LOGINSinopsis Elena Hart tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah diinginkan. Dibuang sejak kecil dan dibesarkan di panti asuhan yang dingin, ia belajar sejak dini bahwa cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan—dan bahkan setelah didapatkan, cinta itu bisa direnggut kapan saja. Saat ia menikah dengan Adrian Blackwood, CEO muda paling berkuasa di kota, Elena percaya akhirnya ia menemukan tempat untuk pulang. Ia menahan hinaan ibu mertuanya. Ia menutup telinga dari bisikan tentang “status rendah”-nya. Ia menelan setiap penghinaan—hanya demi mempertahankan rumah tangga mereka. Sampai hari ketika Adrian memilih wanita lain dibanding dirinya. Bukan sembarang wanita. Melainkan Vivian Laurent — putri angkat miliarder ternama, Victor Laurent. Wanita yang dibela Adrian di depan umum. Wanita yang ia percayai. Wanita yang ia anggap masa depannya. Dan wanita yang diam-diam merancang kehancuran Elena. Dituduh berkhianat. Dijebak atas kejahatan yang tak pernah ia lakukan. Diceraikan tanpa harga diri. Elena pergi dengan hati yang hancur… dan sebuah rahasia besar yang tak seorang pun tahu. Karena kebenarannya jauh lebih mengejutkan. Bertahun-tahun lalu, sebuah keluarga berpengaruh kehilangan putri kandung mereka dalam sebuah konspirasi kelam. Anak itu menghilang tanpa jejak. Dan Elena Hart… bukanlah anak yatim piatu. Ia adalah pewaris yang hilang. Putri darah daging Victor Laurent. Satu-satunya ahli waris sah kerajaan bisnis bernilai miliaran. Satu-satunya ancaman bagi kehidupan mewah yang telah dicuri Vivian. Ketika kebenaran terungkap dan Elena kembali—bukan sebagai mantan istri yang terbuang, melainkan sebagai pewaris sah keluarga Laurent—seluruh kota terguncang. Adrian akhirnya menyadari bahwa wanita yang ia hina dan ia buang bukanlah wanita biasa. Ia adalah ratu yang menyamar. Kini Adrian ingin mendapatkannya kembali. Namun Elena bukan lagi wanita yang memohon cinta. Kali ini, ia memegang kendali. Kerajaan. Dan kekuatan untuk menghancurkan segalanya. Akankah Adrian menyesal karena telah mengkhianati wanita yang salah? Ataukah balas dendam Elena akan mengorbankan sisa hatinya yang terakhir?
View MoreBAB 1
Wanita yang Salah “Berhenti berpura-pura tidak tahu apa-apa, Elena.” Suara Adrian Blackwood terdengar dingin dan menusuk, seperti es yang menggores kulit. Elena yang berdiri di tengah ruang tamu rumah megah itu perlahan menoleh. Lampu kristal besar di atas kepalanya memantulkan cahaya ke lantai marmer putih, membuat bayangannya terlihat kecil—rapuh—tak berarti. “Aku tidak berpura-pura,” jawabnya pelan. “Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu tuduhkan.” Adrian tertawa pendek. Bukan tawa hangat. Bukan tawa lembut yang dulu membuatnya jatuh cinta. Tawa itu penuh ejekan. “Transfer dana lima ratus juta dari rekening perusahaan ke yayasan kecil itu terjadi atas namamu. Jangan bilang itu bukan perbuatanmu.” Jantung Elena mencelos. Yayasan kecil itu… panti asuhan tempat ia dibesarkan. “Aku tidak pernah menyentuh uang perusahaan,” bisiknya. “Aku tidak punya akses.” “Oh, jadi sekarang kamu mau menyalahkanku?” Adrian melangkah mendekat. Tatapannya tajam, penuh kecurigaan. “Atau kamu pikir aku cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa kamu masih terikat dengan tempat kumuh itu?” Kumuh. Kata itu terasa seperti tamparan. Sebelum Elena sempat membela diri, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari