan. Terlalu jengkel melihat kerumunan turis yang memenuhi halaman menara miring di Pisa itu."Karena itu aku tidak pernah menyarankan berkunjung ke objek wisata yang terlalu terkenal. Apalagi saat musim semi seperti ini."Menara miring Pisa adalah salah satu objek keajaiban di dunia. Adalah pantas jika ratusan, bahkan mungkin ribuan turis membanjiri tempat itu hampir setiap hari.Dan hari ini juga sama, Ivy melihat banyak orang di halaman menara itu, sedang melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari berswafoto, piknik, sampai yang hanya duduk sambil memandang ke arah menara dengan wajah datar.Halaman menara itu seharusnya diisi oleh hamparan rerumputan luas yang saat ini berwarna hijau muda, namun justru warna hijau itu hampir tidak terlihat, karena tertutup oleh segala macam warna baju dari banyaknya orang yang duduk dan juga bermain di atasnya.Tidak ada lagi warna hijau yang menyejukkan, hanya keruwetan yang menyebalkan.Menara miring ber
Matteo membuka matanya yang terasa sangat berat menempel. Tubuhnya terasa seperti agar-agar, lemas tidak berdaya. Namun, berbeda dengan tubuhnya kepalanya justru terasa sangat ringan. Jernih segar, siap untuk bekerja keras.Saat berhasil membuka mata, terlihat hari terang di luar jendela, dan saat menoleh ke samping, Matteo tersenyum. Membayangkan Ivy akan cemberut karena tidak bangun sebelum dirinya. Gadis itu masih tertidur, tidak sedang memandangnya.Matteo bergeser, dan sesuatu terjatuh dari keningnya, saat menoleh. Ia meraih benda yang tadi menempel di keningnya itu, dan heran. Karena itu adalah handuk kecil. Matteo lalu melihat mangkuk berisi air yang ada di meja sebelah ranjang."Aku sakit?" Matteo membatin heran, lalu memejamkan mata mengingat apa yang terjadi. Kilasan ingatan tak beraturan yang melintas membuat Matteo mengerutkan kening."Dolce.."Akhirnya Matteo bisa menyusun ingatan dengan lebih baik. dia mengingat dengan baik semua yang dia ceritakan kepadaMeski hanya gum
Kali ini Ivy dengan terpaksa melanggar perintah Matteo. Tapi ini adalah situasi hidup dan mati menurut Ivy.Dengan wajah panik, Ivy berlari menuju paviliun belakang, memanggil siapapun yang ada di sana. Dan untung Luigi ada disana, dia belum bertugas. Saat Ivy membuka pintu paviliun, pria itu tengah menikmati sepiring pasta."Ms. Adams?" Dia kaget melihat Ivy, dan mengangkat kepala memandangnya, terlihat sedikit noda merah di pipinya akibat saus."Matteo.... Tolong."Luigi seketika melompat dari kursi. "Armano! Keluar."Luigi memanggil pengawal lain, yang terlihat bingung keluar dari kamar. Tapi melihat Luigi yag berlari keluar paviliun bersama Ivy, dia dengan secepat kilat menyusul."Mr. Ranallo?" Luigi melihat Matteo yang saat ini menggigil tidak terkendali di atas sofa di depan perapian."Demam! Aku sudah memanggil Vero. Tolong pindahkan dia ke kamar," jelas Ivy, sambil menyentuh kening Matteo yang kini terasa bagai dipanggang. Tubuh Matteo tidak sanggup menanggung emosi yang menggu
"Tapi kenapa?"Ivy ingin tahu kenapa Moretti harus melakukan hal keji itu kepada Matteo. Membunuh anjing peliharaan adalah perbuatan yang lebih dari sekadar keji.Apalagi Moretti memerintahkannya kepada anak berumur tujuh tahun. Anak tujuh tahun dunianya tentu sebagian besar terisi oleh hewan peliharaan."Kata ayah, binatang peliharaan membuatku lemah."Ivy menutup wajahnya, dengan frustrasi, dia sudah sangat ingin menghentikan sesi ini, karena tidak ingin mendengar sisa cerita yang dirasa tidak akan indah ini.Bukan hanya sekali ini Ivy mendengar cerita menyayat dari klien, tapi Matteo adalah pria yang dicintainya. Mendengar cerita masa lalunya yang seperti itu, membuatnya ingin menangis.Ivy sedikit tersentak, saat Matteo memutuskan untuk melanjutkan kisahnya, tanpa diminta. Kenangan dan emosi dengan otomatis mendorongnya untuk membuka mulut."Ayah tidak ingin aku mencintai atau menyukai sesuatu, karena itu semua akan membuatku lemah, membuatku lembut. Setelah menyuruhku membunuh Dol







