MasukEmang aneh tuh
"Aku DeFranco. Kau sudah mendengar namaku tadi," jawab Matteo santai. Dia sedikit senang melihat Claris akhirnya merasa kesal."Aku tidak bertanya soal namamu, aku...""Aku tahu!" potong Matteo. "Dan nama memang bukan masalah utama saat ini. Yang menjadi masalah, adalah apa yang aku ketahui tentang dirimu.""Apa maksudmu?" Claris kini bingung."Aku tahu siapa yang kau tiduri untuk mendapatkan posisimu yang sekarang," ujar Matteo. Lugas dan jelas.Bibir Claris terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Terlalu terkejut."Kau dulu membuat sebaris kalimat berita jika Ivy tidur dengan seseorang yang memiliki jabatan penting di studio, sampai bisa mendapatkan posisi MC utama. Tapi bukan dia yang melakukannya, kau yang melakukannya. Kau sedang mengakui keburukanmu di hadapan umum dengan memakai nama Ivy," urai Matteo. Kini dengan menampilkan wajah jijik secara terang-terangan."What kind of bullshit is that?" (Omong kosong macam apa itu?)Claris memaki kasar. Menampakkan sedikit kepribadian
Matteo membaca detail file yang ada di ponsel Luigi sekali lagi. File wanita yang bernama McLaren itu.Matteo malas menyimpan info wanita semacam itu terlalu lama di dalam ingatan. Jadi sebisa mungkin, dia mengingat sesaat sebelum membutuhkannya saja. Karena itu Matteo datang sebelum waktu perjanjian. Ingin memastikan dia mengingat semua data.Matteo menyesap kopi cangkir keduanya dengan nikmat. Cafe itu menyajikan kopi yang nikmat. dan kudapan croissant yang dipesan Luigi juga cukup nikmat. Matteo menikmati keduanya, diantara kesibukannya mengingat.Luigi sengaja memilih lokasi cafe yang cukup terkenal dan mewah, di salah satu jalan besar New York sebagai tempat bertemu. Agar Claris lebih mudah terpancing. Cafe tempat yang akrab untuknya. Tingkat kewaspadaan target mereka akan menurun. Detail yang tidak perlu lagi diperintahkan Matteo. Luigi sudah menghafal dan memilih dengan tepat."Sepertinya dia akan sedikit terlambat," kata Luigi, sambil memeriksa arloji pada pergelangan tanganny
"Pagi cantik," sapa Matteo, pada Ivy yang baru membuka mata.Tentu Ivy merengut tak suka. "Kenapa kau bangun cepat sekali?!" protesnya."Aku tidak ingin bangun, tapi ponselmu terus bergetar sedari tadi. Kau tak dengar?"Matteo menunjuk ponsel Ivy yang da di atas meja di samping ranjang besar di kamar utama itu. Ada empat kamar lain di apartemen Ivy, dan yang mereka tempati adalah yang paling besar.Dan tidak mencengangkan jika kamar itu yang paling indah. Semua perabotan di situ tanpa cela membiaskan kemewahan.Kamar itu mencerminkan apa yang menyebabkan apartemen itu berharga sangat mahal. Nilai jual dari apartemen itu yang utama adalah pemandangan. Dua jendela besar yang ada di ruangan itu, menjamin pemandangan indah. Meski pagi ini langit New York berwarna abu-abu digantungi mendung."Ini Sean!" Ivy berseru dan langsung bangkit berdiri, saat ponsel itu kembali bergetar memperlihatkan identitas penelepon.Jari tangan Ivy sedikit gemetar saat menggeser tombol penerima panggilan. Jant
Tapi orang yang berlalu-lalang tidak terlalu mempedulikan pemandangan itu. Cukup banyak pasangan yang melakukan hal yang sama.Apalagi suasana kini sudah nyaris gelap sempurna. Paling tidak ada tiga atau empat pasangan lain, yang ikut terhanyut menikmati suasana sore indah itu.Pengunjung lain hanya melihat sekilas, lalu tertawa dengan malu. Kebanyakan dari pengunjung pantai, mulai berjalan keluar area menghindar, saat melihat pemandangan yang membuat jengah itu.Seperti Luigi, yang sudah mendapat firasat, dan bergegas berbalik, saat Ivy menempelkan kepala pada bahu Matteo.Dan kegelapan yang datang perlahan turun, menyembunyikan gerakan Matteo yang semakin berani. Tangannya kini merangkup pipi Ivy, tidak ingin melepas bibir yang terus memberinya suntikan gairah, yang kini berpusar mengirim gelitik ringan ke dalam perutnya.Sementara Ivy justru hampir saja menangis terharu, saat menyadari Matteo membalas tanpa keraguan. Gerak bibirnya kembali mantap, seperti dulu. Tangan Matteo membel
"Bagaimana?" tanya Ivy, saat mereka turun dari wahana.Matteo menghentakan kakinya, yang sesaat terasa lemas. Namun dengan cepat kembali normal, dan bisa berjalan normal. Saat kembali ke permukaan tanah, tubuhnya masih terasa mengambang. Masih perlu banyak latihan sebelum dia akan terbiasa dengan semua itu."Itu tadi...." Mateo tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan."Aku rasa,.... aku menyukainya," kata MatteoIvy menggandeng tangan Matteo, dan tersenyum. "Selama waktu mengenalmu, baru kali ini aku melihatmu berteriak."Menurut ingatanku, baru kali ini aku berteriak sekeras dan selepas itu." Matteo sendiri terlihat takjub."Kalau begitu kita harus mencoba yang lain!" Ivy semakin bersemangat sekarang."Bagaimana dengan itu?" Matteo menunjuk permainan ekstrem yang lain, yaitu Astro Tower. Permainan yang menyajikan pacu jantung lebih cepat, karena tidak perlu menunggu belokan atau tikungan. Mereka akan diangkat tinggi pada tiang pancang, lalu akan diputar, dan dijatuhkan seketika. B
"Carousell?" Matteo langsung memberikan pandangan yang kemungkinan bisa membunuh, saat Ivy menyarankan mereka naik komidi putar sebagai wahana yang pertama mereka coba.Dia sudah sangat ragu dengan segala ide Ivy saat ini, komidi putar terlalu memaksakan.Ivy sendiri justru tertawa tergelak. Menikmati setiap detik bagaimana Matteo terlihat canggung. Suasana wahana bermain yang ceria dan penuh warna-warni kegembiraan, terasa begitu asing bagi Matteo. Dia belum pernah melihat tawa dan jeritan riang sebanyak itu berkumpul pada satu tempat.Alhasil, tawa yang biasanya otomatis terbentuk oleh pengunjung taman bermain saat melihat keriaan, hanya menghasilkan kerutan dan senyum kikuk."Itu yang aku cari!" Ivy tiba-tiba berseru senang saat melihat menunjuk sebuah toko aksesoris yang berjejer, tidak jauh dari bibir pantai."Mencari apa?" Matteo jelas panik mendengar seruan bersemangat itu. Semangat Ivy pada saat seperti ini, membuat Matteo waspad, karena ide Ivy biasanya liar."Ayo... Ayo!"Mat