arah tangga. “Adrian, sayang, untuk apa buang waktu berbicara terlalu lama dengan wanita seperti dia?” Suara itu milik Margaret Blackwood—ibu Adrian. Wanita elegan dengan rambut disanggul sempurna dan sorot mata yang selalu memandang Elena seperti melihat noda di gaun mahalnya. Di samping Margaret berdiri seorang wanita muda yang mengenakan gaun merah ketat, rambut panjang tergerai, bibir merah menyala, dan senyum percaya diri. Elena belum pernah melihatnya, tapi ia tahu siapa wanita itu dari tatapan bangga Margaret. “Biarkan Ibu memperkenalkan seseorang yang jauh lebih pantas berdiri di sampingmu.” Margaret meraih tangan wanita itu. “Ini Vivian Laurent.” Nama itu seperti gaung berat di ruangan luas itu. Vivian tersenyum manis, lalu mengulurkan tangan pada Adrian. “Akhirnya kita bertemu langsung, Tuan Blackwood. Saya sering mendengar tentang Anda dari Ayah.” Ayah. Elena tahu siapa yang dimaksud. Victor Laurent. Miliarder paling berpengaruh di kota ini. Adrian menyambut tangan itu, senyumnya tipis namun berbeda. Lebih sopan. Lebih lembut dibandingkan saat ia berbicara pada istrinya sendiri. “Elena,” Margaret melirik sinis, “Vivian adalah putri dari keluarga Laurent. Berpendidikan luar negeri. Berkelas. Dan yang paling penting… setara dengan keluarga kita.” Setara. Kata itu kembali menghantam dada Elena. “Berbeda dengan seseorang yang dibesarkan tanpa asal-usul yang jelas,” tambah Margaret tanpa menyembunyikan hinaannya. Vivian berpura-pura canggung. “Ah, Bibi Margaret, jangan begitu…” Namun sorot matanya menatap Elena dengan kemenangan yang tidak tersamar. Elena mengepalkan tangan di balik rok panjangnya. “Aku masih istri Adrian,” katanya pelan namun tegas. Adrian memalingkan wajahnya. “Istri yang sedang kupertimbangkan untuk kuceraikan.” Kalimat itu membuat napas Elena tercekat. “Karena tuduhan yang bahkan belum terbukti?” “Kamu pikir aku butuh bukti?” Adrian menatapnya lurus. “Reputasi perusahaan dipertaruhkan. Aku tidak bisa membiarkan seseorang dengan latar belakangmu mempermalukan keluarga ini.” Seseorang dengan latar belakangmu. Tiga tahun pernikahan. Tiga tahun mencoba menjadi sempurna. Tiga tahun menahan penghinaan ibu mertuanya. Dan pada akhirnya, yang dilihat Adrian hanyalah masa lalunya sebagai anak panti asuhan. Vivian melangkah mendekat, berdiri di sisi Adrian seolah tempat itu memang miliknya. “Tuan Blackwood, Ayah bilang kerja sama antara perusahaan kita akan lebih mudah jika hubungan keluarga juga… lebih erat.” Margaret tersenyum puas. “Lihat? Bahkan secara bisnis pun, Vivian lebih menguntungkan.” Elena akhirnya mengerti. Ini bukan hanya tentang tuduhan transfer dana. Ini tentang menggantikannya. Tentang menyingkirkannya secara elegan. “Kamu percaya padanya?” Elena menatap Adrian. “Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan.” “Apa yang perlu dijelaskan?” Adrian membalas dingin. “Seorang anak panti asuhan yang tiba-tiba memiliki akses pada kekayaan keluarga Blackwood. Godaan itu terlalu besar, bukan?” Tamparan tak terlihat itu terasa lebih menyakitkan daripada sentuhan fisik. Air mata menggenang, tetapi Elena menahannya. Ia tidak akan menangis di depan mereka. “Aku mencintaimu,” bisiknya. Adrian terdiam sesaat. Namun hanya sesaat. “Cinta tidak cukup untuk menyelamatkan reputasi,” jawabnya akhirnya. Margaret bertepuk tangan pelan. “Keputusan yang bijak. Aku sudah mengatur pengacara. Dokumen perceraian bisa ditandatangani minggu ini.” Vivian menunduk sopan, tapi bibirnya terangkat tipis. Elena merasa dunia di bawah kakinya runtuh. Namun sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang selama ini hanya diam—perlahan bangkit. “Aku tidak akan menandatangani apa pun sebelum kebenaran terungkap,” katanya. Adrian tertawa kecil. “Kebenaran? Elena, bahkan jika kamu tidak bersalah, kamu tetap tidak cocok berada di sini.” Hening menyelimuti ruangan itu. Vivian mendekat pada Elena, suaranya pelan namun tajam. “Kadang kita harus tahu tempat kita. Dunia orang kaya tidak ramah pada dongeng tentang Cinderella.” Elena menatapnya lurus. “Aku tidak pernah bermimpi menjadi Cinderella,” jawabnya. Vivian tersenyum. “Bagus. Karena dongeng selalu berakhir.” Saat Elena berjalan,cincin itu jatuh dengan bunyi kecil yang nyaris tak terdengar. Namun bagi Elena, suara itu terasa seperti sesuatu yang benar-benar patah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata yang tadi dipenuhi luka kini berubah. Tidak lagi memohon. Tidak lagi rapuh. “Kenapa semua ini terjadi padaku?" Di sisi lain rumah megah itu, Adrian berdiri di ruang kerjanya. Tangannya bertumpu pada meja kayu hitam besar peninggalan ayahnya. Entah mengapa, setelah melihat Elena melepas cincin itu, dadanya terasa tidak nyaman. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya ia merasa bebas. Tapi ada sesuatu dalam tatapan Elena tadi… yang membuatnya gelisah. Hujan mulai turun perlahan di luar jendela, memantulkan cahaya lampu kota. Adrian menutup mata sesaat. Dan tanpa ia sadari, pikirannya terseret kembali ke lima tahun lalu. Ke malam ketika semuanya dimulai. — “Ayah tidak sedang meminta pendapatmu, Adrian.” Suara berat Alex Blackwood menggema di ruangan yang sama tempat Adrian berdiri sekarang. Lima tahun lalu, ia berdiri di hadapan ayahnya dengan kemarahan yang tak disembunyikan. “Ayah menyuruhku menikahi seorang wanita yang bahkan tidak kukenal,” ucap Adrian dingin. “Seorang gadis panti asuhan. Apa ini lelucon?” Alex tidak tersinggung. Ia justru terlihat lelah. “Namanya Elena Hart,” katanya pelan. “Dan dia bukan gadis sembarangan.” Adrian tertawa sinis. “Semua orang tahu latar belakangnya. Tidak punya keluarga. Tidak punya koneksi. Tidak punya apa-apa.” “Justru karena itu,” potong Alex. Adrian mengernyit. “Apa maksud Ayah?” Alex berjalan menuju jendela, menatap keluar dengan sorot mata berat. “Ada sesuatu yang belum bisa Ayah jelaskan sekarang.” “Rahasia lagi?” Adrian menggeleng kesal. “Ayah selalu bicara setengah-setengah.” “Kau harus menikahinya,” tegas Alex. “Itu satu-satunya cara melindungi keluarga kita.” Melindungi. Kata itu kembali terdengar asing. “Melindungi dari siapa?” desak Adrian. Alex berbalik. Untuk sesaat, ada keraguan di matanya. “Ada orang-orang yang tidak ingin keluarga Blackwood tetap berdiri,” ucapnya perlahan. “Dan Elena… adalah bagian dari kunci yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan kita.” Jantung Adrian berdegup lebih cepat. “Apa hubungannya seorang anak panti asuhan dengan ancaman terhadap keluarga kita?” Alex membuka mulut. Namun sebelum ia sempat menjawab— Ponselnya berdering. Alex melihat layar ponselnya, dan wajahnya berubah pucat dalam hitungan detik. “Siapa?” tanya Adrian. Alex tidak menjawab. Ia hanya mematikan panggilan itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. “Ayah harus pergi sekarang.” “Kita belum selesai.” “Kita akan lanjutkan setelah Ayah kembali,” jawab Alex cepat. “Percayalah pada Ayah kali ini.” Itu adalah terakhir kalinya mereka berbicara sebagai ayah dan anak. Malam itu, mobil Alex Blackwood ditemukan hancur di jurang pinggir kota. Polisi menyebutnya kecelakaan akibat rem blong. Kasus ditutup dalam waktu kurang dari dua minggu. Terlalu cepat. Terlalu bersih. Dan terlalu rapi. — Adrian membuka mata. Hujan di luar semakin deras. Tangannya tanpa sadar mengepal. Ada satu hal yang selalu mengganggunya selama ini. Beberapa hari sebelum kematian ayahnya, Alex sempat berkata sesuatu yang hingga kini terus terngiang. “Jika sesuatu terjadi pada Ayah… lindungi Elena.” Saat itu Adrian menganggapnya omong kosong emosional seorang pria tua. Ia bahkan tidak mengenal Elena waktu itu. Dan kini— Ia baru saja menghancurkan wanita yang dulu ingin dilindungi ayahnya. Pintu ruang kerja diketuk pelan. “Masuk,” ucap Adrian singkat. Vivian melangkah masuk dengan gaun satin yang membalut tubuhnya. Senyumnya lembut, namun matanya penuh perhitungan. “Kamu terlihat gelisah,” katanya sambil mendekat. “Masih memikirkan mantan istrimu?” “Aku belum menceraikannya,” jawab Adrian datar. “Cepat atau lambat akan terjadi,” Vivian tersenyum tipis. “Dan itu keputusan yang tepat.” Adrian menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang terasa janggal. “Vivian,” katanya perlahan, “kapan tepatnya kamu pertama kali mengenal ayahku?” Senyum Vivian nyaris tak berubah. “Aku? Kita bertemu beberapa kali di acara bisnis. Kenapa?” “Tidak ada,” jawab Adrian cepat. Namun benaknya berputar. Ia teringat sesuatu yang lain. Beberapa jam sebelum mobil ayahnya jatuh ke jurang, ada rekaman CCTV yang memperlihatkan seseorang mendekati mobil itu di parkiran kantor. Rekaman itu kabur. Wajahnya tidak jelas. Tapi sosok itu… memiliki postur tubuh yang sangat mirip dengan— “Adrian?” Vivian menyentuh lengannya. Adrian tersadar dari lamunannya. “Jika suatu hari kamu tahu bahwa semua yang kamu percayai selama ini adalah kebohongan…” ucapnya pelan, menatap Vivian dalam-dalam, “apa yang akan kamu lakukan?” Untuk sepersekian detik—hanya sepersekian detik—senyum Vivian membeku. Namun ia segera tertawa kecil. “Kalau aku jadi kamu,” jawabnya lembut, “aku akan memastikan orang yang berkhianat tidak pernah punya kesempatan untuk bangkit lagi.” Tatapan Adrian mengeras. Di kamar lain, Elena memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecilnya. Ponselnya kembali bergetar. Pesan masuk. Nomor tak dikenal yang sama. “Nona Elena, ada hal lain yang perlu Anda ketahui. Kematian Tuan Alex Blackwood lima tahun lalu… mungkin bukan kecelakaan.” Tangan Elena membeku. “Dan kami memiliki alasan untuk percaya bahwa seseorang yang sangat dekat dengan Anda terlibat.” Napasnya tercekat. Sangat dekat. Siapa?Bab 37 — Kebohongan yang Harus Diselamatkan“Tapi kenapa kamu narik rambutku? Untuk apa?”Pertanyaan Elena membuat suasana di restoran yang tadinya tenang berubah sedikit canggung.Axel yang sejak tadi menyembunyikan helai rambut itu di sela jemarinya langsung menatap Elena beberapa detik lebih lama.Tatapan wanita itu terlihat polos.Bingung.Dan sama sekali tidak curiga.Sedangkan jantung Axel justru berdetak lebih keras sekarang.Untuk pertama kalinya dalam hidup—ia merasa melakukan sesuatu yang sangat tidak nyaman.Padahal biasanya Axel tidak pernah ragu menjalankan perintah Victor.Namun kali ini berbeda.Karena yang harus ia bohongi adalah Elena.Wanita yang belakangan ini justru semakin sulit ia jauhkan dari pikirannya.“Axel?”Suara Elena kembali terdengar pelan.Pria itu akhirnya tersadar lalu buru-buru tersenyum tipis.“Oh… ini.”Ia memperlihatkan helai rambut tersebut sekilas.“Nyangkut di kancing baju gue.”Elena langsung terlihat malu kecil.“Oh.”Tanpa sadar wanita itu
Bab 36 — Rahasia yang Mulai Terbuka“…mantan suami kamu masih suka gangguin kamu?”Kalimat Axel sukses membuat suasana di sekitar meja itu berubah canggung.Elena yang tadi berdiri sambil memegang buku catatan langsung menoleh cepat. Sedangkan Adrian perlahan mengangkat wajahnya dengan tatapan dingin yang mulai berubah tajam.Beberapa detik tidak ada yang bicara.Namun hawa tidak nyaman itu terasa jelas.Axel sendiri terlihat santai seolah pertanyaan tadi hanyalah candaan biasa. Padahal matanya diam-diam sedang memperhatikan reaksi Adrian sejak tadi.Dan benar saja—rahang pria itu langsung mengeras.“Aku datang ke sini cuma makan.”Nada suara Adrian terdengar rendah.Dingin.Namun Axel hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.“Bagus kalau begitu.”BUG.Kalimat sederhana itu justru terasa seperti sindiran.Elena langsung bisa merasakan suasana mulai memanas. Ia tahu Adrian tipe pria yang gengsinya tinggi, sedangkan Axel juga bukan orang yang suka mengalah begitu saja.Kalau dibi
Bab 35 — Penyesalan yang Terlambat“…bagaimana kalau Tuan Victor sendiri yang datang menemui Anda?”DEG.Tubuh Elena langsung menegang.Tangannya mencengkeram ponsel erat sampai jemarinya memutih.“Apa maksudmu?”Namun pria di seberang sana hanya tertawa kecil.“Tuan Victor bukan orang yang suka menunggu terlalu lama.”Tut.Telepon langsung terputus.“Elena…”Gadis itu langsung menurunkan ponselnya pelan.Napasnya terasa berat sekarang.Dan entah kenapa…ucapan tadi benar-benar membuatnya takut.Bukan cuma untuk dirinya sendiri.Tapi untuk anak-anak panti.Untuk Bu Rohma.Untuk semua orang yang tinggal di sana.Karena jelas sekali…mereka sudah mulai berani mengancam secara terang-terangan.Elena langsung memejamkan mata sebentar sambil mengusap wajahnya pelan.“Kenapa semuanya jadi begini…” gumamnya lirih.Di luar sana hujan masih turun pelan.Suasana malam terasa dingin.Namun isi kepala Elena jauh lebih kacau dibanding cuaca di luar.Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana sekara
bab 34."Aku tidak tahu kenapa dia masih saja mengganggu ku," kata Elena pada Bu Rohma, setelah ia bercerita bagaimana cara Vivian mencoba untuk mencelakai nya. Bu Rohma tampak sedih mendengar cerita Elena, hingga ia mengusap lembut pundak Elena. "Kamu yang sabar yah, Nak."Elena mengangguk kecil, dan sebenarnya Elena tidak mau cerita hal ini ke Bu Rohma. Wanita yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri. Sebab ia tidak mau membuat wanita itu sedih, hanya saja karena di tangan Elena terdapat luka kecil dan hal itu dilihat oleh Bu Rohma. Hingga akhirnya Bu Rohma bertanya tentang keadaan Elena. Dan sekarang, Elena justru sudaa membuat wanita paruh baya itu merasa cemas. "Nak," katanya tiba-tiba. Elena langsung menoleh. "Bagaimana kalau kami juga ikut membantu nak Elena cari uang."Elena sedikit terkejut. "Memangnya kenapa, Bu? Apa uang yang Elena berikan kurang?"Bu Rohma langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Nak. Tapi tidak adil rasanya jika kamu yang menanggung se












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.